Vampire Aedes

Vampire Aedes
17. Sebuah Nama, Hadiah Perpisahan



Kabar melesat secepat burung elang menyergap mangsa. Belum satu hari, perintah Raja telah tersebar di seluruh penjuru kota sampai pelosok desa. Seorang penjual budak, sebut saja Tuan Le, rela jauh-jauh dari pasar kota menuju desa hanya untuk menjemput gadis pilihan.


"Tuan Le," panggilnya.


"Ah, keberuntungan marga Le! Lima tahun, hahaha dua budak dari kediaman kita diangkat oleh raja!" Pria tampan berkumis tebal tertawa lantang penuh wibawa. Tuan Le terus tertawa lebar karena menjadi wali tentu akan mendapat hadiah tebusan, jumlahnya sebesar pengeluaran selama menghidupi gadis terpilih. "Benar-benar keberuntungan!"


Berbanding terbalik dengan sepasang raut wajah di sana. Keduanya menyembunyikan perasaan masing-masing. Teman sedari kecil yang disangka selamanya tak punya kasta, ternyata dalam sekejap akan tinggal di Istana.


Tuan Le menulis surat pembebasan di atas kertas kuning. Ia mengeluarkan tinta merah dari laci. "Kemari, setelah ini kau bisa pergi."


Ragu-ragu gadis itu mendekati meja. Harusnya ia bahagia kan? Anehnya tangan itu gemetar tatkala memberikan cap ibu jari di kertas bagian bawah. Ini terlalu mendadak. Sedangkan Raja mengatakan paling lambat tiga hari. "Tuan—"


"Sering-seringlah mampir di masa depan. Jangan seperti 'anak itu' yang tidak tahu balas budi!" Tuan Le bangkit dari kursi. Meninggalkan gulungan kertas yang diikat pita merah. Gadis itu tertegun. Gambaran seperti ini pernah terjadi sebelumnya.


Kemudian, ia membuka gulungan tersebut. Capnya paling menonjol di antara tulisan hitam. "Aku bebas," gumamnya.


Gadis budak di belakang, menepuk pundaknya. Membuat si empu menoleh. "Kau akan pergi?" Ia bertanya dengan muka ditekuk.


"Aku tidak ingin," jawabnya sambil menggenggam tangan temannya dengan erat. "Aku takut kemewahan Istana membuatku lupa diri dan lupa segala hal seperti ...," lidahnya kelu, "seperti .... Kau tahu kan, ini perintah Raja. Tak ada pilihan lain."


"Tolong jangan pergi," budak itu memohon. Dengan datang ke Istana, kehidupan menjadi lebih baik. Semua kebutuhan terjamin mulai dari makanan, gaun, sekolah. Dia akan hidup makmur di dalam Istana. Semua budak memimpikan hal demikian. Namun perasaan ini bukanlah iri. Hanya merasa lagi lagi ditinggalkan.


"Kau ingat perlakuan Pangeran Kelima kepada kita?"


"Mana mungkin aku lupa!" Itulah mantan budak yang baru saja dibicarakan Tuan Le. Dengan kejamnya bicara tidak ingat pada mereka berdua. Tatapan asing saat bertemu seolah bukan orang sama yang mereka kenal.


"Dia seperti orang lain," ucapnya lirih. Tidak tahu apa alasan dia pergi ke benteng Istana Bunga setiap hari, mungkin barang melihat wajah tak tahu diri. Memang sedikit benci, tapi ada keinginan lebih besar untuk bicara dengan teman masa kecilnya itu.


"Waktuku tiga hari. Apa kau punya ide?"


"Kabur."


"Apa?!" Ia menggeleng kuat. "Di Kerajaan Bunga tidak ada wilayah yang tidak dalam pantauan Raja."


"Hei, siapa yang bilang kau akan kabur ke luar kota?" bisiknya. "Aku tahu jalan pintas ke Kerajaan Apung."


Aster semakin fokus mendengar percakapan dirinya dengan teman budak di masa lalu. Ia duduk angkuh di kursi ruang tamu, sedangkan dua orang di sebelahnya asyik membicarakan siasat pelarian.


"Begini, kau tahu padang rumput adalah batas hampa?"


"Aku tahu. Bukan wilayah kerajaan manapun. Di sana tidak ada penjagaan, tidak berbahaya. Tubuhku juga akan tertutupi. Jadi kau ingin aku menuju lembah bukit, benar?"


Gadis budak mengangguk sambil tersenyum. "Aku yakin takkan ketahuan ...."


***


Kawanan kelelawar melintasi bulan purnama. Langit nila bertabur bintang. Sayang, daun ilalang bak jaring perangkap. Aster terbangun di tengah kegelapan. Hanya terdengar bunyi jangkrik.


Setelah mengetahui kilas balik atas bagaimana dirinya bisa terbangun di sini, Aster sadar kehadiran kucing ajaib benar-benar menyulitkannya. "Kenapa melamun miaw?"


"Gue mau nanya, semua masa lalu yang lo tunjukkin apa bohongan?"


"Bodoh. Selain informasi, semua ucapanku tentu untuk menyesatkanmu miaw."


"Termasuk arahan jalan ke sana?" Aster menuding lurus, namun kucing putih enggan menjawab.


Ia menghela napas. Benar, jalan itu sesat. Hatinya tetap bertekad, menyapu daun ilalang yang tak terhitung jumlahnya. Kucing tersebut semakin menganggap Aster adalah manusia paling bodoh sejagad raya. Sudah tahu salah arah masih tidak kembali ke jalan yang benar. Sungguh manusia bodoh. Kalau di ujung sana adalah jurang, kemungkinan dia melompat tanpa pikir panjang.


Kira-kira waktu telah menunjukkan fajar. Bintang venus dapat terlihat jelas karena ketinggian rumput berkurang. Kali ini pandangannya mengedar lebih luas, cukup jauh tampak pemukiman yang akrab dengan ingatan. Aster menelan ludah. Bagaimana ke sana dalam keadaan kaki mati rasa?


Ah, ada ide!


Aster menoel-noel perut kucing. "Heh, bangun!"


Merasa terganggu, kucing pulas itu menggeliatkan badan. Ekor panjangnya meraup wajah Aster dan membuat gadis itu terbersin.


"Anjir, wajah gue penuh kuman."


"Baik, baik. Berhenti mencakar kepalaku, oke? Sekarang bantu aku bertemu temanku. Kakiku benar-benar tidak sanggup lagi. Bukankah kau kucing ajaib yang bisa teleportasi?"


"Kau berpikir aku akan membantumu, miaw?"


Aster mengangkat bahu. "Why not?"


Kucing itu malas meladeni dan kembali meringkuk.


"Ish, pelit banget jadi binatang!"


***


Kamar budak bukan tempat layak disebut kamar. Kehidupannya dulu sangat memprihatinkan. Ada rasa ingin membawa gadis itu pergi ke Istana juga, tapi katanya sangat sulit keluar Istana jika sudah tercebur ke dalamnya.


Dia mengikat rambut dengan sebuah pita. Seketika mengingatkan Aster dengan kuncir sahabatnya di dunia nyata, Vanesa. Apa yang dia lakukan saat ini? Mungkin menangis sampai ingusnya menetes ke mana-mana.


Di lain waktu lain tempat, Vanesa yang memang menangis hingga tersedu-sedu di samping ranjang pasien, tiba-tiba bersin tanpa sebab. Ia menatap wajah berpeluh di sana. "Plis, lo harus cepet sadar."


Kembali ke posisi Aster sekarang, masih berdiri di ambang pintu kamar. Kakinya ragu untuk masuk. Merasa ada yang memperhatikan, gadis di depannya menoleh. Dengan mata melebar, mulutnya terbuka.


Aster memasang senyum kuda... Ia melambaikan tangan sambil berkata, "Hei."?


"Kau—" Dia menghampiri Aster dengan tatapan tak percaya. "Kenapa kembali ke sini? Bagaimana kalau Tuan melihatmu? Bagaimana, bagaimana kalau utusan Istana datang menangkapmu? Apa kau bodoh?"


"Miaw akhirnya kau sadar temanmu ini manusia bodoh."


Aster mendecak. Lalu melepas tangan gadis itu yang mengguncang kedua bahunya dengan hebat. "Hei, setelah kupikir-pikir. Ini adalah takdirku. Kau, aku, atau siapa pun takkan mampu mengubahnya. Jadi aku memutuskan menghadapinya."


"Apa? Kau sungguh akan pergi? Kau akan melupakanku seperti orang itu."


Aster menggeleng. "Aku tahu apa yang kau takutkan. Itu takkan terjadi. Aku janji, aku janji takkan melupakanmu. Dan ya, Pangeran Kelima—"


"Kau mau apa?"


"Aku ingin bicara dengan jelas padanya. Aku ingin bertanya, kenapa dia pura-pura tidak mengenal kita. Pasti ada sesuatu."


"Itu tidak perlu."


"Tapi aku benar-benar harus pergi. Cepat atau lambat, aku harus pergi. Karena ini takdir."


Gadis itu terdiam.


"Kau harus percaya padaku," bujuk Aster.


"Bukankah dia dulunya juga berjanji? Sekarang apa? Kamu juga akan meninggalkanku, melupakanku."


Aster menghembuskan napas. "Huft, begini saja. Jika aku benar-benar melupakanmu, kau harus mengatakan sesuatu yang membuatku teringat."


"Mengatakan apa? Kau tahu orang itu dulunya sudah kita katakan banyak hal sampai mulutku berbusa, mana ada dia mengingat kita?"


"Tapi aku bukan dia! Tenang saja, sampai di Istana pasti kupukul kepalanya." Aster meninju udara dan sukses mengundang tawa gadis di depannya. Aster ikut tersenyum.


"Aku punya ide, bagaimana kalau saat bertemu denganku nanti kau sebutkan namamu?"


"Budak sepertiku, tidak punya nama. Itu ...."


"Itu sebabnya aku mau memberimu sebuah nama!" potongnya. "Ini adalah nama paling sakral. Jika kehidupan istana membuatku mabuk harta, kau hanya perlu mengucap nama ini agar aku sadar. Aku juga pasti mengingatmu."


"Benarkah? Nama seperti apa yang membuatmu seyakin ini?"


"Tentu saja aku yakin! Nama itu adalah Vanesa. Mulai sekarang namamu adalah Vanesa. Kau harus ingat baik-baik yah!"


"Vanessa?" Hukum Kerajaan Bunga menetapkan bagi budak yang mengklaim sebuah nama dengan sendirinya, akan dikenai hukuman berat. Namun demi temannya itu, ia rela. "Baiklah, aku ingat."