
Belum ada satu menit. Pangeran Aedes melepas gigitannya. Cairan merah segar kini mengotori area bibir, tapi membuatnya terlihat semakin berkarisma. Bagi Aster sendiri penampilan lelaki itu menyerupai harimau atau hewan buas lainnya.
Aster terpaku. Ia terus menatap, meski tengkuk lehernya merinding. Pangeran Aedes terheran akan wajah tanpa ekspresi di depannya. "Tidak sakit?"
Gadis pucat tersebut mulai merespon. Kepalanya menggeleng. Aster menyadari satu hal. Hal itu mungkin terjadi sejak hari penobatan di mana tubuhnya pelan-pelan mati rasa. Dia tidak merasa sakit ketika jatuh ataupun terluka seperti sekarang.
Gigitan Pangeran Aedes memang tidak terasa, tapi sekarang Aster sedikit pusing dan tubuh sangat lemah. Ia menutup mata begitu gelap merayap.
"As—!" Pangeran Kelima hendak menghampiri gadis itu ke podium saat Pangeran Aedes menangkap Aster yang tak sadarkan diri. Akan tetapi, tanaman berbulu tiba-tiba mencuat dari bawah permukaan air dan menghalangi jalan.
"Chrysanthemum, duduk!" titah Pangeran Pertama.
Pangeran Kelima tidak mendengarkan. Pandangannya mencuram ke arah tamu kehormatan. Padahal dilihat dari kemampuan mengendalikan angin yang dimiliki Pangeran Ketujuh, tidak ada di antara mereka yang sanggup melawan.
Batang tanaman tersebut mengelilingi Pangeran Kelima, membuat si empu meringis ngeri sebab bulu tanaman nyaris mengenai kulit.
"Kakak Kelima, aku sarankan kau duduk. Menyentuh tanaman Pangeran Pertama bisa membakar habis tubuhmu dalam sedetik." Peringatan bukan main-main dari Putri Teratai. Tatapannya tak kalah tajam.
"Baru kali ini kudengar Putri Kedelapan memuji. Apa kau sudah jatuh hati padaku?" tanya Pangeran diikuti kekehan.
"Apa, mana mungkin! Aku hanya tidak mau kalau harus menunggu pertemuan Kakak Kelima setahun ke depan."
"Adik Kelima," Bahkan Putri Mawar turut memberi nasihat. "Aku tahu kau sangat peduli pada anak itu. Tapi jangan lupa hubungan seperti apa Istana Bunga bagi Istana Apung."
Sudah menjadi kewajiban Plantae melayani Animalia. Aster ... tidak.
Putri Mawar tidak peduli apa yang terjadi pada Putri Ketigabelas. Namun apabila melibatkan Pangeran Kelima, dia tak bisa membiarkan perwakilan jiwa baru tersebut menghambat kemajuan "Lima Teratas".
Pelipis Pangeran Kelima berkeringat. Ia terpaksa mematuhi ucapan Pangeran Pertama. Setelahnya, perlahan batang tanaman mengerikan tersebut bergerak turun hingga tak terlihat. Pangeran Kelima terduduk dengan napas lega sekaligus gusar.
Sementara itu, Pangeran Ketiga masih mempertahankan senyum khasnya. Dia memperhatikan sambutan Pangeran Ketujuh seraya mengelus janggutnya. Keberadaan Pangeran Ketiga di tengah-tengah mereka tidak memberi pengaruh, justru Pangeran Pertama mendelikkan mata penuh curiga.
"Saya tidak ingin berbasa-basi. Saya, Pangeran Ketujuh dari Istana Apung, merupakan perwakilan jiwa Aedes Aegypti." Pangeran Ketujuh menggantung kalimat demi melihat ekspresi apa yang akan mereka tunjukkan. Serentak wajah mereka kaku. Itu sangat menyenangkan. Salah satu sudut bibirnya terangkat.
"... dan kedatangan saya ke sini adalah mencari Putri Tumbal," sambungnya sambil memandangi wajah pucat pasi di pelukan.
***
Lapar! Hanya kata itu yang pertama kali terbesit kala sepasang mata jernih terbuka. Bibirnya kering. Aster menoleh ke segala penjuru ruang, mencari celah pintu atau atap yang dapat memberitahu waktu sekarang.
Di luar tampak gelap. Tidak ada siapa pun bersamanya di ruang asing namun mewah ini. Aster menuruni ranjang, kemudian berjalan keluar tanpa alas kaki.
Ini di mana? Pikirnya, setelah berkeliling menyusuri lorong berlika-liku dan belum menemukan pintu keluar. Layaknya labirin tanpa ujung. Setiap pintu terus menghantarkannya ke ruang pertama saat dia terbangun.
Aster menunduk sebab mendengar bunyi perutnya sendiri. Saat itu ia mendapati gaun ungu berenda merah muda. Apa ini mimpi? Sebuah tawa lolos begitu saja. Mana mungkin mimpi di dalam mimpi.
"Aster!" Suara itu .... Pangeran Pertama?
"Kenapa Pangeran Pertama ada di sini?" tanya Aster dengan nada sedikit kesal. Padahal ia bersyukur tidak terjebak sendirian, setidaknya ada seseorang yang menemani.
Gadis itu menyipitkan mata. Kini bayangan Pangeran Pertama menjadi berlipat ganda. "Eh? Tentu saja Pangeran Pertama. Btw suaraku dah balik nih! Wlee," ejeknya sambil menjulurkan lidah.
Pangeran Kelima mengembuskan napas. Efek samping gigitan pertama yaitu demam. Sedangkan demam bisa menyebabkan halusinasi. Jiwa baru aster sekarang masih jauh dari kata sempurna. Aster lebih condong ke sifat manusianya yang dapat sakit kapan saja. Tubuhnya terlalu lemah.
Pangeran Kelima mengernyit tatkala gadis itu menunduk dalam sembari mengurut pangkal hidung. "Kepalamu pusing kan?"
Aster sontak mengangkat kepala. Menatap Pangeran Kelima dengan pupil mengecil. "Kris?"
Terkadang Kakak Kelima, terkadang Kris. Pangeran Kelima tidak menyukai seseorang yang sembarangan memanggilnya demikian. "Kau sudah sadar?"
"Ah? Iya ...." Aster memutar posisi untuk memastikan area sekeliling. Tempat paling harum dengan dinding-dinding kokoh berhiaskan bunga asli. Rumput hijau segar dan bunga krisan. Paviliun Utama no.5 ya, "kenapa aku di sini?"
"Kau tidak ingat? Kau pingsan."
Aster menggeleng kuat berusaha mengusir pusing yang tersisa. Bayangan saat Pangeran Aedes menggigit tangannya tiba-tiba melintas. Ia mengangkat tangan kiri untuk memastikan apakah lukanya membekas. Sebuah sapu tangan hitam mengikat area gigitan tersebut dengan sempurna. Aster pun melepasnya.
Meski dia sudah mengira bahwa gigitan Pangeran Aedes bisa saja membekas, tidak pernah terbayang akan semengerikan ini. Jumlahnya empat lubang, dua di punggung tangan dua lagi di telapak tangan. "Haa ...." Aster lalu meminta bantuan Pangeran Kelima agar mengikatkannya kembali.
"Kau akan dikirim ke Istana Apung," ucap Pangeran yang terbesit penolakan. "Demi kedamaian dan keseimbangan alam, kau harus tinggal di sana ... selamanya. Katakan saja padaku kalau kau tidak mau."
"Se-seumur hidup?"
"Ya. Katakan saja kalau tidak mau. Aku akan membujuk Yang Mulia Raja dan Ratu. Mereka pasti mau mendengarkanku."
Mendengarkan? Kenapa? Tentu saja karena Kris adalah perwakilan jiwa kesayangan Raja dan Ratu. Aster sedikit iri. Tadinya ia berpikir telah dibuang, tapi cepat atau lambat takdir tetap mendorongnya ke sisi Pangeran Aedes. Itu adalah misi. Alurnya persis di mimpi meski banyak detail yang berubah.
"Aku akan pergi," putusnya.
"Kau yakin? Kau akan tinggal di sana seumur hidupmu. Bahkan kau belum pernah tahu bagaimana tempat yang akan kau datangi."
Aster sudah terbiasa.
"Emm, jika itu demi kedamaian dan keseimbangan alam. Mau tidak mau aku harus pergi kan?"
Pangeran Kelima terdiam sejenak. Lalu, tersenyum lebar. "Itu benar. Adikku yang manis ini ternyata memikirkan hal besar."
"A-apa? Biasa aja." Gadis itu segera menoleh ke arah lain ketika merasakan pipinya semakin panas. Tanpa sengaja, dia menemukan bunga krisan di dekat kaki telanjangnya yang mengering. Itu layu dan berubah menjadi abu.
"Kak, aneh sekali!" Aster berjongkok selagi tangan satunya menyelipkan anak rambut ke daun telinga. Ia mengamati perubahan tersebut pada bunga-bunga lain yang serupa. Seluruh bunga di halaman itu menjadi kering.
Aster mendongak, membalas tatapan Pangeran Kelima dengan tanda tanya. "Kenapa semua bunga di sini pada layu?"
"Sebentar lagi musim kemarau," jawabnya.
Benarkah? Tapi, ini kan malam hari? Selain itu, mengering tiba-tiba. Bunga aster di halamannya juga pernah mengalami hal serupa. Kira-kira kenapa, ya?