
Jia Li dan Kun akhirnya keluar dari tempat pelelangan. Mereka berjalan pulang ke rumah dengan santai dan hati yang bahagia. Namun langkah Jia Li terhenti saat mendengar orang-orang menyebutkan nama Tong Mu dan Jia Li. Tidak jauh dari ia berdiri, Jia Li melihat 5 orang pria sedang berkumpul. Melihat Jia Li berhenti, Kun juga ikut berhenti dan mereka berdua mulai menguping pembicaraan orang-orang itu.
"apa kalian mendengar gosip tentang Tong Mu ?" orang pertama.
"ya. Kami mendengarnya. Tong Mu pung setelah sekian lama bersama anak perempuan. Orang-orang bilang jika Tong Mu menikah dengan seorang wanita saat dia berlayar, dan memiliki anak dengan wanita itu. Sementara anaknya dari istri pertama menikah dengan seorang saudagar" ucap orang ke 2.
"ah....kalau itu aku tau, tapi ada gosip baru yang bilang kalau wajah anak perempuan Tong Mu itu buruk rupa, dia sangat bodoh, penyuka sesama jenis, dan yang paling buruk setengah gila !" ucap orang pertama dengan sangat dramatis.
"astaga ! Kau jangan asal bicara, jika tuan Tong Mu mendengar, kau akan dibunuh dan jasadmu akan akan dijadikan makanan anjing" ucap orang ke3 dengan nada kesal.
"sungguh aku tidak asal bicara. Semua orang di ibukota sedang heboh membicarakan ini, kau saja yang ketinggalan berita" ucap orang pertama.
"ya...itu benar, aku juga mendengar hal serupa dari beberapa orang" ucap orang ke 4, ia membela orang pertama.
"ya, dia benar. Majikanku juga mengatakan hal yang sama. Putrinya adalah istri dari salah satu pangeran, dan dia bilang jia putri Tong Mu menggunakan cadar saat pesta perjamuan beberapa hari yang lalu. Jika dia tidak jelek, kenapa dia menutupi wajahnya, benarkan ?" ucap orang ke 5
"dia menutupi wajahnya karena dia jelek. Gosip itu ada benarnya juga kan" tambah orang pertama.
Kun yang mendengar itu mendadak emosi. Dia menggenggam pedangnya, ingin menebas kepala orang-orang itu. Namun saat ia melihat Jia Li tersenyum, dia menatap Jia Li bingung. Di dalam hatinya, ia bertanya 'kenapa dia tersenyum padahal sedang dihina".
Jia Li menatap Kun yang juga melihatnya dengan bingung.
"Kun, kerjamu sangat bagus. Gosip itu pasti sudah sampai ke telinga pangeran ke 4 dan semua pangeran. Aku harap tidak ada pria keturunan kerajaan yang menikahiku di masa depan" ucap Jia Li dengan senyum lebar. Jia Li memang tidak suka berada di istana kekaisaran. Dia benci tempat itu yang penuh dengan orang-orang munafik, bermuka dua, orang-orang yang penuh rasa iri, dengki, dendam, dan banyaknya kasus pembunuhan antar keluarga sendiri. Dan yang paling menyayat hati adalah berbagi suami. Itu semua terdengar sangat buruk, tapi inilah kenyataan yang sebenarnya di istana kekaisaran. Bagi Jia Li, tidak masalah dia menikah dengan pria sederhana asal setia dan mencintainya sepenuh hatinya. Bahkan jika Jia Li tidak mencintai suaminya nanti, ia tetap tidak mau dimadu.
"hm...i...iya nona" ucap Kun ragu.
"eh...kok nona sih. Dengar ya, mulai sekarang jika aku pakai baju pria kau harus panggil aku tuan muda Li. Ingat ! Tuan muda Li" ucap Jia Li.
Kun akhirnya mengangguk, meski dia masih ragu dengan keputusannya. Tapi meskipun dia ragu, entah kenapa Kun tidak bisa mengucapkan kata tidak, atau menolak secara halus perintah nona mudanya. Ya...itulah Kun, ia selalu berkata 'iya" pada semua perintah Jia Li, padahal hatinya masih ragu.
****
Di tempat lain. Seorang pria muda berwajah tampan sedang meminum arak dengan sekelompok wanita berpakaian seksi dan cantik. Pria muda itu tidak sendiri, ia ditemani dengan 3 pria yang juga dikelilingi wanita seksi dan cantik.
"kau seharusnya tidak datang ke rumah bunga ini lagi Zhang Xuemei, kau kan sudah memiliki tunangan. Habiskan waktu bersamanya" ucap pria mabuk. Wajah pria itu merah karena terlalu mabuk, sementara para wanita di sampingnya tidak henti-hentinya menggodanya.
"mana kesopanan Mu Liang ? Aku ini pangeran ke 4" ucap pria bernama Zhang Xuemei yang tidak lain pangeran ke 4.
Pria bernama lien itu hanya tertawa mendengar ucapan Zhang Xuemei yang tidak lain pangeran ke 4 kekaisaran selatan.
"sudahlah, jangan dipikirkan. Dia sudah terlalu mabuk pangeran" ucap pria berwajah cantik. Pria itu bernama Liiu, sahabat Zhang Xuemei dari kecil.
"hah... Liiu, aku harus bagaimana ?" tanya Zhang Xuemei yang terlihat putus asa .
"jika masalahnya tentang rumor mengenai tunangan anda yang jelek, bodoh, penyuka sesama jenis dan setengah gila. Aku tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah itu. Jujur saja aku takut berurusan dengan Tong Mu, paman anda itu." Liiu langsung menyerah karena memang tidak mungkin melawan Tong Mu yang tidak hanya memiliki kekayaan yang melimpah dan pasukan pribadi yang kuat, namun juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan ibu suri tua, ibu suri dan kaisar.
"pokoknya kamu harus bantu aku Liiu, tidak ada penolakan. Aku tidak mungkin menikah dengan anak Tong Mu, apalagi menjadikannya permaisuri !" ucap Zhang Xuemei tegas.
"aku ingin membantu, tapi..." ucapan Liiu dipotong.
"itu bagus Liiu, kau akan bergabung dengan kami merencanakan pembatalan pertunangan" ucap Liang, sambil bercumbu dengan salah satu wanita di sampingnya.
"hei Liang, jangan semb..." ucapan Liiu kembali dipotong.
"terima kasih Liiu, kau memang sahabatku yang paling baik" ucap Zhang Xuemei sambil tersenyum lebar.
"sudah lah, jangan marah. Lebih baik kau nikmati makanan lezat yang ada di sampingmu seperti aku" setelah mengucapkan itu, Liang menarik salah satu wanita di sampingnya membuka bajunya lalu menghisap puncak gunung itu. Wanita itu mendesah nikmat.
Liiu yang melihat hal itu mengalihkan wajahnya. Dia ingin sekali marah dengan sahabat-sahabatnya, namun tidak mungkin mengingat mereka memiliki tongkat sosial jauh lebih tinggi. Jika ia melakukan kesalahan dengan mereka, maka hidupnya bisa-sia berakhir buruk. Tapi...jika ia melawan Tong Mu maka... akan lebih buruk lagi. Liiu mulai merasa pusing.
Sementara Zhang Xuemei tertawa keras.
***
Disisi lain. Jia Li sedang duduk manis di teras rumahnya, ia menunggu ayahnya yang belum juga pulang padahal hari sudah mulai malam. Meskipun Jia Li nampak tenang namun di dalam hatinya masih gelisah, ia takut ayahnya terluka.
"nona, ayo kita masuk. Hari mulai malam" ucap Niu.
"iya nona, jika nona diluar nanti sakit" tambah naun.
"kalian saja, aku masih ingin menunggu ayah. Dia sebentar lagi akan pulang" ucap Jia Li dengan senyum kecil. Meskipun Jia Li menggunakan cadar, namun itu masih bisa terlihat dengan samar karena cadar Jia Li cukup tipis.
Saat Jia Li mendengar suara langkah kuda, Jia Li langsung berlari ke gerbang masuk rumah. Ia yakin itu kuda milik ayahnya. Dan benar saja, tidak jauh dari gerbang masuk, Tong Mu sedang menunggangi kuda bersama beberapa orang di belakangnya.
"AYAH" teriak Jia Li sambil melambaikan tangan. Tong Mu yang melihat hal itu tersenyum bahagia. Tarinya menghangat saat mendengar putrinya memanggilnya dan terlihat sedang menunggunya.
Saat sudah di dekat gerbang. Tong Mu turun dari kuda lalu berjalan mendekati Jia Li.
"anak ayah kenapa di luar, seharusnya menunggu di dalam rumah" ucap Tong Mu lembut pada Jia Li.
"Jia Li di luar agar bisa menyambut kepulangan ayah pertama kali" ucap Jia Li. Suara Jia Li terlihat begitu ceria dan penuh semangat. Tong Mu yang mendengar hal itu merasa terharu.
"lalu, hewan buruan apa yang ayah bawa pulang" ucap Jia Li yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
"oh...ya...ayah berburu rusa" jawab Tong Mu.
"mana yah, mana ?" Jia Li terlihat semakin bersemangat.
Jia Li menatap seekor rusa yang diikat di punggung kuda yang di kendarai oleh Hongli Ho. Rusa itu adalah rusa betina dengan ukuran yang cukup besar, tiba-tiba Jia Li teringan rusa bakar dengan bumbu yang terasa luar biasa enak di kehidupannya yang dulu. Jia Li mendadak lapar. Hongli Ho yang melihat Jia Li menatap rusa di belakangnya hanya diam.
"ye...apa aku bisa makan rusa bakar ayah " ucap Jia Li dengan penuh semangat.
"rusa...bakar ?" tanya Tong Mu. Ia tidak kepikiran untuk membuat rusa bakar.
"iya ayah. Rusa bakar dengan sedikit bumbu. Apalagi jika makannya bersama keluarga, dan juga para sahabat. Hem... Bagaimana ayah, mau ya....." mohon Jia Li. Jia Li memasang wajah sedih sambil menatap ayahnya, kedua tangan disatukan, dan tubuh sedikit dimajukan ke arah Tong Mu, hal itu membuat Jia Li terlihat seperti anjing kecil yang sedang mengemis makanan pada majikannya. Terlihat sangat lucu.
"hahahaha... Baiklah, apapun untuk anak ayah" ucap Tong Mu yang langsung membuat Jia Li gembira sangat gembira.
"terimakasih ayah sudah mau mengabulkan keinginanku" Jia Li memeluk Tong Mu, dan Tong Mu membalas pelukan Jia Li.
"ya...apapun untukmu" ucap Tong Mu.
Tapi baik Jia Li maupun Tong Mu tidak sadar jika sedang menjadi pusat perhatian orang-orang yang datang bersama Tong Mu tadi. Tong Mu dan Jia Li, mereka terlalu larut dalam obrolan ayah dan anak hingga tidak sadar sedang di perhatikan. Semua orang yang melihat itu pasti akan terkejut, pasalnya Tong Mu yang sangat kejam pada orang lain dan berhati dingin rupanya adalah seorang ayah yang sangat mencintai putrinya.
---------
Trima kasih sudah baca novel ini. Jangan lupa like, comment (kritik dan saran) ya, agar penulisan ku kedepannya bisa lebih bagus lagi. 😊