Vampire Aedes

Vampire Aedes
52. Jangan Meniru Adikku



Air sungai memang hangat, tetapi ketika keluar ke permukaan air maka angin dingin akan langsung menyambut. Aster menggigil sembari memeluk tubuhnya yang sudah berbalut pakaian berbahan tebal. Ia bersyukur karena tidak ada hiasan bulu di bagian kerah.


Setelah berpakaian, Aster bergegas menuju tempat Pangeran Ketujuh. Namun, langkahnya terhenti saat menyadari bahwa terdapat dua bayangan dengan seorang berambut panjang. Dari jarak yang lumayan dekat, Aster tahu perawakan bayangan asing tersebut memiliki rambut panjang seperti perempuan.


Lagi-lagi suara tawa itu terdengar, membuat Aster merinding. Ia lumayan takut jika menyangkut hantu penunggu, tetapi suara tawa barusan kembali mengingatkannya pada Putri Ketujuh yang mana pantas ditakuti semua orang. Dia juga tertawa persis seperti pertama kali bertemu. Kaki Aster memaku, tak berani mendekat lebih jauh.


Haruskah ia kembali ke mata air hangat? Ya, kalau dipikir-pikir sebaiknya membiarkan mereka berbincang sedikit lama. Perlahan kakinya mundur dan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. satu langkah, dua langkah. Tiba-tiba punggungnya menabrak sesuatu.


"Kau mau ke mana?" tanya Pangeran Ketujuh sambil mengalungkan syal hitam. Ah, sekarang rasanya benar-benar hangat.


Aster menoleh ke arah Pangeran, lalu menoleh lagi ke arah pohon bambu. Kedua bayangan tadi menghilang. Namun, yang berdiri di belakangnya sekarang hanya Pangeran Ketujuh. "Aku mau cuci kaki sebentar."


Ia lalu menunduk, melirik kaki Aster yang berjalan dengan sepatu lengkap beserta kaus kaki. Kebohongan gadis itu terlihat jelas karena dia mengangkat roknya agak tinggi. "Kita kembali saja."


Kemudian Pangeran mengangkat tubuh Aster tanpa aba-aba. "Kyaa!"


Ini kedua kalinya dia merasakan digendong depan oleh Pangeran Ketujuh dan tetap saja membuatnya terkejut. Aster masih belum terbiasa. "Sa-saya bisa jalan sendiri."


"Kakak!" seru seseorang dari arah atas. Aster mendongak seketika. Ia melihat Putri Ketujuh sedang melayang. "Kenapa buru-buru sekali? Aku juga penasaran bagaimana wajah gadis yang kau pilih, jadi aku ingin bertemu dengannya sebentar. Hehe, ternyata dia sangat manis ya."


Astaga ...! Aster meneguk saliva susah. Putri Ketujuh seolah berada dalam perlindungan bulan yang bersinar terang. Sebuah kilatan tajam muncul dari iris merahnya yang tak kalah bercahaya. Aster langsung mennudukkan kepala.


"Bukankah sudah kukatakan untuk tidak menyentuhnya?"


"Hehe, salah siapa dia manis begini! Aku hanya mencium aromanya, tapi jika Kakak tidak menjaganya dengan baik, jangan salahkan adikmu ini mencuri makanan orang lain." Putri Ketujuh meniup telinga Aster membuat gadis tersebut bergidik. Sejak kapan dia sedekat ini?


"Ugh," Aster mengeluh tidak nyaman. Tangannya mencengkeram erat kerah Pangeran Ketujuh.


Lalu, diam-diam Pangeran Ketujuh menggunakan kuasanya untuk menekan tubuh Putri sampai punggungnya menabrak batang pohon. Gadis itu terbatuk-batuk dengan darah segar keluar dari mulutnya.


"Hiks, Kakak ... kenapa kau tega melakukan hal ini?" tanya Putri sambil memegang perut yang terasa habis ditonjok. Matanya berubah dari merah terang menjadi cokelat tua.


Pangeran Ketujuh bergeming menunggu beberapa saat demi memastikan apakah roh yang berada di tubuh itu sekarang adalah adiknya ataukah sang Putri. Namun, mendengar tawa menyebalkan itu keluar, maka sudah dipastikan Putri Ketujuh ingin mempermainkannya lagi.


Karena enggan meladeni sang Putri, Pangeran pun membawa Aster pergi dengan kemampuan angin. Bayangan mereka menghilang begitu saja dari pandangan Putri Ketujuh. Roh berusia ratusan tahun yang mendiami tubuh gadis remaja tersebut mengeluarkan tawa nyaring.


Di sisi lain, Aster merasakan isi perutnya bergejolak usai Pangeran Ketujuh mengirimnya kembali ke kamar. Ia tidak makan sebanyak yang diperlukan sampai mulut yang mual itu hanya memuntahkan angin. Tapi syukurlah, jika yang dimuntahkan berupa makanan, Aster tidak tahu lagi bagian paling strategis dari kamar ini yang bisa digunakan untuk membuang cairan seperti itu.


Aster memegang pinggiran ranjang dengan sekuat tenaga. Wajahnya terlihat pucat pasi. "Demi Pini pin, inilah definisi makan angin."


Kepalanya terangkat, melirik setiap sudut ruangan. Aster tidak menemukan pelaku yang mengirimnya ke sini. Tiba-tiba raut wajahnya berubah secara signifikan. Pipi Aster menjadi semakin merah sebab menahan amarah.


"Berani-beraninya, ya! Abis bikin orang sakit malah ditinggal. Dasar ban—huekk!" Sial, Aster benci tekanan asing dalam perutnya. "Pangeran bangs—HUEEK!"


Apa ini? Bahkan semesta melarangnya untuk mengata-ngatai orang lain.


Pangeran Aedes sedang menenangkan pikiran di halaman Istana. Ia mengagumi bunga-bunga merah yang tumbuh segar di atas tanah yang tandus ini. Duri kecil pada ruas batang, batang tanaman merambat yang saling mengikat satu sama lain, dan merah kelopaknya tampak lembut saat sinar bulan menyorotnya. Serba aneh.


Bunga-bunga itu adalah cerminan dari si pembuat. Akan tetapi, Aster sama sekali tidak mirip dengan jiwa 'asli' yang dia wakilkan. Dia memasukkan sel tumbuhan lain yang mana tidak semua perwakilan dapat melakukan hal tersebut.


Katanya, saat tanaman yang dibuat oleh perwakilan jiwa dirusak orang lain, perwakilan itu akan merasakan sakit yang luar biasa. Pangeran Aedes memandang jauh ke arah jendela kamarnya, di mana bayangan Aster terlihat sangat kecil. Lalu ia genggam erat bunga itu sampai tangannya mengeluarkan darah.


Melalui telinga Pangeran yang tajam, tertangkap bunyi benda jatuh dari lantai kamar atas. Bayangan Aster tidak nampak karena gadis itu tengah menahan nyeri di ulu hatinya. Dia tak sanggup menjerit, merangkak perlahan demi mencapai tepi kasur.


"Sa-kit, banget. Aawh!" Tunggu, tidak mungkin ada siklus menstruasi di dunia ini kan?


Pangeran Aedes mendengar pergerakan halus. Ia menoleh cepat pada tangkai berduri kecil yang mulai menumbuhkan kuncup baru. Ia mengernyit sebab bunga aster di depannya kembali mekar.


Tanaman yang kembali mekar adalah bukti pertahanan jiwa terhadap serangan yang berasal dari luar. Artinya, tipe kekuatan Aster malah semakin kuat apabila di bawah tekanan.


"Meow!" Tiba-tiba seekor kucing mencakar-cakar sepatunya. Kepala mungilnya mendusel kaki Pangeran Ketujuh. Bulu putih yang lebat, ekor panjang, dan kaki kecil yang pendek namun tetap lincah.


"Meow!" Dia mengeong lagi. Postur tubuhnya saat mendongak ke arah Pangeran Ketujuh tampak imut. Pangeran Ketujuh pun mengulurkan tangan ke arah hewan menggemaskan tersebut. Dalam satu kedipan, kucing putih berada di cengkeraman tangan Pangeran.


Ditatapnya kucing itu dengan intens. Pangeran Ketujuh sengaja melepasnya dari kurungan. Ia masih mencari tahu alasan Aster memanggil kucing ini sebagai Kucing Ajaib. Dan ajaibnya, makhluk sekecil ini dapat bertahan di wilayah Istana Apung. Seharusnya seluruh penghuni sudah mendengar suara kucing yang berisik, kemudian mereka menyiksanya, mencabik, menguliti, atau bahkan mematahkan tulangnya sampai mati. Namun, kucing putih itu bebas berkeliaran di halaman Istana dengan anggota tubuh yang lengkap.


Pangeran Ketujuh mendekatkan wajah ke leher kucing putih. Lelaki berhidung mancung tersebut mengendus-endus aroma yang tertinggal pada tubuh kucing. Detik selanjutnya, dahi Pangeran Ketujuh mengernyit. Anehnya, ia hanya menemukan dua aroma, yaitu aroma milik Aster dan milik Pangeran Pertama.