"Jia Li 2"

"Jia Li 2"
17



Keesokan harinya.


Jia Li terbangun dari tidurnya. Saat ia membuka mata Jia Li melihat ruangan yang asing di matanya. Tiba-tiba ingatan mengenai mengenai kejadian kemarin terbayang di pikiran Jia Li, ingatan dimana pangeran pertama diserang dan para pembunuh bayaran mengejarnya hingga Jia Li memilih jatuh kedalam jurang. Ingatan itu membuat kepalanya terasa pusing. Sekali lagi bayangan mengenai pria paruh baya yang sangat mirip dengan ayahnya muncul, Jia Li berpikir jika itu terasa sangat nyata tapi sangat tidak mungkin jika ayahnya ada di dunia ini. Itu tidak mungkin. Jia Li yang mengingat ayahnya merasa sangat sedih, ia merindukan kedua orang tuanya. 


"aku pikir ayah disini, rupanya hanya mimpi" ucap Jia Li sendu.


Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Jia Li.


"apa yang kamu bicarakan, ayah memang disini" ucap Tong Mu.


"a...yah" air bening turun dari mata Jia Li. Jia Li langsung berlari ke arah pelukan Tong Mu.


"bagaimana ayah bisa disini,?" tanya Jia Li.


"ba...bagaimana ayah bisa disini, apa ibu juga disini ?" ucap Jia Li penuh semangat dan harapan.


Tong Mu yang mendengar itu tidak bisa menjawab.


"ayah, kenapa tidak menjawab. Kenapa ayah bisa disini, dan dimana ibu ? Apa ibu tidak ikut, apa ibu tidak rindu Jia Li ?" ucap Jia Li dengan mata yang penuh air mata. Hal itu membuat hati Tong Mu sakit.


"bu...bukan begitu sayang, ibumu....dia...sudah meninggal 15 tahun yang lalu, apa kamu lupa ?" tanya Tong Mu.


Ucapan Tong Mu sedikit membingungkan Jia Li.


"maksud ayah apa ? Mana mungkin ibu meninggal. Ayah bercanda ya" ucap Jia Li tidak percaya


"sayang, ayah serius" ucap Tong Mu lembut.


Seketika Jia Li menangis. Ia sangat merindukan ibunya. Melihat Jia Li menangis, Tong Mu memeluknya dengan sangat erat.


"sudah jangan menangis, ibu pasti tidak suka melihatmu menangis, lagipula ayah masih disini untuk mu" cuman itu yang bisa Tong Mh ucapkan untuk menghibur Jia Li.


Hari-hari berlalu dengan cepat. Semenjak hari itu, Jia Li dan Tong Mu sudah seperti ayah dan anak yang sesungguhnya, bahkan Tong Mu selalu memanjakan dan terlalu protektif pada Jia Li. Dan seiring berjalannya waktu Jia Li mulai tau siapa sebenarnya pria yang sangat mirip dengan ayahnya dari kehidupan sebelumnya. Dia adalah Tong Mu, saudagar kaya sekaligus bangsawan yang cukup terkenal, pria paruh baya itu telah ditinggal mati istri dan anak perempuannya. Tong Mu hanya sebatang kara sekarang. Menurut Jia Li, mungkin Tong Mu mengira ia adalah reinkarnasi putrinya yang telah meninggal karena bentuk fisik, nama dan juga sifat yang sangat mirip. Jia Li sendiri masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, tapi  yang jelas ia percaya dengan reinkarnasi benar-benar ada, karena ia telah mengalaminya. 


Atau lebih tepatnya… ini adalah cara tuhan mempersatukannya kembali dengan Tong Mu sebagai ayah dan anak.


****


Sementara itu.


"SZZT...BARAK..." suara bantingan.


"aku akan membunuh mereka, mereka berani membunuh gadis ku !" ucap pria berjubah putih dengan sangat murka. Pria itu menggenggam pedangnya dengan sangat erat, sorot matanya sangat tajam seakan siap menyerang kapan saja. Meskipun sebagian tubuh pria itu dibalut perban karena luka yang ia alami, namun tubuhnya masih terlihat sangat kuat dan perkasa.


Semua orang yang mendengar hal itu merasa terkejut, pasalnya mereka belum pernah melihat pria itu marah sebelumnya. Bahkan jika dia marah, pria itu tidak akan semengerikan ini. 


"kakak...  tenang lah kakak Chunying, lukamu masih belum sembuh " ucap Wang Xuemin.


"apah katamu, gadisku mati karena menyelamatkan pria lemah ini. Dan kau ingin aku beristirahat  !!!" bentak Wang Chunying.


Wang Xuemin tidak tahu lagi harus berbicara apa, ia kewalahan menghadapi kakaknya itu. Sama seperti sahabatnya yang lain, mereka juga kewalahan menghadapi Wang Chunying. Semenjak Wang Chunying ditemukan dalam keadaan memprihatinkan, pria itu selalu menyebut Jia Li sebagai gadisnya, dan mengatakan 'akan membalas dendam atas nama Jia Li".


Wang Xuemin sendiri hanya bisa diam. Hatinya sakit saat mendengar cerita kakaknya tentang pengorbanan besar yang dilakukan Jia Li demi kakaknya, dan yang paling menyakitkan adalah pengakuan cinta Wang Chunying terhadap Jia Li di depan semua orang. Pria itu, Wang Chunying jatuh cinta pada Jia Li. Sekarang Wang Xuemin mengerti perasaan apa yang dimilikinya untuk Jia Li selama ini, cinta. Ya Wang Xuemin baru menyadari jika ia juga mencintai Jia Li, tapi...mungkin rasa cinta itu hanya bisa dipendam untuk dirinya sendiri.  Wang Xuemin tidak masalah mengorbankan dirinya sendiri demi kakaknya, lagipula dia tidak mau bersaing atau merusak hubungannya dengan kakaknya sendiri hanya karena perempuan.


Hampir sama dengan Wang Xuemin, Lian juga merasakan hal yang sama, hanya saja sedikit berbeda. Setelah melihat dan mendengar pengakuan cinta dari pria lain ke Jia Li, hatinya terasa sakit dan rasa cemburu datang menyiksanya. Seketika Lian tau jika… itu adalah cinta, hanya saja... dia masih ragu dengan perasaannya sendiri. Apakah itu benar-benar cinta atau tidak, atau hanya rasa kagum saja. Tapi yang jelas adalah, Lian sangat takut kehilangan gadis itu dan… ia sangat menyayangi Jia Li. Jika Lian tau akan terjadi peristiwa ini, ia pasti akan menjaga Jia Li lebih baik lagi dan kejadian tragis itu tidak akan terjadi. Yang paling menyakitkan adalah, gadis yang ia sayangnya mengorbankan hidupnya untuk pria lain. Jika Lian ada disana, ia rela mengorbankan hidupnya agar gadis yang disayanginya agar bisa tetap hidup. Tapi nasi telah menjadi bubur, dan waktu tidak bisa kembali ke awal, yang bisa Lian lakukan sekarang adalah membalas dendam atas kematian Jia Li.


****


1 tahun kemudian.


Seorang anak perempuan berusia 11 tahun sedang membuat boneka salju di halaman rumahnya. Anak perempuan itu bagaikan dewi yang turun dari langit, bagaimana tidak ia memiliki wajah yang sangat cantik, mata yang indah dengan bulu mata yang lentik, bibir kecil berwarna pink kemerahan, kulit seputih susu, rambut hitam yang panjang, dan langsing. Ia sangat sempurna. Mantel bulu berwarna putih miliknya semakin membuatnya terlihat sangat cantik, ia bagaikan dewi salju.


"nona, sebaiknya kita masuk. Hujan salju semakin deras nona" ucap seorang pria yang menjadi pengawalnya.


" sebentar lagi Kun, boneka salju ku sebentar lagi selesai" ucap anak perempuan itu lembut. Ia terlihat sangat bersemangat membuat boneka salju.


Kun adalah pengawal yang bertugas menjaga Jia Li. Usianya baru 21 tahun, namun kemampuan bela dirinya luar biasa bagus dan ia memiliki paras yang sangat tampan. Hanya saja Kun terlalu kaku dan sangat sulit bergaul. Bahkan setiap kali Jia Li mengajaknya berbicara paling Kun hanya membalasnya  sepatah dua patah, padahal Jia Li lebih suka dengan pria yang banyak bicara seperti....Lian. Pria yang selalu ingin tahu.


"Jia Li, masuk !. Nanti kau sakit nak" ucap pria paruh baya yang tidak lain adalah Tong Mu.


"sebentar lagi ayah" ucap Jia Li.


"tidak ada tapi-tapian, ayo masuk" ucap Tong Mu tegas.


Tong Mu harus tegas terhadap Jia Li kalau soal ini, pasalnya anak perempuannya itu sangat mudah sakit jika suhu udara terlalu dingin. 


Jia Li memajukan bibirnya, ia kesal karena kegiatannya diganggu. Tapi ia tetap menuruti perkataan pria yang kini telah menjadi ayah angkatnya. Setelah masuk kedalam rumah, Jia Li langsung disuguhkan dengan sup hangat. Kun sendiri lebih memilih berdiri di depan pintu masuk bersama Hongli Ho, penjaga setia Tong Mu.


"makan ini, ini akan menghangatkan tubuhmu nak" ucap Tong Mu penuh kasih sayang.


Jia Li tidak banyak bicara, ia langsung mengambil sup itu dan makan dengan perlahan.


"nak, besok kita akan pergi ke ibu kota" ucap Tong Mu.


Jia Li menatap Tong Mu, "apa letaknya jauh ?" 


Selama ia tinggal dengan Tong Mu ia tidak pernah ke ibu kota kekaisaran.  Selama 1 tahun ini, ia tinggal di desa kecil dekat perbatasan kekaisaran selatan dan kekaisaran matahari. Membicarakan kekaisaran matahari, sebenarnya Jia Li memiliki niat untuk kembali kekaisaran matahari  untuk melihat keadaan Wang Chunying, namun penjagaan perbatasan yang sangat ketat dari dua kekaisaran itu sangat menyulitkan Jia Li. Tapi saat mendengar berita dari orang-orang yang pernah ke kekaisaran matahari mengatakan kondisi pangeran pertama dalam keadaan baik setelah lomba berburu, Jia Li mulai merasa lega dan mengurungkan niatnya untuk kembali ke kekaisaran matahari. Ia mulai merasa betah di kekaisaran selatan karena ada ayahnya.


"ya...mungkin akan memakan waktu 2 hari jika menggunakan kereta kuda" jawab Tong Mu.


"kenapa tidak ayah saja" Tong Mu yang mendengar itu mengendus kesal.


"pokoknya kau harus ikut. Ayah tidak bisa meninggalkanmu, lagipula kau akan bertemu dengan tunanganmu" ucapan itu langsung membuat Jia Li tersedak.


"UHK UHK" Jia Li terbatuk-batuk saat mendengar ucapan Tong Mu.


"makanya makannya pelan-pelan, pelayan cepat ambilkan air minum" perintah Tong Mu.


Tak lama pelayan datang membawa minuman dan Jia Li langsung meminum air itu hingga habis.


"ayah, yang benar saja. Umurku baru 12 tahun dan ayah mau aku menikah. Ayah tidak menjualku pada pria tua hanya demi uang kan ?" ucap Jia Li kesal.


"kau ini bicara apa anak nakal ! Mana Mungkin aku tega menjual mu, aku hanya menjodohkanmu dengan pangeran ke 4 kekaisaran selatan bukannya dengan pria tua. Lagipula ini hanya perjodohan biasa bukan pernikahan, jika suatu hari kalian merasa tidak cocok maka perjodohan tidak akan dibatalkan" jelas Tong Mu bada putrinya. Jia Li yang mendengar itu menatap ayahnya penuh selidik.


"ayah, bersungguh-sungguh dengan kata-kata ayah. Ayah tidak membohongi Jia Li ?" tanya Jia Li dengan mata yang berkaca-kaca yang dibalas anggukan oleh Tong Mu. Jia Li kembali tersenyum lebar.


Jia Li sendiri juga tidak mengerti dengan dirinya sekarang. pikirannya mulai mirip seperti anak-anak berusia 12 tahun, padahal umurnya yang sebenarnya adalah 30 tahun. Mungkin karena tubuhnya yang berusia 12 tahun, membuat pemikiran dan sikapnya juga sedikit berpengaruh. Mungkin begitu.