"Jia Li 2"

"Jia Li 2"
49



Hai, maaf ya EP-48nya ku hilangkan karena terlalu… dewasa. Aku udah coba diet, tapi tetap ditolak, jika aku terlalu banyak edit takutnya itu akan mengubah akhir ceritanya, jadi aku memutuskan menghilangkan EP-48. Jika kalian masih penasaran, kalian bisa cari di aplikasi sebelah dengan judul yang sama. 


*


*


*


Akhirnya mata Jia Li terbuka. Jia Li terbangun dari tidurnya pada siang hari, mungkin ini sudah jam 11 siang. Saat Jia Li ingin bergerak, ia merasakan ada seseorang yang memeluknya, ya...siapa lagi jika bukan Wang Chunying. Tapi bukan itu yang membuat Jia Li terkejut, tapi rasa sakit, nyeri, dan pegal yang luar biasa di seluruh tubuhnya itu bahkan membuat Jia Li menangis. Jia Li tidak kuasa menahan tangisnya cukup keras.


Tangis Jia Li membuat Wang Chunying terbangun dari tidurnya. Pria itu langsung panik saat melihat Jia Li menangis, ia mengira Jia Li menyesali perbuatannya tadi malam.


"istriku, maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukan ini padamu" jelas Wang Chunying panik. Ia takut Jia Li membencinya.


Ucapan Wang Chunying Jia Li abaikan. Wanita itu menangis semakin keras karena rasa sakit di tubuhnya, apalagi di bagian intimnya.


Wang Chunying semakin takut. Ia menarik Jia Li ke dalam pelukannya dan ikut menangis sambil terus mengucapkan kata 'maafkan aku". Ia takut Jia Li membencinya lalu meninggalkannya.


"kau ini kenapa, Wang Chunying ? Menangis dan minta maaf tidak jelas ? Sebaiknya kamu jangan sentuh aku dulu, tubuhku sangat sakit. " omel Jia Li. Ia merasa kesal dengan Wang Chunying yang menangis tidak jelas.


"tidak akan… ! Sebelum kamu memaafkan kau, aku tidak akan melepasmu !"ucap Wang Chunying keras kepala. Pria itu semakin memeluk Jia Li semakin erat, hal itu membuat wanita itu merintih kesakitan.


"aaa… memaafkan apa ? Memangnya kamu salah apa Wang Chunying. Jangan bertingkah tidak jelas seperti ini, dan JANGAN SENTUH AKU. INI SAKIT BODOH !!!" Jia Li marah. Dari wajahnya bisa terlihat jelas jika Jia Li menahan rasa sakit.


Perlahan Wang Chunying melepas pelukannya. Saat pelukan telah terlepas, Jia Li sedikit menjauhi Wang Chunying memberi jarak di antara mereka. Lalu jia li menarik selimut agar menutupi tubuh polosnya.


"apa benar kamu tidak marah ?" tanya Wang Chunying lagi.


"tidak…! Tapi jika kamu menyentuh ku lagi aku akan marah" ucap Jia Li serius.


"lalu kenapa kamu menangis ?" tanya Wang Chunying. Pria itu masih khawatir saat melihat wajah Jia Li yang terlihat sangat tersiksa, dan kesal.


"sekujur tubuhku terasa sakit karena pergulatan kita tadi malam. Huh...mungkin ini karena pertama kalinya untukku" ucap Jia Li. Pipi Jia Li memerah ketika mengingat hal memalukan tadi malam.


Kemudian Wang Chunying menatap tubuh Jia Li yang ditutupi selimut. Wang Chunying mengingat dengan jelas bagaimana ia bergulat dengan Jia Li tadi malam. Hmm...itu kasar. Bekas kekasarannya itu bahkan bisa terlihat nyata dari tanda merah di kulit Jia Li yang tidak tertutupi oleh selimut, contohnya di bagian leher dan punggung indah Jia Li yang penuh dengan bekas ciuman berwarna merah tua atau bekas gigitan. Jujur saja hal itu membuat Wang Chunying merasa sedikit iba pada istrinya itu, tapi jauh di dalam hatinya ia senang melihat karya seni yang ia buat di tubuh sang istri. Ini bukan sekedar karya seni bagi Wang Chunying tapi,  tanda kepemilikan. 


" maaf, aku terlalu kasar dengan mu semalam" ucap Wang Chunying sedih.


"tidak apa-apa. Lain kali lakukan dengan lembut" ucap Jia Li.


Jujur saja Jia Li bukan lah perempuan yang begitu lugu soal urusan ranjang. Ia cukup tahu urusan ranjang, entah itu dari novel, video,  film, atau waktu ia pacaran dengan Alber dulu. Ya… dulu Jia Li sering bercumbu dengan Alber, namun sayangnya mereka tidak pernah melakukan hal selain berciuman, pelukan, atau saling meraba-raba. Hal itu karena Alber ingin melakukan pergulatan dengannya setelah mereka menikah nanti. Tapi, jujur saja dulu Jia Li sering sekali menggoda pria itu, atau mengajaknya terang-terangan melakukan hubungan intim namun pria itu menolak. Yaa… menurut Jia Li, hal yang ia dan Alber lakukan masih batas wajar, karena pasangan lain bahkan ada yang sudah memiliki anak tapi belum juga menikah. 


Ucapan Jia Li itu membuat Wang Chunying kaget. Ia tidak menyangka Jia Li mau melakukannya lagi dengannya di masa depan.


"kamu tidak masalah jika kita melakukannya lagi di masa depan ?" tanya Wang Chunying. Pria itu terlihat sangat bahagia.


"ya, aku tidak masalah jika kamu melakukannya dengan lembut. Lagipula kamu suamiku, sudah sewajarnya aku harus melayanimu" ucap Jia Li sekali lagi dengan senyum lembut yang membuat hati  Wang Chunying berbunga-bunga.


*


*


*


Saat ini Wang Chunying sudah terlihat rapi dan bersih. Sementara Jia Li kembali terlelap dalam tidurnya karena masih merasa kelelahan dan sakit disekujur tubuhnya masih belum reda. 


Wang Chunying tersenyum melihat istrinya itu. Wang Chunying berjalan mendekati kasur, lalu mengelus lembut kepala Jia li.


Tanpa sengaja Wang Chunying melihat bercak darah di selimut yang Jia Li kenakan. Ya itu darah perawan yang Wang Chunying keluarkan dengan (...) tumpulnya dari lubang surga milik Jia Li. Entah kenapa Wang Chunying merasa sedikit kasihan pada istrinya itu, Wang Chunying tahu pasti rasanya menyakitkan untuk Jia Li karena ini pertama kalinya untuk Jia Li berhubungan intim. Jadi wajar saja dini hari tadi Jia Li tidak mau disentuh. 


"Lain Kali tidak akan sakit, aku janji" batin Wang Chunying.


"aku pergi sebentar, kamu istirahat lah" ucap Wang Chunying, namun tidak ada jawaban karena Jia Li tertidur.


Setelah mengatakan itu, Wang Chunying pergi dari kamar Jia Li. kediaman Jia Li terlihat sangat sepi, ya..itu karena Jia Li mengusir semua pelayannya tadi malam.


Di luar kediaman Jia Li, Wang Chunying melihat Shen, Liu Bei, pengawal dan pelayan sedang berkumpul.


"kenapa kalian disini ?" tanya Wang Chunying.


Sontak saja suara Wang Chunying Mengagetkan mereka. Mereka tidak sadar jika Wang Chunying sudah ada di hadapan mereka.


" Guru"


"Master"


"tuan…"


Ucap mereka.


"master, bagaimana nyonya ?" tanya Liu Bei yang terlihat khawatir. Shen dan yang lain juga terlihat khawatir.


"dia tidak apa-apa, cuman perlu istirahat " ucap  Wang Chunying dengan senyum kecil. Hal itu membuat siapa saja yang melihatnya terkejut, karena selama ini Wang Chunying hanya tersenyum pada Jia Li. Entah kenapa mereka menjadi takut dengan perubahan mendadak Wang Chunying.


Tapi senyum itu dengan cepat berubah. Wajah Wang Chunying menjadi sangat serius dan diselimuti amarah. Kadang Shen merasa heran dengan gurunya yang memiliki emosi yang dapat berubah dalam hitungan detik.


"Liu Bei, kau cari tau siapa yang meracuni makanan ku sekarang !" ucap Wang Chunying. 


Wang Chunying tidak tau harus berterimakasih atau marah pada orang yang memberikannya obat perangsang itu. Jika tadi malam ia tidak minum obat perangsang itu mungkin pergulatannya dengan Jia Li hanya mimpi, tapi, jika ia tidak bisa mengontrol diri atau salah mengenali istrinya maka pagi ini ia akan terbangun dengan wanita lain. Hal itu mungkin akan baik-baik saja jika Jia Li tidak tahu, namun jika Jia Li sampai tahu maka sudah dipastikan rumah tangga yang baru seumur jagung ini akan hancur dalam semalam. Memikirkan rumah tangganya yang hancur, Wang Chunying menjadi sangat marah. 


Bagi siapa saja yang merencanakan hal licik ini harus merasakan akibatnya. Wang Chunying telah bertekad untuk menghancurkan siapa saja yang berusaha memisahkan ia dan istrinya. 


"baik master" ucap Liu Bei, Shen dan murit lainnya dengan patuh. Setelah itu mereka langsung menghilang.