"Jia Li 2"

"Jia Li 2"
59



Di sebuah taman bunga, Jia Li sedang duduk manis sambil menikmati secangkir teh. 


"xia" panggil Jia Li lembut.


Mendengar panggilan Jia Li, Xie dengan cepat menghampiri Jia Li 


"iya nyonya"ucap Xia.


"bisa kamu buatkan aku kue  ?" ucap Jia Li.


Mendengar hal itu Xia terkejut.


"apah nyonya ? Nyonya ingin saya membuat kue ?" ucap Xia.


"iya, memangnya kenapa ?" tanya Jia Li.


"saya tidak bisa membuat kue nyonya, kenapa tidak suruh juru masak saja nyonya. Dia akan membuatkan semua kue yang nyonya inginkan" ucap Xia


"tapi aku maunya kue buatanmu" ucap Jia Li kesal.


Bukan maksud Xua untuk menolak permintaan Jia Li. Tapi, ia benar-benar tidak bisa membuat Kue.


"tapi nyonya, saya benar-benar tidak tahu caranya membuat kue" ucap Xia


Kebetulan saat itu Wang Chunying, dan Shen sedang lewat, dan tanpa sengaja mereka melihat wajah Jia Li yang nampak kesal pada Xia. Karena penasaran Wang Chunying dan Shen mendekati Jia Li.


"ada apa istriku" ucap Wang Chunying dengan lembut.


Menyadari kedatangan Wang Chunying, Jia Li langsung berlari ke pelukan pria itu.


"Wang Chunying, Xie tidak mau membuatkan aku kue" rengek Jia Li. Wanita itu mengadu pada suaminya seperti anak kecil.  


Tubuh Xia gemetar ketakutan. Ia takut Wang Chunying akan marah.


"xia bisa kamu jelaskan ini " Wang Chunying menatap Xia tajam.


"ampuni saya tuan. Bukan maksud saya menolak perintah nyonya tuan, tapi saya benar tidak tahu caranya membuat kue" jelas Xia.


Wang Chunying kemudian menatap Jia Li. 


"dia tidak bisa sayang, kenapa tidak menyuruh koki untuk membuatkannya" Wang Chunying mencoba memberi pengertian pada Jia Li.


"iya nyonya. Kue buatan koki pasti jauh lebih enak" ucap Shen.


"tidak mau Wang Chunying. Aku cuman mau buatan xia. Kenapa kamu tidak mau menuruti keinginan ku lagi  ? Apakah kamu tidak sayang padaku lagi ?" tanya Jia Li dengan mata yang berkaca-kaca.


Wang Chunying kehilangan kata-kata. Ia tidak menyangka satu kalimat sederhananya mampu membuat Jia Li bersedih.


"bu...bukan begitu…maksudku" Wang Chunying gagap.


"terus kenapa permintaan ku di tolak" ucap Jia Li yang terlihat menyedihkan, membuat Wang Chunying merasa bersalah.


Wang Chunying mendesah kasar.


"sebaiknya kamu belajar membuat kue dengan para koki dengan cepat , Xia. Lalu buatlah kue yang enak buat istriku" ucap  Wang Chunying pada akhirnya.


"...baik taun…" Xia tidak memiliki pilihan selain mematuhi ucapan Wang Chunying. Ia mungkin berani menolak permintaan Jia Li, tapi jika itu perintah Wang Chunying. Jika Xia menolak maka lehernya bisa terpisah dari badan.


Setelah mengatakan itu, Wang Chunying dan Jia Li pergi meninggalkan Xia dan Shen.


"menurutmu, sikap nyonya berubah atau tidak" tanya Shen.


Mendengar hal itu Xia menunduk.


"i...iya, sikap nyonya sedikit berubah" ucap Xia.


Sebenarnya, itu bukan sedikit tapi banyak. Jia Li selama ini adalah orang yang sangat tenang, bersikap dewasa, sabar dan pengertian tapi sekarang, Jia Li benar-benar berubah menjadi sangat manja pada Wang Chunying, suka marah-marah dan sangat sensitif.


"ya...bersabarlah" ucap Shen mencoba memberi semangat pada Xia.


Shen sudah cukup akrab dengan Xia, karena Xia pelayan yang kini menjadi murid satu-satunya Jia Li. Xia juga sangat dekat dengan Jia Li dan selalu diperlakukan sangat baik oleh Jia Li, jadu semua orang kenal dengan Xia.


*


*


*


Jia Li bangun dari tidurnya. Ia melihat ke samping dimana Wang Chunying saat ini sedang tertidur. 


Jia Li mendekati Wang Chunying. Dengan lembut Jia Li mengelus lembut rambut putih suaminya itu.


"ini adalah keputusan yang berat untukku. Kalian adalah orang-orang yang aku cintai, tapi aku dipaksa untuk memilih salah satu dari kalian. Aku mohon pada kalian, siapapun yang nanti aku, dan jangan apa yang aku ambil, tolong jangan membenciku. Karena apapun yang terjadi, aku sangat mencintai kalian, dan… Wang Chunying aku rasa, aku mulai jatuh cinta padamu" ucap Jia Li sendu.


Matanya berkaca-kaca.


Jia Li kemudian mengecup kening Wang Chunying lembut. Tanpa sadar air mata Jia Li terjatuh di kulit Wang Chunying.


Setelah mengatakan itu, Jia Li pergi keluar kamarnya  dengan cara mengendap-endap. Jia Li menuju ketaman belakang yang tepat berada di belakang kediamannya.


Setelah memastikan tidak ada yang mengikutinya. Jia Li meniup sebuah peluit perak.


"dimana sih dia !" ucap Jia Li kesal. Karena sudah lama menunggu tapi Li Ewi belum juga muncul.


Tiba-tiba muncul cahaya putih yang dan perlahan-lahan cahaya putih itu menghilang lalu muncullah seorang pria tampan dengan jubah tidurnya. 


"apa sih panggil aku malam-malam begini. Apa kau tau ini saatnya tidur" ucap Li Ewi kesal. Ia menatap Jia Li dengan wajah ditekuk. 


Li Ewi sebenarnya sedang tidur nyenyak di kediamannya, tapi karena panggilan Jia Li ia terpaksa datang kesini.


"maaf jika aku mengganggu malam-malam begini. Habisnya kalau siang, aku tidak bisa memanggilmu karena ada banyak orang di sekitarku dan Wang Chunying juga tidak suka aku dekat denganmu" jelas Jia Li.


"hmmm… baiklah-baiklah. Katakan apa yang ingin kamu bicarakan dengan kulakukan dengan cepat" ucap pria itu dengan mata tertutup. Ia masih mengantuk.


"aku ingin membahas tentang dunia terdahulu kita" ucap Jia Li serius.


Mendengar hal itu Li Ewi sontak terkejut. Kantuk Li Ewi hilang entah kemana saat mendengar ucapan Jia Li.


"oh itu. Kenapa ? Apa kau sudah memutuskan untuk pulang ke dunia asli kita ?" tanya Li Ewi sambilmenatap Jia Li terkejut.


"hmm.."  belum sempat Jia Li menjawab Li Ewi memotong ucapannya..


"apa kau tidak mencintai suamimu ? Padahal dia jelas-jelas sangat mencintaimu. Aku yakin dia akan gila jika kamu pergi darinya. Ya...jika kamu tidak mencintainya setidaknya pikirkan anak-anak kalian yang bahkan belum lahir itu. Apa kau setega itu membunuh 3 anak itu…" ucapan Li Ewi terpotong karena pukulan keras di antara kakinya.


"AAH…" rintih Li Ewi sambil menyentuh miliknya yang terasa sakit.


"rasakan itu dasar BAJING4N" ucap Jia Li kesal. Jia Li menatap Li Ewi dengan mata melotot, ia tidak terima dengan ucapan Li Ewi tadi.


"aku ini masih punya hati Li Ewi. Mana mungkin aku mau membunuh anakku sendiri" ucap Jia Li.


"iya, kau memang tidak membunuh anakmu. Tapi kau membunuh benih anak ku ! " geram Li Ewi. Ia menatap Jia Li tajam.


"makanya, lain kali kalau bicara dipikir dulu" ucap Jia Li.


"ya. Aku akan pikirkan lain kali. Tapi bagaimana dengan masa depan ku, aku terancam tidak punya keturunan karena kau ! Astaga ini sakit sekali." ucap Li Ewi sambil menyentuh miliknya yang masih merasa nyeri.


"tenang saja, aku masih bisa menyembuhkanmu jika itu benar-benar terjadi"  ucap Jia Li santai.


"benarkah ?" tanya Li Ewi.


"ya benar. Aku ini dokter yang sangat pintar dari dunia modern. Kalau urusan keturunan itu bukan hal sulit, bahkan jika kamu mau merubah kelaminmu menjadi kelamin wanita, aku pun bisa melakukannya" ucap Jia Li sombong.


Li Ewi mulai memperbaiki gaya berdiri nya saat rasa nyeri di bagian *********** mulai mereda.


"jadi alasan kamu memanggilku apa ?" 


"aku ingin mengembalikan ini padamu ?" ucap Jia Li sambil menyodorkan kertas yang bertuliskan sebuah matra.


Satu alis Li Ewi terangkat. Li Ewi mengambil kertas itu lalu menyimpannya 


"kau yakin ingin mengembalikan itu ? Apa kau tidak rindu dengan orang tua, sahabat, pekerjaan dan dunia liarmu di dunia asli kita ?" tanya Li Ewi yang mencoba meyakinkan Jia Li.


"kau ini bagaimana ! Tadi katanya aku tidak boleh pulang, sekarang kamu malah menyuruh aku pulang" ucap Jia Li kesal.


"bukan begitu, aku cuman mau kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu. Jangan sampai kamu menyesal suatu hari nanti" ucap Li Ewi lembut.