
Vanesa melengok ke bawah tangga. "Gawat nih! Jas lo nimpa orang."
"Siapa?"
Belum sempat buka suara, derap sepatu pantofel menggema di lantai tiga. "Kak Aiden," ucap Vanesa dengan nada penyesalan.
Aster bertanya-tanya untuk apa dia ke sini, tidak mungkin mencari putri tumbal kan? Melihat Pangeran Aedes versi kenyataan lebih terasa aura pangerannya.
"Bagus, angkatan kalian masih kenal gue ya? Terus siapa yang ngelempar jas?" Tatapan matanya seolah ingin mencari perhitungan. Tanpa pandang bulu. Tatapan setajam itu mampu menebas keberanian seseorang.
Aster mundur beberapa langkah, tungkainya gemetar, sebelum tubuhnya ambruk ke pangkuan Kris. "As, bangun! Lu kenapa, As?"
Aiden dibuat bingung setengah mati. Wajah cewek di depannya sudah seperti mayat. "Maaf, Dek. Kayaknya temenmu sakit parah."
"Iya, Kak. Aster memang sakit dari kemarin. Kak, tolong bawa teman saya ke UKS supaya cepat ditangani." Vanesa memohon dengan muka melas. Laki-laki di sebelahnya terlalu pendek, sedangkan ia sendiri terlalu lemah. Hanya Kak Aiden, satu-satunya yang dapat dimintai tolong dalam keadaan genting saat ini.
Demi apa? Aiden, cowok most wanted se-SMA yang terkenal dingin kecuali sama pacar malah menggendong cewek SMP? Padahal ia ke sini untuk mengambil ijazah kelulusan dari tangan wali kelasnya dulu, yaitu Pak Steven. Huft.
Tanpa mengiyakan, Aiden langsung membopong tubuh lemah tersebut menuruni tangga. Posisi UKS tengah-tengah, dekat lapangan upacara. Ia ingat betul sewaktu menjabat menjadi anggota PMR, banyak peserta upacara yang pura-pura pingsan hanya karena ingin merasakan digendong olehnya seperti ini.
Sekali pandang tentu saja Aiden tahu siapa yang melempar jas tadi. Aster hanya memakai pakaian OSIS tanpa almamater, berbeda dengan kedua temannya tadi yang mengenakan seragam olahraga. Namun kali ini ia harus menahan amarah usai menyadari kondisi Aster yang lemah.
"Demam," kata kakak kelas sehabis memeriksa termometer.
Vanesa menimpali. "Panas banget, Kak. Semalem udah ngeluh, tapi dia masih main ke rumah saya. Mungkin jadi penyebab panasnya tambah parah."
Kakak kelas yang diketahui bernama Kak Maya, mulai membuka kotak P3K. Kemudian mengambil botol berisi minyak mint untuk dihirupkan ke hidung Aster. Cara semacam ini umum dipakai pada orang pingsan. Bagaimanapun Aster harus sadar lebih dulu.
Upaya tersebut gagal total. Aster masih terpejam sambil mengerutkan alis. "Ini sebaiknya dibawa pulang atau ke rumah sakit, Dek. Coba kamu telpon orangtuanya," saran Kak Maya.
Aiden berada di sudut ruang hanya memperhatikan. Mata elangnya menangkap bulir kristal yang jatuh mengalir dari ujung mata Aster. Meski terhalang frame kacamata, penglihatan Aiden tergolong di atas rata-rata.
Dia menangis?
***
Tatkala Aster bertemu sosok Pangeran Ketujuh, entah mengapa latar belakang berubah menjadi warna cerah. Membuat matanya silau dan anehnya cahaya background itu seakan mendorong Aster dengan paksa. Tiba-tiba dia sudah bersimpuh di bawah kaki seorang perempuan.
Bisa dibilang air muka perempuan di depannya agak sinis, juga terkesan imut. "Bodoh, miaw."
Eh, apa-apaan!
"Ini pasti mimpi kan?" Aster bertanya dengan ekspresi datar, sedikit kekehan. Hal ini sudah sering ia alami, berkali-kali.
"Miaw? Aku terkejut karena kamu tidak kaget."
"Buat apa kaget? Belakangan ini gue biasa mimpi hal-hal aneh, ketemu sama orang aneh, tapi baru kali ini. Orang yang gue mimpikan sadar kalau dia ada di mimpi," jelasnya panjang lebar.
"Tidak menyangka Papa melatihmu tanpa sepengetahuanku, miaw. Tapi kali ini dia akan menyeretmu ke mimpi yang sebenarnya? Apa kau siap?" Si imut mengubah wujud ke bentuk kucing. Reflek membulatkan mata Aster lebar-lebar. Hewan berbulu super tebal dan lebat, sayangnya mudah rontok bahkan banyak helai bulu beterbangan di udara.
"Hachiu!" Aster menutup hidung serta mulut. Jangan-jangan bulu yang mengotori jasnya juga ulah kucing ini. "Tunggu!" Tangannya terangkat membentuk isyarat berhenti. Sebenarnya ada banyak tanda tanya yang muncul bak rel kereta di dalam otaknya. Tentang dia siapa dan mimpi yang sebenarnya yang bagaimana?
"Dia adalah si tua pengatur. Sok tahu dan percaya garis takdir pada tangan orang lain. Kami memanggilnya Papa."
"Lalu mimpi apa yang kau maksud?" Tanpa sadar Aster telah mengubah gaya bicara.
"Ah. Mimpi sebelumnya bukan mimpi yang sebenarnya, miaw. Papa memberimu mimpi simulasi. Meski mimpi kali ini alurnya tidak jauh beda dengan yang sebelumnya, tapi aku tidak berharap kau bisa menjalankan misi dengan baik." Kucing itu tertawa lepas, persis setan kecil yang licik.
"Misi apa?"
"Bodoh, miaw. Mana mungkin aku memberitahumu, miaw! Aku ini khusus datang untuk menyulitkanmu, miaw!"
Aster tertawa dalam pikirannya. Datang untuk menyulitkan, tetapi repot-repot menyampaikan banyak informasi. Harus bagaimana Aster menyikapi kucing yang tidak ikhlas membantu ini.
"Baiklah, baiklah. Selanjutnya apa?"
Kucing tersebut melompat ke atas kepala Aster. Membuat sang empu mencoba melepas cengkeraman cakar pada rambutnya. "Hei, hei, sakit! Hachiu! Btw aku alergi sama bulu."
"Diamlah miaw atau kucukur rambutmu supaya mirip Papa," ancamnya sembari memamerkan cakar. Seketika Aster membayangkan dirinya akan diubah menjadi Pak Steven.
"Baik, heh jangan sembarangan! Kau mau apa? Hachiu!" Sialan, kalau dia di atas kepalaku terus bagaimana aku bergerak leluasa? Aster bertanya dalam hati.
"Sebelum pergi miaw, aku berpikir menonton sedikit drama."
Tidak sempat bertanya lagi. Latar belakang putih yang semula mengelilingi keduanya telah berubah perlahan-lahan. Sekarang semakin jelas menayangkan posisi Aster. Masih berada di UKS.
Mungkin sudah saatnya gadis itu memberi kucing sebutan yang layak. Kucing Ajaib? Lompatan tadi bukan lompatan biasa, lebih pantas dikatakan melayang. Aster merasa sedang memerankan Alice in Wonderland.
("Ah Kakak Penulis! Aku mau ganti judul menjadi Aster in Dreamland!" Tiba-tiba papan bertuliskan huruf G diangkat tinggi-tinggi oleh penulis.)
Situasinya belum bisa Aster pahami. Kak Maya nampak serius menjawab telepon. Vanesa yang mondar-mandir, Kris yang duduk diam namun kepalanya seperti dirubung semut, dan Kak Aiden berdiri di sudut ruang sambil menautkan alis. Mengingat raganya berbaring di ranjang pemulihan, Aster sulit membayangkan apabila rohnya terpisah begitu lama.
Aster melambaikan tangan ke wajah Kris. Laki-laki itu diam saja. Kemudian ia mencoba menghadang Vanesa, gadis itu malah menembusnya.
"Mereka tidak mampu melihat ataupun menyentuh kita miaw," kata Kucing Ajaib. "Dunia kami dan dunia yang kau tinggali berbeda miaw. Karena dunia kami juga terdiri atas ruang dan waktu, waktu di antara dua dunia ikut berbeda. Setahuku miaw waktu di sini lebih singkat. Jika belum menyelesaikan misi dan embun mimpi habis, hidupmu akan dikorbankan seperti manusia sebelumnya miaw."
"Bi-bisakah, bisakah kau berhenti menjilati rambutku?" pinta Aster sambil mengerutkan kening tidak suka. Rasanya menjijikkan. "Hachiu!"
"Tidak bisa. Terlalu amis miaw. Aku tebak kau memakai minyak ikan untuk keramas."
"Sembarangan! Tapi, embun mimpi itu apa? Terus manusia sebelumnya, apa yang terjadi sama mereka? Mati? Kenapa mereka dikorbankan? Gue nggak bakal mati kayak mereka kan?"
Kucing Ajaib sibuk menjilat kaki depannya. Tidak tertarik menjawab pertanyaan beruntun yang menurutnya kurang penting. "Manusia bodoh miaw. Aku malas memberitahumu lebih banyak lagi. Aku peringatkan miaw, jangan buang-buang waktu. Mereka semua mati karena mengikuti arahanku."
Aster menelan ludah. Jadi, bukankah kucing ini sungguh akan menyulitkan di masa depan? Aster mengira seseorang menugaskannya untuk membantu. Meski banyak informasi yang disampaikan dan kebanyakan berisi peringatan. Ia tidak tahu mana yang benar mana yang menyesatkan.
"Katamu jangan membuang-buang waktu! Kenapa masih belum membawaku?"
"Miaw, kau harusnya ketakutan. Lihatlah kau di sana menangis. Aku ingin tahu bisa sekuat apa tubuhmu menahan embun mimpi. Sayang sekali roh tidak bisa merasakan apa yang tubuhnya rasakan, miaw."
"Cerewet!" Aster menatap seisi UKS. Sedikit demi sedikit ruangan beserta orang-orang di dalamnya memudar. Berganti menjadi warna putih yang sangat terang. Ia menutup mata karena merasa silau.
Saatnya mengucapkan selamat tinggal pada dunia nyata dan selamat datang di dunia mimpi yang sebenarnya.