
Jia Li masih belum beranjak. Ia menatap anak-anak di dalam kereta tahanan itu dengan sedih, ia ingin menolongnya tapi tidak tau caranya.
"aku akan menolong kalian" ucap Jia Li. Ia melihat sekeliling, berusaha menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk membuka kereta itu.
"tidak perlu, sebaiknya kau pergi saja. Jika mereka kembali dan melihatmu, kau akan dalam bahaya" ucap gadis 15 tahun itu. Ia nampak cemas.
"iya, sebaiknya kamu pergi" ucap gadis cantik itu.
"tapi kalian gimana, aku tidak tega melihat kalian disini" ucap Jia Li, matanya mulai berkaca-kaca.
"lupakan tentang kami, pikirkan tentang keselamatanmu sendiri !" ucap gadis 15 tahun itu tegas.
"tapi..." ucapan Jia Li dipotong.
"HAI SIAPA KAU !!" seorang pria gemuk datang. Dia melihat Jia Li dari ujung rambut hingga kaki.
"kelihatannya dia anak bangsawan, kita bisa menculik dan meminta tebusan" ucap pria tua yang berdiri di belakang pria gemuk itu.
Jia Li menatap mereka dengan wajah datar. Dia tidak takut sama sekali. Tapi, Jia Li lupa jika saat ini dia cuman anak yang baru berusia 11 tahun dan tubuh kecilnya tidak akan bisa melawan pria gemuk itu.
"hahahaha....kita akan untung besar" ucap pria gemuk itu.
Pria gemuk itu berjalan mendekati Jia Li.
"apa yang kau lakukan, ayo cepat lari" ucap gadis 15 tahun itu pada Jia Li.
"ah..." Jia Li baru tersadar, ia hendak lari namun tangannya ditahan.
"lepas. Lepaskan aku" teriak Jia Li.
"tenanglah, kami akan melepasmu setelah orang tua mu menebusmu" ucap pria gemuk.
"ayo-ayo, bawa dia ke dalam." ucap pria tua itu.
Jia Li berusahas untuk memberontak. Tapi usahanya sia-sia.
"sebaiknya kamu berdoa agar orang tua mu menebusmu dengan cepat, jika tidak... kau akan bekerja di rumah bunga kami hahahah" ucap pria gemuk itu sambil menyeret Jia Li.
(Rumah bunga adalah tempatnya pelacuran. Tempat dimana banyak bunga cantik bisa di jamah kapan saja asalkan ada uang.)
Tapi... tiba-tiba seseorang muncul dan langsung menebas lengan pria gemuk itu hingga terputus. Tangan pria gemuk itu benar-benar terputus dan terjatuh ke tahan.
Pria gemuk itu berteriak sangat kencang sampai-sampai menarik perhatian orang-orang. Tidak jauh beda, anak-anak di dalam kereta tahanan itu juga menjerit ketakutan. Beberapa orang yang mendengar teriakan itu berlari ke asal suara karena penasaran. Mereka sangat takut.
"singkirkan tangan kotormu dari nona muda ku" ucap pria itu dengan sorot mata tajamnya.
Jia Li jatuh terduduk, tubuhnya gemetar karena ketakutan. Bagaimana tidak, ia melihat dengan jelas bagaimana lengan pria gemuk itu bisa terputus, bahkan darah pria gemuk itu mengenai baju Jia Li. Itu pemandangan yang sangat mengerikan.
"nona " teriak Niu dan Nuan. Mereka langsung mendekati Jia Li dan membantunya berdiri.
"kau, kau berani memotong lengan anakku. Apa kau tidak tau siapa aku ha ! Aku toan So Qibo, pemilik rumah bunga, aku memiliki banyak kenalan bejabat, bahkan kaisar mengenalmu. Aku bisa menuntut keadilan atas putraku pada kaisar !" ucap So Qibo penuh amarah.
"ohya, kalau begitu katakan saja. Aku yakin kaisar yang akan menghukum mati dirimu langsung dan menutup rumah bungamu karena berani berniat buruk pada putri bangsawan Tong Mu !!!" ucap Kun dengan senyum sinis.
"Tu...tuan... To..ng Mu" pria tua itu gemetar ketakutan.
Siapa di kekaisaran selatan yang tidak mengenal Tong Mu. Dia adalah saudagar terkaya di kekaisaran, dia juga masih keturunan bangsawan, ia masih memiliki hubungan darah dengan ibu suri tua, ibu suri Zhu, sahabat baik kaisar, dan dia sangat dihormati di lingkungan bangsawan. Tidak sampai disitu, Tong Mu juga terkenal dengan hati bilisnya, dia tidak segan-segan menghabisi siapapun yang melawannya. Semua orang tau Tong Mu, hanya orang bodoh yang tidak mengenalnya.
"kun, sebaiknya kita pergi, nampaknya nona ketakutan disini" ucap Niu sambil menatap Jia Li iba.
Tubuh Jia Li masih gemetar ketakutan. Dia masih terkejut dengan apa yang baru saja dia lihat.
Kun menatap Jia Li, nona mudanya selalu ceria dan terlihat sangat manis. Namun kali ini, nona mudanya terlihat sangat menyedihkan, Kun merasa marah dan merutuki kelalaiannya dalam menjaga nona mudanya.
"iya" ucap Kun singkat.
Niu dan Naun membantu Jia Li berjalan menuju kereta mereka. Saat Jia Li berjalan melewati kereta yang mirip kereta tahanan itu. Ia menatap anak perempuan cantik itu lagi. Lalu Jia Li berjalan di pinggir kereta, lalu menyelipkan jepit rambut yang baru saja ia beli di kantong rok anak perempuan cantik itu. Jia Li harap suatu hari nanti bisa bertemu dengannya. Anak perempuan cantik itu melihat apa yang Jia Li selipkan di kontong roknya. Itu sebuah jepitrambuh dengan hiasan bunga mawar putih yang indah. Jepit rambut yang terlihat sangat indah dan mahal.
"sampai jumpa" ucap Jia Li pelan dan yang bisa mendengar ucapannya hanya anak perempuan cantik itu.
Setelah mengatakan itu, Jia Li, Kun Niu dan Naun pergi dari tempat itu.
Anak perempuan cantik itu kemudian menyimpan hiasan rambut itu, dalam hati kecilnya ' ia bertekad untuk bertemu Jia Li di masa depan" .
----
Setelah sampai di keretanya, langkah Jia Li terhenti, ia menatap Kun, Niu dan Naun.
"setelah sampai di rumah, sebaiknya kita menjelaskan apa yang terjadi hari ini. Kalau ayah tau dari orang lain, dia pasti sangat marah dan kalian pasti dalam bahaya" ucap Jia Li khawatir. Mendengar ucapan Jia Li Naun dan Nui saling memandang lalu menelan ludah mereka susah payah. Mereka takut. Sementara Kun. Dia memang takut, namun tetap terlihat tenang.
Jia Li sudah tahu betul sifat ayahnya jika marah. Ayahnya tidak akan marah padanya, tapi akan marah pada anak buahnya yang lalai melaksanakan tugas, kadang… orang-orang yang tidak bersalah ikut terkena imbasnya jika ia sangat marah.
Setelah sampai dirumah, Jia Li menceritakan apa yang terjadi hari ini pada Tong Mu. Dan benar saja, Tong Mu sangat marah mendengar hal itu, dia bahkan hampir membunuh Kun, Niu, dan Naun jika saja Jia Li tidak memohon untuk mereka.
"ayah, aku mohon jangan marah lagi. Ini bukan kesalahan mereka, ini salahku yang pergi tanpa pamit" ucap Jia Li sambil memegang tangan kekar Tong Mu. Air mata Jia Li sudah membasahi wajahnya dari tadi.
Tong Mu merasa kasihan mendengar suara permohonan putrinya itu, putrinya itu bahkan sambil menangis hanya untuk menyelamatkan pembantu yang tidak berguna. Tapi saat ini... ia harus kuat, dia harus menghukum dengan berat siapa saja yang lalai menjaga putrinya, ia tidak mau kehilangan putrinya untuk yang kedua kalinya.
Tong Mu menatap Kun, Niu, dan Naun dengan mata tajamnya. Mereka bertiga hanya bisa menunduk takut, Niu dan Naun bahkan menangis sambil terus memohon ampun. Sementara pelayan hanya bisa mengintip dari jauh, mereka menatap kasihan pada Kun, Niu dan Naun. Para pelayan itu ingin menolong, namun tidak berani.
Hongli Ho sendiri tidak bisa berkata-kata, dia hanya bisa menatap pria yang telah ia anggap sebagai adiknya dengan sedih. Menurutnya, Kelalaian Kun dan kedua pelayan itu memang hampir mengancam nyawa nona mudanya, dan... mereka layak dihukum.
"ayah, maafkan mereka, disini Jia Li yang salah ayah. Jia Li mengikuti mereka hanya merasa penasaran dan sedih saat melihat anak-anak perempuan itu diperlakukan sangat buruk ayah. Jika...jika Jia Li ada di posisi mereka...." ucapan Jia Li terhenti.
Tong Mu menatap anaknya marah. Ia tidak suka mendengar ucapan putrinya.
"ayah tidak akan membiarkanmu berada pada posisi mereka, jadi berhentilah berkhayal." ucap Tong Mu sambil menatap Jia Li tajam. Karena nada suara Tong Mu agak sedikit keras, itu seperti bentakan di telinga Jia Li. Jia Li menjadi agak sedikit takut,.
Mata anak perempuan itu semakin deras, dan terlihat sedikit ketakutan dari mata indahnya itu. Hal itu membuat Tong Mu sadar jika perbuatannya itu salah.
"maafkan ayah, ayah salah karna membentakmu tadi." tangan Tong Mu mengelus lembut puncak kepala Jia Li.
"jangan menangis sayang" ucap Tong Mu mencoba menenangkan Jia Li. Pria itu lalu memeluk Jia Li dengan sangat erat.
"ayah akan mengampuni mereka kan… demi aku ? Aku mohin" mendengar ucapan itu, Tong Mu mendesah kasar.
"ya, baiklah. Ayah akan mengampuni mereka, tapi jika hal ini terulang lagi, ayah akan membunuh mereka !!" setelah mengatakan itu Tong Mu pergi.
"terimakasih ayah, aku sayang kamu" teriak Jia Li.
Tong Mu yang mendengar itu tersenyum kecil. Tong Mu memang memaafkan Kun, Niu, dan Nuan, tapi tidak untuk So Qibo. Besok pagi tidak akan ada lagi yang namanya So Qibo. Ya...begitulah Tong Mu, dia harus membunuh semua orang yang membahayakan keluarganya.