
"Pelayan kan juga manusia!"
"Tentu saja, lagipula dia hanya manusia." Segelintir manusia? Cukup satu jentikan saja mereka bisa musnah kapan pun. Bahkan di luar sana banyak perwakilan jiwa yang sama sepertinya, yaitu memangsa manusia. Banyak manusia kehilangan nyawa karena dijadikan wadah bagi para roh, diambil tubuhnya, dimakan tulang-belulangnya.
Aster menghela napas. Ia membasahi bibir yang terasa kering. "Apa Anda tidak punya hati nurani? Sebaiknya jangan bercanda soal kematian."
Pangeran Aedes mengernyit ketika gadis itu berdiri tanpa mengerang kesakitan, padahal setengah pakaiannya bersimbah cairan merah. Meski tusukannya dangkal, tetap saja pendarahan. "Kau ingin menemui orang itu sekarang?"
Aster menggapai keranjang ayam bakar yang ternistakan di lantai. Isinya tidak bisa lagi dimakan. Tatapan tajam Pangeran membuat Aster memalingkan wajah karena merasa terintimidasi. Laki-laki di depannya mengejek tampilan Aster yang menyedihkan.
"Seberapa banyak Anda mendengar celotehan saya?"
"Semuanya."
Ia tersentak. Lain kali harus hati-hati. Tidak boleh sembarangan mengeluarkan unek-unek. "Apa Anda sengaja?"
"Kau pikir aku penguntit?"
Aster pikir peran penguntit tidak cocok untuk Pangeran. Justru itu adalah pekerjaan Aster. "Emm, saya pikir tidak."
"Bagus, tetap di sini," perintahnya. Pangeran Aedes lalu mendekati salah satu sisi tembok. Ia menempelkan telapak tangan ke permukaan.
Aster menelengkan kepala. Apa yang sedang Pangeran itu lakukan? "Pangeran? Saya ada janji temu dengan seseorang. Oleh karena itu, saya harus per—"
"Diam! Ini sebentar lagi."
Gadis itu memanyunkan bibir. Jika Vanessa melihatnya, pasti akan berkomentar bahwa muka Aster terlihat jelek saat dibentak tiba-tiba. "Udah main tusuk dan teganya lo ngebentak gue!" protesnya dalam hati. Lima menit berlalu. Aster kepanasan. "Duhh, Anda tuh lagi ngapain sih?"
Suara debuman mengejutkan gadis itu. Tubuhnya reflek menunduk, menutup telinga. Ia pikir sebuah bom telah dilemparkan ke paviliun ini. Aster tertawa konyol, memangnya di sini sudah ada yang menciptakan bom?
Lagi-lagi debuman, kali ini lebih keras. Bunyi retak terdengar jelas dari arah sisi tembok yang disentuh oleh Pangeran. Itu mengalami keretakan yang sangat besar. Aster memiliki firasat buruk.
"Tolong berhenti, Pangeran! Jika Anda terus melakukannya ...." Debuman ketiga. Aster meneguk saliva susah. "Temboknya bisa hancur woy!"
Temboknya hancur, tapi hanya pada area yang disentuh. Aster lega kerusakannya tidak terlalu parah. Ia sedikit malu karena sudah berteriak sekencang itu. Namun, kelegaan ternyata cuma sebentar. Kerusakan menyebar dengan parah mengikuti jejak retakan. Temboknya benar-benar hancur.
Pelipis Aster penuh keringat dingin. "Astaga, apa Anda ingin perang dunia? Bagaimana kalau seseorang melihat ini dan mengeluh pada Raja? Katanya anggota Istana yang merusak sarana dan prasarana Istana bisa dijatuhi hukuman."
"Aturan semacam itu tidak berlaku untukku."
"Lah, kok?"
"Aku kan bukan bagian dari kalian."
Maksudnya anggota Istana, ya? Benar juga, sih. Aster memutar mata malas. Dunia sangat adil.
Kamar Pangeran Aedes yang tadinya remang-remang sekarang berubah menjadi terang benderang. Ini karena lampu dari ruang di sebelahnya ikut menyorot kamar Pangeran. Di ruangan sana, pasangan saudara terlihat saling menyayangi. Sang adik bersembunyi di balik punggung kakaknya dan gadis yang lebih tua berusaha melindungi.
"Apa-apaan Anda! Membuat Cycy, Putri Kelima dari Negeri Tabib ketakutan! Saya Putri Ketiga dari Negeri Tabib akan pura-pura buta terhadap kejadian ini."
Loh? Bagaimana bisa kamar mereka berada di sebelah kamar Pangeran? Aster memasang tatapan polos. "Putri Ketiga dan Cycy, akhirnya saya menemukan kalian. "
"Bukankah Anda melakukan upacara itu beberapa hari yang lalu?" Putri Ketiga Mengernyit.
Aster menghampiri. "Putri Ketigabelas dari Istana Bunga memberi salam. Saya merasa terhormat karena Putri masih mengingat saya."
Berdasarkan kejadian pada pertemuan pertama. Penduduk Negeri Tabib sangat menyukai orang-orang yang memujanya. Maka, lebih baik bersikap rendah kalau ingin mendapat kebaikan Putri Ketiga.
"Terluka," ucap Cycy dengan suara pelan. Raut wajahnya tampak sedih melihat warna merah menetes-netes di lantai. Tangan mungil itu meremat sayap gaun Putri Ketiga.
"Ah, apa Cycy takut? Maaf, saya tidak bermaksud menakut-nakuti. Tolong jangan takut."
Cycy menggeleng. Bukannya takut, ia terluka membayangkan rasa sakit yang Aster derita. "Pasti sangat sakit."
"Tidak, kok. Ini tidak sakit," elaknya.
"Aku menancapkan ujung pisau ke perutnya. Itu pun hanya sebentar," jelas Pangeran Aedes, singkat. "Beri dia obat."
Laki-laki kejam di depannya seakan tahu bahwa Putri Ketiga membawa banyak persediaan obat. Namun, obat-obatan tersebut akan digunakan untuk hal lain. Mata zamrud itu melirik kondisi Aster. Dia tak seperti mengalami luka tusuk. "Apa Anda ingin obat?"
Lihatlah, Putri Ketiga belum luluh hatinya. Atau mungkin dia gak punya hati, batin Aster sambil mengembuskan napas. Ia lantas berdiri dengan gigih. "Tidak perlu, tapi saya ingin Anda menyembuhkan pelayan saya. Seseorang membuat kulitnya melepuh dan katanya panas seperti terbakar."
"Tunggu, tunggu. Anda menolak tawaran yang bagus, malah meminta saya menyembuhkan seorang pelayan? Apa Putri Ketigabelas meremehkan saya?"
"Tidak, mana mungkin saya meremehkan Putri Ketiga. Pelayan saya memang orang kecil, tapi menyelamatkan orang kecil membutuhkan kemurahan hati yang luar biasa, sedangkan saya tidak memiliki kemurahan hati sebanyak itu."
Aster tahu nilai pelayan bagi kalangan orang atas. Yaitu tidak lebih besar dari rasa gengsi mereka. Jadi, mari turunkan rasa gengsi Putri Ketiga. "Saya harap Putri Ketiga dapat menyembuhkannya."
"Kau sungguh berpikir kalau pelayanmu masih hidup? Aku heran mengapa kau mau repot-repot mengurus mayat."
Ucapan Pangeran Aedes menarik perhatian Putri Ketiga. "Apakah maksud Anda ... dia sudah meninggal?
"Ya, tapi gadis ini tak percaya."
Aster mengepalkan tangan. "Belum ada bukti kalau dia sudah meninggal. Terlebih, Sari adalah satu-satunya pelayan saya. Wajar kan kalau saya memedulikannya."
"Bagaimana kalau dia memang sudah mati?"
"Seperti yang Anda katakan, saya mau kok repot-repot mengurus mayat." Matanya berembun. Perlahan wajah Pangeran Aedes mengabur.
Melihat Aster ingin menangis, Putri Ketiga menggenggam salah satu tangannya dan berjanji akan berusaha menyelamatkan Sari.
"Sungguh?" Aster membalas genggaman tersebut seraya tersenyum lebar. Putri Ketiga sedikit merona karena senyumnya yang sangat manis.
"Kalau begitu, kita harus secepatnya ke tempat itu." Aster menggandengnya menuju pintu.
"Tunggu dulu, Anda yakin tidak ingin obat?" Putri Ketiga menghentikan langkah Aster, membuat gadis itu teringat bahwa dia terluka.
"Oh ... aku baik-baik saja. Kita harus segera menemui pelayanku, tapi tempatnya lumayan jauh."
"Kalau itu tidak masalah. Saya bisa melakukan teleportasi. Anda cukup mengatakan tujuan kita ke mana."
"Syukurlah ...." Aster tahu dari buku. Negeri Tabib menukarkan obat-obatan dengan banyak artefak yang bisa membantunya berpindah tempat ke mana saja. Artefak itu sengaja ditanam ke dalam tubuh.
"Teleportasi hanya bekerja apabila kulit kita bersentuhan. Jika tidak keberatan, silakan genggam tangan saya seperti ini." Putri Ketiga mengulurkan tangan satunya kepada Cycy, kemudian memandang Pangeran Aedes. "Apa Anda mau ikut?"
Aster menaikkan kedua alis. "Ta-tapi bukankah masing-masing tangan Anda sudah dipakai?"
"Tidak harus tangan. Pangeran yang tidak tahu siapa namanya, Anda bisa menyentuh kaki saya meski tidak nyaman." Putri Ketiga memajukan sebelah kakinya.
Kau mau mati? Begitulah umpatan yang tersirat dari tatapan tajam Pangeran. Menyentuh kaki di Negeri Tabib disebut dengan memberi salam penghormatan. "Aku tidak suka, bersentuhan dengan siapa pun!"