
Aster mengerjapkan mata. Setelah dirasa pandangannya menjadi cukup jelas, ia membuka selimut dan mengecek luka di perut.
"Kau bangun lebih awal."
"Astaga!" pekiknya seraya merapatkan kain yang membelitnya. Padahal dia sedang berpakaian lengkap, tapi tatapan Pangeran Ketujuh seolah menelanjangi gadis itu. "Sejak kapan Anda di sana?"
"Sepertinya kau lupa kejadian semalam."
"Saya ingat," jawab Aster. Tanpa sadar meraba sisi leher yang digigit Pangeran Aedes. Matanya membulat sempurna saat laki-laki itu sudah mencekal tangannya. Gerakan pemuda ini sangat cepat.
"Jangan disentuh! Nanti bisa terkena infeksi. Sebaiknya pakai ini dan jangan dilepas sampai aku menyuruhmu melepasnya." Pangeran Aedes mengalungkan syal hitam miliknya untuk menutupi bekas gigitan tersebut. Aster merasakan dejavu.
Istana Bunga tidak sedingin Istana Apung. Mungkin karena letaknya di bukit atau dekat pegunungan, Aster masih ingat kala Pangeran Aedes mengenakannya syal itu sewaktu pertama kali mengotori kamarnya. Meskipun mimpi simulasi, Aster tetap merasakan bagaimana suhu di sana.
"Panas," gumam Aster yang masih didengar oleh Pangeran Aedes.
Laki-laki beralis tebal itu mengangkat kepala. "Kita harus berangkat sebelum matahari terbit. Ingatlah, bahwa perjalanan menuju Istana Apung lebih dingin."
Aster mendapati Putri Ketiga dan Cycy terlelap di ruangan sebelah. Keduanya tampak berpelukan di bawah selimut yang tebal.
"Haruskah saya membawa mantel?"
"Sebaiknya tidak usah membawa apa-apa."
"Apa Putri Ketiga dan Cycy akan ikut dengan kita?" tanyanya lagi.
Pangeran Aedes tidak menjawab. Justru laki-laki itu terus menatapnya intens hingga membuat Aster salah tingkah. Tanpa dijawab pun gadis paham bahwa Pangeran Aedes takkan mengajak mereka berdua ikut ke Istana.
"Oke." Aster mengangguk sedih. Ia seharusnya membawa Sari kalau saja anak itu masih hidup.
***
Pasar yang dipenuhi manusia sangat ramai. Terletak tak jauh dari gerbang Istana. Seolah tak pernah tidur, tempat itu selalu ramai. Sejak pukul tiga waktu subuh, para pedagang sudah menyiapkan ruko di tengah embusan angin sejuk.
Beberapa budak menggigil kedinginan. Kaki mereka diikat dengan tali yang ujungnya lagi diikatkan ke batang pohon. Dengan begitu, budak-budak tak bisa melarikan diri.
Terlihat beberapa pelayan Istana bagian dapur memilih bahan-bahan masakan. Biasanya pekerja-pekerja Istana akan mampir ke pasar sebelum matahari terbit. Katanya, mereka tidak suka berdesak-desakan dengan manusia penuh keringat.
Seringkali para pelayan menggosip bersama pedagang-pedagang itu. Dari tempat inilah, seorang budak mendapatkan informasi tentang sahabat kecilnya.
Dia menatap pelayan yang dikerumuni sekumpulan pedagang daging. Beberapa di antaranya tidak punya waktu barang meletakkan pisau besarnya. Gosip kerajaan adalah yang terbaik.
"Jadi kalian belum menyiapkan Tympanuchus cupido? Bagaimana, sih? Pangeran Ketiga yang menyuruhku membelinya untuk dihadiahkan pada Pangeran Ketujuh dari Istana Apung."
(Tympanuchus cupido \= ayam padang rumput)
"Hewan yang kau cari hanya ada di padang rumput. Pangeran Ketiga pasti bercanda, kan?" sahut pria berkumis.
"Benar. Apalagi wilayah itu tidak diawasi oleh siapa pun, kalau tersesat sampai kerajaan sebelah kau bisa mati. Aku tidak mau ambil resikonya meski dibayar berapa pun!" timpal pedagang yang lain.
"Aku dengar banyak penduduk di kerajaan itu yang mati."
"Kalau yang itu aku juga pernah mendengarnya. Katanya wilayah Apung terkena wabah penyakit dan belum diketahui penyebabnya."
"Mengerikan sekali."
Kali ini gadis itu tidak tertarik dengan topik yang dibawakan si pelayan. Ia memikirkan kelanjutan cerita saat Putri Ketigabelas dikabarkan telah memikat hati Pangeran Pertama. Sepertinya Aster telah terlena oleh orang-orang Istana.
Apa dia masih mengingatku?
Tuan Le muncul entah dari mana, langsung merebutnya dari tangan yang lusuh. "Astaga lihat betapa susahnya menenangkan Gallus gallus."
(Gallus gallus \= ayam)
Ayam itu terus memberontak di tangan Tuan Le. Bulu-bulunya beterbangan. Kalau ada Aster, dia pasti bersin-bersin parah. Suara ayam membuat keadaan agak ricuh, alhasil pelayan tadi tertarik. "Bukankah Anda Tuan Le yang menjual budak-budak? Saya tidak tahu kalau Tuan berbisnis Gallus gallus?"
"Tidak, tidak. Aku masih berjualan budak dengan kualitas bintang lima!" ujarnya bangga. "Aku hanya menangkap satu ini untuk dijual kepadamu."
Kemarin, Tuan Le sengaja ke hutan untuk berburu ayam merah. Katanya pelayan itu bisa membayar sepuluh kali lipat untuk seekor ayam. Dia masih saja mata duitan.
"Tapi jenisnya berbeda dengan yang saya cari."
"Oh, Pangeran Ketiga tidak akan marah semisal dirimu salah beli. Kau sendiri yang mengatakan kalau Pangeran Ketiga selalu tersenyum ramah, termasuk senyum ke para pelayan."
"Yang kau ucapkan memang benar ...." Pelayan tersebut terdiam sebentar. "Karena ini beda jenis, aku hanya bisa membayarmu dua kali lipat."
"Apa?" tanya Tuan Le. Dari sepuluh kali lipat menjadi dua kali lipat. "Terlalu sedikit! Lima kali lipat."
"...."
"Kau tidak akan mendapat seekor pun yang masih hidup kalau bukan karena aku yang hobi berburu di hutan."
"Baiklah."
Akhirnya, Tuan Le menerima sekantong kecil berisi kepingan emas. Matanya bersinar membuka isi kantong tersebut. "Wah, tidak sia-sia aku jauh-jauh ke hutan."
"Omong-omong, apa kau ingat budak gadis terakhir yang diangkat oleh Raja dan Ratu?"
"Anak itu? Terdengar berbahaya kalau kau masih menyebutnya budak. Dia sudah mendapat gelar Putri Ketigabelas."
"Tetap saja tadinya dia budakmu."
Aster? Gadis yang sedari tadi duduk memeluk lutut, kini mulai mengangkat kepala. Telinganya sensitif jika mendengar nama Putri Ketigabelas.
"Ada apa dengan Putri?"
Pelayan pun membuka mulutnya lebar-lebar. "Pagi ini rombongan Pangeran Ketujuh berniat membawanya ke Istana Apung. Mungkin untuk menutupi kalau dia diusir dari Istana Bunga."
"Nyonya! Kenapa, kenapa dia diusir? Tolong katakan pada saya!" tanya gadis itu tiba-tiba menarik rok si pelayan. Karena tindakan tidak sopannya, ia mendapat tendangan yang lumayan keras. Lututnya berdarah. "Ah!"
Sakit.
"Ya ampun, Tuan Le. Bagaimana sih kau mengurus budakmu? Dia tiba-tiba menarik rokku. Sangat tidak sopan!" ucapnya emosi.
Gadis itu langsung berlutut mengabaikan luka yang masih perih. "Saya minta maaf, Nyonya."
Namun, wanita di depannya tidak menjawab permintaan maaf si empu. Para budak membuat udaranya tidak nyaman. Karena tidak betah, ia lalu bergegas kembali ke Istana. Langkah cepatnya menandakan bahwa wanita pelayan itu tidak ingin berlama-lama di pasar.
"Saya minta maaf, Tuan," ucapnya berkali-kali.
"Apa yang kau pikirkan? Sebagai hukuman, tetaplah berlutut sampai ada yang datang dan menyewamu. Jika Putri Ketigabelas melihat hal ini, aku yakin dia takkan mengakuimu lagi sebagai teman."
Setelahnya, Tuan Le meninggalkan gadis budak itu. Membiarkannya berlutut di tanah penuh kerikil.
Katanya pagi ini Aster diusir. Hanya itulah hal yang dia pikirkan. Matanya melirik untaian tali yang mengikat pergelangan kaki. Sebenarnya simpul tali bisa dilepas dengan mudah. Mengingat kaki hanya formalitas bahwa budak yang berani melarikan diri, kalau tertangkap akan dicambuk dengan tali tersebut. Dicambuk, sampai mati.