Vampire Aedes

Vampire Aedes
43. Digigit (Lagi)



"Anda masih kuat berteriak sekencang ini ya. Gendang telinga saya rasanya hampir pecah."


"Sakit ...," rengek Cycy sambil mengorek kuping. Anak itu tadinya tidur pulas di samping Pangeran Ketujuh. Dia sampai terbangun karena mendengar lengkingan Aster.


Putri Ketiga segera menghampiri adiknya. "Sini, Kakak lihat." Lalu, ia meniup telinga Cycy. Sekarang Cycy lebih tenang.


Aster merasa bersalah. "Maaf, tapi Putri Ketiga bohong kan? Masa Anda menaruh jasad pelayan saya di tengah jalan?"


Bukankah tindakan tanpa moral seperti ini bertentangan dengan hati nurani? Aster tidak percaya Putri Ketiga melakukannya. Walau begitu, dia adalah tabib yang datang jauh-jauh untuk menyelidiki kasus kematian di Negeri Apung yang disebabkan oleh wabah penyakit.


"Itu idenya Pangeran Ketujuh." Putri Ketiga melirik laki-laki di sampingnya.


Aster mengepalkan tangan. "Lagi-lagi Anda!"


"Putri, ide Pangeran tidak seburuk itu. Pelayan lain masih bisa menemukannya dan memang tidak ada yang bisa kami lakukan. Seharusnya Putri Ketigabelas paling tahu dampak buruk yang akan kami tanggung kalau terlibat dengan kejahatan Pangeran Pertama."


"Kerajaan kalian kan lebih hebat. Posisi Anda juga lebih tinggi dari siapa pun yang ada di sini. Apa yang Anda takuti?"


Pangeran Ketujuh membuka suara sehingga sang putri terpaksa diam. "Putri Ketiga, tidak usah menjelaskan." Matanya beralih menatap Aster. "Kau bahkan takkan paham meski sudah diterangkan berkali-kali."


Gadis itu mengernyit. "Apa, kenapa?"


"Karena kau bodoh." Pangeran Ketujuh mengatakan hal yang sering diperdengarkan oleh Kucing Ajaib, jadi Aster tidak merasa marah. Ia memutar matanya bosan. "Aku tanya sekali lagi, apa untungnya mengurus seorang pelayan? Apa dia bisa membantumu naik tingkat? Dia bahkan sudah mati. Apakah orang mati bisa melakukan sesuatu untukmu?"


(Naik tingkat \= naik posisi/kedudukan)


Pangeran Aedes beranjak dari sofa, mendekati Aster lalu mengurungnya di antara kedua lengan. Pangeran menatap manik berjarak lima senti dengan tajam. "Kau tahu? Aku sangat membenci hal-hal yang merepotkan. Aku juga punya kepentingan, itu sebabnya aku datang. Pikirkan baik-baik betapa terhambatnya aku karena omong kosongmu!"


Gadis itu tegang. Terlebih menyadari perubahan warna iris Pangeran Aedes dari yang tadinya hitam menjadi merah pekat. Ia yang merasa terintimidasi ingin bergerak mundur, namun tepat di belakangnya hanyalah kepala ranjang. Tidak ada ruang untuk kabur.


"Apa yang ingin Anda lakukan?" tanya Aster sambil berusaha mendorong dada Pangeran. Bibirnya mencebik saat tubuh remaja yang lebih dewasa itu tetap bergeming. "Jangan gigit saya!"


Entah sejak kapan Pangeran Aedes telah naik di atasnya. Sambil menunjukkan sebelah gigi taring yang menonjol, dia memiringkan kepala Aster hingga leher gadis itu terpampang. "Aku memang berniat menggigitmu," bisiknya.


Tubuh Aster kaku, tak bisa digerakkan. Cengkeraman pada kepalanya seolah Pangeran hendak menghancurkan isi tengkorak orang lain. Aster hanya bisa merasakan sensasi dingin ketika taring itu menembus kulit, kemudian darahnya tersedot keluar. Aster dengan pasrah memejamkan mata.


Di ruang ini terdengar bunyi seseorang yang seperti sedang menyeruput secangkir kopi atau teh panas. Aster teringat bagaimana orang-orang memakan mi kuah instan. Kira-kira seperti itu suaranya. Putri Ketiga seakan menyaksikan anak yang kehausan di wilayah kekeringan ketika bertemu genangan air.


Usai menghisap darah Aster, Pangeran Aedes bangkit dari tubuh gadis tersebut. Ia mengusap area bibir menggunakan lengan sambil sesekali menjilat sudut bibirnya.


"Itu karena dia sangat manis." Jawaban Pangeran Aedes membingungkan Putri Ketiga. "Juga terlalu berisik di malam hari. Dia akan bangun besok pagi, maka anggap saja istirahat lebih awal," lanjutnya seraya menutup tubuh Aster dengan selimut.


Putri Ketiga terdiam sejenak. "Tapi, Pangeran. Tempat tidur itu milik saya."


"Kau bisa tidur di tempatku." Pangeran Aedes melirik ke belakang. Sebuah dinding yang sudah dihancurkan menjadi jalan pintas agar kedua kamar ini saling terhubung. Putri Ketiga tersenyum canggung. Untung saja paviliun ini tidak ikut roboh.


Namun, kondisi kamar Pangeran Aedes sangatlah berbanding terbalik dengan kamar Putri Ketiga dan Cycy. Meski sudah terhubung pun seolah masih ada garis pembatas di antara dinding tersebut. Kamar Pangeran terlihat suram. Tidak ada cahaya lilin. Sedangkan kamar yang ditempati Aster sekarang begitu terang.


Putri Ketiga mengangkat Cycy ke dalam gendongannya. "Baiklah. Saya akan pindah sekarang. Apa setelah ini Anda akan menghidupkan lilin terapi untuk tidur?"


"Tidak."


Lilin terapi untuk tidur. Lilin yang menguarkan aroma wangi bunga ketika dinyalakan. Cahayanya tidak seterang lilin biasa karena dipakai tidur. Jika mau tidur dan menyalakan lilin terapi ini, seseorang bisa terlelap dengan nyaman.


Pangeran Aedes melihat banyak lilin berwarna-warni di nakas samping tempat tidur. Setiap warna akan menghasilkan aroma yang khas dan berbeda dari warna lilin yang lainnya. Akan tetapi, pada dasarnya Pangeran Aedes tidak pernah tidur. Ia juga tidak menyukai aroma bunga yang tercampur. Meski kadar aroma lavendernya sedikit, kalau dinyalakan bisa membuat Pangeran Aedes pusing.


Sementara itu, Putri Ketiga mengira bahwa Pangeran Aedes enggan menyalakan lilin karena merepotkan. "Jangan-jangan Anda berpikir kalau lilin terapi itu hal yang merepotkan? Saya bisa membantu menyalakannya."


"Tidak, kau tidak perlu. Cepatlah pergi dari sini karena aku sangat lelah."


Setiap katanya penuh tekanan, membuat Putri Ketiga meneguk saliva susah payah. Ia menunduk sekilas. "Ugh, kalau begitu, selamat malam Pangeran."


"Hm."


Aster bertanya-tanya apa yang Putri Ketiga takutkan. Inilah yang Putri Ketiga takuti walaupun posisi Kerajaan Tabib lebih tinggi dari Kerajaan Bunga dan Kerajaan Apung. Yaitu aturan yang berkaitan dengan nomor kursi/kedudukan.


Di Istana Apung tidak mengenal sistem pengubahan karena nomornya diurutkan berdasarkan urutan kedatangan perwakilan jiwa. Mereka bisa meningkatkan reputasi, kemampuan, dan kehormatan, namun selamanya akan tetap menjadi posisi pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Seperti Pangeran Ketujuh dari Istana Apung yang akan tetap menempati posisi ketujuh.


Sedangkan Istana Bunga justru bisa berubah ke posisi yang lebih tinggi atau lebih rendah. Mereka mengurutkan posisi dengan sistem peringkat. Semakin sedikit angkanya, semakin tinggi kedudukannya. Bahkan setiap naik peringkat akan secara otomatis mendapat 'jatah' kemampuan masing-masing. Bisa dibayangkan seberapa mengerikannya kemampuan yang disembunyikan Pangeran Pertama.


Lalu, bagaimana dengan Kerajaan Tabib?


Itu adalah kebalikan dari sistem peringkat yang selama ini dilakukan Istana Bunga. Aster selalu salah menyangka kalau Putri Ketiga dan Cycy adalah posisi lima teratas. Karena Istana Tabib memberikan peringkat tertinggi kepada para perwakilan jiwa dengan angka terbanyak.


Jadi, semakin sedikit angkanya semakin rendah pula kedudukannya. Dan hanya segelintir orang yang tahu akan hal itu.