
"baik apanya. Li Ewi itu adalah orang sangat licik dan orang berdarah dingin. Dia tidak akan segan-segan membunuh semua orang yang mencari masalah dengannya. Makanya, kamu harus hati-hati dengannya" ucap Wang Chunying memperingatkan Jia Li.
"hmmm… kenapa ? Apa Kamu takut padanya ? " tanya Jia Li.
"aku tidak takut dengannya, aku hanya takut dia menyakitimu. Lain kali jika kalian bertemu dengannya, menjauhlah darinya ya" pinta Wang Chunying dengan sangat lembut.
Ucapan itu menyentuh hati Jia Li. Entah kenapa ia merasa senang dengan perhatian Wang Chunying padanya.
"lalu, bagaimana dengan putri mulan. Apakah kamu akan menikah dengannya ?" wajah Jia Li terlihat murung.
Wang Chunying yang melihat wajah Jia Li yang murung membuat hatinya bahagia.
"apakah dia cemburu ?" batin Wang Chunying.
Tapi, mengingat kejadian dimana Jia Li marah dan menghilang malah membuat Wang Chunying sedih. Wang Chunying tidak menyangka jika kecemburuan Jia Li itu bisa membuat hubungannya dengan Jia Li hancur. Tentunya Wang Chunying tidak akan mau hubungannya dan Jia Li hancur lagi, ini tidak boleh terjadi.
"apakah kamu cemburu ?" tanya Wang Chunying.
Mendengar pertanyaan itu, Jia Li menatap suaminya itu kaget.
"apakah ini cemburu ?" batin Jia Li. Ia bahkan tidak mengerti, tapi… sepertinya ia memang cemburu.
"ya, sepertinya begitu" akui Jia Li. Wanita itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Wang Chunying.
Wang Chunying yang mendengar hal itu merasa sangat senang. Hatinya bahagia.
"tenang saja, aku tidak tertarik dengannya karena di hatiku cuman ada kamu dan aku cuman milik kamu" ucap Wang Chunying.
Ucapan itu membuat jantung Jia Li berdebar lebih cepat, dan ada perasaan senang yang tidak bisa Jia Li jelaskan. Dan Jia Li yakin wajahnya sudah memerah.
Wang Chunying memeluk Jia Li lebih erat lagi. Ia bahagia saat ini.
"apakah kamu mau aku menghancurkan kekaisaran Bulan ?" ucapan Wang Chunying itu membuat Jia Li terkejut.
"untuk apa ?" tanya Jia Li bingung. Jia Li menatap Wang Chunying. Pria itu tersenyum lembut padanya, seolah ucapannya tadi cuman lelucon.
"karena dia membuatmu marah" ucap Wang Chunying.
"aku memang marah padanya, tapi itu bukan berarti aku ingin menghancurkan mereka hanya masalah sepele seperti ini" ucap Jia Li.
"masalah sepele ?" Wang Chunying menatap Jia Li tidak percaya. Beberapa jam lalu mereka pernikahan mereka yang baru seumur jagung akan hancur, tapi istrinya itu malah menganggap ini masalah sepele.
Jia Li hanya membalas Wang Chunying dengan anggukan pelan.
"istriku sayang. Apa kamu sadar karena ucapan kaisar bulan tadi, pernikahan kita hampir saja hancur" wajah Wang Chunying terlihat sangat frustasi dan penuh keluhan.
"tidak akan, aku yakin kamu tidak akan membiarkan hal itu terjadi, iya kan ?" ucap Jia Li dengan sangat manja.
Ucapan Jia Li sekali lagi mengejutkan Wang Chunying. Memang benar pria itu tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Apapun masalah yang akan dihadapi, pria itu tidak akan pernah mau berpisah dengan Jia Li.
"beri saja peringatan kecil padanya. Itu sudah cukup" ucap Jia Li.
"baiklah" ucap Wang Chunying
Hari ini adalah dari yang paling membuat Wang Chunying bahagia. Ia berpikir jika Jia Li telah membuka hatinya kembali untuknya. Tapi, ingatan masa lalu dimana ia dengan bodohnya melukai Jia Li teringat kembali. Ingatan dimana ia menghancurkan pernikahannya, kepercayaan dan cinta Jia Li. Ya...bagaimana perasaan Jia Li di kehidupan yang dulu saat ia membohonginya, menjadikannya salah satu selirnya, menuduhnya yang tidak-tidak, dan membiarkan dia dihina banyak orang. Rasanya itu pasti sakit. Pasti sangat sakit, dan hatinya pasti hancur. Tapi di kehidupan ini Wang Chunying tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Ia akan membuat Jia Li bahagia. Selamanya.
Wang Chunying memeluk Jia Li lebih erat. Ia benar-benar takut kehilangan Jia Li lagi.
"bisakah kita melakukan itu ?" tanya Jia Li malu-malu.
"maksudku, aku ingin kita melakukan itu lagi, tapi aku ingin diatas mu. Apakah boleh ?" ucap Jia Li tepat di telinga Wang Chunying dengan begitu sensual. Lia Li dengan lembut mengelus paha Wang Chunying, membuat pria itu langsung menegang.
Sekarang Wang Chunying bisa mengerti apa yang Jia Li inginkan. Ia meneguk air liburnya kasar dan tenggorokannya terasa sangat kering. Ini adalah pertama kalinya Jia Li meminta itu padanya.
"bo...boleh" ucap Wang Chunying dengan suara serak.
Setelah mendapat izin, tanpa ragu Jia Li menciumi bibir Wang Chunying dengan begitu lembut. Jia Li ******* bibir bawah suaminya dan menggigit kecil, hal itu membuat Wang Chunying mendesah nikmat.
"ah...Jia Li" desah Wang Chunying.
Jia Li secara perlahan membuka pengikat baju Wang Chunying, membuka baju pria itu selapis demi selapis hingga akhirnya pria itu telah bertelanjang dada.
Ciuman Jia Li turun ke leher Wang Chunying lalu menciptakan tanda kepemilikan di sana. Sedangkan tangan kanan Jia Li dengan lembut meremas rambut pria itu dan tangan kirinya mengelus dengan lembut kejantan@n pria itu yang masih di dalam celana.
"hem..ah…" Wang Chunying kembali mendesah.
Wang Chunying benar-benar sudah tengang sekarang. Pedang tumpul di antara kakinya itu benar-benar sudah keras dan itu mulai terasa sakit. Adik kecil itu menuntut ingin di puaskan.
Wang Chunying mendorong tubuh Jia Li, menindih tubuhnya lalu dengan tidak sabar pria itu membuka baju Jia Li. Namun sayangnya Jia Li memberontak. Wanita itu menolaknya.
"kan tadi sudah bilang kalau aku ingin di atas" rengek Jia Li.
"tapi aku sudah tidak tahan" Wang Chunying mengeluh.
"tapi aku mau di atas" rengek Jia Li dengan mata berkaca-kaca. Sikap Jia Li benar-benar membuat Wang Chunying bingung, tapi ia tidak punya pilihan selain mengalah.
"baiklah" ucap Wang Chunying.
Setelah itu Wang Chunying duduk kembali sedangkan Jia Li berada di pangkuannya. Secara perlahan Jia Li membuka bajunya satu-persatu hingga akhirnya tidak ada satupun benang yang tersisa, sambil menggoyangkan pinggulnya di atas pedang milik Wang Chunying. Pria itu terus mendesah nikmat dan sesekali memanggil nama Jia Li.
Jia Li kemudian mencium dada Wang Chunying yang kekal, sesekali menjilat dan menggigit. Tangan Jia Li tidak tinggal diam, tangan kanan Jia Li mulai menyelinap masuk kedalam dan bermain disana. Membuat pemiliknya menggeram nikmat.
"hmmm" desah Wang Chunying.
***
Suara desahan atau lebih tepatnya suara cabul kembali terdengar keras di kediaman mereka. Semua orang yang mendengar itu kaget dan merasa malu. satu persatu pelayan memilih pergi menjauh agar tidak mengganggu sepasang manusia yang sedang di mabuk cinta itu.
Dari kejauhan Liu Bei memandang ke bangunan megah yang menjadi kamar Jia Li dengin cemas.
"apakah master marah karena masalah tadi guru ? " tanya Liu Bei. Ia berpikir Wang Chunying menindas Jia Li dengan karena masalah di acara tadi.
"kau itu masih kecil, jangan ikut campur urusan rumah tangga guru. Sebaiknya kamu pulang dan tidur, anak kecil sepertimu belum pantas mendengar suara capul itu" ucap Shen dengan wajah datarnya. Setelah mengatakan itu pria itu pergi. Ia cukup senang karena mendengar suara pergulatan Wang Chunying dan Jia Li. Ya...itu menandakan hubungan mereka dalam keadaan baik, karena jika Jia Li marah pasti tidak akan sudi disentuh Wang Chunying.
*
*
*
Hati-hari berlalu dengan cepat, hingga tanpa disadari sudah satu bulan. Semenjak saat itu hubungan Jia Li dan Wang Chunying semakin membaik, bahkan mereka terlihat sangat bahagia.
Tapi, sebenarnya Wang Chunying merasa bingung dengan sikap Jia Li beberapa bulan ini, pasalnya istrinya itu emosinya tidak stabil. Kadang Jia Li marah-marah tidak jelas, tapi beberapa menit kemudian berubah menjadi begitu baik dan sangat manja seperti anak kecil. Jia Li juga suka meminta hal aneh dengannya dan jika tidak dituruti dia pasti marah atau menangis seperti anak kecil.
Meskipun Wang Chunying bingung, ia cukup senang setiap kali Jia Li bersikap manja padanya. Jujur itu sangat bahagia.