Vampire Aedes

Vampire Aedes
24. Cycy Imut, Tapi Kakaknya Posesif Akut



Pengangkatan Aster sebagai bagian resmi putri kerajaan akan dilanjut usai para pelayan berhasil mereka ulang interior inti. Mereka membutuhkan waktu sekurang-kurangnya satu jam. Para tamu dipersilakan istirahat sejenak, begitu juga tokoh utama.


Dalam perjalan ke paviliun utama, Aster melihat patung kucing besar dipikul bersama-sama oleh pelayan. Hal itu mengingatkannya pada Kucing Ajaib. Entah bagaimana keadaan dia sekarang. Istana Bunga bukan tempat yang memperbolehkan piaraan manusia sembarang masuk. Kuharap dia tidak mati, batinnya sambil menatap patung itu dengan sedih.


"Kebetulan sekali jalan kita searah. Tidak sekalian mampir ke kediamanku?" Pangeran Keempat menaik turunkan kedua alis. Aster memalingkan muka, merasa muak. Kelima paviliun utama yang berdekatan tidak memungkiri betapa mudahnya menggali informasi. Kalau bukan karena dia, Kris yang akan menjadi Pangeran Utama.


Memikirkan peristiwa beberapa waktu yang lalu malah menambah beban kepalanya. Kembali ke kediaman Pangeran Kelima, apa dia masih akan diperlakukan baik seperti sebelumnya? Aster menatap nanar halaman di depan sana.


"Kau yakin menolak tawaranku dan pergi ke kediaman Adik Kelima? Menurut pengamatanku, kau sudah dianggap pengkhianat olehnya."


"Tidak ...." Aster menggeleng tidak percaya. Tangannya mencengkeram gaun dengan gelisah. Ia menahan helaan napas, lalu menatap Pangeran Keempat seakan laki-laki di sampingnya adalah rival abadi. "Jauh-jauh dariku!"


Pangeran Keempat sengaja mencondongkan tubuh agar lebih dekat. "Putri Angkat, sepertinya ada masalah dengan penglihatanmu? Tatapanmu barusan terlihat kurang fokus."


Aster sampai menahan napas karena saking dekatnya. Wajah Pangeran Keempat menjadi jelas jika dilihat dari jarak sependek ini. Tiba-tiba pipinya terasa panas. Menyadari posisi terlalu intim, Aster mendorong dada Pangeran supaya menjauh. Kemudian ia melarikan diri ke luar area paviliun utama.


Sepergian Aster, Putri Pertama tanpa sengaja berpapasan sengan Pangeran Keempat. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Namun Pangeran Keempat berhasil menggerakkan waktu dengan menyapa lebih dulu. "Hormat pada Putri Pertama."


Gadis itu menutup mulutnya yang terbuka karena pura-pura syok. "Oh, Pangeran Keempat? Tidak, tidak, harusnya aku memanggilmu Pangeran Pertama. Sejak kapan urutan lebih tinggi menyapa mereka di urutan rendah?"


"Apa kau marah?"


"Tidak denganmu. Keberuntungan hari ini anggaplah kau menang undian besar, tapi aku sangat marah pada gadis itu. Dua bersikap tidak sopan pada Raja. Rasanya ingin menusukkan banyak duri ke kakinya sampai lumpuh." Perlahan-lahan duri-duri itu muncul dari ujung kuku tangannya.


Pangeran Keempat mengangkat tangan, mengisyaratkan Putri agar lebih tenang. Jika amarah terus membuncah, duri-duri tadi bisa menancap ke semua benda si sekitarnya. "Wow, tenanglah! Jangan dulu mengganggunya. Dia pasti berguna di masa depan."


Putri Pertama menyilangkan tangan dengan angkuh. "Kau begitu peduli padanya."


"Aku hanya berpikir dia masih berguna bagiku mendapatkan gelar 'Putra Mahkota'. Suatu hari, setelah singgasana Raja kududuki, status Putri Pertama pasti paling tinggi di antara semua putri."


Mendengar rencana mentah yang diungkap secara terang-terangan, membuat rahang bawah sang putri terjatuh. Detik berikutnya, decihan pelan keluar dari mulutnya. "Cih!"


Pangeran Keempat menatap punggung Putri Pertama yang kian menjauh. Sangat sulit memetik bunga yang dikelilingi semak berduri. Padahal sudah ia keluarkan jurus andalan, yaitu janji manis. Namun gadis itu bukan hanya tidak tergoda sama sekali, juga berbalik marah padanya. Tidak menarik.


Di sisi lain, Aster menabrak bahu seseorang karena kurang memperhatikan jalan. Seseorang bermata sayu dengan tampang penuh kasihan. Rambutnya perak berkilau, seperti peri putih. Dia terjatuh dengan epicnya.


"Ya ampun, gue nggak sengaja. Maaf ya! Lo nggak apa kan?" Aster mengulurkan tangan, berniat membantunya berdiri namun tiada tanggapan. Ternyata ia lupa mengubah gaya bicaranya yang formal. "Maaf, aku tidak sengaja. Kau baik-baik saja kan?"


Dia mengangguk lemah dengan tampang penuh kasihan. Membuat Aster merasa telah menjadi penindas tidak berperasaan. "Biar kubantu berdiri."


Akhirnya dia mau menerima tawaran Aster. Akan tetapi, ekspresinya mirip Vanesa saat tidak ada yang mengantarnya ke kamar mandi. "Kau baik-baik saja?" tanya Aster sekali lagi.


"Ah ...," Aster ikutan sedih karena melihat orang sedih. Jujur saja, gadis mungil di depannya adalah makhluk tercantik yang pernah ia lihat. Setidaknya harus ada satu kloningan di dunia nyata, "aku harus bagaimana untuk membantu?"


Dia memiringkan kepala, tanda tengah memikirkan sesuatu. "Bisakah temani aku jalan-jalan? Mungkin dengan begitu aku bisa bertemu kakakku."


Senyum Aster merekah. Ia cukup hafal jalan di Istana dan masih ada banyak bagian Istana yang belum Aster kunjungi. Aster bermaksud menyetujui permintaan gadis kecil itu, tetapi suara dari belakang membuat lidahnya urung.


"Cycy!" Panggilan tersebut mengalihkan atensi gadis berambut perak. Aster menoleh ke belakang, mengikuti arah pandang anak itu. Dan matanya bersitatap dengan manik hijau zamrud milik seorang gadis yang sepertinya berusia 16 tahun.


"Kakak."


"Hosh ... hosh ... hosh, kemana saja kau ini?" napasnya memburu. Pandangannya lalu jatuh pada Aster. "Maaf, kau bukannya Putri yang barusan melakukan upacara?" tanya orang itu setelah tiba. Dari belakang, ia langsung mengalungkan tangan ke leher adiknya. Dalam hati Aster terus bertanya-tanya apakah di dunia ini semua kakak, tidak peduli laki-laki atau perempuan, memang selalu posesif dan over protective pada adiknya?


"Ah ... iya. Benar, itu aku. Lalu kalian ...?"


"Perkenalan, saya Putri Ketiga dari Negeri Tabib. Ini adikku, Putri Kelima dari Negeri Tabib.Tapi aku bisa memanggilnya Cycy." Gadis bermata zamrud, tersenyum formal. Kesan dewasa dan penyayang terlihat dari tulang matanya yang dalam.


Putri Kedua dari Negeri Bunga, Pangeran Ketiga dari Negeri Bunga, Pangeran Kelima dari Negeri Bunga, Pangeran Keempat dari Negeri Bunga, Putri Ketiga dari Negeri Tabib, Putri Kelima dari Negeri Tabib, kemudian Pangeran Ketujuh dari Negeri Apung dan Putri Ketujuh dari Negeri Apung. Kepala Aster terisi penuh oleh angka-angka sialan. Padahal otak manusia sangat baik mengingat milyaran nama.


"Putri, Anda melihat ke arah mana?" sentak Putri Ketiga seraya menepuk bahu Aster. "Sepertinya hari ini kurang fokus. Tadi saat Raja menyuruhmu tetap berlutut aku menebak mungkin kau memiliki masalah yang mengganggu pikiran, tapi sekarang aku yakin kau memang punya gangguan."


"Ehh? Tidak, kok!" Aster menggerakan tangan, gerakan isyarat bahwa pernyataan di atas tidak benar. Sebenarnya karena melamun sebentar membuat pandangannya kosong. Omong-omong, penglihatan Aster sudah tidak buram lagi, malah lebih tajam. "Oh, ya. Bolehkah aku memanggilmu Cycy? Namanya terdengar imut, sangat cocok denganmu."


Cycy mengangguk. Lagi-lagi Aster menahan helaan napas karena mendapat respon sesingkat itu. Putri Ketiga tertawa canggung sebelum angkat suara. "Cycy tidak terbiasa pergi ke acara seperti ini. Kami menerima undangan dari kalian, tetapi tidak ada satu pun yang berminat hadir. Kami memang terkenal sombong, tapi sebenarnya bukan begitu. Hanya saja, hanya saja belum terbiasa. Semoga Putri tidak tersinggung."


Aster tersenyum paksa. Putri Ketiga tidak seharusnya menjelaskan dengan panjang lebar. Toh, bagaimana bisa putri kecil dibandingkan dengan lima posisi teratas. Apalagi dari Negeri Tabib. Di mimpi sebelumnya, Aster turut meneliti sifat kedua pangeran. Pantas saja mereka terkenal sombong.


"Oh, tidak apa-apa. Aku dengar sangat sulit mengundang kalian, perwakilan dari Negeri Tabib? Bertemu dengan kalian adalah kehormatan bagiku." Kau pikir kau saja yang mampu bersikap merendah?


"Jalan-jalan," pinta Cycy sambil menarik tali gaun Putri Ketiga. Hal itu sontak membuat bola mata Putri Ketiga hampir keluar.


"Tidak boleh! Kau ini, bagaimana kalau kau tersesat lagi? Kau mau melihat bunga, hm? Setelah tugas kerajaan selesai, bagaimana kalau kita minta dibuatkan taman bunga, taman paling luas dan besar di dunia."


Apa Aster tidak salah dengar? Gadis sekecil itu sudah melaksanakan tugas kerajaan?


"Maaf, kalau boleh tahu apakah tugas kerajaan kalian ada kaitannya dengan Kerajaan Bunga?"


"Tidak ada," jawab Putri Ketiga. Sedangkan Cycy menggeleng dua kali. "Kami ditugaskan mengatasi wabah menular di Negeri Apung, sehingga dua hari lalu pergi ke sana meneliti gejala yang timbul untuk mencoba banyak resep obat. Anehnya, pihak internal mengusir kami berdua sampai ke wilayah ini."