"Jia Li 2"

"Jia Li 2"
16



Jia Li muncul dari balik semak-semak, dan langsung berlari dengan sangat cepat. Hal itu langsung menarik perhatian para pembunuh bayaran, mereka mengejar Jia Li. Jia Li berlari tanpa tau arah , yang ia tahu sekarang adalah lari secepat yang kau bisa untuk menghindari mereka. Tapi sepertinya keberuntungan Jia Li telah habis karena di depannya saat ini adalah jurang dan 5 pembunuh bayaran itu semakin mendekat . Tidak ada jalan keluar untuk Jia Li.


Jia Li menatap ke bawah jurang itu dengan geri, pasalnya jurang itu sangat sangat dalam dan di dasar jurang itu terdapat aliran sungai yang cukup deras. Jia Li membalikan tubuhnya saat para pembunuh bayaran itu semakin mendekat.


"apakah aku akan mati ?" batin Jia Li, wajah Jia Li terlihat ketakutan, hal itu membuat para pembunuh bayaran itu senang.


"hahahaha... Aku pikir dia adalah gadis yang dikatakan pangeran pertama Liu Changhai" ucap salah satu pembunuh.


Mendengar nama Liu Changhai, mata Jia Li membuat.


"dia tidak mati ? Hah... Sekarang aku menyesal tidak menghantam kepalanya lebih keras" gumam Jia Li.


"katakan dimana pangeran pertama kerajaan matahari ?" tanya salah satu pembunuh bayaran itu.


"memangnya apa yang akan aku dapat, jika aku mengatakannya ?" tanya Jia Li.


"hahahaha...jika kau memberitahu kami, maka kau mati dengan mudah nona. Tapi kalau kau tidak mengatakannya, maka kau akan kami siksa sampai mati. Hahahah" ucap pembunuh bayaran itu, yang diikuti tawa pembunuh bayaran yang lain.


Mendengar kata di siksa sampai mata, membuat bulu kuduk Jia Li berdiri. Membayangkan penyiksaan kejam di zaman ini membuat Jia Li ketakutan setengah mati, apalagi jika itu benar-benar terjadi. Ia lebih baik mati bunuh diri dari pada di siksa sampai mata.


"oh, karena imbalannya sama-sama mati, maka aku lebih memilih tidak memberitahu kalian sampai kapanpun. Cuman bedanya aku mati dengan caraku sendiri" Jia Li mundur mendekati tepian jurang, dan membiarkan dirinya jatuh kedalam jurang dengan indah.


Para pembunuh bayaran itu terkejut bukan main, mereka tidak menyangka Jia Li berani melompat ke dalam jurang. Saat mereka hendak mencegahnya semua telah terlambat, Jia Li telah jatuh ke dasar jurang dan sudah tidak terlihat lagi. Hanya air sungai yang deras yang bisa mereka lihat. Kemungkinan besar Jia Li pasti mati.


***


Seorang pria paruh baya sekitar 45 tahun berdiri di pinggir sungai. Pria itu seperti orang kalangan atas, itu terlihat dengan jelas dari bajunya yang berbahan sutra dan sulaman-sulaman yang sangat indah di bajunya.  Pria itu menatap sedih sungai yang terlihat sangat tenang dan indah itu, ia sedih karena tempat inilah ia menemukan jasad putri kecilnya. Ia selalu datang ke tempat itu untuk melepas rasa rindunya pada anak perempuan satu-satunya yang tenggelam di sungai itu sepuluh tahun yang lalu. 


Saat itu putri kecilnya berusia sepuluh tahun, ia selalu datang ke sungai yang terletak tidak jauh dari rumah mereka kesana suka sekali memancing atau bermain air hampir setiap hari. Tapi suatu hari seorang pelayan lalai menjaganya, hingga putri kecilnya tenggelam dan akhirnya meninggal. Rasa bersalah atas kematian putrinya selalu menghantuinya dan rasa rindu yang kadang menghampirinya. Yang bisa ia lakukan hanya menangis dalam hati dan menyalahkan dirinya karena tidak becus menjaga putri kesayangannya. Pria itu sangat menyayangi putrinya, karena memang cuman dia yang ia miliki setelah kematian istrinya 15 tahun yang lalu. Jika putrinya masih hidup seharusnya ia sudah berusia 20 tahun sekarang.


Pria itu hidup dalam penyesalan karena merasa tidak becus menjaga buah hatinya. Pria itu menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu sibuk mencari uang sampai lupa ada putrinya yang butuh kasih sayang dan selalu menunggunya di rumah. Saat ia menyadari kesalahannya putrinya telah meninggal dunia. Bahkan Tong Mu tidak sempat melihat wajah terakhir putri kecilnya keran waktu itu dia sedang berlayar. Ia benar-benar tidak memiliki kesempatan meminta maaf bahkan untuk bertemu.


"tuan Tong Mu, hari mulai dingin. Sebaiknya kita ke dalam" ucap seseorang di belakang pria itu.


Ya pria itu adalah Tong Mu, seorang saudagar terkaya di kekaisaran selatan. Selain seorang saudagar, ia juga seorang bangsawan yang terhormat dan sangat ditakuti karena sikapnya yang suka membunuh orang-orang yang membuatnya kesal.


Tong Mu hanya diam, dia tidak menanggapi ucapan Hongli Ho, pengawal setianya. Entah kenapa hari ini ia begitu ingin berlama-lama di tempat ini, seakan ada sesuatu yang membuatnya enggan beranjak.


Melihat tuannya masih betah berlama-lama di depan sungai itu, Hongli Ho hanya bisa menunggu tuannya sampai bosan.


Tanpa terasa sudah 3 jam Tong Mu berdiri di tempat itu tanpa bergerak sedikitpun. Hari yang mulai masuk musim gugur membuat udara di sekitar cukup dingin, dan Hongli Ho agak khawatir dengan kesehatan tuannya yang tidak muda lagi. 


Hongli Ho memang pengawal yang sangat cerewet, kadang Tong Mu sangat kesal karena pengawalnya itu selalu banyak bicara dan ikut campur urusan majikan.


"ya...kita pulang" ucap Tong Mu.


Saat Tong Mu hendak berbalik, ia melihat seseorang yang hanyut. Seorang anak perempuan yang berusia 10 tahun.


Tong Mu yang melihat itu langsung berlari ke dalam sungai, beruntung sekarang  kedalaman sungai itu hanya setinggi lutut jadi cukup mudah. Hongli Ho yang melihat itu juga ikutan panik, tapi yang membuatnya tidak mengerti adalah kenapa tuannya yang berhati dingin ingin menyelamatkan gadis yang kemungkinan besar sudah mati.


Tong Mu menegang saat melihat wajah anak perempuan berusia 10 tahun itu, bagaimana tidak, wajah anak perempuan itu sangat mirip dengan putrinya yang meninggal sepuluh tahun yang lalu. 


Mata gadis itu terbuka saat merasakan ada seseorang mengangkat tubuhnya. Saat gadis itu menatap Tong Mu matanya berkaca-kaca dan terlihat kerinduan yang sangat besar dari matan indah nya itu.


"a....yah." ucap gadis itu sebelum ia tidak sadarkan diri. 


Tubuh Tong Mu gemetar, ia merasa sangat senang saat mendengar suara yang sangat mirip dengan mendiang putrinya, apalagi saat dia mengucapkan kata-kata itu. 'AYAH". Sudah berapa lama ia tidak mendengar seseorang memanggilnya 'ayah". Tong Mu menatap wajah gadis yang kini berada dalam pelukannya, rasa rindu yang selama ini menyiksanya terasa telah hilang dan digantikan dengan rasa bahagia yang luar biasa. Jauh di dalam hati kecilnya, ia bertanya-tanya siapa anak perempuan ini, dari mana ia berasal, kenapa anak ini sangat mirip dengan mendiang putrinya, kenapa ia bisa sampai di sungai, dan masih banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. Tapi satu kalimat tiba-tiba muncul dalam pikirannya.


"bukankah kamu merondukan putrimu yang kami ambil, sekarang putrimu kami kembalikan dan jangan mengulangi kesalahan yang sama" 


Seketika Tong Mu menangis, menangis sangat keras sambil memeluk tubuh anak perempuan itu dengan sangat erat. Hongli Ho yang melihat itu menjadi panik dan sangat khawatir dengan kondisi tuanya, ia tidak tahu apa yang terjadi dengan tuannya dan apa yang harus ia lakukan.


Semenjak kejadian itu Tong Mu merawat anak perempuan itu dengan sangat baik. Sudah 1 minggu anak perempuan itu tidak sadarkan diri, padahal Tong Mu sudah memanggil  tabib terbaik di kekaisaran untuk merawatnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain berdoa agar anak perempuan itu segera sadar, bahkan Tong Mo sendiri selalu pergi ke kuil untuk berdoa dan datang ke kamar anak perempuan itu untuk melihat keadaan nya. Dia selalu berharap, saat ia pulang kerumah mendapati anak itu telah sadar dan sehat. Karena rasa khawatirnya yang sangat berlebihan Tong mo bahkan duduk hampir seharian penuh di kamar anak perempuan itu, berharap anak itu bisa bangun.  Rasa khawatir, rasa takut kehilangan dan kasih sayang yang tiba-tiba muncul di hati kecil Tong Mu itu malah berimbas pada kesehatannya, itu terlihat sedikit kurus dan wajahnya tampak pucat, dan tubuhnya terasa lemas.


Saat ini Tong Mu sedang duduk di kursi yang terletak di samping ranjang, ia terus menatap wajah  anak perempuan yang sedang diperiksa tabib. 


"tubuhnya sudah mulai membaik sekarang tuan, dan panasnya sudah mulai turun. Tidak lama lagi anak ini pasti sadar" ucap tabib itu.


Mendengar ucapan tabib itu tidak mampu membuat Tong Mu senang, ia hanya ingin anak itu bangun, sekarang juga. Tapi lagi dan lagi, Tong Mu hanya bisa bersabar. Tiba-tiba Tong Mu mendengar suara rintihan dari anak perempuan itu. 


"hem..." 


Tong Mu dan tabib itu sangat senang saat mendengar hal itu. Tabib itu langsung memeriksa keadaan anak itu dengan menekan nadi di tangannya.


Perlahan anak itu membuka matanya yang indah, ia menatap Tong Mu. Tangan kanan anak itu melayang di udara kearah Tong Mu seakan ingin meraihnya.


"a...yah, Jia Li mau pu..lang" ucap anak perempuan yang tidak lain adalah Jia Li. Setelah mengatakan itu Jia Li kembali  tidak sadaran diri.


Sementara Tong Mu masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"ba...bagaimana namanya bisa sama ?" ucap Tong Mu tidak percaya dengan apa yang dia dengar.