
Setelah Wang Chunying tahu jika Jia Li hamil. Kediaman mereka menjadi heboh. Pria itu memperketat keamanan rumah, pelayan yang menjaga dan melayani Jia Li harus diseleksi dengan ketat, bahkan makanan Jia Li sangat dijaga. Meskipun Jia Li suka dengan perhatian yang Wang Chunying berikan, namun ini terlalu berlebihan.
Sementara Shen, Liu Bei, dan Xia. Mereka tidak jauh beda dengan Wang Chunying, karena mereka juga terlalu memanjakan dan menjaga Jia Li. Hal itu malah membuat Jia Li pusing.
Kabar ini juga sampai ke telinga Tong Mu. Tong Mu yang mendengar kabar kehamilan Jia Li terlihat sangat senang. Selama ini pria itu sangat khawatir dengan keadaan putrinya, tapi saat mendengar Jia Li hidup dengan bahagia dan akan segera memiliki anak membuat Wang Chunying sangat senang.
Saat ini Jia Li sedang duduk manis di taman sambil menikmati kue buatan Xia. Ya... semenjak tau Jia Li hamil Xia belajar membuat kue lebih giat lagi, hingga hasil buatan kue Xia terasa enak dan pas dilidah Jia Li.
Jia Li mengelus perutnya yang sudah sangat besar itu. Meskipun perutnya sangat besar tapi tubuh Jia Li malah terlihat seksi dan menggoda.
"ah.." rintih Jia Li.
Mendengar hal itu Xia yang berdiri tidak jauh dari Jia Li dengan panik mendekatinya.
"ada apa nyonya" tanya Xia panik.
"bukan apa-apa, cuman salah satu kurcaci kecil itu ada yang menendang" ucap Jia Li. Wanita itu mengelus perutnya yang besar. Sekarang Jia Li sudah hamil 9 bulan, dan mungkin dalam waktu 10 hari kedepan dia akan segera melahirkan.
"oh, apa itu sakit nyonya ?" tanya Xia pelos.
"ya... sedikit" ucap Jia Li dengan senyum kecil.
"apa kamu mau berkenalan dengan mereka ?"
"berkenalan ? Maksud nyonya apa ?" tanya Xia. Gadis itu tidak mengerti maksud Jia Li.
Jia Li mengambil tangan Xia, lalu menempelkan telapak tangannya di perut besar Jia Li.
"dari apa yang aku pelajari, mengajaknya berbicara sangat bagus untuk pertumbuhan bayi. Selain itu, mengajaknya bicara bisa membangun hubungan emosional. Itu sebabnya, Wang Chunying dan aku sering berbicara dengan mereka. Karena kamu muridku, sekaligus sahabatku, makanya aku ingin kamu juga dekat dengan anak-anakku" jelas Jia Li.
Tidak berapa lama Xia merasakan sesuatu yang bergerak-gerak di perut Jia Li. Xia menatap kagum dan haru. Ia tidak menyangka ada kehidupan di dalam sana.
"sayang, ini adalah bibi xia. Dia sahabat, sekaligus murid ibu, kalian harus baik padanya jika sudah lahir ya" ucap Jia Li dengan lembut. Wanita itu terlihat sangat cantik meskipun sedang hamil besar.
Xia yang mendengar ucapan Jia Li itu, matanya berkaca-kaca. Ia tidak menyangka diperlakukan begitu baik oleh Jia Li. Ia terharu"
"ada apa ini ?" ucap seseorang yang sangat Jia Li kenal. Siapa lagi kalau bukan Wang Chunying.
"Wang Chunying ? Kamu sudah pulang ?" ucap Jia Li dengan lembut.
Wang Chunying berjalan mendekati Jia Li dengan diikuti Shen dari belakang.
Jia Li berjalan mendekati Wang Chunying.
"seharusnya kamu duduk saja, lagi hamil besar pun masih saja suka berjalan-jalan" omel Wang Chunying. Pria itu sekarang sangat cerewet.
"iya-iya. Sekarang, mana buah naga yang aku minta ?" ucap Jia Li.
"iya, ini buahnya" Wang Chunying memberikan keranjang kecil yang berisi buah dengan sisik merah di kulitnya, dan buah itu sangat langka. Bahkan jika dijual di pasar, itu harganya sangat lah mahal. Wang Chunying sendiri tidak mempermasalahkan harganya tapi, masalahnya adalah Jia Li ngidam buah naga yang dipetik langsung oleh Wang Chunying. Tapi karena ini permintaan Jia Li dan demi buah hatinya, Wang Chunying rela mencarinya ke ujung dunia.
"wah, terima kasih suamiku sayang" ucap Jia Li. Dengan semangatnya Jia Li menarik Wang Chunying kedalam rumah agar bisa menikmati buah naga itu.
Mereka meninggalkan Shen dan Xia berdua lagi. Shen dan Xia cukup lama tenggelam dalam keheningan.
"bagaimana keadaan nyonya ?" tanya Shen.
"sangat baik guru surgawi Shen" ucap Xia dengan hormat.
"panggil saja aku Shen, itu terdengar akrab" ucap Shen dengan senyum lembut. Itu pertama kalinya Shen tersenyum pada perempuan.
Sontak saja hal itu mengejutkan Xia.
"AAAAAA..." teriak Jia Li. Wajah Jia Li terlihat pucat dan berkeringat.
"terus nyonya sedikit lagi" seorang tabib wanita terus memberi Jia Li semangat.
Saat ini Jia Li sedang berjuang melahirkan anak-anaknya. Rasa sakit yang luar biasa harus Jia Li tahan, dan meskipun sudah lelah Jia Li harus terus berusaha keras untuk melahirkan anak-anaknya.
Di ruangan itu dipenuhi tabib / perawat wanita kecuali Wang Chunying, suaminya. Sebenarnya adat di dunia ini melarang pria memasuki ruangan bersalin, atau menemai istrinya melahirkan. Tapi, Jia Li bersih keras meminta Wang Chunying menemaninya, sehingga semua orang tidak memiliki nyali untuk melarang. Apalagi Wang Chunying terlihat begitu patuh dengan istrinya itu.
"HAAA..." Jia Li terus mengejan, sesekali Jia Li menarik napas kasar dan kembali mengejan.
Wang Chunying hanya biasa berdoa dan menggenggam tangan Jia Li kuat seolah memberi kekuatan untuk istrinya itu. Pria itu terlihat sangat tersiksa saat melihat perjuangan Jia Li untuk melahirkan buah hati mereka. Dan sialnya ini sudah hampir 8 jam, namun masih belum ada tanda-tanda anak mereka akan keluar.
"aku harus memarahinya jika sudah keluar nanti karena menyusahkan Jia Li" batin Wang Chunying.
"semangatlah sayang, aku disini" ucap Wang Chunying
"AAAA...." teriak Jia Li. Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi.
Semua tabib dan perawat itu sangat senang karena bayi telah lahir. Tapi ini bukan lah akhir, karena Jia Li kembali kontraksi.
"MASIH ADA BAYI !" teriak salah satu tabib. Hal itu membuat semua orang menjadi tegang kembali.
"aku sudah tidak sanggup lagi " untih Jia Li. Ia sudah kehilangan tenaganya, namun 2 anaknya masih belum lahir juga.
Jia Li mulai berpikir 'mungkin dia akan mati saat melahirkan mengingat kondisi tubuhnya sekarang"
"tidak, kamu pasti kuat istriku. Kamu harus kuat" ucap Wang Chunying panik. Pria itu sangat khawatir dengan kondisi Jia Li.
"tapi aku sudah tidak kuat" ucap Jia Li lirih.
"kamu pasti bisa sayang" ucap Wang Chunying. Pria itu benar-benar akan memarahi anak-anaknya karena menyusahkan istrinya.
2 jam berlalu.
Saat ini Jia Li berbaring tidak sadarkan diri di atas kasur. Sementara ketiga bayi itu telah lahir dengan keadaan sehat, tampan, gemuk, dan mereka semua adalah laki-laki. Pria lain yang berada di posisi Wang Chunying pasti sangat senang bisa mendapat 3 bayi laki-laki sekaligus, ia pasti akan menemui bayinya dan menemani mereka. Tapi kenyataannya, Wang Chunying lebih memilih menemani istrinya yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Wang Chunying benar-benar cemas dan takut dengan keadaan istrinya itu.
Para tabib dan perawat saling melindungi satu sama lain. Mereka menatap kasihan pada ke 3 bayi yang baru saja lahir, bagaimana tidak, mereka baru saja lahir tapi sudah diabaikan ayah kandung mereka sendiri.
"guru surgawi Chunying, bagaimana dengan nama bayi- bayi ini ?" tanya salah satu tabib.
"rawat saja mereka, aku masih sibuk disini" ucap Wang Chunying tanpa mengalihkan pandangannya dari Jia Li.
Setelah 1 jam berlalu, mata Jia Li mulai terbuka.
"istriku" panggil Wang Chunying dengan lembut.
"di mana mereka ?" tanya Jia Li dengan suara lemah.
"mereka baik-baik saja, lebih baik kamu istirahat saja" perintah Wang Chunying..
"tapi aku ingin melihat mereka, sayang" ucap Jia Li dengan lembut.
"baiklah, setelah itu kamu istirahat !" ucap Wang Chunying dengan tegas yang dibalas dengan anggukan oleh Jia Li.
Tidak lama kemudian 3 pelayan masuk. Masing-masing mereka membawa satu bayi di gendongan mereka. Satu persatu bayi-bayi itu di letakkan di samping Jia Li.
Jia Li tersenyum kecil. Ia begitu senang karena bisa menjadi seorang ibu, saking senangnya perasaan itu tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.
"apa kamu sudah menyiapkan nama untuk mereka ?" tanya Jia Li.
"hmm... sudah" jawab Wang Chunying yang terkesan dingin.
"ada apa ? Apa kamu tidak suka dengan mereka ?" wajah Jia Li terlihat sedih. Matanya langsung merah dan berkaca-kaca, mungkin sebentar lagi dia akan menangis.
"aku menyukai mereka, hanya saja aku marah pada mereka karena membuatmu kesulitan tadi" ucap Wang Chunying dengan lembut pada Jia Li. Ia masih kesal pada anak-anaknya.
Mendengar hal itu Jia Li tersenyum kecil. Ia nedasa Wang Chunying sangat lucu. Bagaimana bisa ada seorang ayah yang marah pada anaknya yang belum berumur 1 hari.
"jangan marah pada mereka, bagaimanapun mereka anakmu sendiri" ucap Jia Li dengan lembut pada Wang Chunying.
1 bulan telah berlalu. Saat ini kesehatan Jia Li sudah membaik, sementara itu ke 3 anaknya juga tumbuh dengan baik. Karena Wang Chunying membutuhkan waktu berdua dengan Jia Li, jadi Wang Chunying menitipkan ke 3 anak mereka ke Xia dan Shen.
Sementara Wang Chunying saat ini mengajak Jia Li pergi untuk melihat istana yang telah ia bangun khusus untuk Jia Li. Istana itu di bangun dengan sangat megah di gunung yang pernah Jia Li dan Wang Chunying kunjungi dulu.
"selamat datang di rumah baru kita" ucap Wang Chunying.
Saat Jia Li menatap bangunan megah yang nampak tidak asing di matanya, Jia Li terkejut bukan main. Ya...ini adalah istana yang sama dengan istana yang ditemui di dunianya terdahulu
"ini..." ucapan Jia Li tergantung.
Wang Chunying memeluk istrinya dari belakang, dan sesekali mengecup puncak kepala Jia Li.
"ini istana untuk mu. Ini akan menjadi rumah kita, apa kamu suka ?" tanya Wang Chunying.
"aku sangat suka. Terima Kasih suamiku" ucap Jia Li terbata-bata. Istana itu benar-benar mirip dengan istana yang ia datang di kehidupan sebelumnya.
Ingatan Jia Li tentang cerita-cerita tentang istana itu kembali berputar.
"Istana itu dibangun oleh seorang raja untuk sang istri, sebagai ungkapan rasa cinta dan terima kasih karena telah berjuang melahirkan buah cinta mereka. Raja itu hanya memiliki satu istri selama hidupnya, dan memiliki 20 orang anak laki-laki yang tampan dan cerdas.
Istana itu adalah pintu menuju dimensi lain. Dimensi dimana semua yang dirasa tidak masuk akal menjadi kenyataan. Seperti rubah berekor sembilan. Dan yang paling penting istana itu akan menghilang dan membawa permaisuri kembali kepada rajanya.
"jadi aku wanita yang diceritakan itu " batin Jia Li. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"aku mencintaimu, istriku. Selamanya" ucap Wang Chunying lembut sambil mengecup pipi Jia Li.
"ya aku juga mencintaimu" ucap Jia Li. Ia merasa sangat bahagia saat ini. Saking bahagia nya, tidak tahu harus bagaimana menggambarkan perasaannya itu.
Tapi, yang jadi masalah adalah.
"apakah aku harus melahirkan 20 orang anak agar sejarah tidak berubah." Jia Li bergidik ngeri. Melahirkan 3 anak kembar saja dia hampir mati, lah ini harus melahirkan 17 anak laki-laki lagi !!!
"TIDAKKKK !!!"
Jia Li menjerit dalam hati.
10 tahun kemudian.
Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun sedang sibuk menggambar sesuatu di lantai. Dia menggambar seperti simbol dan juga tulisan cina kuno yang sangat sulit dibaca.
Tiba-tiba seorang anak laki-laki lainnya datang mendekatinya, lalu berkata "apa yang kau lakukan Liu Changhai ?"
"aku sedang belajar sihir, agar bisa menemukan jodoh ku, kakak Liu Xingsheng" ucap Liu Changhai.
Liu Changhai terlihat sangat asyik menulis mantra di lantai. Entah mantra apa yang dibuat, tapi yang jelas itu adalah mantra hasil karyanya sendiri.
Liu Xingsheng dan Liu Changhai memiliki wajah yang serupa, yah... hal itu karena mereka kembar 3. Meskipun begitu sikap mereka sangatlah berbeda, sikap Liu Xingsheng lebih tenang dan dewasa, sementara Liu Changhai adalah anak yang sangat pintar, meskipun dia lebih pintar dari saudaranya yang lain tapi dia sangat kekanak-kanakan dan sangat ceroboh.
"kau itu masih umur 10 tahun, tapi sudah mikir seperti itu. Daripada kau melakukan hal yang aneh-aneh, lebih baik kau bantu aku menjadi adik-adik..." ucap Liu Xingsheng. Ia menatap saudara kembarnya dengan wajah datar.
Menurut Liu Xingsheng, apa yang dilakukan saudaranya sangat membuang-buang waktu. Malah, akan jauh lebih bagus jika Liu Changhai ikut membantunya menjaga 10 adiknya. Yah... adiknya ada 10, itu semua adalah adik kandungnya, dan mungkin akan bertambah lagi mengingat umur ibu mereka masih sangat muda.
"aah... aku akan membantu nanti, tapi sekarang aku sedang sibuk... jadi bisakah kau keluar dari sini dan jangan menggangguku ! " ucap Liu Changhai yang mulai kesal dengan saudaranya yang tua beberapa jam darinya itu.
"yah... aku akan keluar, tapi jangan membuat berantakan kamar ibunda... jika tidak aku akan memukulmu !" ucap Liu Xingsheng yang terdengar kesal.
Yah... ruangan yang sedang Liu Changhai obrak-abrik ini adalah kabar ibu mereka. Jadi Liu Xingsheng agak sedikit khawatir jika saudaranya membuat ulah di kamar ibunya, ibunya mungkin tidak akan marah jika kamarnya di rusak... tapi... ayahnya mungkin akan menghukum Liu Changhai, ah... tidak... menghukum semua anaknya karena tidak memperingatkan Liu Changhai.
"iya-iya, dasar bawel" ucap Liu Changhai.
"jika semua urusanmu sudah selesai, pergilah ke taman belakang. Kami semua di sana" ucal Liu Xingsheng.
"YA...!" ucap Liu Changhai.
Liu Xingsheng menatap saudaranya sekilas, lalu pergi meninggalkannya. Liu Xingsheng langsung pergi ke taman belakang, selama di perjalanan, Liu Xingsheng di manjakan dengan pemandangan yang sangat indah. Karena rumah mereka berada di ketinggian, jadi pemandangan disana sangat indah, apalagi jika musim semi tiba.
"dimana si pembuat masalah itu, kakak ? " ucap seorang anak yang muncul tiba-tiba.
"Liu Yaoshan, bisakah kamu muncul dengan benar ?" tanya Xingsheng. Ia menatap saudara kembarnya dengan kesal.
"hahaha... maaf kakak" ucap Liu Yaoshan.
Mendengar hal itu Liu Xingsheng mendesah kasar lalu berkata, "dia akan menyusul sebentar lagi, lalu dimana yang lain ?"
"mereka sedang bermain petak umpet di kebun kakak ? Dan mereka diawasi oleh banyak pelayan, jadi jangan khawatir" ucap Liu Yaoshan.
Ucapan Liu Yaoshan hanya dibalas dengan deheman oleh Liu Xingsheng.
"ohya kakak, kapan ibunda dan ayahanda akan pulang ?" tanya Liu Xingsheng.
"mungkin sore ini" ucap Liu Xingsheng singkat. Lalu ia pergi menuju taman belakang.
Setelah Liu Xingsheng dan Liu Yaoshan sampai ke taman belakang, mereka melihat 10 adik mereka sedang bermain dengan gembira. Adik-adik mereka semuanya adalah laki-laki dan mereka lahir kembar. 3 anak yang berusia 8 tahun, 4 anak berusia 6 tahun, dan 3 anak berusia 5 tahun.
Memang menyenangkan memiliki banyak adik, tapi... jujur saja itu sangat merepotkan. Menurut Liu Xingsheng dan Liu Yaoshan, sangat merepotkan memiliki adik yang banyak, bahkan mereka sering lupa dengan nama adik-adiknya, pasalnya adiknya sangat banyak dan wajah mereka sedikit mirip jadi mereka sering salah menyebutkan nama mereka.
Tiba-tiba salah satu adik mereka berlari mendekati mereka lalu berkata "kakak-kakak... coba lihat itu" ucapnya sambil menunjuk ke arah rumah mereka.
Saat Liu Xingsheng dan Liu Yaoshan berbalik, mereka terkejut pasalnya rumah mereka telah menghilang.
"loh... apa yang terjadi ! Kenapa istananya menghilang !" ucap Liu Xingsheng dan Liu Yaoshan bersamaan.
Sama halnya dengan Liu Xingsheng dan Liu Yaoshan, semua adik-adik mereka, para pelayan dan pengawal juga terkejut dengan apa yang terjadi.
Liu Xingsheng dan Liu Yaoshan berlari cepat menuju rumah mereka, namun saat mereka sampai disana mereka tidak menemukan apa-apa. Istana yang menjadi rumah mereka tinggal selama ini telah menghilang entah kemana.
"apa... yang... terjadi !" ucap Liu Xingsheng
Tidak jauh dari Liu Xingsheng dan Liu Yaoshan berdiri, rupanya saudara kembar mereka Liu Changhai terlihat sangat syok dengan apa yang terjadi.
"APA-APAAN INI !!!" ucap seseorang.
Liu Xingsheng, Liu Yaoshan dan Liu Changhai menatap sosok yang bicara di belakang mere secara perlahan. Saat mereka melihat sosok itu, mereka menatap sosok itu dengan Horor.
"a...ayah !" ucap Liu Xingsheng, Liu Yaoshan dan Liu Changhai bersamaan.
"wah... rumah kita menghilang suamiku, kita akan tinggal di mana ?" ucapan lembut seorang wanita.
Wanita itu tidak lain adalah Jia Li, dan ia nampak terlihat senang saat rumah mewahnya menghilang.
"jadi yang membut istana itu tiba ketempat asalku adalah ulah salah satu anakku, hmmm... Apa cerita tentang 20 anak itu juga kisah yang anakku buat ?! Hm.... " batin Jia Li.
Sejujurnya, jauh di dalam hatinya... Jia Li agak sedih, tapi ia cukup senang karena dengan menghilangnya istana itu, maka ia akan bertemu dengan suaminya.
"sayang, kau terlihat tidak bersedih sama sekali. Padahal istana ini kubuat susah payah untuk mu !" ucap Wang Chunying dengan sendu.
Setelah itu, Wang Chunying menatap ketiga anak tertuanya dengan penuh amarah. Bagaimana Wang Chunying tidak marah, Wang Chunying telah membangun istana itu dengan penuh cinta hanya untuk istrinya dan syukurnya istrinya juga menyukai istana itu, jadi wajar jika ia marah jika istana itu menghilang.
"sudah-sudah, itu hanya rumah. Yang terpentingkan anak-anak baik-baik saja" ucap Jia Li.
Meskipun begitu Wang Chunying masih tidak rela istana itu hilang. Sementara itu ketiga anak tertua mereka nampak bahagia mendengar ucapan ibu mereka.
"sayang... ! Aku masih tidak rela " rengek Wang Chunying.
Namun sayangnya Jia Li mengabaikannya, wanita itu malah sibuk melihat keadaan anak-anaknya.
"tamat"