"Jia Li 2"

"Jia Li 2"
30



Jika Jilli sedang berusaha membuat Jia Li mencintainya, di tempat lain, seorang pria berambut putih sedang duduk di bawah pohon besar. Menikmati kesejukan alam dan tenggelam dalam lamunannya. pria itu terlihat sangat kebingungan. Bingung dengan perasaannya sendiri dan ia tidak tahu apa yang harus melakukan. pasalnya... jika ia salah dalam melangkah, maka ia akan kembali menyakiti orang yang dia cintai.


"apa yang harus kulakukan ?"  gumam pria berambut putih itu.


"tujuan ku masuk ke sumur reinkarnasi untuk bertemu dengan istri ku, tapi...kenapa aku malah jatuh cinta lagi dengan gadis lain. Aku...jatuh cinta dengan 2 perempuan. Apa yang harus kulakukan. Mereka berdua sama-sama berarti dalam hidupku, tapi kali ini aku tidak bisa egois. Aku tidak bisa memiliki 2 perempuan dalam hidupku, aku yakin itu akan melukai mereka pada akhirnya" gumam pria lagi.


Pria itu kembali membayangkan, wajah istrinya dari kehidupan sebelumnya dan membandingkannya dengan wajahnya dari kehidupan ini sekarang. Tidak ada perbedaan baik dari kehidupan dahulu maupun sekarang, istrinya tetaplah sangat cantik dan mempesona.


Pria itu tersenyum saat mengingat masa-masa bahagia bersama istrinya. Tapi saat pria itu kembali teringat dengan wajah gadis kecil yang mampu membuatnya jatuh cinta untuk kedua kalinya, hatinya merasa sakit dan senyumnya memudar. Gadis kecil yang mampu membuatnya jatuh cinta untuk kedua kalinya itu  memang tidak memiliki wajah yang cantik, tapi hatinya yang begitu tulus dan bersih tanpa ada rasa iri, dengki, dendam membuat pria itu takut untuk menyakiti perasaannya. Belum lagi saat mengingat pengorbanan yang telah gadis itu lakukan untuk menyelamatkan nyawanya, pria itu semakin merasa bersalah. 


Ya...dia ingin egois. Dia ingin memiliki keduanya. Tapi itu tidak mungkin karena jika itu terjadi maka hanya ada penderitaan untuk mereka berdua. Ia harus memilih salah satu.


"guru surgawi Chunying." panggil seseorang.


Pria berambut putih itu menatap sosok yang memanggilnya. Sosok itu adalah Shen.


"apa yang sedang guru pikirkan jika saya boleh tau" ucap Shen.


Chunying menatap Shen sesaat sebelum mengalihkannya ke arah lain.


"istriku" ucap Chunying lesu.


"dan cinta kedua ku" lanjut Chunying dalam hati.


"hmm...kapan rencananya guru akan membawa pulang nyonya ?" tanya Shen. Ia sudah tau jika gurunya telah bertemu dengan istrinya beberapa waktu yang lalu, namun ia merasa bingung kenapa gurunya belum juga menjemput istrinya 


"aku akan menjemputnya sebentar lagi" ucap pria berambut putih itu lagi. 


"setelah aku mantap dengan hatiku" lanjutnya dalam hati.


Yah… Chunying terjebak dalam hati 2 perempuan, dan ia harus menilih salah satu dari mereka. Memang ada rase ogois dalam dirinya untuk memiliki kedua perempuan itu, namun jika ia lakukan itu… maka yang ada hanya rasa sakit. Lagipula Chunying tak ingin mengulangi kesalahannya dengan memulai hubungan dengan kebohongan dan penghianatan lagi.


*


*


*


Beberapa hari telah berlalu. Jia Li kini sudah kembali sehat. Sementara hubungan Jia Li dan Jilli semakin dekat semenjak pernyataan cintanya. Pria itu semakin menunjukkan keseriusannya pada Jia Li. Bahkan saat ini Jia Li sedang berjalan-jalan di kediaman Jilli. Ya...pria itu tanpa ragu menunjukkan kediamannya pada Jia Li. Tempat yang hanya diketahui Jilli dan beberapa anak buahnya saja.


Ini pertama kalinya Jia Li datang ke-kediaman Jilli. Rumah pria itu begitu besar, megah , luas, dan sangat terpencil. Bagaimana tidak, tempat ini berada di pegunungan dengan salju yang selalu tidak berhenti turun. Di kediaman yang hampir mirip istana ini tidak terlalu banyak pelayan, mungkin sekitar 50 orang. Jujur ini terlalu sedikit. Meskipun begitu, kediaman jili tetap terlihat rapi, bersih, dan sangat indah.


"apakah kamu harus sedekat ini dengan ku ?" tanya Jia Li pada Jilli. Jia Li menatap Jilli dengan wajah cemberut pasalnya dari tadi pria itu berjalan tepat di sampingnya. Dan itu sangat dekat.


"memangnya kenapa ?" Jilli menatap Jia Li bingung.


"masalahnya kamu menggenggam tanganku terus dan kamu berdiri terlalu dekat. Seseorang akan salah padam sikapmu ini leluhur tua" ucap Jia Li kesal sambil menunjukkan tangannya yang digenggam Jilli. 


Wajar jika Jia Li kesal pasalnya sedari tadi semua orang-orang Jilli menatap mereka dengan pandangan terkejut setengah mati. Mereka juga bergosip tentang Jia Li dan Jilli dari tadi. Belum lagi sikap Jilli yang begitu agresif padanya sungguh membuat Jia Li sedikit tidak nyaman.


Beberapa orang yang mendengar ucapan Jia Li terkejut. Mereka mungkin tidak menyangka jika ada orang yang berani berbicara tidak sopan pada Jilli. Tubuh mereka berkeringat, mereka lirik Jia Li mungkin akan dipenggal oleh guru mereka. Tapi saat mendengar Jilli tertawa keras, mereka terkejut bukan main, pasalnya ini pertama kalinya mereka melihat gurunya tertawa keras. Mereka bahkan ragu jika itu bukan lah guru mereka.


"bukannya sudah jelas. coba lihat betapa agresifnya guru pada nona itu. Bukannya itu cukup membuktikan bahwa guru menyukainya"


"ya...lagipula ini pertama kalinya guru membawa gadis ke-kediamannya "


"siapa gadis itu ? Dan kenapa dia menggunakan cadar ?" 


"aku tidak tahu siapa dia. Tapi nampaknya guru sangat mencintainya"


Jia Li dan Jilli sangat sibuk berdebat sampai-sampai mereka tidak sadar jadi bahan gosipan semua murit Jilli. Semakin Jia Li bersebat dengan Jilli, maka semakin kesal Jia Li. Sementara Jilli, pria itu terus tertawa, dia suka membuat Jia Li marah.


Jia Li menatap Jilli yang sedang tertawa. Pria yang selalu saja membuatnya kesal, namun juga menyenangkan. Pria itu juga orang yang sangat tulus. Perasaan Jilli itulah yang membuat hati Jia Li bergetar dan ia juga takut membuat pria itu terluka karena sikapnya.


"apakah sudah saatnya aku membuka hati kembali ?" tanya Jia Li pada dirinya sendiri. 


*


*


*


"kita harus bersiap-siap untuk pergi ke kaisaran selatan putra mahkota, acara tahun baru itu tinggal sebentar lagi" ucap seorang pria.


Pria itu menatap pria berwajah cantik yang sedang menatap ke luar jendela. Pria berwajah cantik itu memakai baju dengan sulaman emas dan nampak megah, itu menunjukan kelas sosialnya sangat tibggi.


"iya. Oh Ya Lian, apakah kau sudah menemukan kabar dari kakak ku ?" tanya pria itu. Dia adalah Wang Xuemin.


" Menurut kabar, tidak ada satupun orang yang selamat dari pertempuran itu" ucap lian sendu.


Setelah kepergian Jia Li. Kakaknya disibukkan dengan pembalasan dendam. Semua rencananya berjalan dengan lancar, ia bahkan mampu menggulingkan selir kekaisaran  mei dan membunuh putra dan semua menantunya. Lalu membuat Wang Xuemin menjadi putra mahkota.Tidak hanya itu, ia juga berhasil menerobos pertahanan kekaisaran timur laut dengan pasukannya sendiri. Namun Wang Xuemin mendengar jika seseorang terjadi pembunuhan besar-besar di negara timur laut tepat saat kakaknya menyerang, dan kakaknya dan pasukannya ikut menjadi korban pembantaian itu. Dan semenjak itu tidak ada kabar lagi mengenai kakaknya maupun tentang kekaisaran timur laut, kekaisaran itu rata dengan tanah beserta semua orang yang ada di sana.


Beberapa kabar yang beredar, orang yang telah membantai habis kekaisaran timur laut adalah guru surgawi yang baru saja bangkit dari kematian. Namun kurangnya bukti membuat kabar itu masih tidak bisa di percaya.


Wang Xuemin mendesah kasar. Ia sangat merindukan kakaknya. Meskipun ia terdengar kabar jika kakaknya telah meninggal, ia tidak mau percaya karena tidak ditemukan jasadnya. Wang Xuemin selalu berharap kakaknya hidup dan suatu hari nanti mereka bisa bertemu walau hanya sebentar. 


Sebenarnya kakaknya selalu bercita-cita menjadi kaisar menggantikan ayahnya. Namun… karena cinta yang terlalu besar pada Jia Li, membuat pria itu melepas mimpinya dan mulai tenggelam dengan rencana pembalasan dendam.


"jenderal Yi, dan Yelu apakah kalian juga ikut ?" tanya Wang Xuemin pada sahabatnya. Ia menatap 2 orang yang duduk di belakangnya.


"saya kemungkinan tidak bisa ikut, saya harus menjaga perbatasan putra mahkota" ucap Yi.


"saya juga tidak bisa ikut yang mulia. Saya akan mengadakan pernikahan sebentar lagi." ucap Yelu.


Mendengar hal itu  Wang Xuemin hanya bisa mengangguk. Ia juga tidak bisa memaksa sahabatnya untuk ikut. 


_____


Terima kasih sudah baca novel ini. Jangan lupa like,   comment (kritik dan saran ya), agar penulisan ku kedepannya bisa lebih bagus lagi dan aku jadi semangat nulis. 😊.