"Jia Li 2"

"Jia Li 2"
12



Ucapan Jia Li hari itu di setujui oleh Wang Chunying, meskipun dengan berat hati. Pangeran pertama berjanji akan mengeluarkannya dan memberinya banyak uang. Tapi Jia Li harus menunggu sampai pesta akhir musim panas yang akan diadakan 1 minggu lagi selesai, pesta ini bisa dikatakan pesta yang sangat besar karena mengundang banyak kerajaan lain, beberapa guru surgawi, orang-orang berpengaruh yang sangat dihormati di dunia ini dan masih banyak lagi. Karena itulah pesta ini akan di adakan sangat meriah, megah dan mewah. Semua orang akan sangat sibuk untuk mempersiapkan pesta dan penjagaan akan sedikit longgar di istana kekaisaran, namun sebagian orang akan memanfaatkan hal ini untuk keuntungan pribadi mereka. contohnya peperangan antar saudara untuk memperebutkan tahta, atau akan terjadi percobaan pembunuhan.


Jia Li sendiri tidak masalah jika harus menunggu. Membayangkan ia berada di luar istana dan tidak kembali lagi membuat hatinya sangat senang. Bahkan semenjak hari itu senyum di wajah Jia Li tidak pernah hilang. Tapi tanpa Jia Li sadari, ada banyak hati yang terluka saat mendengar Jia Li ingin pergi dari istana. Sementara itu masalah Jia Li dan Ping telah terselesaikan.


Saat ini Jia Li duduk di bangunan indah di Pinggir danau, ia tidak sendiri. Ada Wang Chunying, Wang Xuemin, Lian, jendral Yu, Ping, dan Yelu. Mereka sepertinya sedang membahas sesuatu yang penting dan Jia Li tidak mau ikut campur dengan urusan mereka. Jia Li lebih memilih memperhatikan bunga teratai yang tidak jauh darinya, bunga itu berwarna pink dan sedang mekar dengan sangat indah. 


"apa kau benar-benar ingin pergi Jia Li ?" tanya Lian tiba-tiba.


Jia Li mengangguk cepat sambil tersenyum.


"kenapa kau sangat senang keluar istana, padahal banyak orang yang ingin masuk ke istana ?" ucapan Lian membuat Jia Li terdiam cukup lama, ia ragu jika harus mengatakan pemikirannya mengenai istana. 


Setelah berpikir lama Jia Li akhirnya memutuskan memberi tau Lian apa yang ia pikirkan mengenai istana. Jia Li memberi kode pada Lian supaya bisa lebih dekat padanya, dan Lian akhirnya mendekat.


"memang tempat ini terlihat sangat indah, mewah dan mewah, semua ingin tinggal di sini. Aku juga suka tempat yang indah, mewah, dan menawan seperti ini,...tapi... orang-orang yang tinggal di sini penuh rasa iri, dendam dan bermuka dua. Aku tidak sanggup hidup dengan orang-orang seperti itu, jadi lebih baik aku pergi dari mereka" ucap Jia Li yang seperti berbisik.


"..." Lian terdiam, Lian tidak menyangka ternyata Jia Li mengerti banyak tentang istana padahal ia masih kecil.


"tapi tenang saja suatu hari aku akan membangun istana yang hanya ada kebahagiaan, penuh dengan cinta dari orang-orang yang ku sayang. Saat hari itu tiba, aku akan mengundangmu untuk datang" ucap Jia Li. Ucapan Jia Li terdengar mustahil bagi siapa saja yang mendengar, namun Lian yang mendengar itu sedikit merasa senang.


Tapi tanpa Jia Li sadari ucapannya tetap bisa di dengan seseorang, apalagi olah orang yang memiliki kultovator tinggi.


Setelah mengatakan itu Jia Li tersenyum lebar, wajahnya yang kini cukup cantik dan tubuhnya yang kini kurus  semakin terlihat cantik.


Lian tertegun sesaat. Ingatan mengenai ucapan Jia Li malam itu kembali berputar di kepalanya "hahahaha... Lian, tunggu saat aku berusia 17 tahun, aku yakin akan menjadi kecantikan yang mampu meruntuhkan kekaisaran dan saat hari itu tiba jangan pernah menjilat kata-katamu ya karena aku takut kau akan patah hati" apakah Lian benar-benar jatuh cinta pada anak yang baru berusia 10 tahun. Perbedaan usia yang cukup tahu hampir 12 tahun membuat itu terasa tidak mungkin bagi Lian, tapi sikap Jia Li yang dewasa, apa adanya dan pintar selalu menarik perhatiannya. Tidak pernah ada gadis selain Jia Li yang mampu melakukan itu.


"jadi...itu alasannya ?" tanya liam.


Sejujurnya Lian juga tidak suka tinggal di istana, tapi ia telah bersumpah akan setia dan mengikuti kemanapun Wang Xuemin pergi.


Jia Li mengangguk kecil. Hal itu terlihat lucu.


"setelah kamu keluar dari istana, kau ingin kemana ?" tanya Lian lagi. Jia Li mengangkat bahu, ia juga masih bingung ingin kemana.


"aku akan membuka bisnis mungkin,  atau pergi untuk berlatih ilmu pengobatan, hem...atau pergi untuk berkultivator agar menjadi kuat. Hah... Seperti aku harus membaca banyak buku mengenai keadaan daerah di kekaisaran ini deh" Jia Li mengeluh.


Lian yang melihat itu tampak khawatir, ia takut terjadi sesuatu terhadap Jia Li di luar sana. Rasanya ia ingin pergi bersama gadis itu, melindunginya.


"jangan khawatir, aku bukan anak kecil lagi yang harus kau khawatirkan. Aku adalah wanita berumur 30 tahun yang terjebak di tubuh  anak kecil tau, tidak sadarkah kamu betapa dewasa aku menyikapi masalah" ucap Jia Li dengan senyum jahil.


Lian yang mendengar itu hanya tertawa. Ia merasa ucapan Jia Li hanya candaan saja. 


"sangat lucu Jia Li, mana ada hal semacam itu" ucap Lian, Jia Li hanya tersenyum tidak meladeni ucapan Lian lagi.


"hem... Baiklah, kalau sudah tidak ada hal lain aku pergi dulu ya. Ada banyak buku yang harus ku pelajari untuk bekal ku nanti" ucap Jia Li.


"baiklah, sampai ketemu lagi"


Jia Li tidak berpamitan dengan yang lain karena takut mengganggu mereka, Jia Li berlari menuju perpustakaan kekaisaran. Ia mendapatkan hadiah token (kartu izin masuk), milik pangeran ke 3 jadi ia di perbolehkan masuk ke perpustakaan kekaisaran tanpa harus menyelinap lagi. 


Jia Li berbeda dengan kebanyakan gadis yang lebih suka berjalan dengan lambat dan anggun. Jia Li selalu berlari kemanapun itu, tapi penampilannya dari belakang terlihat begitu indah di mata siapapun yang melihat. Gaun yang ia kenakan berkibar dengan lembut, rambutnya yang hitam, lebat, dan juga panjang itu hanya dihiasi satu pita bergoyang lembut seperti ombak saat ia berlari, benar-benar tampilan Jia Li bagaikan lukisan yang indah. Siapa saja yang melihat hal itu pasti tidak akan berpaling sampai ia benar-benar menghilang. 


Wang Chunying  menatap kepergian Jia Li, ia ingin menahan gadis itu karena hatinya tidak ingin melihatnya pergi, tapi apalah daya ia tidak mungkin melakukan itu apalagi di ruang terbuka seperti ini. Dari tadi Wang Chunying mendengar dengan jelas pembicaran Jia Li dengan Lian meskipun mereka berbicara dengan berbisik berkat kemampuan nya, Wang Chunying  merasa sangat sedih saat mengetahui fakta yang sebenarnya kenapa Jia Li tidak suka berada di istana dan sangat ingin keluar dari istana. Keinginannya membawa Jia Li sebagai istrinya pasti tidak akan pernah terwujud, bagaimana tidak, tinggal di istana saja ia tidak mau apalagi menjadi selir yang harus tinggal di istana selama sisa hidupnya. Tapi yang paling menyakitkan adalah melihat kedekatan Lian dan Jia Li, mereka berdua terlihat sangat akrab. Wang Chunying  yang melihat hal itu hanya bisa menahan rasa sakit, entahlah ia tidak rela melihat Jia Li bersama pria lain.


Sementara Wang Xuemin, dia merasakan sesuatu yang sesak di dadanya, dia merasa sangat ingin memisahkan Jia Li dan Lian. Tapi ia tidak tahu apa alasannya.


***


Hari-hari berlalu dengan cepat, hingga tanpa terasa pesta musim panas akan segera dimulai. Istana kekaisaran benar-benar sibuk, dan para tamu kehormatan juga mulai datang. Wang Chunying, Wang Xuemin dan seluruh anggota kekaisaran sedang sibuk menyambut para tamu, sementara Jia Li sibuk membaca buku di perpustakaan kekaisaran.  Jia Li selalu menghabiskan waktu di sana, membaca buku dan memikirkan rencana apa yang ingin dilakukan setelah keluar dari istana. 


"siapa itu ?" tanya Jia Li. Ia melihat ke seluruh ruangan perpustakaan tapi tidak melihat siapapun. Tapi saat Jia Li hendak kembali membaca seseorang keluar dari bayang-bayang.


"ini aku Jia Li" ucap pria itu.


"pangeran pertama ?" ucap Jia Li kaget.


"Jia Li,..." Wang Chunying berjalan mendekatinya. Suaranya seperti orang yang sedang menahan tangis.


"ada apa pangeran, apa kamu sakit ?" ucap Jia Li panik.


Jia Li datang mendekati Wang Chunying dan langsung menyentuh dahinya. Wang Chunying sama sekali tidak mencegah perbuatan Jia Li, ia malah menatap gadis itu dengan senyum kecil. Namun Jia Li yang menyadari kesalahannya menarik lengannya cepat. 


"maaf pangeran, saya terlalu lancang" ucap Jia Li.


"tidak apa-apa, saya suka perhatianmu" Wang Chunying meraih lengan Jia Li. Jia Li hendak menarik lengannya namun Wang Chunying menggenggam lebih kuat.


"pangeran ini salah, bagaimana jika ada yang melihat kita. Mereka akan salah padam dan pasti akan ada gosip buruk lagi." ucap Jia Li cemas, tapi ucapan Jia Li di abaikan Wang Chunying.


Pria itu menarik Jia Li kedalam pelukannya. Jia Li berusaha melepasnya.


"pangeran hentikan ini. Seseorang bisa salah paham" ucap Jia Li.


Wang Chunying melepas pelukannya meskipun ia tidak mau.


Jia Li menatap Wang Chunying aneh, ia merasa belakangan ini pria itu selalu terlihat aneh.


"apakah kau bisa memikirkan tawaran ku lagi Jia Li ?"akhirnya pria itu bicara. Wang Chunying  terlihat penuh harap jiali mau menikah dengannya.


Jia Li yang mendapat pertanyaan itu lagi terdiam cukup lama.


"pangeran, dunia kita sangat berbeda dan sangat sulit disatukan. Anda adalah pangeran dan saya hanyalah pelayan rendahan, meskipun kita memaksa untuk bersama pasti banyak yang menentang hubungan ini. Hal ini diperparah dengan sikap pelayan rendahan ini yang memiliki rasa egois tinggi terhadap pasangan hidupnya, saya tidak mau berbagi suami dengan siapapun. Dan saya sadar, pangeran pasti tidak akan bisa memenuhi keinginan saya itu kan ?" tanya Jia Li dengan wajah yang tenang. Ia tidak mengerti kenapa pangeran pertama menanyakan hal yang sama berkali-kali. Padahal, Jia Li sudah sangat bosan di tanyai hal itu terus. Tapi, meskipun ditanya ribuan kali, jawabannya tetap sama kecuali… jika pangeran bersedia memenuhi syaratnya.


"..." Wang Chunying hanya diam. Hal itu menunjukan bahwa ia tidak bisa memenuhi keinginan Jia Li. Sebenarnya memiliki banyak istri (khususnya selir) adalah kepentingan politik agar bisa menguatkan posisinya sebagai calon kaisar di masa depan.


Jia Li yang melihat keterdiaman Wang Chunying hanya bisa tersenyum.


"karena pangeran tidak bisa memenuhi syarat dari saya. Maka kita tidak akan bisa bersama. Saya harap pangeran pertama menghormati keputusan saya" ucap Jia Li dengan penuh senyum.


Wang Chunying merasa sangat kecewa. Hatinya terasa sangat sakit, tapi ia tidak mengerti kenapa.


"lagi pula, pangeran bahkan tidak tahu perasaan apa yang pangeran miliki untuk saya. Jika pangeran ingin menikahi saya hanya karena balas budi, saya tidak akan menerima lamaran pangeran sampai kapanpun. Saya hanya ingin menikah dengan pria yang benar-benar mencintai saya" tambah Jia Li . Ucapan Jia Li terdengar sangat tegas.


Ucapan Jia Li itu semakin membuat hati Wang Chunying semakin sakit bagaikan di sayat-sayat . Memang benar, Ia tidak tahu perasaan apa yang dimilikinya untuk Jia Li, tapi yang jelas dia marah jika Jia Li dekat dengan pria lain, ia merasa gelisah saat Jia Li jauh darinya, ia khawatir saat melihat gadis itu terluka, ia bahagia saat dekat dengannya, dan sakit saat ditolak olehnya.


"pangeran pertama adalah anak kesayangan kaisar Wenxiao dan kemungkinan besar akan menjadi kaisar selanjutnya. Saya bahkan bisa melihat jika pangeran sangat pantas dengan posisi itu, pangeran sangat bijaksana, baik, dan sangat cerdas dalam segala hal. Saya yakin jika kekaisaran ini akan tentram dan sejahtera jika memiliki pemimpin sebaik yang mulia, lagipula bukankah menjadi kaisar adalah impian pangengeran ?" ujap Jia Li dengan senyum manis di wajahnya.


"..." Wang Chunying hanya diam. Dia hanya menatap Jia Li dengan wajah sedih penuh kekecewaan.


"saya selalu berdoa, semoga pangeran pertama menjadi kaisar dan sehat selalu" ucap Jia Li dengan senyum lebar. Senyum yang mampu menutupi rasa sesak yang entah kenapa muncul tiba-tiba di hatinya.


"Jia Li" mata Wang Chunying terlihat memerah dan berkaca-kaca seolah akan menangis.


"pangeran anda harus segera menghadiri pesta itu, jika anda masih disini maka anda akan terlambat. Pangeran saya mohon pamit" ucap Jia Li. Tanpa menunggu balasan Wang Chunying, Jia Li langsung memberi hormat dan berlari meninggalkan Wang Chunying sendiri.


Jia Li berlari secepat yang ia bisa, saat ia menemukan tempat yang tepat Jia Li menenangkan diri. Entah kenapa saat melihat wajah Wang Chunying yang sedih tadi, hati Jia Li terasa sakit. Tapi tidak peduli apa, Jia Li harus menguatkan diri agar terlepas dari tempat ini, dan segala hal yang mungkin membuatnya menderita.