"Jia Li 2"

"Jia Li 2"
14



Besok adalah hari terakhir perayaan pesta musim panas di kekaisaran matahari, dan hari ini juga adalah puncak perayaannya. Pihak kekaisaran akan mengadakan lomba berburu, bagi pemenangnya mereka akan mendapat hadiah yang sangat berharga dan tak terlupakan dari kekaisaran matahari. Dengan hadiah yang sangat menggoda itu tentu banyak yang ikut, bahkan pangeran pertama juga akan ikut padahal ia dilarang mengikuti lomba oleh permaisuri. Tapi di balik luar biasanya hadiah yang ditawarkan, banyak pula bahaya yang kemungkinan mengancam nyawa peserta. Jika ada yang meninggal dalam perburuan, mereka  akan dianggap mati karena dimakan hewan buas, dan biasanya pihak kekaisaran tidak akan menindak / menyelidiki kasus itu. Hal ini lah yang menjadi masalah, seseorang bisa saja memanfaatkan hal ini untuk membunuh seseorang. Wang Chunying dan Wang Xuemin sendiri memiliki rencana, mereka akan memanfaatkan momen ini untuk membunuh Wang Dunrui.


Saat ini Wang Chunying bersama adik serta sahabat-sahabatnya sedang membahas rencana pembunuhan Wang Dunrui di sebuah ruangan. Inilah sistem di kekaisaran, yang kuat akan bertahan hidup, dan saudara tiri tidak pernah dianggap, bagi mereka hanya saudara satu ibu dan satu ayah yang pantas dianggap sebagai keluarga.


Jia Li lebih memilih menunggu di luar ruangan, ia tidak ingin ikut campur dengan urusan mereka. Jia Li duduk di sambil bersenandung kecil. Tiba-tiba rambut Jia Li di tarik kebelakang dengan kuat, Jia Li berteriak kencang karena merasakan sakit. 


Jia Li ingin tau siapa yang menjambak rambutnya, tapi belum Jia Li bisa melihat dengan jelas orang yang menjambaknya tubuhnya didorong ke belakang hingga terjatuh. 


"AAAAh" teriak Jia Li.


Tubuh Jia Li mendarat di tanah, bahu Jia Li terasa sakit karena bahunya yang terlebih dulu menyentuh tanah.


"hai kenapa kau melakukan ini,  ini sakit tau !" Jia Li menatap orang yang menjambaknya dan mendorongnya hingga jatuh itu.


Ternyata yang melakukan itu adalah pelayan senior Nowa dan 3 pelayan senior lainnya.


"ini pantas kamu dapatkan dasar ****** murahan. !" ucap Nowa. Gadis itu tersenyum dengan sangat puas.


Jia Li menatap pelayan senior Nowa tidak percaya, dia benar-benar dikatain ****** di depan mukanya sendiri. Selama hidup Jia Li, tidak pernah ada yang berani berbicara tentangnya apalagi di depan mukanya sendiri, kecuali mereka tidak takut mati.


"tarik kata-katamu lagi !" geram Jia Li.


"kenapa aku harus menarik kata-kata ku ha. Hahahaha.... ****** ya tetap jangan. " ucap pelayan senior Nowa dan diikuti tawa dari beberapa pelayan wanita.


Jia Li menundukan kepalanya, hatinya benar-benar terasa panas. Tangan Jia Li terkepal kuat.


"dia memang tidak tahu diri, beraninya menggoda pangeran" ucap pelayan lainnya.


"wajah pas-pasan tapi berlagak kecantikan. Cih menjijikan" ucap pelayan lainnya.


"pelayan rendahan bermimpi merangkak ke ranjang hangat pangeran. Menjijikan, dasar tidak tau malu" ucap pelayan lainnya.


"cukup sudah, kesabaranku habis" ucap Jia Li.


Jia Li menggenggam tanah di sekitarnya, lalu melempar pelayan tanah itu ke mata para pelayan.


"AAAAA...." jerit para pelayan yang merasa sakit karena matanya kemasukan tanah.


"beraninya ....." sebelum pelayan senior Nowa meneruskan kalimatnya Jia Li menendang perutnya hingga terjatuh. Jia Li berjalan mendekati Nowa lalu duduk di tubuhnya, Jia Li menceking mora hingga gadis itu kesulitan bernapas. Para pelayan lain yang baru tersadar ingin menyelamatkan Nowa namun ucapan Jia Li menghentikan langkah mereka.


"berani kaLian bergerak, aku benar-benar membunuhnya. " geram Jia Li. Wajah Jia Li terkesan datar, seolah-olah ini hal biasa. Ya .... Pada kenyataannya di kehidupannya yang dulu Jia Li memang suka sekali bertengkar dengan banyak wanita. Menghadapi Nowa itu hal kecil bagi Jia Li.


"kau...kau berani melakukan ini !" ucap pelayan senior"


"dia sudah gila" tambahnya.


"to...tolong" ucap Nowa yang terdengar menyedihkan.


"kau pikir, hanya karna aku diam kau bisa menindasku dengan mudah ha ?, jangan kau pikir hanya karena kau pelayan senior kau ingin aku diam menerima segala penghinaan mu. Catat ini dalam otakmu, seorang semut juga bisa menggigit, hanya karena aku nampak lemah bukan berarti aku tidak bisa melawan. Aku bahkan bisa berbuat yang lebih sadis dari ini jika kau terus saja menggangguku ! " ucap Jia Li penuh penekanan, Jia Li 


Setelah mengatakan itu Jia Li mengambil tusuk konde Nowa lalu menggosoknya di wajahnya hingga terluka cukup dalam. Setelah itu Jia Li beru pergi dari tubuh Nowa.


Nowa menjerit kesakitan, sementara pelayan lain menatap Jia Li horor.


"rahasiakan ini dari semua orang. Jika masalah ini sampai bocor aku bisa melakukan hal lebih sadis lagi dan jangan lupa jika aku adalah pelayan kesayangan pangeran 3. " ucap Jia Li dengan wajah datar, tapi di dari sorot matanya nampak jelas kemarahan dan kebencian, bahkan tusuk konde yang Jia Li genggam terbuat dari kayu itu sampai patah di genggamannya. 


Pelayan senior lain yang melihat Jia Li merasa ngeri. 


Jia Li menatap para pelayan itu dengan mata tajamnya, mata itu seperti mata harimau yang terus mengawasi musuhnya hingga benar-benar hilang dari pandangan mata.


***


Terdengar suara ribut dari luar, saat suara seorang gadis terdengar sangat jelas di telinga para pemuda itu. Suara gadis yang sangat mereka kenal, siapa lagi jika bukan Jia Li. 


Wang Chunying mengintip dari balik jendela, betapa terkejutnya saal melihat Jia Li di tandas oleh beberapa pelayan senior. Melihat Jia Li di tindas hatinya terasa panas, ia sangat marah, ia ingin menolongnya. 


Wang Xuemin yang melihat itu juga merasakan hal yang sama, ia sangat murka saat melihat Jia Li ditindas, tapi ia tidak mengerti kenapa, padahal Jia Li hanya pelayan biasa. 


Sementara Lian, ia juga merasa marah sekaligus cepas. Sejak pertemuannya dengan Jia Li, mereka sudah sangat dekat dan Lian tau jelas bagaimana Jia Li. Gadis itu sangat lembut dan membenci hal-hal tentang kekerasan, Jia Li begitu lemah dan lembut. Menyakiti semut saja Jia Li tidak tega apalagi menyakiti orang lain, lalu bagaimana Jia Li bisa membela dirinya, sementara ia begitu lebah ?. Ya... Jia Li adalah gadis lemah yang butuh perlindungan, ia butuh tempat untuk berlindung dan Lian siap melakukan apapun untuk gadis kecil itu. 


Saat tiga pria itu ingin keluar, sebuah suara menghentikan langkah mereka.


"apa kaLian menganggap dia gadis lemah, tunggu dan lihat apa yang akan dia lakukan untuk membela harga dirinya sendiri" ucap ping. 


Semenjak pertemuannya waktu itu, ping melihat jika Jia Li bukanlah gadis sederhana. Suatu hari nanti ia akan berada di puncak tertinggi. Entah keyakinan dari mana, hanya saja ping bisa merasakan kalau gadis itu suatu saat akan menjadi seseorang yang luar biasa dengan sangat yakin.


"kau pikir, hanya karna aku diam kau bisa menindasku dengan mudah ha ?, jangan kau pikir hanya karena kau pelayan senior kau ingin aku diam menerima segala penghinaan mu. Catat ini dalam otakmu, seorang semut juga bisa menggigit, hanya karena aku nampak lemah bukan berarti aku tidak bisa melawan. Aku bahkan bisa berbuat yang lebih sadis dari ini jika kau terus saja menggangguku ! " ucap Jia Li penuh penekanan.


Para pemuda itu tertegun, memang benar ucapan Jia Li, 'orang diam belum tentu orang lemah yang bisa ditindas", tapi mereka tidak menyangka Jia Li yang selalu lembut dan penyayang binatang itu berubah menjadi gadis yang tidak kenal rasa takut dan berhati dingin. 


Setelah mengatakan itu Jia Li mengambil tusuk konde Nowa lalu menggosoknya di wajahnya hingga terluka cukup dalam. Setelah itu Jia Li beru pergi dari tubuh Nowa. Nowa menjerit kesakitan, sementara pelayan lain menatap Jia Li horor. Para pemuda itu merinding melihat sikap Jia Li, namun ada rasa bangga di hati mereka terutama Wang Chunying. Ia bangga gadis yang mengusik pikirannya itu bukanlah gadis lemah yang mudah ditindas.


"rahasiakan ini dari semua orang. Jika masalah ini sampai bocor aku bisa melakukan hal lebih sadis lagi dan jangan lupa jika aku adalah pelayan kesayangan pangeran 3. " ucap Jia Li dengan wajah datar, tapi di dari sorot matanya nampak jelas kemarahan dan kebencian. 


Saat ucapan itu diucapkan, timbul rasa kesal dan marah di hati Wang Chunying, tapi ia tidak tau kenapa. 


"apakah ini yang namanya cemburu, cemburu saat gadis yang ku suka mencari perlindungan pada pria lain. Tapi....kenapa aku cemburu, apalagi pria itu adikku sendiri, kenapa  ?" batin Wang Chunying penuh tanya.


Sementara Wang Xuemin terlihat begitu senang saat Jia Li menggunakan namanya untuk menakut-nakuti para pelayan. Sama halnya dengan Wang Chunying, Wang Xuemin juga tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Tapi yang jelas ia sangat senang saat ini. 


Sementara itu, Lian...pria itu menatap Jia Li penuh kekhawatiran. Apalagi saat menyadari lengan Jia Li terluka karena terlalu kuat menggenggam tusuk konde. Lian berlari mendekati Jia Li.


"Jia Li" panggil Lian lembut.


"hem....apa ?" jawab Jia Li. Suaranya terdengar tidak bersemangat, tidak seperti biasanya.


"tanganmu  terluka ?"tanya Lian khawatir. Lian melihat tangan Jia Li yang terluka.


"...." Jia Li melihat telapak tangannya yang terluka. Wajah Jia Li terlihat datar seolah luka itu tidak terasa sakit sama sekali.


"ini hanya luka kecil, jangan khawatir" Jia Li hendak pergi meninggalkan Lian.


Lian yang mendengar ucapan Jia Li itu merasa kesal, bagaimana Jia Li merasa tidak sakit padahal luka itu cukup dalam, apalagi Jia Li sering terluka tanpa ia sadari.


"aku akan mengobatimu" Lian menggenggam pergelangan tangan Jia Li. Ia berjalan dengan cepat, Jia Li yang belum bisa merespon ucapan Lian hanya bisa pasrah. 


Sementara itu Wang Chunying dan Wang Xuemin yang melihat itu timbul rasa marah pada Lian. Namun mereka juga khawatir saat tahu Jia Li terluka. 


Jujur Wang Chunying sangat ingin berlari mengejar Jia Li, namun ia tahan. Jika ia lakukan itu, maka akan ada gosip yang beredar jika ada yang melihatnya. Tentunya gosip itu pasti akan merusak reputasinya.


Di tempat lain, Lian membawa Jia Li ke ruangan pengobatan.


"seharusnya kamu jauh lebih hati-hati" nasehat Lian.


Kini tangan Jia Li yang terluka telah selesai di obati.


"ya...terimakasih sudah mengingatkan ku" ucap Jia Li sendu.


"lain kali jika ada yang menggertak bilang saja padaku, aku akan melindungimu " ucap Lian lembut.


"kenapa aku harus mengadu padamu, memangnya kita ada hubungan apa ?" Jia Li menatap Lian bingung. Alasan sebenarnya kenapa Jia Li bertanya seperti itu karena ia tidak mau salah paham dengan perhatian yang diberikan Lian.


"itu..." Lian bingung harus menjawab pertanyaan Jia Li, dia bahkan bingung kenapa ia ingin melindungi Jia Li.


"aku akan minta bantuan padamu jika aku tidak bisa mengatasi masalahku di masa depan. Lian terimakasih sudah peduli" ucap Jia Li dengan senyum kecil.


Melihat senyum Jia Li, dunia seakan berhenti dan jantung Lian berdebar dengan sangat gila.


"hem... Kalau gitu aku pergi dulu ya Lian. Aku merasa lelah dan ingin istirahat"  ucapan Jia Li menyadarkan Lian dari lamunannya.


"..a...baiklah, hati-hati ya" ucap Lian.


Jia Li mengangguk sambil menatap pria itu. Kemudian Jia Li berjalan meninggalkan Lian seorang diri. 


"ada apa dengan ku ?" gumam Lian.


"ya... ada apa denganmu !" ucap seseorang. 


Lian kaget saat mendengar suara itu. Saat dia berbalik, ia melihat Wang Xuemin sedang berdiri di pintu belakang di ruangan itu.  


"pangeran ke 3 !" Lian sangat kaget saat melihat pria itu.


"kenapa tidak menjawab, apa yang terjadi padamu sampai-sampai pergi tanpa pamit ditengah diskusi" ucap Wang Xuemin yang terkesan dingin. Sorot mata Wang Xuemin menyiratkan kemarahan seakan ingin membunuh Lian, Lian yang melihat hal itu bergidik ngeri. 


"ma...maafkan saya pangeran ke 3. Saya tidak akan mengulanginya lagi"  ucap Lian. 


"ya, jangan pernah mengulanginya lagi. Sekali lagi aku melihat kau bersamanya aku akan membunuhmu" setelah mengatakan itu, Wang Xuemin pergi dengan sangat cepat.


Lian yang mendengar hal itu tidak mengerti dengan maksud ucapan tuannya. Siapa yang bersamanya ?, siapa yang harus dijauhi ?, kenapa harus dijauhi ? Itulah pertanyaan yang muncul di pikiran Lian.