
"Ke mana mereka?" monolog Aster. Tanaman dan pemiliknya sama-sama terhubung, itu sebabnya Aster juga dapat merasakan bahwa di dalam lilitan tersebut tidak ada apa pun alias kosong.
Lalu Aster mengembuskan napas selagi sulur-sulur di depannya mulai melonggar. Terdengar bunyi kepakan sayap serta larva yang berjatuhan. Ternyata mereka bukan menghilang, tetapi mengubah wujud ke bentuk lebih kecil.
"Hii~" Aster menggigit jari jijik.
"Aku tidak akan susah payah bertahan hidup kalau mereka dapat dibunuh semudah itu," ucap Pangeran Ketujuh.
Sulur-sulur yang ganas menunduk lesu seolah merasakan emosi majikannya. Kemudian seorang gadis berbalut gaun putih bersih turun dari lubang hasil mahakarya Aster, membuat beberapa sulur bergetar ketakutan.
Aster mengernyit, mengikuti arah yang ditunjuk-tunjuk oleh ujung sulur tersebut. Seketika mata Aster membulat sempurna. "Kucing Ajaib!" teriaknya sambil berlari kecil ke gadis jelmaan tersebut.
"Dasar bodoh!" umpat gadis itu setelah tiba di hadapan Aster.
Wajah Aster yang baru semringah selama dua detik sontak memasang ekspresi cemberut.
"Hei, puji kek! Barusan tadi keren banget loh! Lo nggak liat apa tadi tuh kekuatan gue kayak bermutasi gitu," gerutunya kesal.
Gadis di depannya terdiam. Ia memang mengakui kemampuan jiwa Aster yang cukup unik. Memanipulasi sel tanaman? Baru kali ini melihat ada kemampuan seperti itu. Apakah karena dia gadis khusus yang dipilih Papa? Batinnya seraya tersenyum miring ke arah Pangeran Ketujuh.
Pangeran Ketujuh hanya membalas senyum miring tersebut dengan wajah dingin. Menyadari suasana sangat canggung, Aster memecah keheningan tersebut dengan menanyakan bagaimana Kucing Ajaib bisa sampai ke sini.
"Memangnya apa lagi selain kamu yang terus membuat masalah! Hei Bodoh, dengar baik-baik ya! Meskipun kamu gagal dalam menjalankan misi dari Papa dan mati sia-sia, setidaknya kamu harus menemukan kalung ajaibku dari tangan Pangeran Pertama."
"Ah, jadi Anda memutuskan untuk membocorkan informasi sepenting ini, ya?" tanya Aster tak percaya. "Ternyata pencurinya Pangeran Pertama, ya? Memang paling malas kalau berurusan dengan laki-laki seperti dia."
"Karena kau bodoh!" ejeknya lagi. "Sudahlah, aku harus pergi. Keluar dalam wujud seperti ini tanpa kalunng ajaib sangat melelahkan.
"Ehh, tunggu, Apakah hanya itu? Mungkin ada informasi lain yang ingin kamu sampaikan?" tanyanya ragu.
Gadis tersebut menaikkan sebelah alis. " Tidak ada," jawabnya singkat kemudian memalingkan diri.
Aster hendak menanyakan hal lain, tetapi sosok tak bersahabat itu kini mengubah wujudnya ke bentuk kucing putih.
"Miaw!"
Tentu saja, tanpa kalung ajaib, kucing adalah kucing yang hanya bisa mengeong. Aster bersiap diri untuk mengeluarkan ingus dari hidungnya. Oh, tidak. Dia akan bersin karena alergi.
"Hachiu!"
"Ck!" decak Pangeran Ketujuh sebab Aster menyemprotkan titik-titik virus ke wajahnya.
Sedangkan Aster hanya menyengir kuda. "Maaf, Pangeran. saya tidak tahu kalau Anda mengikuti saya di belakang," jelasnya merasa agak bersalah.
Kemudian pandangan Aster terpaku pada luka-luka di tubuh Pangeran Ketujuh. Bukankah itu sakit? Pangeran Ketujuh tidak memiliki kelaian seperti Aster, yakni mati rasa terhadap rasa sakit. Ia harap dapat mengobati semua luka-luka Pangeran. Tanpa sadar tangan Aster terulur ke arah lengan Pangeran Ketujuh yang terkena luka baret. Seketika dari ujung jarinya mengeluarkan cairan berwarna kuning keemasan. Aster tidak terlalu memerhatikan.
Akan tetapi, Pangeran Ketujuh merasakan perih luar biasa di mana Aster menyemprotkan cairan tersebut. Ia meringis kesakitan. "Argh!"
Pangeran Ketujuh sedikit membungkuk sambil memegangi sekitar area luka. Ia bertanya dengan nada marah, "Apa yang kau lakukan?!"
Dia bahkan belum menyentuh kulit Pangeran Ketujuh barang seinci pun!
Pangeran Ketujuh terdiam karena dilihat dari air muka Aster, gadis itu menunjukkan bahwa dirinya tidak berbohong. Perlahan matanya mengamati luka baret yang semula mengucurkan tetes-tetes darah. Ia cukup terkejut melihat cairan aneh itu bereaksi terhadap luka. Kulitnya perlahan menutup seolah tidak pernah ada seseorang yang menyerang.
"Wah, Anda benar-benar vampir!" seru Aster sambil membungkam mulut dengan kedua telapak tangan.
Selagi Aster belum menyadari kemampuan barunya tersebut, Pangeran Ketujuh lekas menarik pergelangan tangan Aster menjauhi kekacauan. Dalam sekedip mata, mereka berdua telah berada di dalam kamar. Aster segera menleh ke tirai jendela yang sedikit tersingkap. Ternyata hari sudah mulai pagi. Apakah artinya mereka telah bertahan hidup seharian?
Aster memegang dadanya sendiri karena perasaan mendebarkan ini sangatlah baru pertama kali ia rasakan.
"Aster," panggil Pangeran Ketujuh.
Si empu reflek tersenyum ke sumber suara. Namun, betapa terkejutnya ia mendapati laki-laki di depannya memegangi tangannya sendiri. Diam-diam Pangeran Ketujuh mengiris telapak tangan menggunakan pisau perak. Bahan perak membuat luka sulit untuk disembuhkan, tetapi dirinya berani mengambil resiko hanya demi membuktikan kekuatan baru milik Aster.
"Bisakah kau sembuhkan luka yang ini?" tanya Pangeran Ketujuh dengan wajah datar.
Aster menggeleng tak percaya. "A-apa Anda sudah gila?"
Aster mundur beberpa langkah. Aliran darah hampir menyentuh ujung kakinya yang tidak memakai alas kaki. Lantai terasa begitu dingin, terlebih angin sepoi-sepoi menerobos dari celah jendela. gadis itu memeluk tubuhnya sendiri di tengah aura Pangeran Ketujuh yang seakan menuntut kegunaan Aster.
"Baiklah," ucap Pangeran Ketujuh mengerti.
Laki-laki itu membuka kancing kerah baju yang ia kenakan, membuat Aster meneguk ludah. Seharusnya tindakan tersebut mengundang semangat kaum perempuan, anehnya Aster hanya merasa ketakutan. Firasat buruknya yang selalu benar terus mengatakan bahwa Pangeran Ketujuh akan melakukan hal berbahaya.
Aster menggigit bibir bawahnya saat Pangeran Ketujuh mengarahkan pisau perak ke leher. "Semoga ini nggak seperti yang gue pikirin," gumam Aster pelan.
Mendengar Aster mencicit cemas, menciptakan seringai kecil di wajah Pangeran Ketujuh. Aster juga melihat tatapan serta senyum misterius tersebut.
Srasssh! Cairan merah menyiprat ke udara. Aster memebelalakan mata saat Pangeran Ketujuh mendekat ke arahnya sembari menahan luka sayat agar darah yang mengucur tidak terlalu banyak. Sebenarnya Aster cukup penasaran apakah seorang vampir dapat mengalami kekurangan darah.
"Apa Anda baik-baik saja?" tanya Aster seraya mundur beberapa langkah,"
"Aku akan benar-benar mati kalau kau terus menghindariku."
"Astaga." Aster meraup wajahnya frustrasi. "Anda sangat mengerikan sekarang, tapi apa yang bisa saya bantu lakukan? Apa Anda akan mati kalau saya melarikan diri?"
Pangeran Ketujuh memandang dengan siinis. "Tentu saja, tapi sebelum itu kaulah yang akan mati lebih dulu."
Aster meneguk ludah. Andaikan di sini ada sejenis obat herbal yang berasal dari tanaman yodium. Pasti pendarahan di leher Pangeran Ketujuh dapat teratasi. Suara eluhan membuat Aster mendongak ke depan. Hah?
Matanya melebar tatkala tanaman raksasa muncul dalam bentuk tidak biasa, kemudian tanaman tersebut mendekati Pangeran Ketujuh serta menyempotkan getah berwarna keemasan melalui daun menjarinya. Usai menyemprotkan getah, tanaman tadi mengecil dan menghilang tanpa jejak.
"Yodium?" tanya Aster heran. "Ah, tidak, tidak. Bukankah kelopak bunganya jelas-jelas bunga aster?" Gadis itu menggeleng tak percaya. Sedangkan Pangeran Ketujuh, ia terpaku pada cermin di samping tubuhnya yang memperlihatkan bayangan tubuh seorang laki-laki dengan luka sayatan yang menutup sempurna.
"Aku salah. Ternyata kekuatanmu sangat berguna, ya."