
Bunga-bunga beserta akarnya menghilang. Sudut halaman kosong lagi seolah tak terjadi apa-apa. Aster mendongak pada atap, di mana cahaya matahari benar-benar lari. Embusan angin menarik lembut rambut Aster yang kemudian ia selipkan ke daun telinga.
Saat itu, Aster mendengar pergerakan jarum jam. Bukan jam besar dari tembok raksasa, melainkan berasal dari gelang jam pemberian Pak Steven. Diperhatikannya gelang jam tersebut, melingkari tangan kanan Aster. Hanya ada satu jarum yang akan berputar. Dan ini pertama kalinya dia bergerak ke angka satu.
"Yang benar saja, belum ada seminggu," suara Aster bergetar sembari memandang jam tersebut horor. Pasalnya, ia belum menemukan satu bukti pun dari ketiga misi. Ia berpikir cukup keras sebelum pelayan memanggilnya.
"Apa yang belum ada seminggu?" celetuk seseorang dari belakang. Membuat Aster terperanjat, ternyata bukan suara pelayan, seketika dirinya mengubah posisi jongkok ke berdiri. Berbalik guna melihat si empu. Laki-laki itu mengangkat sepasang alis dengan mata polos menanti jawaban Aster. "Omong-omong, gelangmu bagus."
"Ah," Aster menyembunyikan tangan di balik punggung, "terima kasih. Ada apa ya Pangeran Pertama Yang Terhormat jauh-jauh kemari?"
Aster sengaja menekan bagian "pangeran pertama" sebab ia kesal tempat yang seharusnya diduduki Kris malah diberikan pada orang ini. Melihat senyuman terpaksa milik Aster, membuat Pangeran Pertama semakin bersemangat menggodanya. Gadis bermata bulat itu tidak pernah tahu, pada hari upacara penobatan dan dia berjalan meraih tangan orang lain, hanya perlu trik kecil untuk menggelapkan pandangan seseorang.
Pangeran Pertama menyentuh dagu Aster, lebih tepatnya mencengkeram. Memangkas jarak wajah mereka sehingga Pangeran dapat mengamati dengan jelas titik fokus sepasang mata di depannya. "Haha, sejak kapan matamu jadi seindah ini? Aku sangat menyukainya. Bagaimana kalau menetap di tubuh itu selamanya? Aku bisa mencarikan reinkarnasi dengan tubuh yang sama jika kau mau."
Merinding. Aster memalingkan wajah untuk menghindari tangan Pangeran Pertama. "Tolong pergi jika Anda tidak ada urusan."
Pangeran Pertama menghela napas. "Aku sedih jika kau mengusirku seperti ini, padahal aku ingin memberikan hadiah karena kau sudah menjadi batu loncatan untukku ke posisi pertama."
"Memangnya hadiah apa sampai jauh-jauh kemari?"
Pangeran Pertama tersenyum misterius, kemudian di belakang punggungnya tumbuh tanaman setinggi lima belas meter. Bukan hanya satu, tanaman serupa mengelilingi paviliun. Batang hijau agak kemerah-merahan di tengah. Bunga-bunganya putih kecil dan berkelompok di ujung, seperti payung. Aster ternganga dengan pipi merah. "Apaan nih?!"
"Tentu saja, hadiah dariku. Selamat tinggal!" Pangeran Pertama bahkan melambaikan tangan tanpa berbalik. Aster mengernyitkan dahi, penasaran terhadap tanaman yang melebihi tinggi tubuhnya. Daun menjari ya lumayan lebar dan jarak batang terlalu rapat, seakan mengurung gadis itu agar tidak bisa keluar.
"Bagaimana ini?" gumam Aster pada diri sendiri, sembari jemari lentik memetik salah satu daun yang serupa daun pepaya. Ia meremasnya sampai hancur. Keluar helaan napas dari mulut Aster.
"Astaga!" pekik seorang yang Aster kenal siapa pemilik suara itu. "Tanaman terkutuk apa ini, Nona?"
Jika sari di dalam mimpi, pasti takkan bertanya seperti ini. Selama mimpi simulasi justru Aster yang sering bertanya balik. "Aku juga tidak tahu. Sebelum jam delapan, tolong kau bersihkan sampai tidak ada satu pun yang tersisa."
"Baik! O-oh, airnya sudah siap. Tapi, apa Anda yakin ...?"
Aster mencium aroma busuk. Seketika senyum miring itu terukir di wajah lugunya. "Ya, aku tahu. Terima kasih, Sari."
Setelah mandi dan berpakaian, Sari mengendus-endus di sekitarnya. Dia pasti berpikir mengapa Aster tidak bau. "Aneh, saya tidak mencium bau busuk. Nona Aster sangat wangiii!"
"Haha, benar kan?" Remaja bergaun violet berputar-putar sambil mengangkat roknya. Saat itu wangi menenangkan seakan menyebar ke seluruh sudut ruang.
"Astaga, Nona ...!" Pelayan itu terpesona dengan keimutan serta kemanisan Aster.
Aster pun menghentikan aksinya, membuat penonton sedikit kecewa. "Bagaimana halamannya? Aku harus keluar untuk makan malam."
"Sudah bersih," jawab pelayan sambil memasang senyum kuda. Dia terlihat sangat senang. Malam ini adalah pertama kalinya sang nona mengikuti acara makan malam. Biasanya gadis itu hanya meminta diantarkan makanan ke kamar.
"Bagus!" Sekarang Aster bisa keluar dan menghadiri acara penting. Acara yang menjadi pertemuan Pangeran Aedes beserta para perwakilan lainnya. Di mimpi simulasi, ia dilarang Kris karena sakit. Itu sebabnya, kali ini Aster tidak berpura-pura sakit. Juga tidak pergi ke tembok jam raksasa demi menghindari pertemuan itu.
Bau bawang putih yang samar pasti membuat Pangeran Aedes menghindar. Setidaknya, dalam pertemuan nanti ia tidak langsung dibawa ke Istana Apung. Gadis tersebut ingin mengembangkan kemampuan di kelas terlebih dahulu. Barulah jika dirasa cukup bekal, mau tak mau harus pergi.
Aster sedikit gugup ketika pintu dengan bayangan banyak orang tepat di depan matanya. Dihirupnya udara dalam-dalam, wangi makanan enak membuat perut semakin keroncongan. Aster meneguk ludah.
"Mari saya antar, Nona." Wajah yang sama, namun dia disambut baik-baik. Berbeda dengan mimpi sebelumnya. Lalu, setiap langkah yang ia ambil mencuri perhatian dan perhatian.
Aster memberi salam kerajaan kepada semuanya, disusul senyum tipis. Hal itu sontak menghasilkan reaksi pipi mereka yang bersemu merah. Sedangkan, gadis yang tidak sadar akan pesona diri sendiri hanya menatap bingung.
Pangeran Pertama tersadar. "Aha! Ini dia adik tersayangku, Putri Ketigabelas." Tangannya menepuk tempat di sebelahnya. Aster memicingkan mata berpikir laki-laki itu menyuruhnya duduk di sana. Pangeran Pertama terus menatap, semakin tajam dan semakin tidak nyaman bagi Aster apabila terus-terusan berdiri.
Demi makanan, demi misi, demi kembali ke dunia asli. Aster memutuskan duduk di sebelah Pangeran Pertama. Melihat semua yang ada di ruang makan terkesiap, Aster bertanya-tanya melalui tatapan. Itu terlihat menggoda di mata pangeran. Namun, laki-laki itu enggan menjawab. Malah terus tersenyum seakan lupa kekacauan apa yang sudah ia tumbuhkan di paviliun keheningan.
Merasa diperhatikan dari sisi depan, Aster mengalihkan atensinya dari Pangeran Pertama. Di depannya, sosok misterius dengan topi menutupi wajahnya. Setiap anggota Istana memang mempunyai topi sebagai identitas. Akan tetapi, topi yang dia pakai berbeda dengan topi para perwakilan di Istana Bunga. Aster punya firasat buruk.
Firasat buruk itu selalu benar!
Sosok tersebut mendongak sedikit, menampakkan sebelah mata bermanik hitamnya yang sangat pekat. Aster memekik sambil segera mengubah pandangan ke arah seorang putri bergaun merah.