
Rupanya, sosok itu adalah seorang pria, dari baju yang dikenakannya, Jia Li bisa menebak jika sosok itu adalah seorang bangsawan kelas atas, dan… betapa terkejutnya Jia Li saat melihat wajah sosok itu. Rpanya sosok itu adalah Wang Xuemin.
"pangeran Wang Xuemin" ucap Jia Li. Gadis itu terlihat senang saat melihat Wang Xuemin.
Mendengar namanya dipanggil, Wang Xuemin menatap Jia Li tajam. Sorot matanya yang tajam dan wajah tanpa ekspresi membuat Jia Li agak takut.
"kau siapa ? Berani-beraninya memanggil ku seperti itu" tanya Wang Xuemin. Alasan kenapa Wang Xuemin marah adalah karena Jia Li memanggil nama lengkapnya, biasanya orang-orang rendahan hanya diperbolehkan memanggilnya dengan embel-embel pangeran ke 4 kerajaan matahari.
Wang Xuemin melihat Jia Li dari ujung rambut hingga kaki. Ia tampak bingung, pasalnya suara Jia Li terdengar begitu lembut dan merdu seperti suara perempuan, namun penampilannya seperti pria.
"..." Jia Li agak sedih karna Wang Xuemin tidak mengenalinya. Matanya berkaca kaca.
Karena tidak mendapat jawabannya, Wang Xuemin ingin pergi. Namun Jia Li menahan tangan Wang Xuemin, gadis itu mencoba menghentikan pria itu.
"tunggu, pangeran ke 3" melihat tangan Jia Li menahan tangannya Wang Xuemin menipisnya kasar.
Jia Li hampir terjatuh karena perlakuan kasar Wang Xuemin.
"siapa kau ?!" Wang Xuemin mengeluarkan pedangnya dan langsung mengarahkannya ke leher Jia Li. Jarak pedang tajam itu dengan leher Jia Li hanya beberapa senti saja. Mungkin jika Jia Li bergerak sedikit saja lehernya bisa terluka.
"..." Jia Li takut dengan perilaku Wang Xuemin saat ini. Ia benar-benar tidak mengenali Wang Xuemin lagi. Pria itu telah berubah.
"jawab....!!!" desisi Wang Xuemin.
"apakah... pangeran... benar-benar tidak mengenalku ?" tanya Jia Li dengan suara gemetar.
"..." Wang Xuemin hanya diam. Dia menatap wajah Jia Li yang tanpa penutup wajah itu lekat, namun ia tidak mengingat siapapun.
Tiba-tiba seseorang berlari mendekati mereka. Sosok itu adalah lian
"pangeran ke 3, ada apa..." ucapan lian terputus saat melihat Wang Xuemin yang siap memotong leher seorang pemuda berparas cantik.
"katakan siapa kau !!!" ucap Wang Xuemin lagi. Pria itu meninggikan suaranya.
"...ak..aku..." suara Jia Li bergetar, dan air matanya tirin. Dia mulai merasa takut.
"pangeran sudahlah. Tampaknya dia tidak bersalah " ucap lian yang mencoba menenangkan tuannya. Entah kenapa lian tidak suka Wang Xuemin menindas pria cantik itu.
Tapi ucapan lian diacuhkan Wang Xuemin.
"katakan !" teriak Wang Xuemin penuh tuntutan.
"a...a..ku...aku Jia Li" teriak Jia Li. Ia sangat ketakutan saat ini sampai-sampai tubuhnya gemetar. Matanya tertutup rapat dan tubuhnya terasa sangat lemas.
Mendengar nama itu baik Wang Xuemin maupun lian sangat terkejut. Wang Xuemin kemudian tersadar, ia menjatuhkan pedangnya dan langsung menarik Jia Li kedalam pelukannya. Wang Xuemin juga merasa sangat bersalah karna bersikap kasar pada Jia Li, ia bahkan hampir membunuh Jia Li.
Lian sendiri. Pria itu merasa senang, meskipun ia merasa kesal dan sedih saat melihat Jia Li berpelukan dengan Wang Xuemin.
"aku minta maaf" ucap Wang Xuemin dengan suara pelan. Ia benar-benar merasa bersalah.
Tiba-tiba seseorang datang dengan panik. Sosok itu tidak lain adalah Yimin.
"ada apa ini ?" tanya Yimin panik. Ia segera kembali saat mendengar suara teriakan Jia Li tadi.
*
*
Jia Li berdiri di belakang yimin. Seolah mencari perlindungan dari jenderal wanita itu. Yimin yang melihat Jia Li ketakutan menatap tajam Wang Xuemin dan Liam penuh permusuhan seolah mereka baru saja melakukan pembunuhan.
"Jia Li, maafkan aku. Aku tau, aku salah" Mohon Wang Xuemin.
Jia Li hanya diam.
"Jia Li" panggil Wang Xuemin lembut.
"sebaiknya jangan ganggun Jia Li dulu pangeran ke 3" ucap lian. Wang Xuemin menatap lian tajam. Lian yang ditatap seperti itu hanya bisa menundukan kepalanya
"apa yang dikatakan pengawal anda benar pangeran. Biarkan Jia Li tenang, sikap anda barusan membuatnya takut" ucap yimin.
Wang Xuemin menatap Jia Li, dia merasa bersalah pada Jia Li.
"baiklah Jia Li, tapi lain kali kita harus bicara" ucap Wang Xuemin sedih.
Setelah itu Jia Li dan yimin memutuskan untuk pulang. Sementara Wang Xuemin dan lian melanjutkan berburuan.
Semenjak kejadian itu Jia Li malah berusaha menjaga jarak dengan Wang Xuemin dan liam. Sementara Wang Xuemin yang telah mengetahui identitas asli Jia Li terus berusaha mendekatinya sampai-sampai Zhang Xuemei merasa cemburu. Ia bahkan sampai terlibat cekcok dengan Wang Xuemin.
Sementara itu… Jilli yang mendengar kabar jika gadis pujaannya didekati pria lain merasa kesal. Ia sangat kesal melihat Jia Li didekati pria lain, tapi...ia hanya diam karena statusnya terlalu tinggi. Jilli bisa tau semua informasi kegiatan Jia Li karena dia sudah meminta orang-orangnya mengawasi Jia Li dari jauh. Ia tidak mau Jia Li terluka apalagi sampai mengancam nyawanya mengingat Jia Li orang yang ceroboh dan mudah sekali jatuh sakit.
Tapi yang membuat Jilli semakin kesal adalah melihat Jia Li sedih. Gadis itu belakangan terlihat sedih karena sikap Wang Xuemin yang berubah kasar dan pemarah.
Saat ini Jilli sedang duduk bersama Jia Li . Gadis itu sibuk membaca buku, sementara Jilli hanya menatapnya. Memandangi keindahan dunia.
"orang seperti apa putra mahkota kekaisaran matahari itu ?" tanya Jilli yang memecah keheningan.
"hem... dia dulunya tuan ku. Kami cukup dekat dan dia sangat baik padaku. Tapi sikapnya kemarin membuatku takut...dia seperti ingin membunuhku. Dia benar-benar berubah" ucap Jia Li sendu.
"seseorang bisa berubah kapan saja Jia Li. Dari yang dulunya baik lalu menjadi jahat, itu tergantung keadaan. Hem... mungkin terjadi sesuatu yang mengakibatkan Wang Xuemin berubah" ucap Jilli lembut. Ia tidak mau melihat Jia Li bersedih.
Mendengar hal itu Jia Li menatap Jilli.
"maksudmu terjadi sesuatu yang mengakibatkan Wang Xuemin berubah seperti itu ?" tanya Jia Li.
"hmmm mungkin saja." ucap Jilli.
Jia Li terdiam. Dia berpikir apa yang membuat
"Jia Li jangan terlalu berpikir keras, nanti kepalamu pusing" peringatan Jilli. Karena sering menghabiskan waktu dengan Jia Li, Jilli jadi tau jika Jia Li akan pusing jika terlalu banyak berpikir. Lagipula terlalu banyak berpikir buruk tidak bagus untuk kesehatan.
Jia Li tersenyum. Hatinya merasa sangat senang karena perhatian Jilli padanya.
"terimakasih karena sudah mengingatkan leluhur" ledek Jia Li.
Melihat wajah Jilli yang agak kesal Jia Li tertawa
"hahahaha.. " melihat Jia Li tertawa Jilli merasa bahagia. Ya...tidak perlu barang mewah, hanya dengan melihat tawanya saja sudah mampu membuatnya bahagia.
"melihatmu bahagia itu sudah cukup" batin Jilli. Pria itu tersenyum lembut pada Jia Li.
"hem...Jilli, jika yang kamu pikirkan benar, lalu apa masalah yang membuat Wang Xuemin berubah ?" tanya Jia Li.
"aku tidak tau Jia Li. Aku bukan orang yang bisa membaca hati seseorang atau ingatan seseorang. Hmm...kenapa kamu tidak tanya saja padanya ?" ucap Jilli.
"hem... baiklah, besok aku akan bicara dengannya" ucap Jia Li sedikit ragu.
Keesokan paginya Jia Li menemui Wang Xuemin untuk mencari tahu apa yang terjadi setelah hari Jia Li menghilang. Dan betapa terkejutnya Jia Li saat mendengar cerita Wang Xuemin.
"jadi...kakakmu meninggal untuk membalaskan dendam atas kematian ku ?" tanya Jia Li pada Wang Xuemin.
Wang Xuemin mengangguk dengan lemah. Wang Xuemin telah menceritakan keadaan kakaknya setelah Jia Li menghilang. Tentang keadaan kakaknya benar-benar sangat memprihatinkan saat ini, yang bisa Wang Xuemin hanya bisa menonton. Kakaknya tidak membiarkan ikut serta dalam semua rencana nya. Hanya satu hal yang tidak Wang Xuemin cerutakan, itu tentang perasaan cinta kakak pada Jia Li. Ia takut Jia Li semakin merasa bersalah.
"ma...maaf, ini semua karna aku " Jia Li merasa bersalah. Karena dia kakak Wang Xuemin meninggal.
"tidak, ini bukan kesalahanmu. Ini jalan yang kakak ku ambil" ucap Wang Xuemin.
Semenjak hari itu hubungan Jia Li dan Wang Xuemin mulai membaik meskipun Jia Li masih menjaga jaraknya.
*
*
*
Waktu berlalu begitu cepat. Hingga tanpa terasa puncak festival tahun baru pun akan diadakan malam ini. Semua orang nampak saat sibuk mempersiapkan acara ini.
"kau ganti minuman Jia Li dengan ini " ucap seseorang wanita pada seorang pelayan. Ia memberikan botol berukuran sedang dan kantong berisi beberapa koin emas pada pelayan itu.
Pelayan itu mengangguk paham.
"baik nyonya" Setelah itu pelayan itu pergi.
Setelah pelayan itu pergi, wanita itu masuk ke sebuah kamar untuk menemui seseorang.
"saya sudah menyuruh pelayan itu mengganti minuman Jia Li, putri juan" ucap wanita itu.
Seorang gadis cantik menatap pelayannya dengan senyum lebar. Gadis itu adalah putri juan, putri ke 12 dari kaisar selatan.
"bagus" ucap putri juan.
*
*
*
Saat ini, Jia Li duduk manis di aula perjamuan karena acara puncak akan dimulai pada malam ini. Malam ini Jia Li terlihat anggun dengan gaun berwarna ungu pucat. Zhang Xuemei yang duduk disamping Jia Li juga terlihat tampan dengan baju berwarna serupa dengan Jia Li. Mereka terlihat cocok. Sebenarnya ini hanya kebetulan saja, tapi dimata semua orang mereka seperti melihat Zhang Xuemei dan Jia Li sengaja memakai pakaian dengan warna yang sama.
"wah...kalian cocok sekali" puji yimin. Jia Li menatap perempuan yang duduk tidak jauh darinya.
"kenapa bisa cocok ?" tanya Jia Li bingung.
"coba lihat bajumu dan pangeran Zhang Xuemei. Kalian sudah janjian ya ?" tanya yimin
"oh...ini cuman kebetulan saja" ucap Jia Li.
"ya..ini bisa dikatakan jodoh karna kami punya selera yang sama " ucap Zhang Xuemei dengan senyum menggoda.
"..."Jia Li hanya diam saat mendengar ucapan itu.
"amit-amit… ! Jangan sampe deh !!!" batin Jia Li..
Yimin yang melihat pasangan itu tertawa keras.
Cukup lama yimin, Jia Li dan Zhang Xuemei saling bercanda gurau sampai acara akhirnya di mulai. Sampai akhirnya acara dimulai. Kaisar dan permaisuri sudah duduk di singgasananya.
Tiba-tiba pengumuman dari seorang kasim menghentikan acara tersebut.
"guru surgawi jili, guru surgawi shen (liu bei), guru surgawi Chunying, guru surgawi li ewi, dan guru surgawi an telah tiba"
Seketika semua orang berdiri termasuk kaisar dan permaisuri dan memberi hormat pada kelima 5 orang itu. Jia Li menatap 5 orang yang dipanggil sedang sangat hormat itu. Mereka terlihat sangat berwibawa dan misterius karna mereka semua menggunakan topeng perak dan pakaian mereka sangat… mahal dan elegan. Mereka adalah guru surgawi yang sangat di eluh-eluhkan, dipuja, dan dihormati banyak orang. Dan.. Salah satu dari mereka ada Jilli, pria yang menyebalkan.
Saat melihat Jilli berjalan menuju tempat duduknya yang telah disiapkan matanya dan Jia Li bertemu sesaat. Dia tersenyum lembut pada Jia Li, dan Jia Li membalasnya. Tentu interaksi mereka tidak disadari orang-orang karena itu hanya berlangsung beberapa detik.
Setelah kelima guru surgawi itu duduk, barulah semua orang bisa duduk dan acara itu kembali berjalan. Para penari masuk, dan mulai menari dengan sangat indah.
Jia Li mengambil gelas tehnya dan meminum nya sekali tegukan karena merasa sangat haus.
"ada yang menukarkan tehku dengan bir !" batin Jia Li.
Minuman yang memabukan itu sangat memabukkan, hanya satu gelas Jia Li merasa sudah mabuk.
Semenjak tinggal di dunia ini, Jia Li tidak pernah lagi minum-minuman yang memabukkan ini sehingga tubuhnya akan lemah terhadap minuman keras itu. Kepala Jia Li mulai terasa agak pusing. Ia mulai mabuk. Jia Li benar-benar merutuki pelaku yang menukar minumannya, ia yakin jika ini disengaja agar Jia Li mabuk dan mempermalukan dirinya sendiri di perjamuan. Sungguh jahat sekali.
Jia Li memijat kepalanya yang terasa pusing. Zhang Xuemei yang duduk di samping Jia Li melihat hal itu merasa cemas.
Sama seperti Zhang Xuemei, mata Jilli tidak lepas dari Jia Li, ia terus mengawasinya. Melihat Jia Li yang terlihat tidak sehat membuatnya khawatir, sangat khawatir. Sementara itu Wang Xuemin dan lian, mereka hanya bisa melihat Jia Li dari kejauhan. Mereka ingin mendekatinya namun itu tidak mungkin. Apalagi sekarang Jia Li sudah bertunangan dengan pangeran ke 4 kerasaan selatan jadi mereka harus menjaga jarak atau batas merek di depan umum.
"apa kamu baik-baik saja ?" bisik Zhang Xuemei di telinga Jia Li.
"aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing" ucap Jia Li.
Karena Zhang Xueme terlalu dekat dengannya Jia Li mundur ke belakang. Ia bisa melihat cukup jelas wajah Zhang Xueme yang khawatir, dan itu sedikit menyentuh hati Jia Li.