Vampire Aedes

Vampire Aedes
9. Aster Galau Belum Makan



Aster bingung mengapa vampir itu tidak mengejar sama sekali. Masih tercetak tampang datarnya yang menyebalkan. Seakan-akan tidak pernah bertemu di masa lalu. Aster berhenti berlari karena lelah. Dia menoleh ke belakang untuk memastikan keadaaan Sari. Perempuan selisih dua tahun tersebut tergesa-gesa menghampiri dengan napas ngos-ngosan.


"Tuan Putri, kenapa Anda melarikan diri? Sikap Anda tidak sopan. Kalau Pangeran tidak segan, dia bisa melaporkan keluhan ini kepada Raja."


"Ssst! Aku begini karena dia itu vampir."


"Maksud Anda ... nyamuk?"


Aster mengangguk mantap. "Dia pasti akan menggigit leherku dan menghisap seluruh darahku sampai kering. Aku tidak mau!"


Sari melongo, detik berikutnya dia tertawa lepas. Baru kali ini Aster melihatnya tertawa. Definisi tertawa di atas penderitaan orang lain. "Ada yang lucu?"


Sari terdiam. "Maaf, Tuan Putri. Namun, yang Anda katakan sangatlah mustahil. Selama saya hidup di Istana dengan banyak rahasia perwakilan jiwa yang telah saya dengar, tidak pernah ada kejadian di mana perwakilan jiwa nyamuk adalah seorang lelaki tampan."


"Jadi, maksudmu semua perwakilan jiwa nyamuk haruslah pria tua dan tidak tampan?"


"Bukan begitu. Malah tidak ada sejarah di mana perwakilan jiwa yang Anda sebutkan adalah seorang laki-laki. Selain itu, dari mana Tuan Putri tahu jiwa apa yang diwakilkan oleh Pangeran?" tanya Sari.


Aster berpikir sambil berjalan. Dia gagal paham. Tidak mengerti. Tidak ingin memahami. Aster pun mengacak rambutnya frustasi. "Sudahlah! Ayo kita kembali ke kamar."


"Jika Tuan Putri ingin tahu, sepertinya Anda perlu mengadiri acara makan malam nanti." Sari melirik penuh harap.


Aster mengembuskan napas ketika sampai di pintu kamar, kemudian membukanya. "Sudah kukatakan, kalau aku tak pergi ya tak akan pergi."


Matanya terpaku pada isi ruangan yang sudah rapi. Seingatnya, tadi sangat berantakan karena mencari kerudung. "Siapa yang merapikan kamarku?"


"Mungkin salah satu pelayan yang diutus kepala sari," jawabnya sambil mengernyitkan dahi.


Aster mengacak-acak kembali seisi kamar dengan amarah. Dia tidak suka sembarang orang masuk ke ruang pribadinya dan menyentuh barang-barang miliknya. "Hanya aku dan kamu yang boleh memasuki kamarku. Kalau ada orang lain yang ingin masuk, harus izin dulu."


"Baiklah. Apa ada sesuatu yang Anda butuhkan?"


Aster merebahkan dirinya ke ranjang. Tubuhnya sangat lengket, wah seolah tak mencium air selama tiga hari. Perutnya lapar sejak mendengar makan malam. Kepalanya juga pusing. "Tolong siapkan air panas untukku mandi. Setelah itu, bawakan makanan terlezat, aku sangat lapar. Satu lagi, seduhkan obat yang waktu itu."


"Baik, Tuan Putri."


***


"Lo ngapain masuk!?" tanya Aster sambil merapatkan kancing yang terbuka. Sedang menikmati ritual malah datang sosok tak diundang.


Sari menjawab, "Tentu saja membantu Anda mandi."


"Keluar!"


"Tapi—"


"Keluarrr!"


Aster menggeleng heran. Bagaimana bisa dia sesantai itu melihat orang akan telanjang? Bahkan di dunia nyata, Aster masih ingat sewaktu kemah dirinya tak pernah mandi karena jika dia mandi sama saja mempermalukan diri sendiri.


Akhirnya di sini tenang. Entah berlangsung sampai kapan ketenangan ini. Kenapa Tuhan memberi mimpi dengan alur campur bak nasi uduk. Aster tertawa dalam hati, meragukan ingatan-ingatan di dua dunia apakah kebenaran atau hanya bunga tidur semata?


"Tuan Putri, makanan Anda sudah siap."


"Oke."


Aster keluar dengan penampilan lebih segar, akan tetapi wajahnya mendung. "Anda kenapa, Tuan Putri?"


"Aku merasa ... lapar. Hanya itu," ucapnya seraya meraih sendok.


"Tuan Putri! Jangan berbohong, saya tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda. Apakah makanan kali ini tidak enak? Saya sarankan Tuan Putri untuk menghadiri acara makan malam. Makanan di sana sangat lezat seribu kali lebih lezat dari nasi kepal yang saya buat."


Aster merasa sikap Sari berlebihan. Tidak biasanya dia berbicara menggebu-gebu seperti ini. Biasanya kan cuek, dingin. Hm, mari kita lihat apa yang akan terjadi. "Atas saran pelayanku yang loyal. Aku pergi."


"Keputusan yang bagus! Tuan Putri, tunggu, Anda belum meminum obat." Tanpa pikir panjang, Aster segera meneguknya hingga habis tak bersisa setetes pun. Ternyata rasa dan bau amat berbeda. Meski baunya tak enak, tetapi rasa rempahnya hangat sekali. Selama ini, ia beropini bahwa bau mencerminkan sebuah rasa, rupanya salah.


Di sisi lain, Pangeran Aedes tengah disambut oleh hampir seluruh anak bangsawan. "Wah, sudah ramai sebelum dimulai," ucap Pangeran Pertama begitu dia masuk. Mau tak mau semuanya berdiri untuk menyambut anak tertua. "Silahkan duduk, semuanya, jangan terlalu formal."


"Kakak, kami menunggu sangat lama," ungkap Putri Mawar dengan menunjukkan duri pada kelima kuku jarinya.


Sontak Pangeran Pertama dan lainnya terkejut. "Wow, tenanglah Adik! Pelayan, tuangkan minuman ke setiap gelas."


"Kita akan bersulang pertama kali atas apa?" tanya Kris sambil memegang gelasnya hati-hati.


"Atas kedatangan Pangeran Ketujuh dari Istana Apung. Sebuah kehormatan, mari bersulang!"


Semua orang yang hadir pun bersulang dengan Pangeran Aedes. Sekarang suara gelak tawa, serta sendawa memenuhi ruangan. Sayup-sayup, Pangeran Aedes mendengar obrolan dua orang di luar paviliun.


"Tuan Putri, kenapa kita bersembunyi di balik pohon. Lagi?"


Aster mendecak, "Ck! Apa aku harus ke sana? Kurasa sudah sangat terlambat. Bukankah memalukan kalau datang terlambat?" Jantungnya berdegup kencang sebab bayangan orang di dalam melebihi perkiraan.


"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Ayolah, Tuan Putri, Anda tidak mengikuti kelas pertama di hari pertama menjadi putri bangsawan. Lalu, Anda tidak mengikuti acara makan malam istimewa di hari kedua menjadi putri bangsawan. Raja dan Ratu akan memantau semua kegiatan, entah apa yang akan beliau pikirkan mendengar kursi Anda selalu kosong."


"Baiklah, baiklah. Kau sangat cerewet sekarang." Setelah itu, langkah kaki pelan dan kaku kian mendekat.


"Apa Pangeran Ketujuh dari Istana Apung begitu pendiam?" Seseorang menyikut perutnya. Pangeran Aedes tersentak, dia hanya tersenyum.


Putri Mawar menjitak kepala orang itu. "Mungkin dia belum terbiasa dengan keramaian. Setahuku Istana Apung selalu sepi. Maafkan adikku yang pintar ini."


"Terima kasih pujiannya, Kakak. Aku memang pintar. Oh, ya. Kau belum memperkenalkan diri. Mungkin kau takkan membuka mulut jika aku tak memulai lebih dulu." Dia mengulurkan tangan, "Putri Kedelapan, perwakilan jiwa teratai dari Istana Bunga."


Pangeran Aedes menjabat tangan perempuan bersurai putih dengan singkat. "Putri Teratai sangat cantik, tetapi Anda harus menunggu karena saya akan memperkenalkan diri di hadapan Yang Mulia Raja dan Ratu."


"Ah, masih besok. Terima kasih pujiannya, saya memang cantik. Iya kan, Kak Mawar?" katanya bangga sambil menangkup wajah ke penghuni di sebelahnya.


Pelayan wanita mengundang perhatian, ia berbisik kepada Pangeran Kris yang berada di depan Pangeran Aedes. "Pangeran, ada Putri Ketiga Belas di luar sepertinya ingin masuk."


Rahangnya langsung mengeras. Pangeran Kris memberi titah dengan berbisik, namun penuh tekanan. "Bukankah dia sedang sakit? Jangan buka pintu untuknya, aku akan ke sana setelah ini."