"Jia Li 2"

"Jia Li 2"
53



Beberapa jam kemudian. Hutan yang tadinya terlihat indah dengan pohon tinggi menjulang dan hitam kini telah berubah menjadi tanah gundul. Pohon-pohon telah tumbang dan sebagian ada yang terbakar, bahkan tidak ditemukan lagi hewan-hewan liar yang menjadi penghuni hutan. Hutan itu seperti baru di terpa badai hebat. Hal itu semua akibat dari pertarungan hebat antara Jilli dan Wang Chunying.


"sebaiknya kamu melupakan istriku. " ucap Wang Chunying penuh penekanan, ia menatap wajah Jilli yang sudah penuh dengan memar/luka dan penuh dengan darah.


Jilli terbaring tidak berdaya di tanah. Dia benar-benar dihajar oleh Wang Chunying. Jujur Jilli merutuki kebodohan dan kelemahannya, seandainya dia lebih kuat dari pria itu mungkin Jia Li tidak akan menikah dengannya. Mungkin saat ini dia lah yang menjadi suami Jia Li bukan Wang Chunying.


"jujur saja aku sangat ingin membunuhmu. Tapi, aku harus menahan diri demi Jia Li karena aku tidak mau dia harus menangisi orang sepertimu. Tapi, jika kamu mengganggu istriku lagi aku benar-benar akan membunuhmu !" ucap  Wang Chunying penuh penekanan. Setelah mengatakan itu, Wang Chunying pergi.


*


*


*


Disisi lain, Jia Li duduk dengan cemas. Ia takut Wang Chunying akan melukai Jilli lagi. Bahkan semakin khawatir khawatirnya selera makannya bahkan hilang.


Makanan yang Xia bawa sedari tadi tidak tersentuh sedikitpun. Jia Li duduk di ranjangnya dengan gelisah.


Bahkan Xia yang melihat Jia Li seperti itu menjadi khawatir. Ia berusaha menenangkan Jia Li meskipun Xia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Saat Wang Chunying masuk ke dalam kamar Jia Li, Xia dengan cepat pergi dari kamar itu. Sedangkan Jia Li berlari kecil mendekati suaminya itu.


Jia Li ingin menanyakan tentang Jilli namun takut Wang Chunying akan marah.


"aku tidak membunuhnya" ucap Wang Chunying yang seakan tau apa yang sudah mengganggu pikiran istrinya itu.


Mendengar hal itu, Jia Li bernapas lega. Wang Chunying menatap istrinya, jujur saja dia cemburu saat Jia Li mengkhawatirkan pria lain. Ya...lagipula suami mana yang tidak cemburu saat melihat istri tercintanya memikirkan pria lain. Wang Chunying berjalan melewati Jia Li, ia duduk di kursi dengan wajah ditekuk. 


Sebenarnya Wang Chunying mendengar semua ucapan Jia Li dan Jilli tadi. Waktu itu Wang Chunying terbangun dari tidurnya saat mendengar suara lembut Jia Li memanggil nama Xia/ pelayannya untuk dibawakan makanan. Tapi, Jilli tiba-tiba muncul dan ingin membawa Jia Li pergi. Saat itu Wang Chunying sudah bagun dari kasur dan siap menggagalkan aksi mereka lalu membunuh Jilli. Namun saat mendengar penolakan Jia Li, Wang Chunying terkejut. Ia sangat senang karena Jia Li lebih memilih bersama dengannya tapi, tetap saja Wang Chunying masih cemburu saat mengingat ucapan Jilli yang mengatakan jika 'Jia Li mencintai Jilli" dan Jia Li sama sekali tidak membantah seolah mengatakan jika hal itu memang benar adanya.  


Katakanlah Wang Chunying egois. Tapi cinta memang egois. Ia tidak cuman ingin tubuhnya namun raganya juga untuknya. Ya.. Itulah yang Wang Chunying inginkan.


Jia Li mengikuti Wang Chunying. Jia Li berdiri tepat di hadapan pria itu. Jia Li berpikir jika Wang Chunying mungkin saja menguping pembicaraannya dan Jilli tadi.


"maaf Wang Chunying. Aku tau aku salah, tapi ini tidak sepenuhnya salah ku atau Jilli. Kau lah orang yang merusak hubungan kami !" ucap Jia Li dengan menundukan kepalanya. Jia Li memainkan kukunya. 


Meskipun takut, Jia Li berusaha mengeluarkan unek-uneknya pada Wang Chunying dengan resiko dimarahi, atau mungkin dipukul oleh Wang Chunying.


Menurut Jia Li ini bukan kesalahan dia maupun Jilli, namun Wang Chunying lah yang merusak kedalam hubungan Jia Li dan Jilli. Padahal sudah jelas Jia Li lebih memilih Jilli, namun Wang Chunying tetap memaksakan keinginannya untuk bersama dengan Jia Li. Jadi wajar saja jika Jilli datang kembali untuk memperjuangkan Jia Li meskipun waktunya telah terlambat.


Wang Chunying menatap Jia Li dengan wajah sedih. Rasanya saat ini Wang Chunying benar-benar kecewa, marah, cemburu, dan sedih semua perasaan itu bercampur saji satu. Meskipun ia merah, pria itu berusaha keras agar menahan emosinya. Ia tidak mau membuat Jia Li takut, apalagi sampai melukainya.


Tapi kata-kata Jia Li selanjutnya benar-benar mampu memadamkan api kemarahan Wang Chunying.


"jadi...aku mohon jangan marah padanya. Baik aku dan Jilli butuh waktu menerima keadaan ini, beri kami waktu untuk melupakan perasaan cinta ini, dan beri aku waktu agar bisa menerima cintamu. "  ucap Jia Li dengan suara serak seakan ingin menangis.


Wang Chunying yang tadinya menatap Jia Li penuh amarah kini mulai melembut. Rahang nya yang mengeras kini tidak keras lagi. Wang Chunying tersenyum kecil, ia merasa bahagia karena Jia Li mulai menerima dirinya secara perlahan.


"ya, aku akan memberikanmu banyak waktu, dan terimakasih karena sudah mau menerimaku kembali" ucap Wang Chunying.


Wang Chunying menarik lengan Jia Li, sehingga Jia Li jatuh di pangkuan Wang Chunying. Lalu Wang Chunying memeluk Jia Li dengan erat. Jia Li hanya bisa terdiam dengan perlakuan Wang Chunying.


Mungkin… hanya tuhan yang bisa tahu betapa sakitnya hati Jia Li saat ini. Namun Jia Li yakin, jika keputusannya bersama Wang Chunying adalah yang terbaik.


Semenjak hari itu, Wang Chunying dan Jia Li semakin dekat. Bahkan sekarang Wang Chunying selalu tidur di kamar Jia Li, dan...mereka bergulat hampir tiap malam. Jia Li benar-benar kewalahan menghadapi nafsu suaminya. 


Karena setiap malam mereka melakukan hal itu, pola tidur Jia Li menjadi berubah. Bagaimana tidak, malam harinya, ia akan bergulat dengan Wang Chunying, dan pagi harinya Jia Li harus banyak istirahat karena kelelahan melayani suaminya.


 Bukan hanya pola tidur saja tapi, Jia Li juga sangat malu karena kulitnya yang penuh dengan bekas ciuman kadang tanpa sengaja terlihat oleh orang lain, khususnya pelayan wanita. Kadang Jia Li juha malu karena suara cabuk saat ia bergulat dengan  Wang Chunying terdengar oleh orang lain. Jia Li benar-benar sudah kehilangan muka di depan para pelayan.


Sementara itu, pengamanan di kediaman Wang Chunying semakin diperketat lagi. Ia benar-benar tidak mau Jilli menyusup lagi ke-kediamannya, apalagi sampai mengganggu rumah tangganya.


*


*


*


3 bulan berlalu dengan cepat. 


Saat ini Jia Li sedang duduk di samping Wang Chunying dengan malas. Mereka tidak cuman berdua, ada Shen dan Liu Bei yang duduk tepat di hadapan mereka.   Wang Chunying dan 2 muridnya itu sedang berbicara tentang masalah pembangunan istana dan juga beberapa masalah lainnya yang jelas Jia Li tidak mengerti sama sekali. Ia juga tidak mau ikut campur urusan semacam itu. Sebenarnya Jia Li lebih suka berada di kediamannya atau berjalan mengelilingi kediaman Wang Chunying, namun Wang Chunying malah memaksanya untuk ikut dengannya. 


"master, kekaisaran bulan mengundang kita dalam acara turnamen beladiri yang akan diadakan 1 bulan lagi" ucap Shen.


"ya master, saya sarankan kita datang. Karena ini adalah acara yang sangat penting master"  


"baiklah" ucap Wang Chunying.


Wang Chunying kemudian menatap Jia Li ang duduk di sebelahnya. 


"istriku, kamu akan ikut dengan ku kesana " ucapan Wang Chunying terdengar seperti perintah di telinga Jia Li.


"kenapa aki harus ikut ? Aku tidak mau. Pasti disana sangat membosankan" tolak Jia Li cepat.


"kau harus ikut !" ucap Wang Chunying lagi.


"tidak mau" ucap Jia Li keras kepala.


"tidak !" ucap Jia Li masih keras kepala.


Seh dan Liu Bei yang melihat itu hanya bisa tersenyum masam karena iri melihat pasangan itu. Ini bukan pertama kalinya mereka berdebat hanya karena masalah kecil, tapi seperti apapun masalahnya Wang Chunying tidak pernah memarahi Jia Li apalagi sampai bertindak kasar. Jika-pun Jia Li salah,Wang Chunying selalu menasehati Jia Li dengan lembut.  Pria itu sangat mencintai istrinya.


***


satu bulan kemudian..


Saat ini Jia Li duduk dengan malas di dalam kereta mewah dan indah milik Wang Chunying. Saat ini Jia Li dan Wang Chunying sedang menuju kekaisaran bulan untuk menghadiri acara turnamen beladiri itu.


Ya...seperti biasa, Jia Li terpaksa pergi karena pusing dengan Wang Chunying yang tidak berhenti memohon agar dia pergi. Wang Chunying memang selalu pintar mencari cara agar Jia Li mau menerima semua ajakannya, bahkan jika itu harus mengemis-mengais sampai Jia Li bosan menolak ajakannya dan akhirnya menyetujui ajakannya.


Wang Chunying sedari tadi duduk sambil memandangi wajah cantik istrinya itu.


Jia Li yeng terus di pandang oleh Wang Chunying mulai merasa risih.


"kenapa melihatku terus ! " ucap Jia Li kesal.


"aku hanya memandangi wajah istriku, apakah itu salah ?" tanya Wang Chunying cemberut.


"..." Jia Li terdiam. Ya..memang tidak ada salahnya memandang wajah istri sendiri, meskipun risih tapi, itu jauh lebih baik  daripada melihat suami sendiri memandangi wajah wanita lain.


"ya, tidak salah" ucap Jia Li lemah itu membuat Wang Chunying tersenyum.


Wang Chunying menarik Jia Li dalam pelukannya. Jia Li tidak memberontak sama sekali, hal itu membuat Wang Chunying tersenyum. Lalu Wang Chunying mengelus lembut puncak kepala Jia Li.m, dan sesekali mengecupnya. Cukup lama Jia Li ada dalam pelukan Wang Chunying dengan tenang, hingga tanpa sadar Jia Li tertidur. Mungkin ini karena pelukan Wang Chunying yang terasa hangat dan sangat nyaman, ditambah Jia Li suka bau harum dari tubuh pria itu. Hingga Jia Li menjadi betah dekat dengan pria itu, bahkan tertidur di pelukannya. 


Melihat Jia Li tertidur di pelukannya, membuat Wang Chunying bahagia. Selama perjalanan, pria itu terus mengelus dengan lembut puncak kepala Jia Li dan sesekali mengecupnya.


Saat Jia Li terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ribut. Jia Li baru saja menyadari jika ia masih tertidur di pelukan Wang Chunying.


"kau sudah bangun ?" tanya Wang Chunying saat menyadari jika Jia Li telah bangun.


"hm. Kenapa di luar ribut sekali ?" tanya Jia Li. Ia menggosok-gosokkan matanya.


"apakah mereka mengganggumu ?" tanya Wang Chunying. Pria itu mengelus puncak kepala Jia Li lembut dan penuh kasih sayang.


Jia Li keluar dari pelukan Wang Chunying.


"tidak kok. Hmm...kapan kita makan " ucap Jia Li sambil mengelus perutnya yang rata. Hal itu membuat Wang Chunying tertawa kecil karena Jia Li terlihat sangat lucu.


"kenapa tertawa ?" tanya Jia Li.


"kamu sangat lucu, istriku. Kita akan sampai sebentar lagi, nanti kamu bisa makan sepuasnya" Wang Chunying kemudian menarik Jia Li lagi kedalam pelukannya, pria itu belakangan ini selalu menempel dengan Jia Li seperti lem lengket. 


Jujur saja Jia Li sangat kesal karena sikap Wang Chunying itu, namun ia hanya bisa bersabar menghadapi tingkah pria itu. Pasalnya jika Jia Li menolak, pria itu akan merengek seperti bayi, dan itu benar-benar membuat Jia Li pusing.


"kenapa kita cepat sekali sampainya ? Aku pikir kita akan sampai 2 atau 3 hari lagi tapi, ini cuman beberapa jam saja ?" tanya Jia Li bingung, karena setahu Jia Li lokasi yang mereka tuju letaknya sangat jauh. 


"itu karena kita menggunakan kereta kuda terbaik dan kuda-kuda itu bukanlah kuda sembarangan. Mereka kuda langka yang telah terlatih sehingga bisa menempuh jarak yang sangat jauh dalam waktu singkat" jelas Wang Chunying yang hanya dibalas anggukan oleh Jia Li.


*


*


*


Setelah sampai di ibukota kekaisaran bulan, Wang Chunying langsung menggunakan topengnya agar menutupi wajahnya yang tampan, sedangkan Jia Li tidak menggunakan apa-apa untuk menutupi wajahnya. Jia Li merasa ini tidak perlu dan dia cukup malas melakukan hal itu lagi, lagi pula sekarang ada Wang Chunying yang akan melindunginya dari para bajing4n.


Setelah siap, Wang Chunying dan Jia Li turun dari kereta mereka. Tidak lama kemudian Shen dan Liu Bei datang mendekati Jia Li dan Wang Chunying. Mereka akan masuk ke aula pesta bersama-sama.


Saat nama Wang Chunying dan Shen disebut di sebuah aula, semua orang menunduk hormat. Di aula itu semua orang telah hadir seperti Kaisar Bulan dan permaisurinya, ada guru surgawi Li Ewi, guru surgawi an, para pemimpin sekte perguruan beladiri, dan para tamu terhormat lainnya.


Dari kejauhan Jia Li bisa melihat Jilli yang duduk di salah satu bangku undangan terhormat. Pria itu juga memandang Jia Li lekat, pandangan yang menyiratkan rasa rinduan, kekecewaan dan sakit hati. Hal itu membuat Jia Li menjadi sedih, ia tidak suka melihat Jilli bersedih karenanya. Untuk beberapa menit mata Jia Li dan Jilli bertemu, pada saat itu waktu terasa berhenti. 


Jilli sendiri juga bisa melihat hal yang sama di mata Jia Li. Rasa rindu, perasaan bersalah, khawatir, dan cinta hanya untuknya. Hal itu membuat Jilli agak sedikit senang, namun saat melihat pria yang berdiri tepat di samping Jia Li, hatinya terasa sakit. Ia marah, dan sangat membenci pria itu. Seandainya dirinya jauh lebih kuat dari pria itu, mungkin saat ini Jia Li adalah istrinya. 


Wang Chunying yang melihat hal itu menggenggam lengan Jia Li lebih erat, seolah takut istrinya itu pergi meninggalkannya. Jia Li yang merasakan tangannya digenggam lebih erat lalu menatap Wang Chunying.


Jia Li tersenyum masam. Ia tahu jika Wang Chunying pasti terluka saat melihatnya masih menyimpan perasaan untuk pria lain.


"maaf" hanya itu yang bisa Jia Li ucapkan.


Wang Chunying tidak mengatakan apapun, ia hanya tersenyum lalu menarik Jia Li ke tempat duduk yang telah disiapkan khusus untuk mereka.


Meskipun hatinya terasa sakit, Wang Chunying selalu mengatakan pada dirinya sendiri untuk bersabar. Ia yakin jika suatu hari nanti, Jia Li akan mencintainya kembali.


Jia Li duduk tepat di sebelah Wang Chunying. Pria itu masih menggenggam tangannya dengan erat, sementara Jia Li terus memandangnya. Entah kenapa ada hal aneh yang ia rasakan saat menerima perlakuan itu dari Wang Chunying. Hemmm...mungkin  senang karena melihat Wang Chunying cemburu.


Semua orang yang melihat perlakuan guru surgawi Chunying pada gadis cantik di sampingnya yang nampak istimewa membuat banyak dari mereka bertanya-tanya 'siapa sebenarnya gadis itu". Sebenarnya ada gosip yang beredar di masyarakat jika guru surgawi Chunying meminta gadis dari kekaisaran selatan, namun sebagian dari mereka tidak mempercayai gosip itu. Mereka menganggap ini lelucon. Tapi, setelah melihat kecantikan yang luar biasa di samping guru surgawi Chunying saat ini mereka sedikit mempercayai gosip itu. Ya...gosip itu bisa saja benar .


Tidak lama kemudian acara mulai di adakan. Acara berlangsung dengan sangat meriah dimulai dengan tarian yang sangat luar biasa. Tidak lama kemudian acara utama yaitu pertandingan beladiri mulai diadakan.


Bagi para pecinta beladiri, mungkin ajang ini sangat menghibur. Tapi, bagi Jia Li yang tidak suka kekerasan merasa ini sangat membosankan. Jia Li duduk dengan bisan sambil memakan anggur yang telah disediakan, dan...dengan wajah ditekuk karena bisan