Vampire Aedes

Vampire Aedes
58. Stupid Is Stupid, It's Fine!



Aster menggeleng kuat, berusaha mengusir firasat negatif tersebut. Ia lalu menodongkan kedua tangan ke arah Pangeran Pertama. Laki-laki di depannya tersenyum tipis, kemudian menyerahkan kalung ajaib kepada Aster.


"Te-terima kasih!" ucap Aster terbata-bata.


Cepat-cepat ia menyembunyikan kalung ajaib ke belakang punggung. Ia tidak mau kalau nanti Pangeran Pertama mendadak memintanya kembali. Aster menatap lelaki di hadapannya dengan mata menyipit.


"Kenapa?" tanya pemuda itu.


"Anda tidak akan berubah pikiran, kan, soal kalung ini?"


Pangeran Pertama tertawa. "Tentu saja tidak! Bukankah sudah kukatakan? Aku tidak membutuhkannya lagi. Oh, iya. Mungkin kamu belum tahu kalau aku sudah diangkat secara resmi sebagai Pangeran Pertama."


Aster mengernyit. "Jadi?"


"Yah, bukan apa-apa. Aku hanya ingin memberitahumu," balasnya sembari tersenyum miring.


Entah kenapa Aster merasa kalau aura Pangeran Pertama sedikit berbeda? Kucing Ajaib, apa kamu tahu kenapa? Aster bertanya dalam pikirannya.


"Bodoh, miaw! Jika Pangeran Pertama sudah diangkat secara resmi itu artinya dia sudah mendapatkan kemampuan-kemampuan yang selayaknya dimiliki oleh posisi pertama. Siapa pun yang memakai kalung ajaibku, dia akan mendapat kemampuan unik selama kalung itu dia pakai. Karena dia sekarang resmi menjadi Pangeran Pertama, ia tidak lagi membutuhkan kalung ajaib."


"Ah, maksudmu ... tanpa kalung ajaib pun dia masih memiliki kemampuan-kemampuan lainnya yang juga hebat?"


Tidak ada jawaban dari Kucing Ajaib, pertanda ucapan Aster adalah benar. Gadis itu pun mengangguk-angguk paham sambil memerhatikan kilau kebiruan dari kalung tersebut. Indah sekali. Sejenak, matanya terus terpaku pada keindahan kalung ajaib.


"Kenapa tidak kamu pakai?" tanya Pangeran Pertama. Sejujurnya, dia ingin sekali membantu memasangkan perhiasan itu ke pergelangan tangan Aster yang putih.


Kucing Ajaib kembali bicara. "Jika kamu memakainya, kamu akan mati."


Aster tersentak. "Ti-tidak, bukan begitu. Ini terlalu berkilau sampai aku takut seseorang mencurinya dariku. Aku mau menyimpannya dulu hehehe."


Sebenarnya, Aster lebih takut akan ancaman Kucing Ajaib.


"Hmm ... baiklah. apa kamu mau jalan-jalan sebentar?"


Aster mengangkat kepala. Apa dirinya tidak salah dengar dengan tawaran Pangeran Pertama barusan?


Pangeran Pertama mau mengajak Aster jalan-jalan


Kucing Ajaib berteriak dalam ;pikiran Aster. "Terima tawarannya, Bodoh! Kamu bisa memanfaatkan waktunya untuk bertanya tentang bait keempat. Ingatlah bahwa kamu punya dua misi lainnya yang belum terselesaikan. Apa kamu mau mati?"


Bulu kuduk Aster berdiri karena merinding. Siapa juga yang  mau mati? "Bisa nggak, sih, jangan ngatain aku bodoh terus? Kalau aku bodoh beneran gimana? Lo mau?"


"Ke mana?" tanya Aster penasaran pada Pangeran Pertama.


"Terserah kamu saja mau ke mana. Hari ini aku lumayan luang, sedangkan kamu ke sini pasti ada urusan mendesak, kan? Tidak mungkin diam-diam lewat pintu portal dari Istana Apung ke Istana Bunga kalau bukan sebab sesuatu yang penting."


"Ja-jadi Anda tahu kalau ada pintu portal menuju Istana lain?" tanya Aster gugup..


"Aneh! Kenapa waktu itu Anda meminta saya mengajak Anda ke Istana Apung. Padahal, Anda tahu betul bahwa ada jalan lain menuju ke Istana Apung meskipun tanpa saya."


"Kalau caranya semudah itu, tidak mungkin aku minta bantuanmu, Dasar Bodoh!" Pangeran Pertama mengacak puncak rambut Aster gemas, membuat gadis tersebut mendelik kesal.


"Aku tidak bodoh!" Heran.


"Mana mungkin kamu tidak bodoh? Kalau kamu pandai, sudah pasti hidupmu pendek."


Kenapa banyak sekali orang memanggilnya bodoh? Meskipun Aster punyai nilai ulangan Biologi yang jelek. Kris selalu mengatakan kalau nilai bahasanya memuaskan. Ketua kelas saja memujinya seperti itu, mana mungkin gadis sepintar ini dikatai bodoh?


"Sudah kuduga, kamu merindukan orang itu ya?" tanya Pangeran Pertama tiba-tiba.  Orang itu? Siapa maksudnya? Aster mengikuti arah pandang Pangeran Pertama, di depan keduanya berdiri bangunan luas nan megah khas penghuni Paviliun Utama. Kediaman Pangeran Keempat.


Tanpa sadar Aster berjalan ke sini. Gadis itu memandang jauh ke koridor tempat di mana Pangeran Kelima memeluknya agar tidak pergi dari Istana Bunga. Pintu di tengah-tengah adalah saat dirinya disambut oleh banyak pelayan. Sejenak, Aster merindukan suasana hangat dari sosok kakak angkatnya tersebut.


Meskipun siang hari ini panas, suasana kediaman Pangeran Kelima terlalu dingin. Bunga krisan yang semula memenuhi halaman juga hilang entah kemana. Aster tidak bisa membiarkan halaman Paviliun Pangeran Kelima tetap gersang begitu saja. Ia lalu menggerakkan ujung-ujung jarinya ke segala arah dan menumbuhkan bunga aster yang mekar di setiap sudut bangunan.


"Cantik sekali," kagum Pangeran Pertama.


Pipi Aster merona merah. Ini pertama kali ada yang memuji kekuatannya. "Cantik, kan? Bunga asterku sebenarnya lebih cantik daripada mawar," sombongnya. Namun, gadis itu tidak sadar bahwa Pangeran Pertama memuji 'cantik' bukan pada bunga, melainkan pada orang yang menumbuhkan bunganya.


"Hahaha, benar-benar cantik."


"Aku ingin menyapa Kakak Kelima. Apa Kakak Kelima di dalam?" tanyanya sambil mengernyit ke arah Pangeran Pertama.


Laki-laki di samping membekukan tawa, lantas balik bertanya dengan serius, "Jangan bilang ... kamu tidak tahu?"


Aster menggeleng sebab dirinya memang tidak tahu. Raut wajah Pangeran Pertama berubah prihatin.


"Maaf," ucapnya sembari menutup mulut dengan sebelah tangan. "Astaga ... ini menjadi tidak seru karena kupikir kamu sudah tahu."


"Apa maksud Anda?" Aster bertanya, gundah. Firasat buruknya tak pernah salah.


Akan tetapi, Pangeran Pertama kembali tertawa. "Bagaimana kalau Adik memanggilku 'kakak'? Jika kamu memanggilku 'Kakak Pertama', aku mungkin bisa menjawab pertanyaanmu," ujarnya sambil menaik-turunkan kedua alis, membuat Aster menggelengkan kepala. Dia memang selalu seperti ini, main-main saja.


Aster tidak sudi menganggapnya kakak. Lagipula, kakak mana yang mencium adiknya sendiri. Namun, Aster tidak punya waktu untuk berlama-lama. Sementara dia harus mengikuti permainan memanggil laki-laki menyebalkan itu dengan sebutan 'kakak'.


"Kakak Pertama ... tolong katakan sesuatu."


Aster mencengkeram gaun yang dikenakan


Pangeran Pertama tertawa kecil melihat tingkah Aster yang terkesan imut, membuat Pangeran ingin lebih bermain-main. "Yang benar saja, kenapa panggilanmu tidak ada ketulusan sama sekali?"


Aster memutar bola mata. Sebenarnya, ia sudah menduga hal ini sejak awal. Mau bagaimana pun yang dirinya lakukan, Pangeran Pertama selalu melakukan hal yang dia inginkan. Aster pun meninggalkan Pangeran Pertama sendirian dan memilih berlari ke kediaman Pangeran Kelima. Dengan tergesa, Aster membuka pintu masuk yang untungnya tidak terkunci. Terdengar teriakan Pangeran Pertama yang melarangnya jangan masuk, tetapi dia abaikan.


Bisa saja Pangeran mencegah gadis itu dengan kemampuannya. Menahan Aster menggunakan batang-batang Hogweed raksasa yang terasa panas, gatal, dan membakar apabila terkena kulit. Tapi tidak, dia tidak ingin menyakiti tubuh Aster.