
Awan putih berarak di langit biru yang menaungi bangunan megah di atas bukit. Dua gadis dari kejauhan terlihat memegang lutut sebab kelelahan akibat berjalan sehari penuh. Napasnya terengah-engah. Matanya mengedar ke pucuk bukit yang sepertinya akan sulit dinaiki.
"Kakak, gunakan artefak saja untuk menemui mereka berdua langsung," saran Cycy sembari menunjuk ke arah Istana. Setelah menggunakan kemampuan artefak untuk pertama kali tadi pagi, Putri Ketiga mengusap keringat yang menetes di dagunya.
Ia menggeleng pelan. "Tidak. Akan berbahaya kalau kita langsung masuk tanpa membawa surat rekomendasi. Pangeran Ketujuh mengatakan dia akan menghampiri kita kalau bau kita tercium olehnya. Hah ... padahal sudah sedekat ini."
Seekor nyamuk berdenging di telinga Cycy, membisikkan pesan dari Pangeran Ketujuh. Setelah itu nyamuk tersebut pergi menuju Istana Apung. Pangeran Ketujuh juga melakukan cara serupa saat meminta kedatangan sang putri.
"Apa yang dia katakan?"
Cycy terlihat enggan. Ia bertanya pasokan tanaman obat yang masih tersisa di cincin dimensi milik Putri Ketiga. Cincin emas yang merupakan salah satu artefak berupa ruang yang sangat luas yang digunakan untuk menyimpan benda-benda dari dunia.
"Tidak banyak, tapi mungkin akan tersisa banyak karena kita belum pernah menggunakannya."
"Pangeran Aedes menyuruh kita mengobati luka gadis lemah itu. Kakak, entah kenapa aku punya firasat kalau kita bisa saja gagal dalam misi kali ini."
"Putri Kelima, kita tidak boleh patah semangat." Putri Ketiga jarang mendengar Cycy mengucapkan kalimat panjang yang utuh. Apa pun yang Cycy katakan pasti bukan tanpa alasan.
"Datang," kata gadis cilik berambut putih sambil memeluk sisi gaun Putri Ketiga.
Si empu tersentak, lalu pusaran angin mendatanginya dari arah depan. Meliuk-liuk seperti tornado, namun tidak menyapu pohon-pohon di bawahnya. "Apa yang—Kyaaa!"
Angin berwarna abu-abu tersebut menyelimuti tubuh Putri Ketiga dan Cycy. Putri Ketiga memeluk adiknya dengan erat.
"Cycy? Oh, maksudku Putri Kelima? Bahkan Putri Ketiga juga ...," ucap Aster tak percaya.
"Uhh pusing," keluh Cycy sambil memegang kepala.
Putri Ketika terkejut melihat luka-luka di sekujur tubuh Aster. Lalu dia mendekati Aster dengan marah. "Ya Tuhan! Apa yang terjadi? Kenapa banyak sekali bekas darah?"
Aster berusaha menenangkan gadis itu. "Saya baik-baik saja. Ini tidak sakit. Selain itu, kenapa kalian ke sini dan bukannya menemui Pangeran Ketujuh?"
"Anda pikir saya ke sini atas kemauan diri sendiri? Angin aneh yang sangat mengerikan menyeret kami sampai ke tempat ini. Pasti perbuatan Pangeran Ketujuh. Lagi pula saya memang disuruh untuk mengobati Anda."
"Ah, terima kasih." Ajaib. Lukanya langsung sembuh. Cairan yang dituangkan oleh Putri Ketiga langsung meresap ke dalam kulit.
"Ini adalah ramuan obat paling langka. Kami hanya mempunyai tiga botol, jadi Anda tidak boleh terluka lagi. Mengerti?"
"Aku tidak yakin. Di sini sangat berbahaya. Aku senang kalian bisa sampai di sini dengan selamat."
"Apa itu? Bukankah Pangeran Ketujuh sangat kuat?" Putri Ketiga mengernyitkan alis. Meski ia belum tahu semua kemampuan laki-laki tersebut, tapi hanya dengan sampel kekuatan beberapa kali ia sudah percaya bahwa dia sangat kuat. "Aku tidak pernah membayangkan kalau kau akan terluka separah ini. Dia seperti akan menjaga apa pun yang dimiliki. Apa kau membuat pangeran tersinggung?"
"Takut ...," ujar Cycy. Ia gemetaran. Sama seperti waktu pertama kali Aster mendapatinya tersesat di hari upacara.
"Astaga, apa Anda baik-baik saja?" tanya Aster. Dia tampak tertekan berada di tengah tembok suram yang mengelilingi.
Putri Ketiga menghampiri, lalu memeluk anak tersebut. "Tidak apa-apa, Cycy. Kakak pasti bisa melindungimu."
"Apa adikmu baik-baik saja? Sepertinya dia ketakutan karena berpikir kamar ini berhantu. Awalnya aku juga berpikir demikian, tapi jangan takut. Itu hanya perabotan kamarnya saja yang sudah tua."
"Apa itu hantu?" tanya Putri Ketiga. "Cycy tidak takut hantu kok, sebenarnya Cycy dapat merasakan tekanan kekuatan jahat. Meski pemilik tekanan sama sekali belum menyerangnya, dia bisa terluka parah hanya sekedar mendekat ke tekanan tersebut. Aku dapat merasakannya walaupun samar. Di sini memang ada tekanan jahat berbahaya."
Aster meneguk ludah. "Aku tidak merasakan apa pun, tapi aku merasa diawasi. Rasanya tidak nyaman. Apa Cycy akan baik-baik saja?"
"Kami harus segera keluar dari Istana ini, saya khawatir tubuh Cycy tidak mampu menahan tekanan dari roh jahat," balas Putri Ketiga.
Aster mendekati tirai, lalu membukanya sedikit untuk melihat kondisi di luar. Kamar Pangeran Aedes berada di lantai lima. Dari sini ia melihat garis batas Istana dengan pemukiman warga sangat kontras. Rumput hijau, udara sejuk, serta pepohonan yang rindang, sedangkan di sini kering dan panas.
Aster menangkap bayangan dirinya duduk di depan kipas angin yang berputar. Rasanya dingin. "Saya harap saya juga bisa kembali," gumamnya sebelum bayangan tersebut menghilang.
Aster tersentak. Matanya mengerjap dua kali untuk menyadari bahwa terdapat sosok lain di bawah sana. Ia memiringkan kepala demi melihat lebih jelas seseorang yang berdiri di sudut taman. Pupil matanya menyusut ketika sosok itu menarik senyum simpul, tapi memiliki aura kematian. Aster buru-buru menutup tirai serapat mungkin.
"Ada apa?" Putri Ketiga menautkan alis.
Ia spontan menggeleng. "Aku hanya khawatir pada Pangeran Ketujuh. Baru kali ini aku melihatnya selemas itu."
Putri Ketiga melebarkan mata. "Jangan bilang dia juga terluka?"
"Mustahil," ucap Cycy sambil mengernyitkan alis. Bukan mengernyit bingung, tapi mengernyit tidak suka.
"Kau dengar? Cycy bahkan tak percaya kalau dengan kekuatan sebesar itu dia masih terluka. Antara Pangeran itu orang yang sangat licik atau bodoh, sebaiknya kau hati-hati."
Pengaturan Istana Apung memang lebih rumit daripada pengaturan di Istana Bunga. Aster telah mencoba beradaptasi di lingkungan baru yang asing. Hanya beberapa hal yang ia ketahui. Pertama tentang bagaimana setiap anggota Istana bertahan hidup mati-matian. Pengaturan pertama dapat dimulai jika seseorang keluar kamar atau (mungkin) cukup melewati garis pintu yang telah ditandai di setiap kamar. Semacam aturan mutlak bagi siapa pun yang sudah masuk ke dalam garis, maka tidak boleh diserang dan otomatis dia aman.
"Ugh, Kakak ... datang. Dia datang." Cycy mencengkeram erat gaun Putri Ketiga. Rasa sakit yang menyerang kepala serta jantung membuatnya seperti ingin meledak.
Putri Ketiga mengangkat tubuh Cycy ke dalam gendongan, lalu menatap Aster dengan berat hati. "Seperti yang Anda lihat. Kami harus pergi sekarang."
"Apa kalian akan pergi ke Negeri Tabib?
"Sayangnya tidak. Kami dilarang kembali ke Negeri Tabib sebelum memecah kasus kematian warga di sepanjang Sungai Apung."