"Jia Li 2"

"Jia Li 2"
6



Setelah berganti pakaian, Jia Li pergi tempat lain, tempat yang bisa menjadi tempat untuk ia tidur walau beberapa jam saja. Jia Li mulai merasa tubuhnya menggigil karena kedinginan, mungkin sepertinya sekarang mulai masuk musim dingin. Setelah menemukan tempat yang bagus, Jia Li langsung tidur.


Tanpa terasa hari sudah mulai siang, Jia Li merasa dia tidak tidur lama, mungkin cuman 5 jam. Dia ingin sekali melanjutkan tidur, apalagi tubuhnya terasa mulai menggigil. Namun jika Jia Li lakukan itu, pelayan senior Nowa akan sangat marah padanya dan kembali menghukumnya. Jia Li hanya bisa sabar, ia hanya perlu menunggu sebentar lagi untuk melarikan diri dari istana penuh pesona yang pada kenyataan adalah penjaga ini. Jika di pikir-pikir, istana saja seperti ini, bagaimana penjaranya ?.


Jia Li berjalan menuju istana pangeran ke 3. Sampai disana Jia Li merasa bingung karena tidak ada lagi pekas perkelahian semalam. Taman terlihat sangat indah seperti biasa, padahal taman ini tadi malam terlihat sangat kacau.


" Apakah semalam hanya ilusi, tapi kenapa ilusi itu terasa sepertinya sangat nyata. Atau ada seseorang yang memiliki kualifikasi memperbaiki taman dalam beberapa jam...hmm... Mungkin saja mengingat orang-orang di zaman ini memiliki kekuatan aneh diluar nalarku" gumam Jia Li.


Tak mau pusing dengan kejadian semalam Jia Li memutuskan melanjutkan tugasnya, lebih cepat ia mengerjakan tugasnya maka akan lebih cepat selesai dan cepat pula ia bisa makan. Karena pada zaman ini pelayan baru bisa makan setelah mengerjakan semua pekerjaannya. 


Jia Li mulai mengerjakan pekerjaannya. Sama seperti biasa istana pangeran ke 3 tidak nampak, entah kemana pemilik istana itu. Dari yang Jia Li dengar selama ini, pangeran  pertama dan pangeran ke 3 memiliki kediaman lain di luar istana kekaisaran. Sama halnya dengan pangeran-pangeran lain di zaman ini yang sudah berusia 17 tahun, biasanya mereka akan pergi dari istana kekaisaran dan menetap di kediaman (istana kecil) yang telah disiapkan oleh pihak kekaisaran di luar istana kekaisaran. Itu seperti bentuk kedewasaan dan kemandirian. Menurut peraturan kekaisaran, pangeran yang boleh tinggal di istana kekaisaran meskipun usianya sudah melewati 17 tahun, hanya putra mahkota.  Namun karena kaisar begitu menyayangi pangeran pertama dan pangeran ke 3, jadi mereka diperbolehkan tetap tinggal di dalam istana selama putra mahkota belum ditetapkan. 


Sementara untuk para putri, biasanya akan menikah pada usia 14 tahun. Para putri itu akan dijodohkan dengan pangeran dari kerajaan tetangga, atau di nikahkan oleh para bangsawah untuk memperkuat hubungan politik. Sangat jarak ada putri yang menikah dengan pria yang dia cintai. Menyedihkan, itulah yang Jia Li bisa katakan untuk menggambarkan hal itu.


Sekarang Jia Li akan membersihkan ruang belajar pangeran ke 3. Tempat favorit Jia Li selain perpustakaan kekaisaran. 


Jia Li nampak bingung. Ruangan ini terlihat sangat rapi, namun ada beberapa posisi perabotan yang nampak lecet, dan ada juga yang telah berganti. Tentu Jia Li yang telah hafal dengan ruangan itu bisa melihat adanya kejanggalan pada kamar itu dalam waktu singkat. 


"ada yang aneh disini " ucap Jia Li.


Dahi Jia Li berkerut saat mencium bau darah. Meskipun bercak darah telah tidak ada bau darah akan sangat sulit dihilangkan jika tidak ditangani dengan baik, meskipun telah diberi pengharum ruangan.


"bau darah...?" gumam Jia Li. 


"abaikan saja Jia Li. Budak tidak boleh mencampuri urusan tuannya" ucap Jia Li.


Jia Li lebih memilih mengabaikannya. Intinya, ia tidak ingin mencampuri urusan orang lain karena memang seperti itulah selama ini Jia Li hidup di zamannya. Meskipun orang tua atau sahabat, ada batasan di mana tidak boleh mencampuri urusan pribadi seseorang. Semua manusia tentu memiliki privasi atau rahasia yang tidak ingin dibagi dengan orang lain. 


"semua orang punya rahasia" ucap jia ji.


Jia ji kembali melakukan kegiatannya yaitu membersihkan ruangan ini. Namun kegiatan Jia Li kembali terhenti saat ia melihat sebuah lukisan yang tergantung di dinding, lukisan itu baru pertama kali Jia Li lihat dan sepertinya baru dibuat karena catnya masih terlihat baru. Ia berjalan mendekati lukisan itu, menatapnya dengan sangat teliti. Lukisan itu menggambarkan seorang wanita yang sangat cantik.  Wanita cantik itu menggunakan baju merah dan sangat indah. Terlihat sangat pas untuknya yang cantik. Jika Jia Li tebak, wanita itu kemungkinan permaisuri kiew. Tapi terlihat dari raut wajah permaisuri kiew terlihat sedih, meskipun ia tersenyum tapi, senyum yang dipancarkan sang permaisuri itu hanya senyum yang menutupi luka. Dia tidak bahagia dengan kehidupannya.


"Kau bagai burung yang indah


Terjebak dalam sangkar emas


Kau selalu tersenyum karena hidup mewah


Tapi jauh di dalam dirimu kamu bersedih 


Kau menyesali segala keputusan yang pernah diambil


Kau ingin kembali ke awal dan mengubah semuanya


Tapi waktu tidak pernah bisa kembali ke awal.


Yang tersisa tinggal penyesalan" Jia Li tidak tahu apa yang dia ucapkan, tapi itu terdengar seperti puisi. Puisi yang sangat buruk. Tapi... Jia Li hanya menyampaikan apa yang dia lihat.


Tiba-tiba pandangan Jia Li kabur, dan ia jatuh pingsan. Semua menjadi gelap.


****


Wang Chunying terbangun tersadar. Matanya terbuka secara perlahan, saat ia membuka matanya ia melihat sang adik duduk di sampingnya. 


"kakak, kau sudah sadar ?" tanya Wang Xuemin. Terlihat raut wajah penuh kekhawatiran di wajahnya.


"haa..." rintih wang Chunying. Ia menyentuh kepalanya yang terasa sangat sakit.


"hati-hati kak. Lian cepat panggil tabib" ucap Wang Xuemin panik.


Kepala Wang Chunying terus merasa pusing. Ia berusaha mengingat kejadian semalam. Malam itu Wang Chunying memilih menghabiskan waktunya di istana adiknya dan membahas mengenai strategi untuk melawan Wang Dunrui atau pangeran ke 2 dan selir mei yang sangat licik. Malam semakin larut, sahabat sekaligus bawahan mereka telah pergi undur diri.  Hingga tiba dinana lampu ruang belajar dimatikan saat Wang Chunying dan wang Xuemin hendak tidur, meskipun lampu telah mati tapi kenyataannya mereka belum juga tertidur. Entah kenapa ia merasa gelisah, dan benar saja ada sekelompok orang datang berpakaian hitam datang, lalu menyerang mereka. Pertarungan akhirnya tidak terelakkan, meskipun tidak imbang karena 10 orang melawan 2 orang, namun Wang Chunying dan adiknya tidak akan menyerah dengan mudah lagi pula kemampuan beladiri mereka cukup bagus.


Saat pertarungan semakin sengit mereka mencoba lari ketaman belakang. Wang Chunying dan Wang Xuemin yakin anak buahnya berada di sana, dan benar saja anak buah mereka langsung ikut bertarung saat melihat ada sekelompok orang menyerang tuannya. Pertarungan sekarang menjadi imbang 10 orang melawan 10 orang. Saat Wang Chunying berhasil membunuh 3 orang pembunuh bayaran, tiba-tiba ada yang memanahnya dari secara tiba-tiba, Wang Chunying berhasil menghindar. Namun karena posisinya dekat sekali dengan danau dan kurang perhitungan sehingga dia terjatuh kedalam danau. Naasnya ia tidak bisa berenang, dan tidak ada yang bisa menolongnya sekarang meskipun ia telah berteriak meminta pertolong sekalipun. Hal itu karena semua orang-orangnya sedang sibuk bertarung, sampai-sampai mereka tidak menyadari Wang Chenying terjatuh ke danau.


Di dalam hati wang Chenying bertanya-tanya 'apakah ia akan mati ?". Ia berharap ada seseorang yang menolongnya, tidak peduli siapa Wang Chenying bersumpah akan memberikan apapun kepada orang yang mau menolongnya. Saat sumpah itu telah terucap dan tubuhnya mulai lemas, dari kejauhan ia melihat seorang gadis berlari ke arahnya. Ia tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana rupanya gadis itu, tapi sekilas gadis itu terlihat sangat anggun dan sangat mempesona. Lalu, gadis itu berenang mendekatinya dengan cepat namun tetap terlihat tenang. Wang Chenying tidak bisa melihat gadis itu lebih lama karena kesadarannya mulai menghilang. 


Wang Chenying kembali membuka matanya sedikit saat mulutnya mengeluarkan banyak air. Kesadarannya perlahan mulai pulih walau tubuhnya lemas, gadis itu dengan beraninya kembali menciumnya dan memberikan napas padanya. Bibir gadis kecil itu kecil, terasa sangat lembut dan sangat segar. Saat gadis itu menyadari bahwa ia telah terbangun, senyum indah tercetak di bibirnya yang kecil. Setelah itu Wang Chenying kembali tidak sadarkan diri.


Wang Chenying  terbangun dari lamunannya saat mendengar suara adiknya.


"kakak, tabib sudah datang" ucap Wang Xuemin.


Setelah diperiksa oleh tabib dan dinyatakan dalam keadaan baik, hanya perlu beristirahat. Setelah pemeriksa itu, tabib langsung pergi. Wang Chenying langsing menanyakan mengenai gadis itu kepada adiknya.


"apa kau tau dimana gadis yang menyelamatkan ku Wang Xuemin ?" tanya Wang Chenying.


Wang Xuemin menggelengkan kepalanya. Karena terlalu sibuk bertarung ia tidak sempat memperhatikan wajah gadis itu.  Waktu itu dia melihat gadis itu, awalnya ia pikir gadis itu musuh. Namun saat melihat kekhawatiran dan rasa takut di wajah gadis itu membuat ia berpikir jika gadis itu berniat menyelamatkan kakaknya, ia bernapas lega. Di sela-sela pertarungan ia mengintip, dan terus mengawasi gadis itu. Gadis itu dengan berani terjun ke dalam danau, berenang dengan cepat namun terlihat anggun kearah kakaknya. Tapi jujur waktu itu adalah waktu yang tidak akan pernah di lupakan karena gadis itu terlihat bagaikan dewi air. Sosoknya yang nampak cantik, dan anggun terlihat sangat mempesona. Wang Xuemin semakin terpesona saat melihat ujutnya di air, gaunnya yang mengembang di air membuat gadis itu seperti teratai yang sedang mekar, ditambah cahaya bulan yang bersinar sangat terang membuat gadis itu terlihat bercahaya. Wang Xuemin benar-benar terpesona.


"hai, kenapa kau melamun Xuemin ?" tanya Wang Chenying. Ia bingung saat melihat adiknya terdiam dalam waktu yang lama.


"bu...bukan apa-apa kak"jawab Wang Xuemin cepat.


"Xuemin, suruh orang-orang untuk mencari gadis itu. Aku ingin dia secepatnya. Selain itu, cepat atau lambat hidupnya pasti dalam bahaya karena dia menyaksikan pertarungan semalam dan dia menyelamatkan ku. Aku takut orang-orang selir mei mengincarnya" ucap Wang Chenying yang terlihat sangat khawatir.


"iya  kakak, aku akan mencari secepat yang aku bisa" ucap Wang Xuemin.


Mendengar hal itu, wang Cheying mengangguk puas.


"oh ya kakak. Aku sudah menyelidiki siapa yang mengirim pembunuh bayaran itu kakak. Kemungkinan besar mereka orang suruhan selir Mei !" ucap wang Xuemin yang terlihat sangat emosi. Tangannya terkepal kuat seolah dia siap menghancurkan sesuatu.


"aku sudah bisa menebaknya. Tapi… untuk sementara waktu kita diam saja. Tutupi semua kerusuhan ini, aku punya caraku sendiri untuk membalas mereka" ucap Wang Cheying.


Wang Xuemin yang mendengar ucapan kakaknya hanya bisa mematuhi semua ucapan kakaknya meskipun dia sebenarnya tidak suka. Tapi Wang Xuemin yakin kakaknya memiliki cara yang jauh lebih baik untuk menghancurkan musuh mereka.