"Jia Li 2"

"Jia Li 2"
40



Sedangkan kaisar. Pria itu hanya diam mematung. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Melihat keponakannya tidak sadarkan diri  di dalam gendongan guru surgawi Chunying yang semakin menjauh, yang hanya bisa ia lakukan adalah terdiam.


@@@


Satu minggu kemudian.


Di Sebuah ruangan yang sangat indah dan megah, Jia Li duduk seorang diri. Wajah Jia Li yang biasanya terlihat sangat cantik dan bersih kini terlihat sangat jelek. Bagaimana tidak, selama di sekap di tempat itu Jia Li sering menangis, nafsu makannya berkurang, dan kurang merawat tubuh. Dia tidak peduli dengan dirinya sendiri, dia sangat khawatir dengan keadaan Tong Mu. Ia merindukan ayahnya.


Tiba-tiba seseorang datang mendekatinya.


"nyonya" panggil seorang pelayan perempuan dengan sopan. Pelayan yang memanggil Jia Li itu bernama Xia.


Jia Li hanya diam. Mengabaikan Xia itu.


Xia yang diabaikan menatap pelayan lain yang berdiri di sampingnya.


"Wei, bagaimana ini ?" tanya Xia.


Wei hanya menggelengkan kepalanya. Dia juga bingung harus bagaimana membujuk nona muda itu supaya mau makan. Sudah satu minggu mereka ditugaskan oleh guru besar melayani nona Jia Li. Mereka harus mengurusnya dengan baik, jika terjadi kesalahan guru surgawi Chunying akan menghukum mereka dengan sangat berat. Contoh  4 hari yang lalu, saat Jia Li memberontak dan berusaha kabar dan itu malah berakibat semua pelayan di hukum karena tidak becus menjaganya. 


Selain itu, sikap Jia Li terhadap guru surgawi Chunying juga tidak kalah mengejutkan mengejutkan siapa saja yang melihatnya. Jia Li selalu memperlakukan guru surgawi Chunying kasar, memakinya dan menghinanya. Bahkan Jia Li pernah menumbuhkan mangkuk bubur dikepala guru surgawi Chunying tapi pria itu tidak marah sama sekali, dia malah tersenyum lembut pada Jia Li. Ya...guru surgawi Chunying selalu bersikap lemah lembut dan sangat sabar menghadapi Jia Li.  Pria itu tidak pernah marah apapun kesalahan yang Jia Li lakukan padanya. Padahal jika orang lain yang membuat kesalahan sedikit saja, guru surgawi Chunying tidak segan-segan menghukumnya dengan berat, mungkin ini lah yang dinamakan cinta ? Lalu sebesar apa cinta pria itu hingga mau harga dirinya diinjak-injak ?


"nona Jia Li, anda harus pakan" ucap Wei.


"aku tidak lamar, kalian bisa pergi" ucap Jia Li dingin.


"tapi nona, guru besar akan..." ucapan Xia terhenti.


"aku tidak mau makan !" Jia Li menyenggol nampan yang berada di tangan xie hingga jatuh ke lantai. Bahkan makanan panas dan pecahan mangkuk itu mengenai kakinya hingga xie menjerit kesakitan.


Setelah melakukan aksinya Jia Li kembali duduk seolah tidak terjadi apa-apa. 


"kau...kau keterlaluan" geram wei. Ia ingin menjambak rambut Jia Li, namun aksinya di hentikan oleh xei.


"jangan, kau akan membuat guru surgawi Chunying marah " bisik xie ditelinga wei. Ia mencoba memperingatkan sahabatnya itu agar tidak membuat masalah.


"ada apa ini !?" suara itu sontak mengagetkan kedua pelayan itu. 


"gu...guru surgawi Chunying" ucap wie dengan suara gemetar, dia takut jika pria itu marah karena perilakunya yang kasar pada Jia Li.


Kedua pelayan itu langsung membungkuk memberi hormat. Mereka ingin cepat-cepat kabur dari tempat itu karena mereka tahu jika akan ada perang sebentar lagi 


Guru surgawi Chunying melihat kekacauan yang baru saja dibuat Jia Li. Pria itu mendesah pelan.


"kalian bisa pergi " ucap guru surgawi Chunying. 


Setelah kedua pelayan itu pergi, guru surgawi Chunying berjalan mendekati Jia Li.


"Jia Li, kenapa kamu jadi seperti ini ?" suara pria itu terdengar sangat lembut. Ia menatap Jia Li dengan sedih.


Seingat guru surgawi Chunying, gadis itu dulunya begitu lembut, penuh semangat, tidak suka menyakiti orang, dan selalu sabar. Tapi gadis dihadapannya ini selalu marah, punya lidah yang tajam dan sangat kasar. Hal itu jelas melukai hati guru surgawi Chunying.


"kamu tanya kenapa ? Biar aku beritahu. Ini semua karna kamu ! Kamu memaksa bertunangan dengan ku ! Kamu melukai jilli ! Kamu kamu bersikap tidak sopan dan melukai ayah ku !" bentuk Jia Li marah. 


Ia menatap guru surgawi Chunying dengan tajam dan penuh kebencian. Ia benci pada pria yang berani melukai orang-orang yang dia sayang.


"Jia Li, mengertilah. Aku melakukan ini karna aku mencintaimu ?" guru surgawi Chunying menatap Jia Li dengan penuh kasih sayang. Kalau boleh jujur, hanya terasa sakit saat Jia Li begitu peduli dengan jilli, tapi sebisa mungkin ia bersabar.


"cinta ? Apa ini yang kamu bilang cinta ? Dengan cara mengurung ku dan menyakiti orang-orang yang kusayang ?" ucap Jia Li.


"itu namanya egois Chunying. Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri dan melupakan kebahagiaan orang lain " ucap Jia Li lemah. Ia menatap pria itu dengan wajah sedihnya.


Kemudian Jia Li berjalan kearah yang ini menjadi kamarnya lalu menutup pintunya. Meninggalkan guru surgawi Chunying seorang diri.


Di Sisi lain, pria itu terdiam cukup lama. Ya ....dari dulu hingga sekarang dia memang terlalu egois. Bahkan karena keegoisannya wanita yang paling dia cintai harus meninggal dengan cara yang sangat menyedihkan. Tapi kali ini guru surgawi berharap bisa memperbaiki semua kesalahannya. Dia ingin hidup kembali dengan wanita itu dan menebus semua dosanya. Tapi cara yang digunakan memang lah salah.


Tanpa terasa sudah beberapa bulan berlalu. Kini Jia Li sudah terlihat lebih tenang dan kondisi tubuhnya mulai membaik, meskipun ia masih saja tidak mau berhubungan dengan guru surgawi Chunying apapun alasannya. Setiap kali guru surgawi Chunying ingin menemuinya, gadis itu selalu saja menghindarinya dengan banyak alasan dan ribuan cara. 


Saat ini Jia Li sedang duduk malas di kediamannya. Ya tidak ada hal yang bisa Jia Li lakukan kecuali makan dan tidur. Lebih tepatnya semenjak Jia Li mencoba melarikan diri waktu itu jadi guru surgawi melarangnya meninggalkan kediamannya, jika ketahuan semua pelayan dan penjaga akan dihukum. Jadi para pelayan dan penjaga menjadi sangat ketat menjaganya. Kalau boleh jujur, jian li sudah sangat bosan disini, bagaimana tidak dia dulunya sangat sering keluar rumah untuk melakukan bisnis, namun sekarang harus berdiam diri dirumah, tentu itu sangat membosankan.


Jia Li selalu berpikir, mau sampai kapan ia di tempat ini. Jujur saja ia sangat merindukan rumah tong mu yang sangat nyaman baginya. Bagi Jia Li itu adalah tempat untuk pulang.


"nona. Saya shen, apa saya boleh masuk ?" kata shen. Ucap shen di luar pintu. 


Mendengar hal itu Jia Li menyurih xia membukakan pintu untuk shen. Setelah pintu dibuka shen langsung masuk dan memberi hormat pada Jia Li. Ya...pria itu memang memberi hormat pada Jia Li seperti yang dia lakukan pada guru surgawi Chunying.


Jia Li melihat pria itu. Dia adalah guru surgawi shen sekaligus murid kesayangan guru surgawi Chunying.


"mau apa kamu kesini " tanya Jia Li sinis.


"saya hanya ingin bicara berdua dengan nona" ucap shen dengan serius.


Jia Li terdiam sesaat. Ia berpikir hal apa yang membuat shen datang tempatnya, apalagi wajah pria itu sangat serius.


"pergilah kalian" perintah Jia Li pada xia dan wei. Xie dan Wei yang berdiri di belakang Jia Li langsung pergi meninggalkan Jia Li dan Shen berdua.


"katakan lah apa yang ingin kamu katakan padaku " ucap Jia Li.


"nona seharusnya tidak bersikap seperti itu pada guru surgawi Chunying. Apakah nona tidak mengingat kebersamaan nona selama ini dengannya ?" tanya shen dengan wajah sedih. Ia merasa sedih melihat gurunya barusan.


Jia Li menatap shen aneh. Menurut Jia Li mereka baru beberapa bulan bertemu, dan setiap kali bersama itu akan berakhir buruk. Lalu kebersamaan yang bagaimana shen bicarakan.


"kebersamaan ? Aku saja baru bertemu dengannya baru beberapa bulan, dan setiap kali kami bersama itu hanya berakhir buruk" ucap Jia Li.


"apakah nona benar-benar lupa, jika guru surgawi Chunying dulunya suami nona di kehidupan yang dulu. Apakah tidak ada perasan yang tersisa walau sedikit untuk guru surgawi Chunying ?" tanya shen.  pria itu menatap Jia Li dengan wajah berharap, ia berharap Jia Li mengingat masalalunya meskipun itu hanya sedikit.


Saat mendengar kata 'kehidupan yang lalu" Jia Li menegang. Ia menjadi ingat beberapa tahun yang lalu saat reinkarnasi ke tubuh nya sekarang. Jia Li ingat dengan kelas kehidupannya yang dulu di zaman serba modern, tapi di kehidupannya dengan guru surgawi Chunying ia tidak ingat. 


"Apakah benar aku pernah menikah dengan guru surgawi Chunying di kehidupan sebelumnya" batin Jia Li.


Jia Li terdiam cukup lama. Ia memikirkan ucapan Shen dan mencoba mengingat Chunying. Tapi Jia Li tidak menemukan apapun, kepalanya malah menjadi pusing dansakit karena memaksa kan diri.


"aku tidak ingat apapun mengenai dia. Dan aku juga tidak mencintai pria itu" ucap Jia Li dengan suara kecil.


"oh...begitu"Shen menundukan kepalanya. Ia merasa sangat sedih karena gurunya dilupakan oleh istri tercintanya.


"kalau begitu saya permisi dulu nona" ucap shen. Melihat wajah shen yang menyedihkan entah kenapa itu sedikit membuat Jia Li merasa kasihan pada pria itu. Shen begitu menyayangi guru surgawi Chunying dan itu terlihat dengan jelas dari wajahnya dan tindakannya.


Tiba-tiba Jia Li memikirkan sesuatu.


"mungkin ada cada agar aku bisa mengingat pria itu " batin Jia Li. Yah... Dia juga lelah dengan semua ini, jika mengingat pria aneh itu adalah satu-satunya cara memperbaiki keadaan, kenapa tidak. Hal itu karena Jia Li lelah hidup seperti burung dalam sangkar. Ia bukan perempuan seperti itu.


"bagaimana caranya agar aku mengingatnya ?" ucapan Jia Li itu menghentikan langkah shen yang hendak pergi meninggalkannya.


"apah kata nona barusan ?" tanya shen. memastikan apa yang dia dengar.


"bagaimana caranya agar aku mengingatnya ? Atau setidaknya ceritakan tentang aku dan dia di kehidupan yang lalu." ucap Jia Li lagi. Ucapan itu membuat shen tersenyum lembar. Dia menjadi sangat bahagia karena Jia Li memberi kesempatan pada gurunya untuk kembali masuk ke dalam hatinya lagi.