
Di malam hari di saat semua orang sedang terlelap dalam tidurnya, seseorang yang memakai baju serba hitam menyelinap dalam kegelapan. Dia bergerak dengan hati-hati dan juga gerakannya sangat gesit, terlihat jelas ia memiliki kemampuan beladiri yang sangat tinggi. Saat sampai di sebuah bagunan pria itu memperhatikan sekelilingnya, setelah merasa aman ia masuk ke dalam melalui jendela. Ia membukanya dengan perlahan-lahan.
Setelah jendela dibuka, sosok itu bisa dengan jelas melihat seorang gadis yang sedang tertidur dengan sangat lelap di atas ranjang empuk dan hangatnya. Gadis itu tidak begitu cantik, namun ia sangat menggemaskan. Sosok itu mendekati gadis itu lalu duduk di samPing ranjangnya.
"Jia Li, kenapa kau selalu mengganggu pikiranku ! " ucap sosok itu dengan sendu. Dari suaranya, dia adalah seorang pria.
"apakah tanganmu sakit ? ... bodohnya aku menanyakan itu, itu jelas sakit" ucap pria lagi. Ia melihat telapak tangan Jia Li yang sudah di perban.
"maaf aku tidak bisa melindungimu meskipun aku mau. Maaf Jia Li, aku benar-benar tidak bisa diandalkan. Maafkan aku" hanya kata maaf yang bisa diucapkan, pria itu benar-benar merasa bersalah.
Jia Li sendiri tetap terlelap dalam tidurnya seolah tidak terganggu dengan ucapan pria itu.
"tenang saja, aku akan membalaskan dendam mu. Aku akan membalas perbuatan buruk mereka padamu puluh kali lipas" ucap pria itu.
Pria itu kemudian mengecup kening Jia Li cukup lama. Harum tubuh Jia Li yang khas membuat siapa saja ketagihan menghirupnya, tidak terkecuali pria itu. Ia ingin menciumi Jia Li, dan menghirup aroma manis dari tubuh gadis itu lebih lama lagi, tapi ia tidak bisa. Ia harus pergi sebelum ada yang menyadari kehadirannya.
"aku akan kembali lagi" perkataan itu seperti janji yang ia ucapkan untuk Jia Li, tan secara kebetulan Jia Li berdehem pelan seperti mengatakan 'iya". Pria itu yang melihat tingkah lucu Jia Li, tersenyum kecil.
Tidak lama kemudian pria itu keluar dari kamar Jia Li, tidak lupa ia menutup jendelanya lagi dengan rapat. Setelah memastikan keadaan aman, pria itu menghilang di kegelapan malam.
"aku akan pastikan mereka yang menyakitimu akan mendapatkan balasan berkali-laki lipat" batin pria itu. Pria yang tudak lain Wang Chunying.
***
Pagi hari pun tiba. Semua orang sibuk mempersiapkan peralatan untuk berburu. Jia Li yang merasa bosan tinggal di istana akhirnya ikut rombongan pangeran ke 3 untuk berburu, awalnya pangeran ke 3 melarangnya karena terlalu berbahaya untuk ikut, namun dengan bujuk rayu akhirnya pangeran ke 3 mengizinkannya. Hanya saja Jia Li tidak boleh keluar dari berkemah.
"ingatlah, jangan pergi kemana-mana" ucap Wang Xuemin penuh peringatan.
"siap pangeran ke 3" ucap Jia Li penuh semangat.
Melihat Jia Li bahagia, wang Xuemin juga merasa senang.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke tempat acara perburuan, letaknya hanya di Pinggir kota kekaisaran matahari. Kira-kira butuh 5 jam perjalanan jika berjalan kaki dan 2 jam jika menggunakan kuda. Setelah sampai di tempat perburuan semua telah siap, tenda-tenda untuk berkemah telah didirikan agar membuat para pangeran dan tamu undangan merasa nyaman. Setelah menunggu sekitar 1 jam, akhirnya perlombaan akan segera dimulai. Wang Xuemin melihat Jia Li yang terlihat pemandangan hutan dengan sangat bahagia.
"Jia Li" panggil Wang Xuemin.
"iya pangeran, ada yang bisa saya bantu ?" Jia Li berjalan mendekati Wang Xuemin,
Wang Xuemin menatap wajah Jia Li terlihat sangat menggemaskan, rasanya ia ingin mencubiti pipi putih Jia Li, ia ingin menarik hidung mancungnya, dan...ia ingin mencicipi bibir merah kecil milik gadis itu lagi. Pikiran Wang Xuemin mulai kacau, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pikiran kotor.
"ada apa pangeran" ucap Jia Li yang terlihat khawatir. Ia bingung dengan sikap pangeran ke 3 yang tampak aneh.
Ucapan Jia Li menyadarkan Wang Xuemin.
"bukan apa-apa" ucap Wang Xuemin cepat
"ingat pesan ku, jangan pernah tinggalkan tenda ini" tambahnya.
"baik pangeran, saya tidak akan meninggalkan tempat ini" ucap Jia Li.
Tapi sepertinya Jia Li lupa dengan semua peringatan Wang Xuemin. Saat Jia Li mulai merasa bosan, ia memilih untuk berkuda di sekitar tempat ini. Di kehidupan dulu, Jia Li cukup ahli dalam berkuda, bahkan berkuda salah satu olahraga kesukaannya. Jia Li melihat kuda berwarna coklat yang tidak jauh dari tenda milik pangeran ke 3, kuda itu terlihat kuat dan gagah. Jia Li mengelus kepala kuda agar kuda itu merasa tidak terancam dengan kehadirannya. Setelah kuda itu tenang, Jia Li mulai menaikinya, meskipun agak sulit karena Jia Li memiliki tubuh yang kecil. Setelah duduk dengan nyaman di punggung kuda Jia Li mulai melakukan kudanya dengan kecepatan pelan.
"ternyata kemampuanku masih bagus" ucap Jia Li. Ia merasa senang karena kemampuannya berkuda tidak berkurang sedikitpun meskipun sudah berpindah tubuh.
Tempat yang menjadi lomba perburuan itu adalah hutan sangat indah, dengan banyaknya pohon-pohon besar, dan sangat rapat dengan daun yang lebat sampai-sampai cahaya matahari kesulitan masuk kedalam hutan. Semakin Jia Li masuk kedalam hutan cahaya mata hari semakin sedikit. Meskipun begitu Jia Li tetap masuk, ia tidak takut dengan gelap.
Tiba-tiba Jia Li mendengar suara pedang yang beradu dan beberapa teriakan. Tubuh Jia Li gemetar, ia bisa menebak itu pasti suara pertarungan. Jia Li memutuskan untuk mengintip, ia turun dari kuda, tak lupa ia mengikat kudanya supaya tidak kabur. Setelah memastikan sekelilingnya aman, Jia Li mulai berjalan mengendap-endap mendekati suara pertempuran. Saat Jia Li sampai di tempat itu betapa terkejutnya ia, disana Wang Chunying dan anak buahnya sedang bertarung melawan orang-orang berbaju hitam. Orang-orang misterius itu juga menutupi wajahnya supaya tidak dikenali.
Tubuh Jia Li semakin bergetar, pasalnya ia melihat beberapa mayat tergeletak secara menyedihkan, dan orang-orang yang dibunuh di depan matanya secara sadis. Orang-orang itu bahkan tidak merasa bersalah saat membunuh musuhnya, sangat mengerikan. Jia Li yang belum pernah melihat pembunuhan selama hidupnya hanya bisa terduduk lemas dengan air beding yang turun dari matanya. Ia ingin menjerit untuk mengungkapkan rasa takutnya yang luar biasa tapi, ia takut jika perbuatannya malah mengancam nyawanya, sekarang Jia Li mulai takut akan kematian, yang bisa ia lakukan hanya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Jia Li menatap wang Chunying. Pria tampan itu memiliki banyak sayatan pedang di beberapa tangannya, dan....juga di wajah nya. Pria tampan itu kini terlihat sangat menyedihkan dengan wajah bagian kirinya yang penuh dengan darah, bajunya bahkan sudah kotor dan banyak sobekan. Jia Li yang melihat itu merasa sangat sedih, khawatir, dan sangat gelisah dengan keselamatan pria itu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanyalah gadis lemah.
"pangeran pergilah dari sini. Kami akan mengurus semuanya" teriak Ping.
Ping beserta prajurit pangeran pertama terus menjaga Wang Chunying. Tapi mereka terdesak karena pembunuh bayaran itu terlalu banyak, belum lagi kemampuan beladiri mereka tidak bisa dianggap enteng.
"tapi..." ucapan wang Chunying di potong.
"tenanglah pangeran, kami akan mengurus semuanya. Anda tenang saja." ucap Ping cepat.
Wang Chunying yang mendengar hal itu mengangguk. Setelah itu ia berlari ke dalam semak-semak, kakinya yang sakit membuat larinya menjadi sangat lambat. Tapi pria itu tidak menyerah, ia harus segera mencari Wang Xuemin yang terpisah dengannya, ia takut adiknya itu dalam bahaya. Setelah menemukan Wang Xuemin, ia akan mencari bala bantuan untuk menyelamatkan anak buahnya.
Tiba-tiba kaki Wang Chunying di tusuk pedang. Wang Chunying menjerit sangat kuat sampai-sampai burung-burung yang bertengger di sekitar hutan terbang karena ketakutan. Tubuh Wang Chunying ambruk ke tanah. Wang Chunying menatap siapa yang menusuk kakinya, saat ia berbalik, ia melihat pria yang memakai baju berkuda berwarna biru dengan lambang gelombang air di tengah bajunya. Dia adalah pangeran pertama di kekaisaran timur laut, Liu Changhai .
"bagaimana pangeran Chunying, apa itu sakit" Liu Changhai tersenyum dengan sangat puas saat melihat Wang Chunying menderita.
"kenapa kau lakukan ini ? Aku tidak punya masalah denganmu !" ucap wang Chunying.
"hahahaha... Alasannya sederhana. Adikku yang baru saja menjadi selir dari pangeran ke 2 tapi..., aku tentu tidak puas dengan posisinya, aku ingin dia menjadi istri sekaligus permaisuri dari kekaisaran matahari di masa depan. Dan cara satu-satunya untuk mewujudkannya adalah menikahi kamu, tapi kamu malah menolaknya. Jadu cara lain agar adikku bisa jadi permaisuri kekaisaran matahari di masa depan adalah... menyingkirkan semua musuh, termasuk kau ! Hahaha... " Liu Changhai terlihat sangat sombong saat ini.
"seandainya malam itu, kau meminta adikku menjadi permaisurimu, kau pasti tidak akan menjadi semejedihkan saat ini" tambahnya lagi.
"hahahahaha.... Anak dari selir rendahan bermimpi menjadi permaisuri. Hahahahaha... Itu gila" tawa Wang Chunying. Ia merasa ini sangat lucu dan terdengar mustahil.
Ucapan wang Chunying penuh penghinaan. Pangeran pertama dari kekaisaran timur laut itu memang anak dari seorang selir. Meskipun bela dirinya sangat bagus, ia sangat cerdas, dan tubuhnya yang sehat dan sempurna, tapi status ibunya yang rendahlah dan kekurangan dukungan membuatnya tidak layak untuk naik tahta . Dan sekarang pria itu ingin adiknya menjadi permaisuri ?
"jangan mimpimu terlalu tinggi hahahahah" ejek Wang Chunying
"kau...!" Lui Changhai terlihat sangat marah.
Lui Changhai mengambil pedangnya, ia hendak menusuk dada Wang Chunying. Sementara Wang Chunying nampak pasrah, pria itu sudah tidak berdaya, ia sudah tidak bisa melawan karena tubuhnya lemah dan penuh luka. Tapi jikapun Wang Chunying harus mati, ia hanya berharap adiknya menjadi kaisar dan mampu membalaskan dendamnya.
Saat Lui Changhai hendak menusuk dada Wang Chunying dengan pedangnya, tiba-tiba Benda keras menghantam kepala Lui Changhai hingga ia terhuyung, dan kepalanya berdarah. Lui Changhai menatap siapa yang telah berani memukulnya, dia hanya seorang gadis pelayan yang baru berusia 10 tahun. Gadis itu menatapnya penuh kebencian dan amarah sambil menggenggam kayu di tangannya, tapi... Lui Changhai juga bisa melihat ada ketakutan pada pada gadis itu, terlihat jelas dari tangannya yang gemetar saat memegang kayu itu.
"Jia Li" ucap Wang Chunying. Pria itu terkejut bukan main saat melihat Jia Li ada di depan matanya.
"kau....cari mati...." sebelum ucapan Lui Changhai selesai, Jia Li kembali memukul kepalanya hingga pria itu jatuh tidak sadarkan diri.
Setelah berhasil membuat Lui Changhai tidak sadarkan diri, Jia Li jatuh terduduk. Ia melihat tangannya dan air matanya turun.
"aku...aku membunuh seseorang..." ucap Jia Li pilu.
Wang Chunying yang melihat hal itu menjadi sangat sedih, ia tidak suka melihat Jia Li bersedih. Wang Chunying merangkak mendekati Jia Li dengan sekuat tenaganya, lalu ia menggenggam tangan kecil Jia Li yang gemetar karena ketakutan.
"jangan takut. Kamu tidak salah, ini semua kesalahan ku karena tidak cukup kuat" Wang Chunying membiarkan dirinya menjadi orang yang disalahkan asalkan Jia Li tidak bersedih lagi.
Jia Li yang mendengar ucapan Wang Chunying tersadar dari lamunannya. Ia sadar sekarang bukan waktunya meratapi dosanya, ia harus pergi mencari tempat yang aman.
"kita harus pergi dari sini sebelum mereka mengejar kita. Tunggu disini, aku akan segera kembali" ucap Jia Li. Setelah mengucapkan itu, Jia Li berlari ke arah dimana ia meninggalkan kudanya tadi.
Wang Chunying melihat perubahan Jia Li hanya bisa terdiam. Tapi ia bersyukur Jia Li bukanlah gadis yang lemah.
"pangeran ayo. Kita harus pergi" ucapan Jia Li membangunkan Wang Chunying dari lamunannya.
Jia Li membantu Wang Chunying naik keatas kuda. Saat ini posisi mereka sangat dekat, Jia Li duduk di depan sementara Wang Chunying duduk di belakangnya.
"pangeran peluk saya dengan erat" perintah Jia Li.
Sebenarnya Jia Li ingin membawa Wang Chunying kembali ke perkemahan, namun jika ia kembali ke perkemahan ia harus melewati tempat pertarungan tadi, dan tentunya itu sangat berbahaya.
"ham...." hanya itu yang bisa Wang Chunying jawab. Ia merasa sangat gugup karena terlalu dekat dengan Jia Li, belum lagi detak jantungnya dan pikiran kotornya hampir membuat Wang Chunying gila.
Wang Chunying pun memeluk Pinggang Jia Li. Dari belakang dan jarak yang sangat dekat ini, Wang Chunying bisa mencium aroma manis dari tubuh Jia Li. Aroma yang sangat memabukkan untuknya. Tanpa sengaja Wang Chunying melihat tanda lahir yang bersembunyi di belakang telinga kanan Jia Li, tanda lahir itu berukuran sangat kecil dan berbentuk bulan sabi dengan Warna hitam. Ia ingin melihat lebih dekat namun Jia Li terlihat tidak nyaman, jadi ia urungkan.
Jia Li mulai memacu kudanya dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali Jia Li melihat kekira dan kekanan berharap menemukan tempat yang bagus untuk bersembunyi. Saat pelukan Wang Chunying mulai mengendur, Jia Li menggenggam kedua tangan Wang Chunying dengan satu tangannya dengan kuat agar pria itu tidak terjatuh, sementara lengan lainnya terus memegang kendali kuda meskipun sulit itu sangat sulut. Wang Chunying sendiri hanya bisa tersenyum kecil saat mendapat perlakuan itu dari Jia Li.
Setelah menemukan tempat yang aman, Jia Li segera membantu Wang Chunying masuk kedalam tempat persembunyian. Mereka bersembunyi di dalam gua yang ditutupi banyak semak belukar di depannya sehingga tidak terlihat jika ada gua, dan tempat ini terletak cukup jauh dari tempat pertempuran tadi. Jia Li berpikir jika tempat ini sangat bagus untuk bersembunyi.
Jia Li segera mencari beberapa tanaman yang bisa dipakai untuk mengobati luka Wang Chunying.
"tunggulah disini, saya akan mencari obat" namun saat Jia Li ingin pergi lengannya di hutan oleh Wang Chunying.
"tidak usah...ini sangat berbahaya" ucap Wang Chunying
"kondisi kesehatan pangeran lebih penting saat ini. Tenanglah, saya akan hati-hati" Jia Li menepis tangan Wang Chunying dan langsung berlari keluar dai persembunyian.
Wang Chunying ingin mengejar Jia Li dan memarahinya karena tidak mematuhi ucapannya. namun tubuhnya tidak berdaya. Ia bahkan tidak memiliki Tenaga lagi untuk merangkak apalagi berlari, yang bisa ia lakukan sekarang hanya berdoa kepada yang maha kuasa agar Jia Li selamat.
Setelah 2 jam, Jia Li tidak juga kembali. Wang Chunying hampir gila karena terlalu khawatir dengan keselamatan gadis itu. Membayangkannya terluka saja sudah bisa membuat Wang Chunying gila, apalagi jika gadis itu mati. Wang Chunying yang semakin cemas dengan keselamatan Jia Li memutuskan menyeret tubuhnya keluar gua, ia ingin mencari keberadaan gadis itu.
"Jia Li, kau buat aku gila dengan sikapmu yang keras kepala." rutuk Wang Chunying.
Namun sebuah suara tiba-tiba mengejutkan Wang Chunying.
"kenapa pangeran marah-marah padaku ?" Jia Li memajukan bibirnya, ia merasa kesal karena dimarahi tanpa alasan yang jelas.
Wang Chunying yang melihat kedatangan Jia Li merasa lega, tapi ia kemudian memarahinya.
"kau salah ! Kamu salah karena membangkang pada pangeran ini ! " ucap Wang Chunying tegas.
"saya hanya mencari obat untuk pangeran dan mencari kayu bakar untuk menghangatkan tubuh, bukannya berterimakasih malah marah-marah gak jelas" bentak Jia Li.
Jia Li menatap Wang Chunying kesal.
Cukup lama mereka terdiam. Yang terdengar hanya suara burung, suara serangga dan suara pukulan batu. Saat ini Jia Li sedang menggiling tanaman obat, sementara Wang Chunying duduk mengawasi gadis itu. Ia takut jika Jia Li pergi lagi. Rasa takut akan kehilangan Jia Li semakin membuat Wang Chunying tidak mengerti akan dirinya.
"kenapa aku seperti ini ? Kenapa aku merindukannya saat ia jauh, kenapa aku marah dan cemburu saat melihatnya dekat dengan pria lain, kenapa aku ingin dekat selalu dengannya, kenapa ia selalu menarik di mataku padahal itu semua terlihat biasa saja, wajahnya tidak cantik tapi kenapa selalu terbayang di pikiranku, kenapa jantungku berdebar tidak karuan saat dekat dengannya, kenapa aku merasa nyaman dekat dengannya, kenapa aku sangat khawatir saat ia dalam bahaya ? Kenapa, kenapa ? Apakah ini....cinta ? Apakah aku jatuh cinta padanya ?" batin Wang Chunying.
"pangeran bukalah bajunya biar aku bisa mengolesi obatnya " ucapan Jia Li membangunkan Wang Chunying dari lamunannya.
"ah...apah " tanya Wang Chunying lagi karena tidak jelas mendengar ucapan Jia Li.
"buka bajunya, biar aku bisa mengolesi obat pada luka pangeran" ucap Jia Li kesal.
"a...apah membuka bajuku, yang benar saja Jia Li" pipi Wang Chunying langsung memerah. Ia sangat malu.
"ayolah pangeran, saya hanya ingin mengobati luka pangeran, bukan ingin memperkosa pangeran" ucap Jia Li kesal karena Wang Chunying bersikap sangat aneh seperti gadis perawan.
Tapi Jia Li lupa jika beberapa orang di zaman ini tabu untuk memperlihatkan tubuh mereka di depan orang lain, apalagi jika orang itu adalah lawan jenis yang tidak memiliki ikatan yang jelas dengan mereka.
"baiklah, kalau pangeran tidak mau saya melihatnya, oles sendiri obatnya" ucap Jia Li kesal, saat Jia Li ingin pergi tangannya ditahan oleh Wang Chunying lagi.
"apa ?" ucap Jia Li jutek
"to...tolong oleskan obat di luka di tubuhku" wajah Wang Chunying memerah, namun Jia Li tidak begitu memperhatikannya karena terlalu kesal.
Wang Chunying mulai membuka bajunya satu persatu, hingga akhirnya ia bertelanjang dada. Dada Wang Chunying yang penuh dengan otot yang kekar terlihat sangat bagus, siapapun perempuan yang melihat tubuh indah Wang Chunying pasti akan mengeluarkan air liur, kecuali Jia Li karena ia telah terbiasa melihat tubuh indah para pria di zamannya. Hanya Saja keindahan tubuh Wang Chunying sedikit berkurang karena banyaknya luka pada tubuhnya.
Saat Jia Li hendak mengoleskan luka suara Wang Chunying menghentikannya.
"apa tanaman itu benar-benar obat ?" tanya Wang Chunying meragukan keahLian pengobatan Jia Li.
"sudahlah pangeran, jika pangeran tidak mau pakai obat buatan saya juga gak papa, tapi kalau pangeran mati jangan menghantuiku karena tidak mengobati pangeran" ucap Jia Li kesal, Jia Li hendak pergi namun tangannya ditahan, lagi.
"APA SIH PANGERAN ! " teriak Jia Li penuh emosi. Dia sangat kesal pada pria di hadapannya, bagaimana bisa pria itu meragukannya padahal di kehidupan dahulunya Jia Li adalah dokter yang hebat. Tapi Jia Li lupa jika Wang Chunying tidak tahu mengenai kehidupan Jia Li yang dulu.
"maaf, aku percaya kok. Tolong obati aku" ucap Wang Chunying merasa bersalah. Ia tidak ingin membuat Jia Li marah dan sedih, walaupun ada keraguan di hatinya tentang obat yang Jia Li buat tapi, jikapun ia mati, ia tidak masalah.
Jia Li pun hanya bisa sabar, melihat wajah bersalah Wang Chunying membuat Jia Li luluh. Saat tangan Jia Li menyentuh kulit Wang Chunying, seperti ada sengatan listrik yang terasa menyenangkan. Perasaan yang belum pernah Wang Chunying rasakan sebelumnya. Pria itu menatap Jia Li lekat sambil menikmati setiap sentuhan Jia Li pada tubuhnya, sementara itu Jia Li terlihat biasa-biasa saha seolah tidak merasakan apa-apa.
Setelah mengobati Wang Chunying, Jia Li duduk berhadapan dengan pria itu. Jia Li menyender di dinding gua untuk melepas semua lelahnya. Sementara Wang Chunying tetap mengawasinya, Jia Li sendiri tidak peduli jika diawasi, yang ia butuhkan sekarang cuman istirahat, tidak lama kemudian Jia Li tertidur.
Tanpa Jia Li sadari, Wang Chunying merangkak mendekatinya. Pria itu duduk di samPingnya dan memeluk tubuh kecil Jia Li. Tubuh Jia Li yang gemuk kini telah kurus karena banyaknya beban kerja dan pola makan yang teratur, sehingga tubuh Jia Li sangat enak untuk dipeluk. Tidak terlalu gendut dan tidak juga terlalu kurus, sangat pesa dan enak untuk di peluk. Sementara Jia Li tidak terganggu sedikitpun, ia justru merasa sangat nyaman tidur di pelukan Wang Chunying yang hangat. Wang Chunying benar-benar menikmati waktunya bersama dengan Jia Li.
Tidak lama Jia Li terbangun. Ia terbangun saat mendengar suara berisik dari luar gua. Saat ia ingin melihatnya, tiba-tuba tubuhnya dipeluk oleh seseorang dan mulutnya dibekap dengan tangan besar. Jia Li melihat kebelakang, dan ternyata yang melakukan itu adalah Wang Chunying. Jia Li sedikit merasa tenang sekarang, meskipun ia tau jelas jika sekarang mereka sangat dekat dengan orang yang ingin membunuh pangeran pertama.
Di balik semak-semak, Jia Li melihat 5 orang berpakaian hitam dan penutup wajah. Mereka terlihat memeriksa di sekitar tempat Jia Li dan Wang Chunying bersembunyi.
"tenanglah, mereka pasti pembunuh bayaran" bisik Wang Chunying tepat di telinga Jia Li. Jia Li merasakan hal aneh saat mendengar suara pria itu tepat di telinganya, apalagi hembusan napas Wang Chunying yang sangat terasa di kulit Jia Li membuat darahnya mendidih dan jantungnya berdebar tidak karuan.
"sadar Jia Li, sekarang bukan waktunya bersikap aneh" batin Jia Li.
Salah satu pembunuh bayaran itu berjalan mendekati gua, hal itu membuat Jia Li dan Wang Chunying agak panik. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, apalagi Jia Li tidak bisa beladiri sementara itu Wang Chunying terluka parah. Mereka bisa mati jika terus begini.
Jia Li melepas pelukan Wang Chunying dan bekapannya. Ia menatap Wang Chunying lekat.
"pangeran, tetaplah disini. Saya akan pergi mengelabui mereka" ucap Jia Li penuh keyakinan. Ucapan Jia Li seperti berbisik.
Saat Jia Li hendak pergi, tangannya ditahan. Jia Li menatap Wang Chunying. Pria itu memberi isyarat agar Jia Li tidak pergi. Jia Li yang mengerti hal itu lalu tersenyum kecil, Jia Li mengelus pipi kiri Wang Chunying dengan lembut. Menatap wajah pria itu lebih lekat, wajah Wang Chunying terluka parah, pipi di bagian kirinya terkena sayatan pedang dan itu mengeluarkan banyak darah tadi. Sesaat mata mereka bertemu, tiba-tiba jantung mereka berdebar lebih cepat tanpa mereka sadari. Merasakan hal aneh itu, Jia Li segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Jia Li, se.....sepertinya saya ja...tuh cinta padamu" ucap Wang Chunying terbaya-bata, namun itu penuh dengan kesungguhan
saat kalimat itu diucapkan, waktu terasa berhenti untuk sesaat
Jia Li yang mendengar itu merasa sangat bahagia, tapi ia menepis perasaan itu karena sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan soal hati.
"bertahan lah hidup demi saya pangeran, dan kejarlah cita-cita pangeran untuk menjadi kaisar. Jika pangeran menjadi kaisar, berjanji lah untuk menjadi kaisar yang baik dan juga adil di masa depan." Jia Li mengabaikan ucapan wang Chunying.
Setelah mengatakan itu, Jia Li pergi. Pergi tanpa melihat kembali, tidak ada keraguan dalam diri Jia Li untuk keluar meski resikonya ia akan mati. Sebenarnya Jia Li sangat takut mati sekarang, tapi... sekarang mati jauh lebih baik karena ia mati demi menyelamatkan orang yang ia.... Entahlah, Jia Li tidak mengerti perasaan apa yang ia miliki untuk Wang Chunying.
Tapi yang jelas, Jia Li tidak akan menyesal jika mati demi menyelamatkan pria itu.
Sementara itu, Wang Chunying berusaha berdiri agar bisa mengejar Jia Li tapi... ia terjatuh. Tubuhnya terlalu lemah, bahkan merangkak pun ia masih sangat kesulitan, pria itu hanya bisa menangis saat melihat gadis yang dia cintai mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan pria yang tidak berguna sepertinya.