"Jia Li 2"

"Jia Li 2"
4



Pagi harinya Jia Li mendadak demam tinggi, bahkan tubuhnya gemetar. Namun itu tetap dipaksa bekerja oleh para pelayan senior. Dengan berat hati Jia Li mematuhi semua ucapan pelayan senior, ia tidak memiliki hak untuk menolak, jika menolak maka hukuman menantinya. Hidup di zaman ini memang sangat kejam.


"aku harus minum air rebusan jahe atau ginseng biar tubuhku hangat" gumam Jia Li.


Jianli mengepel lantai di depan ruangan belajar pangeran ke 3. Ruangan yang juga menjadi tempat favoritnya karena memiliki banyak buku. Jia Li mengintip dari balik jendela, dia berharap pangeran ke 3 tidak ada. Saat memastikan tidak ada orang di ruangan belajar pangeran ke 3, Jia Li masuk.


Jia Li merasa jika ruangan ini mungkin telah didatangi pangeran ke 3, ini terlihat jelas dengan posisi buku di rak buku telah berubah, selain itu di atas meja terdapat perlengkapan menulis yang sepertinya baru dipakai.


Jia Li melihat kertas putih di meja belajar pangeran ke 3 dan juga kuas dengan tinta hitam. Suatu ide muncul di kepala Jia Li. Ia lantas mengambil kuas dan menulis puisi yang baru saja terpikir oleh otaknya, entah kenapa Jia Li langsung terpikir oleh puisi itu dan ingin menulisnya.


"Cinta itu datang seperti angin


Tidak bisa dilihat tapi cukup dirasakan


Cinta tidak perlu fisik sempurna, uang, dan tahta


Tapi cinta yang membuatmu menjadi sempurna


Cinta tidak butuh alasan


Tapi cinta butuh perjuangan


Cinta bukan hanya soal memiliki


Karena cinta sejati adalah, melihat orang yang kamu cintai bahagia."


Jia Li menulis puisi cinta karyanya sendiri. Meskipun tulisan Jia Li tidak begitu bagus karena tidak terbiasa menggunakan kuas, namun puisinya yang dia buat tidak begitu jelek. Puisi ini bisa dikatakan gambaran kisah cinta Jia Li dengan mantan kekasihnya dulu. Meskipun kisah cinta mereka berakhir tragis, namun cinta yang begitu tulus dari pria itu cukup membekas di hati Jia Li hingga sekarang. 


Cinta Jia Li dan mantan kekasihnya berakhir tragis karena maut yang memisahkan mereka. Saat itu Jia Li berumur 21 tahun, dia dan kekasihnya akan menikah dalam hitungan jam lagi tapi, saat sang pujaan hati menuju ke lokasi pernikahan dia terlihat kecelakaan parah yang akhirnya merenggut nyawanya. Semenjak itu Jia Li tidak pernah membuka hatinya lagi, meskipun banyak pria yang mencoba mencuri hatinya.


Dibawah puisi itu jia li menulis sebuah kalimat untuk sang kekasih.


"jika aku tau cara mengendalikan hati, aku tidak ingin mencintaimu.


Karena aku tidak mau merasakan sakitnya kehilanganmu." ucap Jia Li sendu.


Setelah menulis itu, Jia Li segera membereskan ruangan belajar pangeran ke 3. Setelah selesai, Jia Li langsung pergi, hari ini pekerjaannya cukup ringan karena dibantu dengan pelayan-pelayan senior. Entah kerasukan apa sampai para pelayan senior mau membantunya, apa mungkin mereka takut ketahuan pangeran ke 3 karena tidak bekerja ? Mungkin saja.


Jia Li pergi ke dapur kekaisaran untuk menemui Mo An, ia berharap bisa mendapatkan beberapa rempah-rempah yang bisa dijadikan obat penurun panasnya. Meskipun badannya lemah saat ini, namun Jia Li mencoba menguatkan diri. 


"Mo An, boleh aku minta beberapa rempah-rempah untuk mengobati sakitku ?" tanya Jia Li saat bertemu dengan Mo An.


"aku tidak tahu bisa atau tidak memberikannya padamu, rempah-rempah itu milik istana bukan punya ku pribadi Jia Li. Jika aku ambil, aku takut akan ketahuan dan dihukum, kamu tau kan rempah-rempah itu sangat berharga dan harganya sangat mahal" ucap mo an dengan wajah sedih karena merasa bersalah. Ia ingin membantu, tapi ia juga takut.


Pada zaman ini rempah-rempah dan tanaman obat sangatlah mahal, mereka semua bisa lebih mahal daripada yang kamu bayangkan. Jadi sangat wajar jika Mo An takut tentang hal itu. Sekali lagi jia li hanya bisa bersabar, dia merasa miris dengan kehidupannya sekarang. Dulu ia bisa melakukan apa saja, tapi sekarang demi satu obat saja dia kesulitan.


Jia Li ingin pergi ke tabib istana untuk berobat, tapi niatnya batal setelah mendengar ucapan Mo An. Gadis itu mengatakan jika tabib istana pilih kasih dalam pengobatan, dan tidak jarang melecehkan pasien mereka (pelayan perempuan). Tentu Jia Li percaya dengan ucapan Mo An, pasalnya gadis itu mendapatkan informasi langsung dari para korbannya. 


"yasudah, bisakah kamu buatkan aku air hanya " ucap Jia Li. Jia Li berharap dengan minum air putih sebanyak yang ia bisa, panasnya bisa turun. Semoga.


***


Di  sisi lain. Di sebuah ruangan belajar, terdapat 5 pemuda yang sedang mendengarkan puisi dari seorang pria tampan yang duduk dibalik meja belajar.


"Cinta itu datang seperti angin


Tidak bisa dilihat tapi cukup dirasakan


Cinta tidak perlu fisik sempurna, uang, dan tahta


Tapi cinta yang membuatmu menjadi sempurna


Cinta tidak butuh alasan


Tapi cinta butuh perjuangan


Cinta bukan hanya soal memiliki


Karena cinta sejati adalah, melihat orang yang kamu cintai bahagia."


"apakah ini puisi buatanmu ?" tanya Wang Chunying pada adiknya.


"bukan kak," jawab Wang Xuemin cepat. Ia juga merasa bingung dan bertanya-tanya 'siapa yang berani masuk ke kamarnya dan menulis puisi ?"


"aku tau itu pasti bukan kamu" ucap Wang Chunying dengan wajah datar. Dia terus melihat tulisan itu, dan mengamatinya dengan sangat teliti.


"kalau sudah tau, kenapa harus tanya " gumam Wang Xuemin.


"kau bilang apa tadi ?" tanya Wang Chunying yang langsung menatap adiknya tajam.


"a...bukan apa-apa kok kakak" ucap Wang Xuemin cepat.


"tulisannya sangat buruk, tapi puisinya lumayan… bagus" ucap Wang Chunying, dia melipat puisi itu lalu memasukkannya ke dalam celah lengan bajunya. 


"ohya lian, bagaimana dengan sosok misterius yang kau kejar semalam ?" tanya Wang Chunying pada lian. 


Lian yang mendengar hal itu nampak tegang, semalam dia telah mencari keberadaan sosok itu namun ia kehilangan jejak. Liam bahkan telah mengerahkan anak buatnya mencari sosok itu, namun tetap saja hasilnya nihil. Ini pertama kalinya ia gagal dalam tugas. Ia merasa malu.


"jangan bilang kau gagal ?" ucap pria berwajah seram dengan baju serba hitam.


"tenanglah Ping, wajahmu itu sangat menyeramkan" ucap pria yang duduk di samping pria  berpakaian hijau.


"diam kau jenderal Yu" ucap Ping menatap pria yang berusaha penenangangkannya yang tidak lain adalah jendral Yu, jendral muda yang baru berusia 23 tahun.


Sementara pria tampan berpakaian hijau yang duduk di antara jendral Yu dan Ping hanya diam, dia terus menikmati tehnya di sela pertengkaran dua pria yang duduk di kedua sisinya. Pria itu adalah Yelu, seorang sejarawan mudah. 


Lian yang menjadi alasan pertengkaran hanya bisa terdiam. Sementara Wang Xuemin ikut campur dengan perdebatan ping dan jendran yu, suasana ruangan semakin ribut dan heboh.


"DIAM....!" ucap Wang Chunying dengan suara agak meninggi.


Sontak semuanya menjadi siam.


Wang Chunying menatap semua orang yang ada di sana dengan tajam. Mereka yang ada di ruangan ini bukan hanya kaki tangan nya biasa tapi, juga adik kandungnya dan sahabat-sahabatnya, itu sebabnya mereka terlihat sangat akrab.


"cari terus sosok itu, aku mulai yakin jika dia bukan orang biasa. Lakukan ini secepatnya" Wang Chunying memijat kepalanya yang terasa pusing. 


"baik tuan" ucap Lian.


***


Hari-hari sangat cepat berlalu, dan saat ini kondisi kesehatan Jia Li sudah mulai membaik. Hari ini Jia Li terlihat begitu bersemangat, karena hari ini adalah hari liburnya. Mumpung hari ini ia libur kerja, Jia Li dan Mo An memutuskan berjalan ke luar istana. Tempat yang sangat ingin Jia Li lihat, lagi pula ia mulai bosan tinggal di istana yang penuh dengan orang-orang bermuka dua. 


"Jia Li, apa kamu yakin ingin ke luar istana ?" tanya Mo An.


"iya Mo An, memangnya kamu tidak bosan tinggal di istana terus ?" ucap Jia Li sambil merapikan bajunya.


"bosan sih, kalau gitu ayo kita pergi" ucap Mo An yang langsung semangat 45.


Jia Li dan Mo An pergi ke luar istana melewati garbang belakang istana. Pintu gerbang belakang itu juga tempat para bawahan rendahan masuk dan keluar istana. Dan tidak begitu sulit bagi seorang pelayan keluar masuk melewati belakang istana, apalagi pelayan rendahan seperti mereka, para prajurit yang berjaga bahkan mengabaikan keberadaan mereka. Perlakukan itu akan berbeda jika anak-anak kaisar atau para selir yang hendak keluar masuk istana, mereka akan diperlakukan dengan penuh hormat dan mereka akan dijaga ketat.


Saat Jia Li dan Mo An keluar dari istana, pemandangan di depan mata mereka menjadi hidup. Semua orang yang berada di luar istana terlihat sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, contohnya ada yang sedang melayani para tamu di kedai makanan, ada yang sedang membeli baju, dan masih banyak lagi. 


Senyum Jia Li terangkat, tempat itu seperti pasar malam yang ia kunjungi saat masih kecil bersama kedua orang tuanya. Ingatan mengenai waktu Jia Li kecil saat mengunjungi pasar malam bersama kedua orang tuanya kembali terbayang, saat itu jia li terlihat sangat bahagia.


Dia berlari kesana kemari sambil memeluk boneka beruang dan tangan yang penuh permen kapas, orang tuanya bahkan kewalahan dengan tingkah Jia Li. Sementara penjagaan di sekitar Jia Li diperketat, agar Jia Li tetap aman. Setiap kali Jia Li ke pasar malam, ia akan sangat senang karena bisa bersenang-senang hanya bersama kedua orang tuanya, bahkan demi membuat Jia Li dan ibunya merasa nyaman  ayahnya akan menyewa seluruh tempat di pasar malam itu. Selain itu, alasan kenapa Jia Li sangat senang jika menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya adalah karena kedua orang tuanya sangat sibuk. Jadi sekali ada waktu bersama Jia Li akan sangat gembira. Seperti waktu itu.


Jia Li dan Mo An berkeliling kota dengan penuh semangat tingkat tinggi, hingga mereka lupa jika waktu mulai malam. Dan gerbang istana akan segera ditutup, baik itu gerbang depan istana maupun gerbang belakang.