
"Perkenalkan, aku Danaus Plexippus. Putri yang tidak kutahu namanya kau bisa memanggilku Danaus."
Pria berambut blonde itu mengulurkan tangan untuk memberi salam. Cara seperti mencium tangan seorang putri hanya ada di Istana Apung. Aster belum mengerti, tetapi setiap inci wajah Danaus berhasil membuatnya terkesima. Apa dia artis Rusia?
"Danaus," ucap Aster pelan. Namun hal itu bisa terdengar oleh semua orang. Ingat? Seluruh penghuni dari Istana Apung mempunyai pendengaran yang tajam.
Aster tersentak. Menyadari bahwa dirinya sudah bersikap tidak sopan. Dia cepat-cepat membungkuk. "Ma-maaf. Hormat pada Pangeran Danaus, saya perwakilan jiwa aster. Anda bisa memanggil saya Aster."
Pangeran Danaus meneliti setiap gerak-gerik Aster yang menurutnya kaku. Pandangan menurun yang ditujukan tampak merendahkan. "Tidak seru," ujarnya dingin.
Pangeran Aedes menarik bahu Aster supaya dia berhenti memberikan penghormatan dengan cara Istana Bunga. "Bangun."
Sekumpulan kupu-kupu oranye entah muncul dari mana, mengitari bunga Aster yang kini tumbuh di mana-mana. Aster cukup takjub melihatnya. Perlahan mereka menjauh dari bunga tersebut, lalu terbang ke arah Aster.
Salah satunya hinggap dengan tenang di pipi Aster. Gadis itu melebarkan mata. Kupu-kupu yang cantik. Namun, kejadian selanjutnya sangat tidak terduga. Bagian yang dihinggapi oleh kupu-kupu terasa panas.
Aster tidak tahu bagaimana detailnya, tetapi kupu-kupu itu sepertinya tertarik pada darah Aster. Begitu hewan cantik tersebut mengepakkan sayapnya pergi. Pipi Aster mengeluarkan cairan merah segar.
"Astaga, astaga, bagaimana ini? Darah Putri Aster ternyata sangat enak." Pangeran Danaus tersenyum jahat.
Hal itu membuat gadis di depannya mundur dan berlindung di balik punggung Pangeran Aedes. Bahunya bergetar. Tatapan buas apa itu?
Jangan-jangan kupu-kupu tadi adalah kekuatannya? Sungguh, pria ini bukan orang baik. Firasat buruk Aster selalu benar, itu sebabnya mulai sekarang dia akan menjauh dari pemuda tersebut.
Pangeran Aedes menangkup pipi Aster, lalu dia sedikit menunduk. Aster tak mampu bergerak ketika Pangeran Aedes menjulurkan lidahnya ke arah pipi.
Laki-laki itu membersihkan darah yang mengotori wajah manis Aster. Terlihat seperti anjing menggemaskan yang bermain-main dengan majikan. Rona merah menghiasi bawah mata Aster dan terus bersinar saat Pangeran Aedes menatapnya penuh rasa lapar.
Pangeran Aedes menghentikan aksinya setelah cairan merah benar-benar tidak lagi mengalir. Setelah itu, perut Aster mengeluarkan bunyi aneh. Seperti gemuruh awan mendung.
Double kill! Dia sangat malu sekarang.
"Apa kau lapar?" tanya Pangeran Aedes sambil mengusap wajahnya.
"Sedikit."
Aster menengok ke posisi Pangeran Danaus berada, tapi sosok yang dicari sudah menghilang entah ke mana.
Aster tidak menyadari pergerakannya sama sekali. Kalau dipikir-pikir, Pangeran Aedes pun tidak menghasilkan suara ketika bergerak. Bagaimana bisa? Jika ini dunia nyata, keahlian semacam itu bisa dipastikan langsung masuk tentara militer atau ikut di misi pembunuhan.
"Jangan mendekati siapa pun kecuali aku," ingat Pangeran Aedes.
"Kenapa?"
"Mereka berbahaya."
Bukankah Anda juga berbahaya? Aster bertanya-tanya dalam hati. Berbeda dengan pikiran Pangeran Aedes yang selalu waspada terhadap para penghuni Istana Apung. Aster polos sangat menikmati kunjungannya, bahkan sempat terpesona oleh banyak hal.
Perhatiannya mudah teralihkan. Bisakah gadis itu sedikit lebih fokus? Hanya padanya. Kalau bisa tidak teralihkan oleh orang lain.
Lorong-lorong Istana tampak gelap. Namun, Aster meneguk ludahnya beberapa kali bukan karena hal tersebut. Melainkan pada setiap pintu yang tertutup rapat di sepanjang dinding. Jika pintunya terbuka, pasti sesuatu yang buruk harus mereka hadapi saat itu juga.
Misalnya sekarang. Tadinya Pangeran Aedes berniat membawa Aster ke ruang makan, tetapi seekor manusia berusaha menyerangnya. Yaitu eang yang dapat berbicara seperti manusia. Makhluk berbulu hitam sekujur tubuh dengan panjang satu hasta. Ia muncul setelah berhasil merusak pintu yang terbuat dari kayu.
Langkah Pangeran Aedes dan Aster terhenti. Kalau tidak, bahu Pangeran Aedes pasti terluka akibat serangan cakar tajam. Cakar-cakar elang hitam terlihat sangat kuat.
Sedangkan, Aster tak kuasa menahan rasa gatal pada hidungnya saat bulu-bulu hitam berterbangan di udara.
"Hatsyi!" Reflek gadis bermata bak madu melepas gandengan Pangeran Aedes, lalu menutup mulut. Akan tetapi, rupanya Pangeran Aedes tidak mau melepaskan tangan Aster. Mereka masih berpegangan.
Yang terjadi adalah virus beserta bakteri menempel di punggung tangan Pangeran. Aster meluruskan bibir, kemudian mendongak ke wajah Pangeran Aedes yang juga menatapnya.
Terjadi keheningan beberapa detik. Namun segera dipecahkan oleh bunyi bersin.
"Hatsyi!" Aster tidak bisa melakukan apa-apa setelah butiran-butiran saliva mendarat dengan dramatis di muka Pangeran.
"Kamu sengaja, kan?" tanyanya sambil tersenyum kesal.
Padahal tadi dia ingin minta maaf sebab menodai kulit tangan mulusnya. "Maaf, tapi saya tidak senga—" Ucapan Aster terputus. Matanya menyipit seolah menunggu momen untuk mengeluarkan sesuatu dari pangkal hidungnya.
Pangeran Aedes berdecak. Ia lalu mencubit ujung hidung Aster sehingga gadis tersebut tidak jadi bersin.
"Haa, terima kasih."
Meski begitu, Pangeran Aedes tidak melepaskan tangan ini. "Merepotkan," gumamnya. "Tidak bisakah kau menutup lubang hidungmu hanya dengan tangan kanan?"
"Bisa, sih," jawab Aster spontan. Kemudian ia melakukan apa yang Pangeran minta.
Fokus mereka kembali menyatu pada kemunculan seekor elang yang kini asyik bertengger di tiang lilin dengan santainya. "Aku pikir wangi apa yang merusak kondisi udara Istana. Ternyata berasal dari gadis yang kau pungut di luar. Adik Ketujuh, menurutmu apakah dagingnya akan enak?"
Apa yang sedang dia bicarakan? Aster mengernyit dalam.
Pangeran Aedes semakin mengeratkan cengkeraman pada pergelangan tangan Aster yang mungkin. Memang tidak sakit, tetapi ia yakin masih bisa meninggalkan bekas kemerah-merahan.
Elang hitam mempunyai bulu yang sama seperti yang pernah Aster lihat tadi ketika baru tiba di halaman. Sebelum kedatangan Pangeran Danaus, Pangeran Aedes pernah memperjelas rasa waspadanya seperti sekarang. Jangan-jangan pemilik bulu hitamlah yang membuat nyali lelaki di sampingnya menciut.
Pangeran Aedes diam tak menjawab.
"Apa Anda takut?" tanya Aster berbisik.
Elang yang mendengarnya langsung tertawa. "Ah, sial!" umpatnya setelah tanpa sengaja berubah wujud ke bentuk manusia. Kali ini Pangeran Aedes yang tertawa.
Bukankah baru pertama kali Aster melihatnya tertawa? Sayang sekali, lelaki tersebut tertawa sambil menutup mulutnya sehingga Aster hanya dapat melihat seperempat pesona sang pangeran. Aster menggeleng, lalu menyentuh pergelangan tangan kirinya yang sudah tercipta bekas merah melingkar. Sepertinya ia cocok menjadi korban KDRT.
"Haha ...." Pangeran Aedes tertawa sampai keluar air mata. Pandangannya mengejek. "Kau tidak berubah meski sudah kutinggal berhari-hari."
"Sial, jangan sok keren! Kau pikir kemampuanmu akan masih sangat hebat kalau anak itu kembali? Jangan lupa posisimu!"