"Jia Li 2"

"Jia Li 2"
21



"terima kasih ayah" ucap Jia Li. Ia tahu ayahnya ingin menghiburnya.


Tong Mu tersenyum melihat Jia Li. 


30 menit kemudian kereta yang ditumpangi Jia Li dan Tong Mu sudah sampai di gerbang istana. Gerbang itu sangat besar, tinggi dan terlihat sangat megah. Semakin kereta itu masuk, maka semakin terlihat kemegahan istana itu. Jia Li menatap kagum dengan herbang istana dari kekaisaran selatan itu. 


Saat Jia Li  turun dari kereta, sudah ada beberapa pelayan wanita yang menunggunya. Jia Li kemudian menatap Tong Mu. Tong Mu yang menyadari kegelisahan putrinya berjalan mendekatinya.


"tenanglah, mereka akan membawamu menemui ibu suri tua" ucap Tong Mu.


"ayah tidak ikut menemui ibu suri tua ? Kenapa ?" tanya Jia Li.


"ayah harus menemui kaisar sebentar, nanti ayah akan akan kesana" ucap Tong Mu sambil tersenyum.


"baiklah ayah"


Setelah itu Tong Mu pergi. Jia Li masih disana melihat ayahnya sampai menghilang.


"nona, mari ikut saya" ucap seorang pelayan. Jia Li menatap pelayan itu, dan hanya mengangguk kecil.


Saat di perjalanan, mata Jia Li hanya dimanjakan dengan keindahan dan kemewahan setiap bagian sudut istana. Di setiap sudut istana Jia Li juga bisa melihat banyak prajurit yang berjaga, dan melihat banyak pelayan yang mondar mandir, mereka terlihat sangat sibuk. Jia Li semakin kagum saat melihat sebuah bangunan yang terlihat sangat indah di tengah taman bunga, di dalam bangunan terbuka itu ada sekitar 40 perempuan berparas cantik, sedang menikmati tek mereka. Tapi terdapat 3 perempuan yang memiliki meja tersendiri dan berpakaian ala kerajaan. Jia Li menebak 3 wanita itu adalah ibu suri tua, ibu suri, dan permaisuri. Tapi anehnya di tempat ini tidak ada prajurit yang berjaga.


Saat mereka menyadari kedatangan Jia Li, kegiatan minum teh langsung terhenti. 


"salam hormat saya ibu suri tua, ibu suri, dan permaisuri" ucap Jia Li sambil memberi hormat.


"bagunlah" ucap wanita tua yang Jia Li yakini sebagai ibu suri tua. Jia Li akhirnya mengangkat wajahnya.


"apakah kamu Jia Li, putri Tong Mu ?" tanya ibu suri tua. Saat namanya disebut, banyak perempuan yang berbisik.


"ya, ini saya ibu suri tua" ucap Jia Li.


Kemudian terlihat senyum lembut di wajah Ibu suri tua yang membuat Jia Li merasa tenang.


"kemarilah" ucat ibu suri tua.


Jia Li kemudian berjalan ke arah ibu suri tua. Setelah sampai di depannya, ibu suri tua menarik lembut tengan Jia Li, mengarahkannya untuk duduk di sebelahnya. Jia Li tentun terkejut mendapati perlakuan baik dari ibu suri tua. Begitu juga semua orang yang melihatnya 


"kenapa kamu tidak datang mengunjungiku lebih awal Jia Li" suara ibu suri tua begitu lembut, dan ia menatap Jia Li sangat hangat. 


"saya takut ibu suri tua tidak menyukai saya" entah apa yang merasuki Jia Li, tiba-tiba ia mengatakan apa yang ia pikirkan. Jia Li langsung menutup mulutnya saat menyadari kesalahannya. 


Semua orang menatapnya tidak percaya, mungkin mereka berpikir 'bagaimana bisa ia mengatakan itu pada ibu suri tua,  dia sangat lancang"


"ma...maafkan saya, saya terlalu lancang" Jia Li langsung berlutut di hadapan ibu suri tua.


Tapi bukannya marah, ibu suri tua malah tertawa keras. Seolah melihat hal yang lucu.


"kau sangat mirip dengan ayahmu, dia selalu mengatakan apa yang dia pikirkan tanpa sadar" jelas ibu suri tua. 


Ucapan itu bagaikan angin segar di telinga Jia Li. Jia Li bisa melihat betapa sayangnya ibu suri tua pada Tong Mu. 


"kenapa kau duduk di lantai, ayo duduk disini" tambah permaisuri tua sambil menepuk-nepukkan kursi di sebelahnya. 


Jia Li bangkit lalu duduk disamping ibu suri tua.


"jadi ibu suri tua tidak marah padaku ?" tanya Jia Li hati-hati.


Di mata ibu suri tua, Jia Li bagaikan malaikat kecil yang sangat suci, lalu bagaimana ia bisa marah.


"tidak, mana mungkin aku marah padamu" permaisuri tua mencubit bibi Jia Li gemes. 


Jia Li bisa melihat kasih sayang yang mulai tumbuh dari ibu suri tua untuknya. Jia Li yang melihat hal itu merasa sangat senang. Sementara orang-orang yang melihatnya menatap Jia Li... iri. Sebenarnya ibu suri tua adalah orang yang mudah sekali tersinggung, pemarah dan sangat dingin di mata banyak orang, bahkan untuk tersenyum saja sangat jarang. Tapi di depan Jia Li, dia  tertawa bahagia seperti sekarang.


"ibu suri tua terlihat sangat bahagia. Nampaknya Jia Li harus sering mengunjungi istana untuk menemani ibu suri tua" ucap wanita paruh baya yang memakai baju ala kerajaan yang tidak lain adalah ibu suri. 


Ibu suri tersenyum menatap Jia Li.


"saya akan datang jika itu tidak mengganggu" jawab Jia Li.


"mana mungkin kamu mengganggu, kamukan cicit kesayanganku" ucap ibu suri tua yang membuat Jia Li kaget. 


Jia Li tau betul jika ibu suri tua memiliki banyak selaki cucu dan juga cicit mengingat menantunya sangat banyak, tak terhitung jumlahnya. Tapi Jia Li tidak menyangka bisa menjadi cucu kesayangan, padahal ia bukan anak kandung Tong Mu di kehidupan ini. Hal itu membuat Jia Li terharu.


"terimakasih atas kasih sayang ibu suri tua" ucap Jia Li dengan mata berkaca-kaca yang mampu membius hati banyak orang. Kecuali para pembencinya.


Ibu suri tua bisa melihat ketulusan dari mata Jia Li merasa bahagia. Ibu suri tua mengambil  tangan Jia Li dan mengelusnya, mencoba memberikan ketenangan dan kehangatan.


Ibu suri yang melihat itu tersenyum kecil. Ia juga bisa melihat ketulusan dari mata Jia Li, tidak seperti beberapa wanita yang memanfaatkan air mata untuk meluluhkan hati pria.


"ibu suri tua, apakah aku boleh bertanya pada Jia Li ? "tanya seorang wanita yang berpakaian seperti permaisuri. Permaisuri menatap Jia Li dengan mata liciknya. 


"tanyakan lah" ucap ibu suri tua.


Permaisuri itu langsung menatap Jia Li.


" kenapa kamu menutupi wajahmu dengan cadar ?" ucap permaisuri.


Dari ucapan dan sorot mata permaisuri itu, Jia Li bisa merasakan jika permaisuri tidak menyukainya tapi… kenapa ?


Sesaat Jia Li menatap ibu suri tua dan ibu suri, mereka juga terlihat penasaran. Sama halnya dengan orang-orang yang berada di tempat itu.


"itu....hem...saya hanya ingin memperlihatkan wajah saya kepada suami saya kelak. Saya ingin hanya dia yang melihat wajah saya, seperti perempuan dari wilayah timur. tapi jika ibu suri tua dan ibu suri ingin melihat, saya tidak masalah jika memperlihatkan wajah saya" ucap Jia Li. Mungkin itu adalah alasan yang tepat menurut Jia Li, saat diadakannya pesta musim panas di kekaisaran matahari, Jia Li melihat hampir semua perempuan bangsawan dari timur menggunakan penutup wajah.


"hahahahah... Bagus-bagus. Kamu memang tidak mengecewakan ku" tawa ibu suri tua.


Cukup lama mereka bercerita, dan semakin lama mereka bercerita Jia Li semakin tau siapa-siapa saja yang suka dan tidak suka dengannya. Jia Li juga bisa tau lebih banyak mengenai kehidupan di istana ini. Selain itu Jia Li juga tahu jika perempuan yang hadir disini adalah permaisuri dari para pangeran dan selir kaisar. Jika mereka hanya berstatus selir pangeran, mereka tidak layak datang ke pertemuan seperti ini, bahkan di pesta-pesta bangsawal lainnya. Kecuali dia sangat dicintai.


Disisi lain Tong Mu sedang duduk manis sambil menikmati tehnya bersama saudara satu neneknya sekaligus sahabat baiknya. Siapa Lagi jika bukan kaisar. Ayah Tong Mu adalah anak kedua dari ibu suri tua, dan adik dari mendiang kaisar terdahulu. Meskipun dia seorang bangsawan yang sangat berpengaruh namun Tong Mu tidak ingin masuk dalam dunia politik kekaisaran. Ia lebih suka berdagang dan membangun kekuatannya sendiri tanpa bantuan pihak kekaisaran. Dan coba lihat dia sekarang, dia mampu menjadi orang terkaya kedua dan ditakuti setelah kekaisaran selatan.


"bagaimana harimu ?" tanya kaisar Zhang Junda.


"kabarku baik, kau ?" tanya Tong Mu. Begitulah Tong Mu, ia bersikap sangat santai jika sedang berdua dengan sahabatnya itu.


"ya...tidak begitu baik" Zhang Junda menatap sahabatnya iri. Rasanya ia menyesal telah menjadi kaisar.


"kenapa ? Apa kau menyesal menjadi kaisar ?" ucapan Tong Mu asal.


"...." tidak ada jawaban yang berarti 'iya"


"duduk di kursi emas dan memiliki banyak kecantikan, tapi hidup terasa sendirian ya ? Jika aku jadi kamu, aku akan mundur dari tahta secepatnya" Tong Mu terlihat tidak peduli pada Zhang Junda, dia mengambil kue di atas meja dan mulai memakannya.


"aku ingin melakukannya dari dulu, tapi ini tidak semudah yang kau bayangkan." Zhang Junda terlihat murung.


"aku tau ini tidak mudah, makanya aku tidak mau ikut campur urusan politik, dan... bukannya aku sudah sering memperingatkan kamu dulu tentang akibat duduk di kursi emas itu" jelas Tong Mu.


"...." Zhang Junda kehilangan kata-kata.


Sebenarnya Tong Mu sudah memperingatkannya tentang tahta emas yang terasa sangat dingin itu pada sepupunya berulang-ulang, namun sepupunya mengabaikan semua ucapannya. Dan lihat, sekarang dia menyesal.


"pada awalnya mungkin aku kesulitan melepas kemegahan yang ditawarkan pihak kekaisaran padaku. Dari... seorang pejabat tinggi, aku beralih ke pedagang, jujur itu sangat sulit. Pernah di tipu, pernah rugi, pernah bangrut, ya...tapi itulah namanya hidup, butuh usaha lebih keras dan otak yang pintar agar bisa lebih sukses.  Meskipun sering jatuh bangun dalam dunia bisnis, tapi aku menikmati semua prosesnya, dan hidupku semakin lengkap dengan memiliki istri cantik yang mencintaiku dan anak yang cantik pula. Meskipun kebahagiaan ku sesaat, tapi itu saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidup ku" ucap Tong Mu sambil terus makan cemilan.


"sedangkan kamu ?  Kau mungkin memiliki segalanya tapi... itu semua tidak akan bisa memuaskan hati mu kan ?" tambah Tong Mu.


"kau sok tu Tong Mu" elak Zhang Junda.


"hem...aku tau. Kita contohkan saja begini, kau memiliki banyak wanita cantik di harem mu, tapi mereka tidak ada yang bisa membuatmu bertekuk lutut di hadapan  mereka. Itu berarti kau hanya menganggap mereka sebagai pemuas nafsumu saja. Sementara aku, aku memiliki wanita yang kucintai, dan istriku juga mencintaiku. Bagiku istriku mampu memenuhi ruang di hatiku sampai-sampai wanita lain tidak bisa masuk dalam kamar ku. Itulah yang namanya cinta. Aku memiliki wanita yang aku cintai, tapi kamu tidak hahahaha..." ejek Tong Mu tanpa rasa bersalah.


Ucapan Tong Mu membuat kaisar Zhang Junda kesal. Dia merasa sangat iri. Dulu ia pernah mencintai seorang wanita, dia adalah permaisuri Ni Ni, permaisuri terdahulu. Meskipun Ni Ni adalah seorang permaisuri dan istri sahnya kaisar Zhang, namun wanita itu tidak pernah mencintainya. Tapi, tidak peduli bagaimana, kaisar Zhang tetap menjadikan Ni Ni sebagai ratu di hatinya dan menganggapnya sebagai satu-satunya istrinya. Sementara wanita lain yang masuk ke ranjangnya hanyalah alat politik atau alat pemuas nafsu saja, tidak lebih. Tapi sayangnya umur permaisuri Ni Ni tidak lama. Permaisuri Ni Ni  sudah lama meninggal dunia, lebih tepatnya saat proses melahirkan anaknya yang ke 3. Kehilangan istri tercintanya membuat Kaisar Zhang benar-benar merasa kehilangan waktu itu. Bahkan semenjak kematian istrinya, kaisar Zhang tidak pernah lagi merasakan cinta di hidupnya. Kehidupan di istana yang semua terasa indah, kini terasa bagai dineraka.


"seandainya kau tidak menjadi kaisar, dia pasti masih hidup" ucapan. Tong Mu membangunkan kaisar Zhang Junda dari lamunannya.


"apa maksudmu ?"  tanya Zhang Junda.


"apa kamu pikir kematian Ni Ni karena proses melahirkan, kau terlalu bodoh. Asal kau tau, ini bisa saja direncanakan oleh istrimu yang lain…" ucapan Tong Mu terhenti, pria itu terlalu malas membahas  masa lalu yang menyedihkan itu.  


"lupakan ucapanku tadi. Itu hanya tebakan ku saja" ucap Tong Mu.


Kaisar Zhang Junda hanya diam. Dia memang menduganya begitu, tapi tidak ada bukti yang mengarah ke pembunuhan. Zhang Junda mengepalkan tangannya, ia sangat marah dan merasa bersalah pada mendiang istrinya karena tidak becus menjadi suami. Dia memang kaisar, tapi dia juga seorang suami yang benar-benar mencintai istri pertamanya itu.


Tong Mu yang melihat itu langsung mengganti topik pembicaraan. Jika ini terus berlanjut, pasti kaisar Zhang Junda akan mengamuk.


"lupakan itu, bagaimana dengan pertunangan putriku dan putra ke 4 mu ?" Tong Mu mulai serius.


"kenapa ? Apa kau tidak puas dengan putra ke4 ku ? Atau kau ingin putrimu itu menjadi permaisuri kekaisaran masa depan ?" tanya Zhang Junda.


"jangan berpikir terlalu jauh Junda" Tong Mu menatap Zhang Junda tidak suka.


"kenapa ? Bukannya bagus jika putrimu menjadi permaisuri masa depan kekaisaran ini, ibu suri tua dan ibu suru pasti sangat menduKung" Zhang Junda terlihat sangat bersemangat. 


"masalahnya adalah, putriku sepertinya tidak suka berada di istana. Dia bahkan terlihat tidak bahagia dengan pertunangan ini" ucap Tong Mu.


Zhang Junda hampir tersedak mendengar ucapan Tong Mu.


"yang benar saja, banyak gadis berlomba-lomba menjadi permaisuri. Tapi...dia bahkan tidak suka berada di istana ?" Zhang Junda menatap Tong Mu tidak percaya.


"ya....itulah putriku. Dia sama sepertiku. Tidak suka berada di istana" ucap Tong Mu lagi.


"lalu bagaimana kedepannya ?" tanya Zhang Junda.  Dia bisa menebak apa yang Tong Mu inginkan.


"jika kedepannya putriku masih tidak menyukai putramu. Maka batalkan saja pertunangannya. Bagiku kebahagiaan putriku lebih penting" ucap Tong Mu dengan serius.


"apah ! Apa kau gila. Perjodohan ini direncanakan ibu suri tua, bukan aku. Aku bahkan di omeli habis-habisan dengan ibu saat menyarankan pangeran ke 4 bukan, putra mahkota ! Dan sekarang kau ingin membatalkannya. Semudah itu !" Zhang Junda terlihat sangat marah pada sahabatnya itu.


Pada awalnya yang ingin di jodohkan dengan Jia Li adalah pangeran pertama. Namun Zhang Junda sudah tau Tong Mu pasti dika mau putrinya menjadi permaisuri, jadi ia menyarankan pangeran ke 4 pada ibu suri tu. Awalnya ibu suri tua sangat menentang dan Zhang Junda dimarahi habis-habisan oleh ibu suri tua dan ibu suru, namun lambat ibu suri tua dan ibu suri setuju. Tapi sekarang sahabatnya berencana menolak perjodohan itu, lalu bagaimana ia mengatakannya ke ibu suri tua dan ibu suri. Dia pasti akan dimusuhi. Ibu suri tua dan ibu suri pasti mengira dialah yang menginginkan pertunangan ini batal, padahal ini keinginan Tong Mu sendiri.  


"tenanglah, aku akan membantumu membujuk ibu suru tau dan ibu suri nanti" ucap Tong Mu saat menyadari kemarahan dan kekhawatiran sahabatnya itu.


Mendengar hal itu, Zhang Junda sedikit bernapas lega.


"kau sepertinya sangat menyayangi dia, padahal dia cuman anak angkatmu" ucapan Zhang Junda membuat Tong Mu marah.


"tutup mulutmu sekarang, atau aku akan robeknya " ucapan Tong Mu membuat Zhang Junda membeku. Dia sebenarnya juga takut dengan sikap gila saudaranya itu.


"baik-baik" ucap Zhang Junda cepat.


"tidak peduli dia darah dagingku atau bukan, bagiku dia tetap putriku !" geram Tong Mu. 


Setelah mengatakan itu Tong Mu meninggalkan Zhang Junda.


"kau ingin kemana ?" tanya Zhang Junda cepat. Dia takut Tong Mu memusuhinya. Baginya Tong Mu adalah sahabat yang paling berharga.


"pergi menemui ibu suri tu" suara Tong Mu kembali santai. Zhang Junda sedikit bernapas lega. 


____


Trima kasih sudah baca novel ini 😊. Jangan lupa like jika suka bab ini ya, komen dan beri keritik agar kedepannya penulisan saya jauh lebih bagus lagi.