
"Jia Li"
Tok-tok. Pintu kayu yang berukuran sangat besar itu besar terbuka. Seorang wanita masuk kedalam ruangan itu, memberi hormat pada bosnya.
"selamat pagi nona jia li" ucap seorang wanita itu yang hanya dibalas dengan deheman.
Seorang wanita berparas cantik sedang duduk di kursi kebesarannya, ia terlihat sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di atas mejanya dan mengabaikan kehadiran wanita yang baru datang tadi. Di atas meja kerja itu terdapat papan nama yang bertuliskan Jia Li.
"nona jia li, nanti siang ada rapat penting dengan tuan tomas" ucap seorang perempuan yang tak lain adalah sekretarisnya.
"oh..." jawab wanita yang tidak lain Jia Li.
Wanita bernama Jia Li itu adalah salah satu pengusaha muda yang sukses. Tahun ini ia berusia 30 tahun, tapi meskipun umurnya sudah tidak muda lagi ia masih terlihat sangat cantik seperti gadis berusia 19 tahun. Ia memiliki rambut hitam yang panjang, wajah yang sangat cantik, kulit yang putih, dan tubuhnya masih terlihat seksi meskipun memakai pakaian tertutup.
Setelah memberi hormat sekretarisnya pergi dari ruangan bosnya. Ia tau besar jika bosnya tidak suka diganggu. Bosnya itu lebih suka bekerja sendirian tanpa ada yang menemaninya di ruangan besar ini.
Setelah sekretarisnya pergi. Jia Li menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya, dia merasa sangat lelah dengan rutinitasnya itu. Hampir setiap hari ia menghabiskan waktu di ruangan kerjanya itu, terkadang ia merasa penat namun masih bisa ditahan. Tapi kali ini tidak, dia benar-benar merasa sangat bosan dengan kehidupannya sekarang.
Setelah berhenti menjadi dokter 5 tahun yang lalu, Jia Li mengambil alih perusahaan ayahnya. Dan semenjak itulah Jia Li semakin gila kerja sampai-sampai lupa istirahat. Pekerjaan yang sangat banyak dan harus dikerjakan dengan cepat menuntut Jia Li selalu bekerja bahkan di hari libur, sebenarnya ia ingin sekali berhenti dari pekerjaan ini namun tidak ada orang lain di keluarganya yang bisa diandalkan.
Tiba-tiba layar laptop Jia Li menyala, menampilkan sebuah bangunan dengan pemandangan yang sangat indah. Tempat yang belum pernah Jia Li lihat sebelumnya. namun saat pertama kali melihatnya, Jia Li sangat ingin mengunjungi tempat itu. Tempat itu sangat mirip dengan keadaan alam yang ada di cina. Ya... Ia ingin ketempat itu. Tempat yang sangat indah, tenang dan damai.
"mungkin aku butuh sedikit liburan" ucap jia li.
Jia li menghubungi sekretarisnya agar bisa mengosongkan jadwal bulan depan untuk liburannya, tidak lupa ia meminta sekretaris mencari informasi mengenai tempat yang ingin dituju, agar tidak terjadi kesalahan saat perjalanan.
Hari-hari berganti dengan cepat, hingga hari yang Jia Li tunggu telah tiba. Jia Li terlihat sangat bersemangat saat liburan, ini akan menjadi liburan pertama dan terbaiknya. Jia Li bahkan semakin bersemangat saat mendengar informasi dari sekretarisnya mengenai tempat yang ia tuju, yang di mana Istani itu katanya dibagun oleh seorang raja untuk sang istri, sebagai ungkapan rasa cinta dan terimakasih karena telah berjuang melahirkan buah cinta mereka. Konon katanya raja itu hanya memiliki satu istri selama hidupnya, dan memiliki 20 orang anak laki-laki yang tampan dan cerdas. Itu terdengar mustahil jika di zaman sekarang. Tapi yang lebih mustahil adalah, raja itu hanya memiliki satu istri selama hidupnya. Padahal di zaman kuno sangat wajar jika seorang raja memiliki istri lebih dari 1, bahkan jika mereka mau mereka bisa mengisi penuh haremnya. Jika di pikirkan lebih jauh, jia li merasa sangat iri.
Jia Li sempat mencari tahu mengenai raja tersebut, tapi menurut sekretarisnya yang telah mencari informasi itu mengatakan ' tidak jelas siapa raja yang membangun istana itu, dan di beberapa catatan kuno cina, tidak ada yang menceritakan mengenai istana itu. Menurut catatan, seorang pencari tanaman herbal lah yang tanpa sengaja menemukan istana itu beberapa abad lalu. Istana itu seperti diliputi misteri. Sedangkan cerita mengenai raja yang memiliki satu istri dan 20 orang anak itu di dapat dari tulisan kuno yang terdapat di bangunan itu. "
Setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan, akhirnya Jia Li tiba di depan bagunan istana itu. Istana dengan gaya kuno namun terlihat sangat megah itu kini di depan mata Jia Li, dan tempat ini sama sekali tidak mengecewakan. Tempat ini sesuai dengan harapan.
Udara yang sejuk dan suara burung yang tak berhenti berkicau membuat Jia Li merasa tenang. Jia Li berjalan memasuki istana itu, tempat itu terlihat sepi, hanya ada beberapa orang yang ada di istana ini. Hal itu karena Jia Li sudah menyewa tempat ini, karena ia tidak ingin ada yang merusak harinya. Begitulah Jia Li, tidak mau mengganggu dan juga tidak ingin diganggu.
Seorang pria tua yang menjadi penjaga istana itu menemani Jia Li untuk berkeliling. Pria tua itu juga menjelaskan sejarah dari bangunan itu dan beberapa cerita misteri di dalamnya. Cerita sejarah mengenai bagunan istana itu tidak jauh beda dengan informasi yang Jia Li dapat dari sekretarisnya, hanya saja cerita misteri yang ada di bangunan ini terasa mustahil bagi Jia Li. Bagaimana tidak, pria tua itu bilang jika istana ini adalah pintu menuju dimensi lain. Dimensi dimana semua yang dirasa tidak masuk akal menjadi kenyataan. Seperti contohnya rubah berekor sembilan. Hal itu semakin aneh saat pria tua itu mengatakan jika istana itu akan menghilang dan membawa permaisuri kembali kepada rajanya. Itu terdengar gila.
Saat hari mulai menjelang malam, pria tua itu meminta izin untuk pergi sebentar. Dia ingin menyiapkan makan malam mengingat tempat itu sangat jauh dari kota dan koto di sekitar sini tidak ada, lagi pula anggap ini bonus karena Jia Li sudah menyewa tempat ini dengan harga yang sangat mahal. Setelah makan malam di siapkan Jia Li dan beberapa orang yang ada di istana makan bersama, setelah makan Jia Li di antar ke tempat istirahatnya. Jia Li memang sengaja menyewa satu kamar di istana itu. Lagipula tempat itu memang bisa di sewa asalkan pengunjung tidak mencuri atau merusak barang bersejarah yang ada dan juga mau membayar dengan harga mahal.
Cukup lama Jia Li duduk di kamar, ia mulai merasa bosan. Jia li memutuskan untuk menjelajahi istana itu lagi, meskipun seorang diri. Pria tua penjaga istana itu telah pergi entah kemana, Jia Li yang tak ingin repot mencarinya lebih memilih pergi sendiri, lagipula tidak ada yang berbahaya di tempat ini. suasana istana yang agak buram tanpa lampu penerangan membuat suasana agak mencekam. Tapi berkat cahaya bulan purnama dan juga bintang-bintang, istana itu terlihat agak sedikit indah pada malam hari. Menyeramkan namun indah.
Langkah Jia Li berhenti saat ia menemukan suatu ruangan yang nampak sangat aneh namun entah, kenapa ia ingin ke sama. Di depan ruangan itu tertulis jangan masuk, tapi rasa penasaran Jia Li begitu kuat. Belum lagi tubuhnya terasa bergerak sendiri ke arah ruangan itu, seperti ada magnet yang menariknya. Saat Jia Li berada tepat di pintu masuk ruangan itu, entah kenapa aura menjadi terasa sangat mencekam dan suhu udara di sekitar terasa sangat dingin padahal ini musim panas.
Jia memberanikan diri membuka pintu itu. Dan saat Jia Li membuka pintu itu terdapat sebuah lukisan yang cukup besar, lukisan wanita yang terlihat sangat anggun dan cantik. Wajahnya tidak begitu jelas karena lukisan itu sudah cukup tua, tapi entah kenapa jia li berpikir jika wanita itu adalah dia. Saat Jia Li merasa hal ganjal pada ruangan itu ia langsung berbalik dan hendak pergi, tapi tubuhnya tertarik kedalam ruangan dan pintu itu langsung tertutup. Jia Li berusaha membuka pintu namun tidak bisa, pintu itu seperti terkunci dengan sangat rapat. Udara di sekitar jia li terasa menipis dan ia semakin kehabisan oksigen dan suhu di ruangan semakin dingin. Jia Li sudah seperti ikan yang terdampar di daratan. Pandangan Jia Li mulai kabur.
"apakah aku akan mati menyedihkan disini ?" batin Jia Li saat kesadarannya mulai menghilang.
*******
"hai bangun !"
"hai kau, bangun !!. Mentang-mentang sakit bukan berarti kamu bisa santai. Kamu itu budak bukan nona muda bangsawan !"
Tubuh Jia Li digoyang-goyangkan dengan kuat. Jia li berusaha membuka matanya, ia benar-benar merasa terganggu dengan suara berisik itu.
"apa ?" ucap Jia Li.
Jia li menatap seorang gadis berusia 17 tahun yang berpakaian kuno seperti baju hanfu dengan sorot mata tidak suka.
"apa-apa, bangun dan kerja !, jangan mencari alasan dengan tubuhmu yang sakit itu !" ucap gadis itu marah sambil menatap Jia Li tajam.
Jia Li hanya diam, dia memperhatikan sekeliling ruangan. Ruangan itu sangat asing baginya yang sebenarnya sebagai orang modern. Ini semakin aneh. Jia Li melihat telapak tangannya yang kecil seperti tangan anak berusia 10 tahun dan kulitnya kusam.
"tunggu, kecil ?!, "
Seketika jia Li lari mencari cermin, tapi ia tidak menemukannya jadi Jia Li mencari genangan air bersih untuk bercermin. Beruntung ia menemukan air di dalam tong besar, tapi betapa terkejutnya ia saat melihat dirinya.
"ini bukan wajahku ?!"