"Jia Li 2"

"Jia Li 2"
51



"bereskan dia, aku tidak mau jasadnya ada disini." ucap Wang Chunying saat keluar dari penjara bawah tanah itu.


Mendengar hal itu Shen dan yang lainnya langsung tau akhir seperti apa yang pelayan wanita itu dapatkan akibat merencanakan hal buruk pada guru surgawi Chunying.


Setelah itu, Wang Chunying pergi untuk membersihkan dirinya. Ia merasa sangat kotor karena tadi menyentuh wanita hina itu.


*


*


*


Di Tempat lain, Jia Li sibuk dengan membaca buku sejarah sambil menikmati teh. Ia duduk dengan santai, dan dikelilingi oleh banyak buku di sampingnya. Jia Li tidak sendiri ada Xia yang dengan setia menemaninya, bahkan hingga mengantuk karena bosan menunggu Jia Li.


"kenapa kamu tidak duduk lalu ikut membaca buku dengan ku, Xia?" tanya Jia Li.


"ah...?" Xia bingung harus mau menjawab apa.


Jia Li menatap Xia lalu tersenyum lembut.


"duduklah, dan baca sesuatu yang menurutmu menarik, daripada hanya diam. Kamu bisa baca kan ? " ucap Jia Li lembut.


Sontak saja wajah Xia menjadi memerah karena malu. Ia benar-benar terpesona dengan kecantikan yang luar biasa dari Jia Li.


"bi... bisa nyonya" ucap Xia terbata-bata


"duduklah, dan baca sesuatu yang kamu suka" Jia Li menepuk-nepuk kursi di sebelahnya agar Xia bisa duduk. Awalnya Xia tidak mau, tapi karena Jia Li sedikit memaksa akhirnya Xia menurut.


Xia akhirnya duduk di samping Jia Li. Selama Xia bekerja, ini kali pertama dia diperlakukan dengan sangat lembut oleh Jia Li. Mungkin ini karena hubungan Jia Li dan suaminya semakin membaik, jadi emosi Jia Li semakin membaik pula.


Saat Xia duduk di samping Jia Li, bau harum bunga langsung tercium di hidung Xia. Sangat harum, sampai-sampai orang akan betah berlama-lama dekat dengannya. Jadi tidak heran jika Wang Chunying sangat betah dekat dengan Jia Li.


Setelah Xia duduk di sampingnya, Jia Li tersenyum tipis. Lalu Jia Li kembali fokus dengan buku bacaannya.


Perhatian Xia teralihkan saat melihat buku yang selalu Jia Li tulis. Buku itu berjudul manfaat tanaman obat, dan buku itu cukup tebal. Xia mengambil buku itu, lalu mulai membacanya.


"itu buku ke 10 yang baru saja kubuat. Ya...meskipun tulisanku sangat jelek tapi buku itu sangat bermanfaat dan sangat berharga" ucap Jia Li.


Xia menayap Nyonyanya. Wanita itu berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dia baca.


"Hm.. Apakah kamu tertarik dengan pengobatan ?" pertanyaan Jia Li itu membuat Xia terdiam cukup lama.


Sejujurnya Xia cukup tertarik dengan obat-obatan dan ingin sekali menjadi tabib tapi, karena keadaan keluarganya yang miskin itu menjadi mustahil.


"iya, saya tertarik nyonya. Tapi keluarga saya terlalu miskin jadi saya tidak bisa menjadi tabib" ucap Xia dengan senyum masam di bibirnya.


Jia Li mengambil sebuah buku yang tidak jauh darinya.


"ooh, kalau begitu tahap pertama bacalah buku dasar ini" Jia Li memberikan buku tulisan pertamanya mengenai manfaat bahan-bahan makanan yang sering ditemui di dapur. Buku itu sangat tebal.


"nyo...nya ?" Xia nampak bingung.


"kamu bisa meminjamnya asalkan, dan jangan sampai rusak. Jika rusak kau akan kuhukum !" ucap Jia Li tegas.


"maksud nyonya apa ?" tanya Xia yang masih belum mengerti.


"katanya mau jadi tabib. Jika ingin jadi tabib aku bisa mengajarimu sedikit-sedikit, langkah pertama untuk menjadi tabib adalah mengerti manfaat dari makanan yang sering kamu konsumsi setiap harinya" ucap Jia Li yang langsung membuat Xia terkejut.


"nyonya ingin menjadi guru saya ?" tanya Xia.


"ya...jika kamu mau" ucap Jia Li.


"ya...ya ya saya mau nyonya" ucap Xia cepat, hal itu membuat Jia Li tersenyum kecil. Entah kenapa ia suka melihat Xia tersenyum, mungkin karena Xia selalu menemaninya. Ya...meskipun awal pertemuan mereka Jia Li kasar padanya, namun Xia tetap memperlakukannya dengan sangat baik.


Berbicara tentang pelayan, Jia Li jadi merindukan pelayannya di rumah Tong Mu. Sekarang Kun, Niu, dan Naun mereka Jia Li tugaskan menjaga Tong Mu dan mengelola semua usaha milik Jia Li. Tidak lupa Jia Li memberikan keuntungan 50 % dari keuntungan hasil penjualan yang didapat untuk Kun, Niu, dan Naun karena telah mengurus usahanya. Karena hal itu sekarang mereka hidup dengan makmur.


"oh ya, dimana temanmu yang namanya Wei. Dari kemarin aku tidak melihatnya" ucap Jia Li.


"hmm...tidak tahu nyonya, dia menghilang beberapa hari yang lalu" ucap Xia jujur. Xia nampak sedih.


Seingat Xia terakhir mereka bertemu 3 hari yang lalu, di dapur utama. Tapi setelah itu wei menghilang.


"oh" ucap Jia Li.


Jia Li berpikir positif. Ia berpikir mungkin Wei memiliki sesuatu hal mendesak yang harus diurus.


Setelah itu Jia Li kembali membaca buku, begitu juga dengan Xia.


Tanpa sadar hari telah menjelang malam. Malam kali ini terlihat sangat indah dengan banyak bintang di langit. Jia Li menikmati keindahan malam ini dari jendela kamarnya. Tiba-tiba ada seseorang yang melingkarkan tangannya di pinggang ramping Jia Li dari belakang. Hal itu sedikit mengejutkan Jia Li.


"apa yang kamu lihat istriku sayang" ucap lembut Wang Chunying tepat ditelinga Jia Li . Hal itu membuat Jia Li merasa malu. Jia Li ingin menjauh dari Wang Chunying, namun pria itu semakin memeluknya lebih erat, hingga akhirnya Jia Li hanya bisa pasrah.


"malam ini sangat indah. Langit begitu indah karena ditabur bintang" ucap Jia Li.


"hm... iya, malam ini sangat indah" Wang Chunying mengecup leher Jia Li, dan menghirup aroma tubuhnya. Hal itu membuat Jia Li merasa geli.


Didalam pelukan Wang Chunying, Jia Li terus bergerak-gerak karena berusaha lepas dari pelukan Wang Chunying.


"berhentilah, kamu membangunkan yang dibawah" ucap Wang Chunying dengan suara serak.


Hal itu membuat Jia Li langsung terdiam.


"benarkah ?" tanya Jia Li tidak percaya. Jia Li membalikkan badannya sehingga kini menghadap Wang Chunying.


"iya, itu selah bagun" ucap Wang Chunying.


Tapi dengan bodohnya Jia Li menyentuh (...) milik Wang Chunying itu, dan benar saja itu memang sudah sangat keras. Jia Li menelan ludahnya kasar.


"iya itu keras, cepat sekali" ucap Jia Li dengan wajah bolos. Tangan Jia Li belum beranjak, bahkan dengan lembut jari-jari Jia Li menggenggam pedang tumpul diantara 2 kaki Wang Chunying.


"hem..., kau benar-benar nakal" Wang Chunying mendesah.


Wang Chunying kemudian menggendong Jia Li lalu membawanya ke kasur. Pria itu mengabaikan teriakan Jia Li.


"Wang Chunying, turunkan aku. Hei kamu mau apa !!" teriak Jia Li.


Tubuh Jia Li langsung lempar ke atas kasur dan dengan cepat Wang Chunying menindihnya.


"tentu saja bergulat lagi, bukannya aku sudah bilang tadi pagi kalau kita akan bergulat lagi malam ini " setelah mengatakan itu Wang Chunying langsung mencium bibir Jia Li.


"hm..." desah Jia Li.


Jia Li sama sekali tidak memberontak, justru ia mendesah nikmat dan sesekali membalas belayan Wang Chunying. Hal itu membuat Wang Chunying senang karena Jia Li tidak menolak sentuhannya. Ia tidak akan menahan diri lagi.


Dengan cepat Wang Chunying melepas baju Jia Li dan juga bajunya. Lalu kembali mengasah pedang tumpul itu.


Para pelayan yang mendengar suara ribut dari dalam mulai menjauhi tempat itu, termasuk Xia. Mereka tidak ingin mengganggu waktu kebersamaan tuan dan nyonya mereka.


*


*


*


Jia Li terbangun dari tidurnya karena merasakan harus. Tapi saat Jia Li melihat kesamping, rupanya Wang Chunying masih ada disana. Pria itu masih tertidur dengan lelap di sampingnya, bahkan tangan pria itu masih memeluknya dengan erat.


Dengan perlahan Jia Li menyingkirkan lengan besar Wang Chunying dari pinggangnya. Setelah pelukan Wang Chunying terlepas, Jia Li memungut bajunya dan langsung di pakainya.


Tapi malam Jia Li dan Wang Chunying kembali bergulat di kasur, dan kali ini Wang Chunying benar-benar sangat lembut dengannya. Hal itu membuat Jia Li sangat menikmati pergulatan mereka, tapi akibat pergaulan mereka berlangsung beberapa jam lalu, tubuh Jia Li merasa cukup lelah, pegal-pegal dan mulai terasa lapar. Dia butuh makan untuk menambah energi. Tapi tampaknya sulit untuk mencari makanan di dini hari seperti ini. Semua orang pasti sedang tidur.


Jia Li berjalan ke dekat pintu kamarnya untuk memanggil Xia.


"Xia, kau di luar " panggil Jia Li.


"iya nyonya" jawab Xia.


Mendengar hal itu Jia Li langsung membuka pintu.


"kamu tidak tidur Xia ?" Xia menggelengkan kepalanya.


"saya tidur kok nyonya" ucap Xia.


"dimana ? Disini " Xia kembali mengangguk saat mendengar pertanyaan Jia Li.


Setelah kamar Jia Li tidak lagi berbunyi, Xia kembali berjaga di tempatnya hingga pagi menjelang, Itu memang tugas seorang pelayan, dimana dia harus 24 jam selalu ada untuk tuannya. Apalagi sekarang Wei tidak ada, jadi semua tugas di bebankan pada Xia. Sebab itulah kenapa Xia memilih tidur di depan pintu kamar Jia Li, ia takut saat ia pergi Jia Li memanggilnya.


Jia Li menatap Xia dengan wajah sedih. Ia merasa kasihan.


"sepertinya aku harus bicara pada pangeran pertama soal pelayan tambahan, masak orang sehebat dia tidak bisa memberikan ku pelayan lebih dari satu !" batin Jia Li.


"lain kali bergantian lah dengan pelayan lainnya, jadi kamu punya waktu untuk tidur dengan baik di kamar mu" ucap Jia Li lembut.


"iya nyonya" Xia tidak menyangka Jia Li bisa begitu lembut dan perhatian pada seorang pelayan rendahan sepertinya. Xia merasa bersyukur bisa memiliki majikan yang sebaik Jia Li.


"ohya Xia, bisakah kamu bawakan aku air minum dan makanan" ucap Jia Li.


"iya nyonya" Xia langsing pergi ke dapur mengambilkan Jia Li makanan.


Saat Jia Li ingin kembali ke kamarnya sebuah suara menghentikan langkahnya.


"Jia Li" sura itu sangat Jia Li kenal. Itu milik Jilli.