
Laki-laki bersurai pendek, tetapi berponi miring hingga menutup sebelah matanya. Meskipun gaya rambut berbeda, Aster masih bisa mengenali wajah mereka. Dia memberi hormat dan salam bungkuk. "Hormat kepada Putri Ketiga Belas. Saya Pangeran Kedua Puluh dari Negeri Tabib dan ini adik saya, Pangeran Ke-21."
"Ehm, bolehkah aku panggil kalian dengan nama depan? Kurasa itu terlalu panjang," pinta Aster merasa tidak nyaman.
Lagi-lagi mendapat senyuman miring. "Tidak!"
Pangeran Ke-21 mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong yang dia cangking ke mana pun. "Daya ingat Putri Ketiga Belas menurun drastis dikarenakan gangguan pola tidur. Saya membawa rempah-rempah yang sudah ditumbuk halus."
"Ini bisa menambah kapasitas otak sekaligus menjaga tidur Anda supaya nyenyak. Putri Ketiga Belas harus meminum secara rutin tiap malam."
Aster menerima selembar daun jati dengan serbuk campuran di atasnya. Aroma jahe dan bunga cengkeh menyeruak masuk ketika Aster menarik napas. "Terima kasih."
"Baiklah, kami akan pergi!" ujar Si Jambul. Lalu, mereka berdua hilang seketika dalam satu kedipan. Bagaikan ditelan asap.
"Makhluk apa lagi itu tadi?" tanya Aster kagum. Matanya berbinar menatap Kris yang tak jauh dari ranjang.
"Jangan banyak tanya. Kau itu sedang sakit." Kris melipat tangan di depan dada. Tatapannya sinis, berbanding terbalik dengan sorot penuh sayang pas adegan pelukan beberapa menit yang lalu.
"Orang lagi kepo!" Aster menggembungkan pipi.
Seperti Sari, Kris tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Aster. Dia menitipkan kesehatan adik angkatnya kepada pelayan pribadi itu karena dirinya harus pergi. "Jaga dirimu baik-baik," ingatnya, mencium puncak kepala Aster.
Dalam diam, Aster membeku. Apakah ini perlakuan kakak terhadap adiknya? Orang di mimpi romantis sekali, sangat romantis! Ah, sayang sekali Kris menjadi kakaknya. Akan lebih romantis kalau dia pangeran dari negeri seberang.
"Tuan Putri!" panggil Sari membuyarkan segala angan.
"Ish," Aster menoleh, "apaan sih?"
"Pangeran Kelima menyuruh saya membuatkan racikan obat ini, untuk Tuan Putri." Sari meletakkan nampan ke nakas samping ranjang. Gerakannya cepat juga cekatan. Terkadang, Aster kagum dengan sosok pelayan ini. Dia pelayan yang pintar, lebih cocok menjadi orang penting daripada sekedar pelayan.
Aster melirik isi nampan. Cangkir tradisional dari bambu, berisi cairan kuning dengan kepulan asap tipis. Entah dari mana Sari mendapat air mendidih dalam hitungan detik.
Aster meraihnya, mencium asap yang mengepul, tertegun. Baunya pahit sekali sampai-sampai hidungnya melengos. Tidak seenak sebelum diseduh. Sepertinya ia teringat sesuatu. "Bukannya diminum malam hari? Sekarang kan masih siang."
"Benar, Tuan Putri. Tetapi, ini perintah langsung dari Pangeran Kelima."
"Ini malah bahaya kalau dikonsumsi nggak pake anjuran dokter," bantahnya. "Lagian ya, tuan kamu itu Pangeran Kelima atau Putri Ketiga Belas?" tanya Aster sembari memasang senyum iblis.
"Tuan Putri adalah tuan saya!" Sari berkata lantang sambil menunduk dalam.
"Dor!" Aster menyipitkan sebelah mata, bersiap membidik jantung Sari dengan kedua tangan membentuk pistol, tanpa peluru tentunya. Sari hanya tersenyum canggung. Tingkah aneh tuannya kumat lagi.
"Sebaiknya Anda minum obat," ucapnya pelan. Prihatin.
"Aku mendengarmu, loh." Kakinya turun, memasuki sepasang sepatu klasik bermotif bunga. "Sebaiknya kita jalan sehat keliling Istana. Banyak tempat yang ingin kujejaki." Aster berdiri sumringah, membuka almari dan mengacak-acak isinya. Aster mencari kerudung yang selaras dengan gaun violetnya.
Sari memandang kain tipis berwarna pink pucat. Sangat transparan, rambut Aster masih terlihat dengan kerudung itu. Setengah muka dari hidung ke bawah tertutup layaknya memakai masker. "Kita mau ke mana, Tuan Putri? Kenapa Anda memakai kerudung?"
"Capek deh, terserah panggil apaan. Kita ke dapur yuk! Aku harus menutup wajah, di luar panas dan aku sedang sakit, bukankah tidak baik berbagi napas dengan orang sakit?"
"Baiklah, tetapi sebaiknya saya sendiri yang pergi ke dapur. Tempat itu tidak cocok Anda kunjungi. Tuan Putri cukup mengatakan ingin dibawakan apa."
"Tidak mau! Berani membantahku, kepalamu terbang." Aster melangkah cepat sambil menyeret tangan Sari.
Keempat kaki berjalan menelusuri tanah berumpun segar. Aster menyukai rumput liar ini dikarenakan ada bunga-bunga kecil tumbuh sangat cantik. Istana ini seperti taman impiannya. Oh, hampir saja ia lupa kalau ini memang di mimpi.
"Tuan Putri, barang seperti apa yang Anda cari?" tanya seorang wanita dewasa, pakaian yang sama seperti yang Sari kenakan. Hanya saja, lebih lusuh.
"Aku mencari bawang putih. Tentu saja yang warnanya putih. Di sini tidak ada bawang apa pun. Apa kalian memasak tanpa bumbu?" tanya Aster menimbulkan lipatan alis di dahi beberapa pelayan yang memang bertugas. Mereka saling menatap bergantian.
"Ah, memang tak ada di sini. Kalau begitu, kami berdua pergi dulu. Sampai jumpa Kakak-kakak!" Aster melambaikan tangan, lantas menarik lengan Sari. Membawa pelayan itu menyusuri tanah berumpun, lagi. "Di mana kamu, bawang putih?" ucapnya menunduk sedih.
"Tuan Putri, bolehkah saya tahu ciri-ciri barang yang Anda cari? Saya bisa pergi ke pasar dan membelinya."
Aster mendongak. "Pasar?"
"Benar, Tuan Putri. Pasar adalah tempat para manusia berdagang. Barang yang mereka jual sangat sangat lengkap, tetapi tidak semuanya bisa dibawa masuk ke Istana."
"Antar aku ke sana!"
Sari melepas gandengan Aster. Dia menggerak-gerakkanya telunjuk seperti guru menerangkan materi. "Tuan Putri, apakah Anda lupa? Anda tidak boleh keluar Istana tanpa adanya perintah dari Raja dan Ratu. Kalau Tuan Putri keras kepala dengan tetap pergi, sama saja Tuan Putri kabur dari aturan Istana dan kepala Tuan Putri bisa terbang karena dianggap sebagai pemberontak."
"Hisk, lambat laun aku akan mati digigit vampir," rengek Aster sambil memeluk pohon di dekatnya.
"Tuan Putri, vampir itu apa?"
"Makhluk yang makan darah."
"Nyamuk?"
Brak!
"Enyah kalian!" seru wanita muda sambil mendobrak pintu dari dalam. Pita gaunnya menari-nari terkipas angin. Tiga ekor nyamuk dengan perut buncit berwarna merah terbang terhuyung-huyung, hampir terjatuh akibat kekenyangan.
Aster berbisik, "Dia siapa?"
"Putri Kedua, perwakilan jiwa lavender," balasnya ikut berbisik.
"Kalian tidak berguna!" hardiknya seraya menuding ketiga pelayan yang tengah bersimpuh di depannya. "Cepat periksa setiap sudut halaman, pasti ada genangan air di sekitar sini."
"Tuan Putri, kami sudah memeriksa puluhan kali, tetapi memang tidak menemukan genangan yang Anda maksud," lapor salah satu dari mereka.
"Bodoh! Periksa lagi sampai ketemu!" Dia membanting pintu, membuat ketiga pelayan di sana berjengkit kaget oleh bunyi debrakan. Mereka pun berpencar mencari genangan itu, di semak-semak, bawah pohon, di balik daun kering.
"Garang sekali," gumam Aster menoleh ke arah Sari. "Kau harus bersyukur mendapat tuan sebaik aku."
"Tuan Putri, Anda harus selalu baik terhadap saya karena saya lebih tua."
Aster mendengus. "Kita baru saja saja melihat drama antara pelayan dan majikan."
"Kau!" teriak Putri Kedua di ambang pintu dengan dagu diangkat tinggi-tinggi. Sorot matanya menusuk. Satu pelayan tepat di depan pintu hanya dapat membatu.
"Apa dia melihat ke arah kita?" tanya Aster pelan.
"Tidak. Sepertinya dia melihat ke arah Tuan Putri," jawab Sari seadanya.
Ehhh?