
Jia Li menatap wajahnya di cermin. Wajahnya kini telah banyak berubah karena perawatan setiap hari yang dilakukannya denganbahan-bahan yang ia buat sendiri. Kulit yang kusam menjadi seputih susu, terasa lembut dan kenyal. Rambutnya semakin indah, lebat dan hitam. Bibir kecil berwarna pink kemerahan, mata hitam yang indah, tubuhnya juga ideal. Tapi memiliki paras yang cantik di zaman ini sangatlah berbahaya, contohnya mendapat cinta palsu dari pria, apalagi sekarang ia akan pergi ke ibu kota kekaisaran untuk menemui calon tunangannya. Jia Li takut jika calon tunangannya hanya suka dengannya karena kecantikan semata. Mencintai seseorang karena parasnya yang indah sih tidak masalah tap,i yang jadi masalah adalah paras yang indah itu tidak akan bertahan lama dan...cinta itu pasti akan memudar seiring memudarnya kecantikannya. Untuk itu... Jia Li memutuskan untuk menutup wajahnya mulai sekarang.
Setelah selesai bersiap-siap, Jia Li pergi menemui ayahnya yang sudah menunggunya di pintu gerbang beserta para pelayan dan pengawal mereka.
"kenapa kamu menutupi wajahmu dengan cadar ?" tanya Tong Mu saat melihat putrinya.
"tidak apa-apa ayah. Apa ayah tidak suka ?" Jia Li menatap ayahnya hati-hati. Ia takut pria itu tidak suka.
"hmmm... Ayah tidak masalah, lakukan apapun yang kau mau selagi itu baik ayah akan mendukung" ucapan itu membuat Jia Li bahagia. Ayahnya tidak pernah berubah, baik kehidupannya yang dulu maupun sekarang pria itu akan selalu mendukung segala keputusannya selagi itu baik untuknya.
"ayo naik ke kereta. Kita harus memulai perjalanan" ucap Tong Mu, Jia Li kemudian masuk ke dalam kereta dengan diikuti Tong Mu.
Mereka pun memulai perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan itu. Selama di perjalanan Jia Li menghabiskan waktunya menulis buku mengenai obat-obatan. Ya...semenjak Jia Li tinggal dengan Tong Mu, ia selalu menulis mengenai buku obat-obatan. Tong Mu sendiri awalnya tidak begitu peduli dengan hal itu, ia kira putrinya hanya melakukan hal yang tidak penting, namun saat tabib keluarga mereka melihat hal itu dia terkesan dan membanggakan kemampuan putrinya. Tabib itu memuji kemampuan pengobatan Jia Li, bahkan mengatakan Jia Li 'Dewi Dokter", hal yang paling mengagumkan adalah Jia Li pernah menyembuhkan beberapa warga yang tinggal di sekitar rumahnya dan semenjak itu orang-orang sering meminta pengobatan dengan Jia Li. Tong Yu sendiri merasa sangat bangga karena memiliki putri yang sangat pintar, namun ia sedikit takut jika putrinya tertular penyakit karena menolong mereka, tidak jarang Tong Mu bahkan terang-terangan melarang Jia Li menolong orang-orang itu.
"sayang, apa kamu mau bertemu dengan guru surgawi Jilli dan menjadi muridnya ?" tanya Tong Mu.
Jia Li kemudian menatap Tong Mu, lalu berpikir.
"Guru surgawi Jilli ?, siapa dia ayah ?" tanya Jia Li.
"dia adalah orang yang sangat dihormati dan diagungkan. Dia paling tau soal pengobatan Jia Li" jelas Tong Mu.
"hmmmm.... Ya tampaknya menarik. Aku akan memikirkannya" setelah mengatakan itu Jia Li kembali fokus dengan bukunya.
****
Setelah melakukan perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya Jia Li dan rombongan sampai di ibu kota. Saat melewati gerbang besar ibu kota, Jia Li tidak pernah berhenti menatap keluar jendela, melihat kemegahan kota. Ibu kota sangat penuh sesak dengan bangunan pertokoan yang terlihat sangat menarik untuk dikunjungi, dipenuhi orang yang terlihat begitu sibuk, dan dihiasi dengan lampu-lampu yang menerangi setiap jalan di ibu kota. Ya... Ibu kota memang tempat yang luar biasa, hampir sama seperti ibu kota kekaisaran matahari.
"ayah, apa aku boleh berkeliling ibu kota ?" tanya Jia Li penuh dengan harapan.
"baiklah, kau boleh berkeliling besok dengan Kun" ucap Tong Mu.
"HORE....." teriak Jia Li. Ia terlihat sangat senang.
Tong Mu yang melihat hal itu tersenyum kecil. Melihat putrinya bahagia, itu sangat menyenangkan hatinya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam. Jia Li dan rombongan pun tiba di kediaman Tong Mu. Rumah milik Tong Mu sangatlah megah, luas, dan nampak indah. Rumah bergaya tradisional Cina itu bahkan tidak kalah megah dengan istana kekaisaran.
"ayah, apa ini rumah ayah ?" tanya Jia Li.
"tidak sayang. Ini rumah kita" jawab Tong Mu.
"wah....Indah sekali" Jia Li tersenyum.
Saat Jia Li dan Tong Mu memasuki halaman rumah mewah itu, banyak pelayan yang langsung datang menyambut mereka. Jia Li bisa memperkirakan jika pelayan yang bekerja di rumah Tong Mu sekitar 20 orang, dan pengawal sekitar 50 orang.
"selamat datang tuan besar Tong Mu" ucap para pelayan dan pengawal.
"ya. Oh Ya aku ingin memperkenalkan seseorang apa kalian" Tong Mu menatap Jia Li.
"anak perempuan ini adalah anakku. Mulai sekarang kalian harus menjaga dan melayaninya dengan baik, jika aku mendengar ada masalah, kalian akan tau akibatnya !" ucap Tong Mu dengan wajah datar. Ia terlihat sangat serius dan kalimatnya penuh dengan ancaman.
"baik taun" jawab para pelayan dan pengawal.
"halo, namaku Jia Li, salam kenal" ucap Jia Li dengan ceria.
Saat mendengar nama itu, para pelayan dan pengawal saling bertukar pandang. Sebagian dari mereka jelas tau siapa pemilik nama itu, dia adalah anak perempuan Tong Mu yang meninggal 10 tahun yang lalu. Jia Li langsung bersembunyi di belakang Tong Mu saat melihat tatapan aneh dari para pelayan dan pengawal. Melihat hal itu Tong Mu mengendong Jia Li, lalu menatap tajam para pelayan dan pengawal itu, seakan ingin membunuh mereka.
"anjing tidak boleh mencampuri urusan tuannya, jika aku sampai mendapati hal itu, maka anjing itu harus mati" ucap Tong Mu.
"satu hal lagi, jika ada orang yang berbicara sembarangan di luar tentang putriku, maka aku akan merobek mulut mereka dan memotong lidahnya" tambah Tong Mu. Setelah mengatakan itu Tong Mu pergi menuju kamar yang akan ditempati putrinya.
Kata-kata Tong Mu membuat para pelayan dan pengawal merinding. Mereka tau jelas seperti apa Tong Mu itu, pria itu selalu menepati kata-katanya dan memang terkenal berhati iblis.
"sebaiknya kalian patuhi ucapan tuan Tong Mu. Jika tidak, aku yakin kematian kalian tidak mudah, benarkan Kun ?" ucap seorang pria yang baru saja memasuki halaman rumah.
"benar kak Hongli Ho" ucap Kun sambil menatap pria bernama Hongli Ho.
Baik para pelayan maupaun para pengawal, mereka menatap Hongli Ho takut. Pria itu adalah orang kepercayaan Tong Mu sekaligus mata-mata yang selalu mengawasi kerja para pelayan dan pengawal. Karena mendapat kepercayaan besar dari Tong Mu, iya tidak akan segan-segan membunuh siapapun yang membuat kesalahan tanpa perlu melapor terlebih dahulu ke Tuan Mu. Dia adalah pria berhati iblis no 2.
Sementara di sisi lain Jia Li menatap kagum kamar yang akan ia tempati. Kamar itu sangat luas dan rapi, perabotannya sangat bagus dengan banyak ukiran bunga, tempat tidur yang luas dan memiliki tirai penutup tergantung di 4 tiang yang membuatnya nampak sangat indah.
"ayah, apa ini kamar ku ?"tanya Jia Li.
"iya nak, apa kau suka ?" tanya Tong Mu.
"aku sangat suka ayah" Jia Li tersenyum lebar.
***
Pagi hari tiba.
Saat Jia Li terbangun, 2 orang pelayan perempuan sudah berdiri di hadapannya, membuat Jia Li kaget.
"siapa kalian ?" tanya Jia Li. Ia tidak suka jika ada yang masuk ke kamarnya tanpa izin.
"ka...kami pelayan yang ditugaskan untuk melayani nona muda Jia" ucap salah satu pelayan itu.
"oh, lain kali jangan masuk ke kamarku tanpa izinku." ucap Jia Li dengan tersenyum kecil saat melihat kehawatiran yang sangat jelas dari wajah kedua gadis pelayan itu.
"iya nona" ucap kedua pelayan itu.
"hem...siapa nama kalian ?" tanya Jia Li penasaran.
"saya Niu, dan dia nuan" ucap Niu.
Jia Li menatap kedua gadis pelayan itu dari balik tirai kasurnya. Mereka berusia sekitar 14 tahun, dan memiliki wajah yang cukup cantik. Jia Li membuka tirai itu agar bisa menatap kedua pelayannya dengan jelas. Saat kedua pelayan itu menatap wajah nona muda mereka, mereka tertegun pasalnya wajah nona muda mereka sangatlah cantik. Nona muda adalah salah satu kecantikan di ibu kota.
"kenapa kalian menatapku begitu, apa aku sangat jelek ?" tanya Jia Li. Ucapan Jia Li menyadarkan kedua gadis pelayan itu.
"ti...tidak, tidak nona. Anda, anda adalah kecantikan sesungguhnya" ucap kedua pelayan itu cepat.
"ya...aku kan perempuan, wajar cantik. Kalau laki-laki baru tampan" ucap Jia Li.
"tidak nona, maksud..." Niu mencoba menjelaskan namun ucapannya dipotong.
"sudah jangan dibahas lagi. Ayo bantu aku bersiap, aku ingin menemui ayah dan langsing pergi berkeliling kota" ucap Jia Li dengan senyum kecil, senyum yang mampu menenangkan hati siapa saja yang melihatnya.
"bak nona" jawab kedua pelayan itu. Mereka tersenyum lebar karena bahagia memiliki tuan yang baik seperti Jia Li.
Tapi mereka agak sedikit bingung saat Jia Li menggunakan cadar. Mereka sangat ingin tau alasannya kenapa, namun mereka takut bertanya.
Setelah bersiap-siap Jia Li langsung menemui Tong Mu di ruang makan. Setelah sarapan dan meminta izin, Jia Li akhirnya pergi berkeliling kota bersama Kun dan dua pelayan barunya. Mereka pergi menggunakan kereta. Selama perjalanan Jia Li melihat pemandangan ibu kota dari jendelanya, saat menemukan toko perhiasan Jia Li meminta turun.
"tolong berhenti. Aku mau melihat perhiasan" perintah Jia Li.
Setelah kereta berhenti, Jia Li turun dari kereta kuda lalu berjalan menuju toko yang menjual perhiasan diikuti Kun dan 2 pelayannya. Setelah sampai di dalam toko, Jia Li disambut sangat baik oleh penjaga toki, ya pemilik toko bisa melihat Jia Li anak orang kaya.
"silahkan masuk nona muda, pilihlah perhiasan yang kamu suka" ucap pelayan toko itu dengan sangat ramah.
"iya" jawab Jia Li singkat.
Jia Li melihat-lihat banyak perhiasan, namun tidak tidak ada yang sesuai seleranya. Namun langkah Jia Li terhenti saat ia melihat sebuah jepit rambut yang memiliki hiasan bunga mawar putih yang sangat indah.
"berapa ini ?" tanya Jia Li sambil menunjuk jepit rambut itu.
"itu 5 koin emas nona" ucap penjaga toko itu.
Beruntungnya Jia Li membawa uang. Setelah bertemu Tong Mu dan dianggap anak olehnya, Jia Li selalu mendapat uang jajan 50 tael emas setiap minggunya, itu adalah jumlah yang sangat besar untuk seorang anak. Jia Li juga diberi imbalan uang dari orang-orang yang pernah ia sembuhkan dulu. Dan semua uang itu masih utuh, tidak berkurang sedikitpun, malah bertambah setiap minggunya. Itu disebabkan Tong Mu selalu memenuhi kebutuhan dan keinginannya, sehingga Jia Li tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun.
Jia Li mencari dompetnya lalu langsung membayar barang belanjaannya.
"Niu, Nuan, dan Kun. Pilihlah sesuatu dari toko ini untuk kalian, tapi tidak lebih dari 3 koin emas ya" ucap Jia Li santai. Meskipun ia menggunakan cadar, namun orang-orang masih bisa melihatnya tersenyum dengan samar.
Sontak Niu, Nuan, dan Kun terkejut bukan main. 3 koin emas bukanlah uang yang sedikit, gaji mereka perbulan saja cuman 25 koin perak, (satu koin emas sama dengan 50 koin perak) tapi Jia Li mau memberikan mereka secara cuma-cuma.
"ti....tidak usah nona" tolak Niu dan Nuan serempak.
"kamu Kun. Apa kamu tidak mau belikan untuk kekasihmu ?" tanya Jia Li sambil menatap pria buda itu.
"tidak usah nona, terima kasih atas kebaikan nona" tolak Kun.
"yasudah kalau tidak mau" Jia Li berjalan menuju keluar toko.
"ayo kita beli kue beras" ucap Jia Li saat melihat kedai yang menjual kue.
Jia Li beserta para pelayannya dan pengawalnya pun mengantri agar bisa membeli kue beras yang kebetulan sedang ramai. Tiba-tiba dari kejauhan Jia Li melihat sebuah kereta kuda yang mirip seperti kereta yang membawa tahanan. Tapi yang menarik perhatian Jia Li adalah orang-orang yang ada di dalamnya ternyata adalah anak perempuan yang kemungkinan umurnya tidak jauh dari umur Jia Li. Karena terlalu penasaran Jia Li berlari mengikuti kereta itu. Sementara itu Niu, Nuan dan Kun tidak menyadari kepergian Jia Li.
Jia Li terus mengejar kereta itu. Saat kereta itu memasuki lorong sempit, kotor dan sangat sepi, jujur saja Jia Li merasa jijik dengan tempat ini namun ia tetap memaksakan diri untuk masuk ke lorong itu. Saat Jia Li semakin dekat, ia baru menyadari jika kereta telah berhenti di ujung lorong.
Jia Li berjalan mendekati kereta yang mirip dengan kereta khusus untuk tahanan itu. Saat Jia Li menatap salah satu anak perempuan yang berada di dalam penjara itu dengan lekat. Wajah anak itu sangatlah cantik, meskipun dia nampak sangat kotor. Meskipun tubuhnya terlihat sangat kurus, tapi kulitnya yang sangat putih, rambut hitam yang panjang, dan mata yang indah membuatnya terlihat tetap cantik.
Beberapa anak perempuan yang melihat Jia Li, terkejut. Bagaimana tidak, Jia Li terlibat seperti anak bangsawan yang sangat disayang dan di rawat, tapi bagaimana anak bangsawan itu berada di tempat yang sangat menjijikan ini.
"tutupi wajahmu dengan tanah, jangan biarkan mereka melihat wajah aslimu. Terkadang memiliki wajah cantik adalah kutukan" ucap Jia Li panik. Entah kenapa ia merasakan ada hal buruk yang akan menimpa anak perempuan itu.
"apa...apa maksudmu ?" tanya anak perempuan. Jia Li menebak usia anak perempuan itu baru 12 tahun.
"coba lihat, anak bangsawan memiliki hati yang sangat baik. Atau ....kau merasa kasihan pada kami ha" ucap salah satu anak perempuan berusia 13 tahun.
"hah...tidak, bagaimana kau berpikir begitu. Aku..." ucapan Jia Li terhenti saat dirinya diludahi oleh anak perempuan berusia 13 tahun itu.
"hahahahaha..." tawa anak perempuan 13 tahun itu.
"kamu tidak boleh bersikap seperti itu" anak perempuan cantik itu. Dia berusaha menegur anak perempuan 13 tahun itu.
"sudahlah, abaikan dia. Anak bangsawan ini berniat baik padamu, kau harus mengucapkan terima kasih" ucap seorang gadis yang berusia 15 tahun pada anak perempuan yang cantik itu.
"wajahmu yang cantik memang harus ditutupi, jika tidak... akan sangat berbahaya untuk mu" tambahnya.
"terima kasih" ucap anak perempuan cantik itu.
"sebaiknya kau cepat pergi dari sini, sebelum kau bernasib sama seperti kami" ucap gadis berusia 15 tahun. Dia memperingatkan Jia Li agar cepat pergi.