"Jia Li 2"

"Jia Li 2"
41



"bagaimana caranya agar aku mengingatnya ? Atau setidaknya ceritakan tentang aku dan dia di kehidupan yang lalu." ucapan Jia Li itu membuat shen tersenyum lembar. Dia menjadi sangat bahagia karena Jia Li memberi kesempatan pada gurunya untuk kembali masuk ke dalam hatinya lagi.


@@@


"tapi jika masa lalu begitu menyakitkan hatiku lebih baik tidak pernah diceritakan karena aku bisa saja membenci guru kesayangan mu itu" ucap Jia Li lemah.


entah kenapa Jia Li merasa dadanya terasa sesak dan sarasa ia ingin sekali menangis.


"ada apa dengan ku ?" batin Jia Li.


Seandainya Jia Li tau cerita kehidupannya yang dulu, mungkin ia akan sangat membenci guru surgawi Chunying mengingat ia sangat benci yang namanya penghianat. Dan… sayangnya shen tudak mengetahui cerita kelam dalam hubungan asmara gurunya dengan Jia Li, mungkin… dia akan menatap Jia Li dengan kasihan. atau... setidaknya dia tudak lagi membela sang guru jika Shen tau.


"iya nona" ucap shen semangat. Ia akan memberitahu hal ini pada gurunya.  Dengan penuh semangat pria itu pergi meninggalkan Jia Li.


selama ini Shen pikir hubungan Jia Li dan gurunya di masalalu sangat lah harmonis dan penuh cinta, jadi ia potimis jika hubungan gurunya dan Jia Li akan segera membaik.


"tapi jika itu sangat menyakitkan lebih baik dikubur saja. Aku tidak mau terjebak dengan masa lalu" gumam Jia Li.


*


*


*


Setelah bertemu dengan guru surgawi Chunying, shen langsung menceritakan apa yang dibicarakan dengan Jia Li tadi dengan gurunya 


"guru, cobalah cerita dengan nona Jia Li tentang masa lalu kalian. Siapa tau Jia Li dapat mengingat masa lalu"  ucap shen serius.


guru surgawi Chunying menatap shen dengan serius.


"apakah jika aku menceritakannya Jia Li akan memaafkan ku dan menerima aku kembali ?" tanya guru surgawi Chunying penuh harap.


"kemungkinan besar iya. Cobalah dulu siapa tau nona Jia Li mengingat guru surgawi Chunying kembali" ucap shen lagi.


"...." guru surgawi Chunying terdiam cukup lama. Ia merasa ragu apakah masa lalunya yang kelam dengan Jia Li pantas untuk diceritakan. Apakah setelah ia menceritakannya Jia Li dapat memaafkannya dan menerimanya kembali atau malah membencinya. Jika Jia Li membencinya karena cerita masa lalu bukankah lebih baik masa lalu tetap terkubur dalam-dalam.


"guru...?" shen merasa bingung karena gurunya terlihat melamun.


"shen… kau bisa pergi sekarang" ucap guru surgawi Chunying. 


Mendengar hal itu, Shen dengan patih pergi meninggalkan tempat itu.


Sudah 3 hari semenjak guru surgawi Chunying bertemu dengan shen, semenjak itu jugalah pria itu tidak pernah lagi bertemu dengan Jia Li. Padahal pria itu selalu menemui Jia Li hampir setiap hari meskipun sering diabaikan olehnya.


Hari ini guru surgawi Chunying berencana menemui Jia Li. Ia telah memantapkan diri untuk menceritakan masa lalu meskipun resiko untuk dimaafkan sangat Kecil. Meskipun begitu guru surgawi Chunying tidak akan menyerah untuk mendapatkan Jia Li kembali.


Guru surgawi Chunying masuk ke rumah mewah dan indah yang kini menjadi kediaman Jia Li. Di dalam guru surgawi Chunying melihat Jia Li sedang duduk di depan jendela. Gadis itu sedang memandangi pemandangan alam di sekitar tempat itu. 


"bisa kita bicara" ucap guru surgawi Chunying.


Jia Li menatap guru surgawi Chunying.  Jia Li seakan tau apa yang ingin guru surgawi ingin katakan, jadi ia langsung memerintahkan pelayannya untuk pergi. 


Kini diruangan itu tinggal Jia Li dan guru surgawi Chunying.


"katakanlah, apa yang ingin kamu katakan" ucap Jia Li. Wajahnya masih datar tanpa senyum sama sekali. Hal itu membuat guru surgawi Chunying sedih.


Guru surgawi Chunying terlihat ragu menceritakan kehidupannya yang dulu dengan Jia Li, karena ia takut Jia Li akan membencinya setelah ia mendengar cerita itu. Kehilangan dan dibenci Jia Li adalah hal yang paling ditakutkan. 


"jika aku menceritakan semuanya padamu, maukah kamu memaafkan ku dan menerimaku lagi sebagai suamimu jika aku menceritakan kehidupan kita di masa lalu?" suara pria itu terdengar sangat sedih. Ia sangat takut kehilangan Jia Li.


"tergantung " ucap Jia Li cuek.


" tergantung apa ?" tanya pria itu.


Jia Li sendiri punya alasan kenapa ia tidak mau mendengar kisah masa lalu yang bisa saja menyakitkan hatinya. Ia hanya tidak mau terjebak dengan masa lalu. Lebih baik ia tidak mengetahuinya dengan begitu hidupnya mungkin akan jauh lebih baik kedepannya. 


"jadi...kamu mau memaafkan ku ?" tanya guru surgawi Chunying dengan wajah penuh harap. Tapi jujur ia sangat senang jika Jia Li melupakan cerita mereka di masa lalu, mungkin hanya dengan begitu ia memiliki kesempatan hidup bersama Jia Li dengan bahagia tanpa dihantui masa lalu.


Jia Li mendesah kasar. 


"iya...tapi ingat jangan mengulangi kesalahan yang sema !" ucap Jia Li tegas. 


"sepertinya masa laluku dengan dia sangat buruk, buktinya dia ragu untuk menceritakan dan sangat senang saat aku bilang tidak usah bercerita jika itu kisah yang buruk. Tapi...seburuk apa ?" batin Jia Li.


"trimakasih, trimakasih Jia Li"  guru surgawi Chunying memeluk Jia Li dari belakang. Hal itu membuat Jia Li kaget. Dengan cepat Jia Li memberontak.


"lepaskan aku, kamu tidak sopan. Dasar bajing4an !!" bentak Jia Li.


"kenapa ? Bukannya kamu sudah memaafkan aku ?" tanya guru surgawi Chunying. Ia mulai melepas pelukannya pada Jia Li dengan wajah yang kecewa .


"aku memang memaafkan mu. Tapi ini bukan berarti kamu bisa memelukku seenaknya. Memangnya kamu siapa ? Ayah ku bukan, saudara bukan, sahabat bukan, suami apalagi ?" ucap Jia Li kesal. Jia Li kemudian menjadi guru surgawi Chunying. Memberi Jarak di antara mereka.


"aku suamimu !" ucap guru surgawi Chunying tegas.


"mungkin itu dulu. Sekarang aku adalah gadis yang belum menikah !" tekan Jia Li. Ia tak mau kalah.


"baiklah, kita akan menikah besok !" ucapan itu membuat Jia Li terkejut bukan main.


"apah !? Apa kau gila ?" bentak Jia Li.


"ya...aku gila karena menunggumu  dan mencarimu selama ini. Aku tidak tahan jika harus berpisah denganmu" ucap guru surgawi Chunying seperti orang gila.


"...." Jia Li kehilangan kata-kata. Ia tidak tahu harus berbicara apa.


Guru surgawi Chunying mengambil lengan Jia Li lalu ia berlutut di depan Jia Li.


"Jia Li aku mohon, menikahlah dengan ku"  ucap pria itu dengan puli, dan matanya telah berkaca-kaca. Entah kenapa Jia Li menjadi kasihan dengan pria itu. Pria dihadapannya bahkan lebih menyedihkan dari Acara. 


Jia Li menarik tangannya lalu pergi ke kamarnya meninggalkan guru surgawi Chunying. Pria itu hanya menatap Jia Li dengan sedih. Ia sangat ingin menahan Jia Li dan menuntutnya untuk menerima lamarannya, namun pria itu tidak mau terlalu memaksa Jia Li.


Semenjak hari itu guru surgawi Chunying terus datang ke kediaman Jia Li  hati yang gembira. Ya...walaupun Jia Li masih belum menerimanya, tapi setidaknya Jia Li tidak lagi menghindarinya. Setidaknya ada kemajuan. Guru surgai setiap harinya selalu memohon agar Jia Li mau menikah dengannya, meskipun selalu berujung dengan penolakan tegas dari Jia Li, namun pria itu tidak pernah menyerah untuk melamar Jia Li setiap harinya, hingga tanpa sadar 1 tahun telah berlalu. 


Jujur saja Jia Li benar-benar bosan melihat wajah guru surgawi Chunying setiap hari, apalagi harus tinggal di kediaman itu tanpa boleh keluar.  Jia Li ingin sekali kabur, namun itu tidak mungkin mengingat penjagaannya sangat ketat. Kini yang bisa Jia Li lakukan hanya melihat pemandangan dari luar jendela.


Saat ini Jia Li sudah beradaptasi dengan baik disini. Ia sudah bisa menerima keadaannya dan hidup dengan baik meskipun diliputi rasa bosan. Sangat bosan.


"Jia Li, istriku kamu dimana ?" ucap seorang pria dengan semangat. Ya...  Jia Li sangat hapar suara itu. Ya...siapa lagi kalau bukan guru surgawi Chunying.


"hem...ada apa ?" tanya Jia Li malas. Jia Li sedang duduk sambil membaca buku.


"apa kamu sudah makan  siang ?" tanya guru surgawi Chunying.


"belum" jawab Jia Li singkat.


"kalau begitu, ayo makan bersama" tawar guru surgawi Chunying. Sebenarnya guru surgawi  Chunying cukup sering mengajak Jia Li makan bersama agar bisa menghabiskan waktu bersama namun tawarannya selalu ditolak. Meskipun ia tahu akan ditolak, guru surgawi Chunying selalu tersenyum lebar. Padahal jauh di dalam hatinya ia merasakan sakit.


"baiklah" ucap Jia Li. Ia lalu menyerobot tehnya.


"apah ?"tanya guru surgawi Chunying, ia merasa kupingnya salah dengar.


"baiklah, ayo kita makan bersama"  Jia Li menatap pria bertopeng perak itu. Ini kali pertama Jia Li menatap guru surgawi Chunying tanpa kebencian di hatinya.


Sontak hal itu membuat guru surgawi Chunying sangat senang. Setidaknya usahanya selama ini untuk sia-sia.