
Tepat pada saat gerbang belakang akan ditutup, Jia Li dan Mo An telah sampai. Beruntung penjaga gerbang belakang memiliki hati yang baik dan mengizinkan mereka masuk. Setelah sampai di istana Jia Li dan Mo An langsung pulang ke kamar masing-masing. Jia Li sangat lelah karena berkeliling seharian, ia sangat ingin tidur lebih cepat pada malam ini. Tapi siapa yang sangka, tepat pada saat Jia Li hendak masuk ke kamar pelayan senior datang dan memarahinya.
"bagus ya kamu keluyuran ! Sedangkan kami disini harus bekerja keras" ucap salah satu pelayan. Nama pelayan itu adalah Nowa. Pelayan senior yang selalu menyusahkan Jia Li, tidak hanya ia tapi semua pelayan juniornya yang lain. Gadis itu sok berkuasa, membuat Jia Li jengkel.
"bukannya hari ini, hari liburku ? Apa aku tidak boleh menikmati hari liburku walau cuman sebentar ?" tanya Jia Li.
Nowa yang mendengar itu mendadak murka, dia tidak suka di bantah. Nowa menarik lengan Jia Li lan menyeretnya kasar keluar dari kamar, hingga Jia Li terjatuh.
"ah...." rintih Jia Li.
"kau tidur di luar malam ini, anggap ini hukumanmu karena berani membantahku dan melalaikan tugasmu !" ucap Nowa.
Semua pelayan yang melihat itu hanya bisa diam, mereka ingin membantu namun rasa takutnya pada Nowa membuat mereka hanya bisa diam. Hal itu karena Nowa adalah orang kepercayaan permaisuri yang ditugaskan di dapur istana (atau lebih tepatnya mata-mata).
Lagi dan lagi Jia Li hanya bisa sabar, meskipun di dalam hatinya ia sangat ingin memberontak karena merasa ditindas dan haknya dirampas. Tapi jika ia memberontak itu tidak akan baik bagi Jia Li, dia hanya pelayan rendah dan tidak memiliki pegangan. Jika terjadi sesuatu padanya, siapa yang akan peduli, Mo An ? Meskipun Mo An peduli, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menjadi penonton.
Keinginan Jia Li untuk keluar dari istana mulai muncul. Jika ia tidak bisa pulang ke zamannya maka jalan terbaik adalah mencari jati diri dan membangun kekuatannya sendiri untuk bertahan hidup. Di zaman ini hanya orang berkuasa yang dipandang dan dihargai, orang kalangan bawah mereka seperti semut. Jika mereka mati pun tidak akan ada yang peduli.
Tak ingin terus menjadi tontonan, Jia Li pergi meninggalkan wilayah yang menjadi kamar para pelayan. Dia ingin mencari ketenangan.
"indah" ucap Jia Li saat melihat langit.
Malam ini langit penuh dengan bintang, dan bulan bersinar dengan terang. Jika di zamannya dulu, untuk melihat bintang ia harus pergi ke tempat yang jauh karena langit penuh bintang tidak akan bisa dijumpai di kota-kota besar karena langit ditutupi polusi udara. Ya ...setidaknya ada keuntungannya dari zaman ini, yaitu tidak perlu modal besar untuk melihat bintang yang indah.
Jia Li terus berjalan menyusuri istana, jua li hanya bisa melihat-lihat istana-istana megah milik kaisar, permaisuri, para selir, pangeran dan putri dari kejauhan. Jia Li tidak mau melangkah terlalu jauh, ia takut hal itu akan membawa masalah untuknya. Karena merasa lelah saat pergi ke wilayah pangeran ke 3, Jia Li duduk di dekat gerbang istana pangeran ke 3. Menurut Jia Li tempat ini akan lebih aman dari istana yang lain mengingat ia adalah budak dari pangeran ke 3, setidaknya jika dia berbuat kesalahan maka hukumannya tidak akan berat, mengingat Jia Li adalah orang-orang pangeran ke 3
Sebenarnya ada tempat lain yang sangat ingin Jia Li kunjungi, apalagi kalau bukan perpustakaan kekaisaran. Tapi karena beberapa hari yang lalu ada berita perpustakaan kekaisaran dimasuki penyusup, penjagaan di perpustakaan menjadi sangat ketat. Jia Li hanya bisa menatap sedih bangunan yang sangat ia rindukan itu, pasalnya sudah beberapa hari ini Jia Li tidak pernah lagi masuk kesana.
"TOLONG...!" teriak seseorang yang langsung membuat Jia Li berdiri. Dari suara itu Jia Li bisa menebak itu suara seorang pria.
Jia Li yang merasa kasihan dengan pemilik suara itu mulai berjalan mendekati asal suara. Jia Li mengintip dari pinggir gerbang masuk taman belakang pangeran ke 3. Betapa terkejutnya ia saat melihat sekelompok orang sedang bertarung dengan sengit.
"TOLONG....Ttolo..." suara itu kembali menarik perhatian Jia Li.
Dia mencari asal suara, saat ia menatap danau ia terkejut. Ia melihat seorang pria tenggelam, pria itu berusaha keras agar tetap di permukaan. Terlihat sangat jelas jika dia panik dan ketakutan dari wajahnya. Benar-benar terlihat menyedihkan. Perlahan tapi pasti pria itu mulai kelelahan, dan kehabisan napas, itu terlihat dengan jelas dari gerakan pria itu yang mulai tidak bertenaga.
Jia Li tidak tahu apa yang merasukinya, namun tubuhnya bergerak dengan cepat hendak menyelamatkan pria itu. Ia berlari ke arah danau, dan dengan cepat menyelam di sana. Jika hanya soal berenang itu bukan masalah besar, karena di kehidupan dahulunya Jia Li adalah ahlinya, ia bahkan pernah mendapat juara satu saat lomba berenang waktu sma. Olahraga renang termasuk olahraga favoritnya.
Jia Li berenang dengan sangat indah, baju yang ia kenakan mungkin hanya baju pelayan rendahan. Tapi itu terlihat indah seperti teratai saat berada di air, belum lagi cahaya bulan yang menyinari wajahnya membuat Jia Li seperti dewi air. Air dingin yang menerpa kulitnya kembali membuat Jia Li mati rasa, bahkan bibirnya sudah gemetar karena kedinginan, namun ia mencoba bertahan.
Saat Jia Li sampai ke tempat pria itu, pria itu telah tidak sadarkan diri. Tak ingin membuang waktu, Jia Li langsung menyelamatkan pria itu, lalu Jia Li langsung membawanya ke tepian, ia langsung memeriksa keadaan pria itu. Saat Jia Li mengetahui pria itu tidak bernapas, ia mulai agak panik. Jia Li melakukan apa yang dia ketahui, seperti menekan bagian dada beberapa kali. Tapi saat hal-hal itu tidak menpan, Jia Li dengan sigap memberi napas buatan melalui mulut kemurit, dengan beberapa kali bantuan pernapasan, pria itu mulai terbatuk dan kembali bernapas. Mata pria itu terbuka sedikit. Jia Li cukup senang saat itu, rasa takut dan panik nya mulai pergi entah kemana.
"syukurlah kau sudah sadar tuan, aku hampir mati karena panik dan takut kau mati" ucap Jia Li dengan senyum kecil.
Perlahan pria itu kembali menutup matanya. Pria itu masih terlihat sangat lemah saat ini, Jia Li merasa tidak enak meninggalkannya di tengah-tengah pertarungan. Bisa-bisa dia mati karena tanpa sengaja tertusuk pedang. Jia Li memutuskan membawanya ke tempat yang aman, meskipun itu akan menguras tenaganya mengingat tubuh pria itu 3 kali dari tubuhnya. Setelah berada di tempat yang aman,
Jia Li duduk di samping pria itu, dia sangat kelelahan. Jia Li menarik napas oksigen dengan rakus, sambil sesekali memukul tubuhnya yang terasa sakit. Setelah merasa baikan, Jia Li kembali memeriksa tubuh pria itu, setelah mengetahui kondisi pria itu dalam keadaan baik, Jia Li baru bisa bernapas lega.
"kau berhutang banyak padaku, tuan" ucap Jia Li sambil menatap pria itu tidak suka.
Saat ini mereka sedang berada di gudang penyimpanan makanan kuda, karena tempat ini penuh dengan jerami sehingga tempat ini terasa sedikit hangat. Jia Li menutupi tubuh pria itu dengan jerami, agar bisa menghangatkan tubuh dan menyembunyikannya. Setelah itu Jia Li memutuskan untuk kembali ke kamarnya dengan cara menyelinap agar bisa mengganti pakaiannya. Dia tidak mau jatuh sakit lagi, apalagi tubuh nya saat ini sangat mudah terserang penyakit.