"Jia Li 2"

"Jia Li 2"
38



Jia Li sangat bingung sekarang. Apalagi setiap kali mengingat jika ada 2 pria yang melamarnya. Yang pertama pria yang sedang dekat dengannya, yang kedua pria misterius yang entah siapa dia. Jika disuruh memilih Jia Li lebih memilih menikah dengan Jilli, lagipula Jia Li mulai mencintai pria itu. Meskipun masih hubungan Jia Li dan Jilli masih muda dan usia Jia Li terlalu awal untuk ikatan suci pernikahan, tapi… itu jauh lebih baik daripada menikah dengan pria yang tidak dikenalnya. 


@@@


3 hari berlalu dengan cepat. Jika Jia Li sibuk memikirkan tentang lamaran, lain halnya dengan pangeran ke 4, Zhang Xuemei. Pria  itu sangat marah dan kecewa saat ayah kekaisarannya membatalkan pertunangannya dengan Jia Li. Selama 3 hari ia terus memohon dengan ayahnya agar tidak membatalkan pertunangannya, namun hasilnya pria itu malah dimarahi ayah kekaisarannya karena terlalu manja dan cengeng. Padahal ini adalah hal wajar dimana seorang pria mencoba memperjuangkan cintanya. Zhang Xuemei tentu tidak menyerah semudah itu, ia mencoba menemui Tong Mu, atau Jia Li, namun kediaman Tong Mu dijaga ketat bahkan kalat pun tidak bisa masuk.


Hal hasil pria itu mabuk-mabukan dirumah bunga agar bisa menenangkan kesedihan dan frustasinya. Pangeran keempat kembali terjerumus dengan kebiasaan buruknya akibat terlalu stres dengan  masalah percintaannya. Ia benar-benar telah jatuh cinta dengan Jia Li. Gadis dengan sejuta misteri dan pesona.


Sedangkan Wang Xuemin dan lian telah kembali kekaisarannya. Wang Xuemin yang memiliki niat untuk mempersuntik Jia Li terpaksa mengubur mimpinya dalam-dalam. Jika bersaing dengan pangeran ke4 kekaisaran selatan mungkin ia memiliki peluang untuk memenangkan Jia Li, tapi saingannya sekarang adalah guru surgawi Jilli yang sangat terkenal, di hormati, dan sangat kuat. Ia benar-benar tidak akan bisa menang. Wang Xuemin selalu tau apa yang bisa digapai dan apa yang tidak bisa digapainya. Meskipun hatinya terluka karena harus merelakan Jia Li untuk kedua kalinya, ia harus sabar menerima kenyataan jika mereka tidak akan mungkin bersama, dan belajar mengiklaskannya.


Sementara lian. Pria itu masih tidak mengerti perasaan apa yang dia miliki untuk Jia Li, tapi melihat Jia Li bersama dengan pria lain selama ini tepat di hadapannya, lian tidak bisa berbohong jika hatinya sakit. Mungkin perasaan lian untuk Jia Li itu harus dikubur dalam-dalam karena kebodohannya sendiri. Seandainya ia sedikit berduaan dan sedikit egois, mungkin ada sedikit kesempatan untuk memiliki Jia Li.


*


*


*


Tanpa terasa hari terus berganti, hingga tanpa sadar besok adalah hari yang telah ditentukan. Hari dimana Jia Li akan memutuskan lamaran siapa yang akan diterima. 


Saat ini Jia Li sedang duduk sendirian di pinggir kolam kecil di sekitar taman rumahnya. Ia duduk melamun, memikirkan tentang nasibnya di masa depan. Hanya malam yang gelap tanpa bintang yang menemaninya.


Tiba-tiba seorang pria muncul. Jia Li tentu sudah hapal siapa pria itu, dia adalah Jilli.


"Jilli" ucap Jia Li dengan suara lembut.


"iya Jia Li, ada apa ? Kenapa kamu melamun ?" Jilli berjalan ke arah Jia Li lalu duduk disampingnya.


Jia Li menatap Jilli.


"hm...apa kamu mengatakan akan menikahiku pada ayah ?" tanya Jia Li.


"iya. Aku sudah mengatakan kesungguhan ku pada ayah mu" ucap Jilli dengan serius.


"apa kamu benar-benar menyukaiku ?"


"tidak...." ucapan itu membuat Jia Li sedih. Entah kenapa ia merasa sangat kecewa.


"...." Jia Li menundukan wajahnya. Menyembunyikan wajah nya yang kecewa.


"tapi aku sangat mencintai kamu Jia Li" saat Jia Li mendengar itu ia menatap wajah Jilli. Jianli sangat terkejut dengan ucapan pria itu.


"benarkah ?" tanya Jia Li yang kembali bersemangat.


"apakah pembuktian ku belum cukup ?" tanya Jia Li.


"tidak. Aku ingin lebih dari itu" ucap Jia Li.


Jilli mengelus puncak kepala Jia Li lembut. Jangan ditanya perasaan Jia Li pada Jilli. Gadis itu juga mulai menyukai Jilli.  bagaimana tidak, pria itu tidak cuman sangat tampan, namun juga pintar, baik walaupun kadang menyebalkan, sabar, dan selalu berkata jujur. 


"kenapa kamu baru datang ?" tanya Jia Li dengan suara sedih. Jia Li merapat kerah Jilli lalu memeluk pria itu. 


Jilli yang belum siap dengan pelukan Jia Li hanya bisa mematung. Tubuhnya menegang, jantungnya berdebar lebih cepat, aliran darah seperti melaju lebih cepat, dan udara malam yang tadinya dingin menjadi hangat.


"ak..aku ada urusan" ucap Jilli tergagap-gagap. Pria itu sangat gugup.


"apakah urusan mu jauh lebih penting daripada aku ?" tanya Jia Li.


"tidak, hanya kamu yang paling penting." jawab Jilli cepat.


"benarkah ?" 


"iya Jia Li. Hanya kamu dan selamanya hanya kamu" ucapan Jilli itu benar-benar menyentuh hati Jia Li. Wajah Jia Li memerah karena malu, ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jilli.


Melihat hal itu entah kenapa Jilli ikutan malu.


"Jilli, jika kita menikah suatu saat nanti berjanjilah jangan pernah khianati aku ya" ucap Jia Li dengan suara sendu.


"..." Jilli yang mendengar hal itu tersenyum kecil. Ia merasa ucapan Jia Li terdengar konyol. Yah… bagaimana Jilli menghianatinya sementara ia begitu mencintai Jia Li.


"aku tidak akan bisa menerima penghianatan apapun alasannya" lanjut Jia Li sendu. Jauh didalam lubuk hatinya, ia takut Jilli tidak mau menikahinya hanya karna Jia Li tidak mau di poligami.


"iya...pasti" ucap Jilli serius. Pria itu membalas pelukan Jia Li, dan mengecup keningnya.


Entah kenapa dia takut kehilangan Jia Li. Dan saat ini hatinya gelisah seakan terjadi sesuatu sebentar lagi. Jilli memeluk Jia Li lebih erat, seakan takut kehilangan.


"Jilli, besok datanglah ke istana kekaisaran" ucap Jia Li.


"kenapa ?" Jilli menatap Jia Li bingung..


"datang saja, aku mohon" mohon Jia Li.


"baiklah" 


Jauh didalam lubuk hati Jia Li, dia khawatir jika pihak misterius itu akan melakukan sesuatu yang mungkin membahayakan orang-orang di sekitar. Karena kebanyakan para penguasa sangat benci ditolak. Jika ada yang menolak keinginan mereka, maka hancurlah orang-orang itu ditangan para penguasa.


***


Disebuh aula, Jia Li, Tong Mu dan kaisar sedang menunggu kedatangan para pelamar itu. 


Jilli sendiri tidak tau jika guru surgawi Chunying juga melamar Jia Li. Jia Li hanya memintanya datang tanpa penjelasan banyak. Jilli pun tidak terlalu bertanya banyak, dia akan mengikuti semua ucapan Jia Li.


Jia Li duduk disebuh kursi dengan menundukan wajahnya. Entah kenapa dia agak gelisah. Tiba-tiba sekelompok orang memasuki aula. Dia adalah guru surgawi Chunying, guru surgawi shen dan para muritnya. Melihat kedatangan mereka kaisar, Tong Mu dan Jia Li memberi hormat pada mereka seperti biasanya.