
"Ini lebih hijau dari perkiraaan saya," ucap Aster begitu menginjak kawasan Negeri Apung. Rumput masih segar dan pohon-pohon yang tumbuh dengan rindang membuat udara sejuk. Situasinya berbanding terbalik jika di Istana Apung. Halaman gersang, seperti hamparan lahan yang mengalami musim kemarau. Namun di sana sama dinginnya oleh aura-aura penghuni Istana.
"Malam ini kita menginap di rumah warga saja." Pangeran Ketujuh berhenti di salah satu gubuk yang lumayan dekat dari wilayah Istana Apung. Dari sini masih terlihat bayangan puncak kastil di atas bukit, tampak bersinar oleh sorotan bulan.
Aster mengangguk singkat. Sebelumnya, ketika gadis tersebut datang para warga begitu antusias menyambut mereka berdua ramai-ramai seperti sudah lama mengharapkan tetes hujan pertama di akhir kemarau. Akan tetapi, suasana desa kini terlalu sepi. Hampir tidak ada tanda-tanda orang melakukan aktivitas yang berisik.
"Anda mau ngapain, Pangeran?" tanya Aster sembari mengikuti langkah Pangeran Ketujuh mendekati pintu gubuk di depannya. Ia pikir laki-laki itu akan mengetuk, ternyata tidak. Pangeran Ketujuh menggunakan kekuatan anginnya untuk membuka pintu.
Aster sedikit tercengang dengan keberadaan Putri Ketiga dan Cycy dari Negeri Tabib. "Kalian ...?" gumam Aster.
Mereka berdua juga tampaknya terkejut. "Kenapa kalian di sini?" tanya Putri Ketiga menghampiri. Seharusnya Aster yang bertanya demikian.
"Aku tidak tahu. Pangeran Ketujuh mengajakku kemari, katanya rumah warga," balas Aster.
Pangeran Ketujuh mendekati kursi kayu, lalu duduk. "Kami akan bermalam di sini sampai besok, apa masih ada kamar kosong?" tanyanya.
"Jangankan kamar kosong, Pangeran, Di sini hanya ada satu ruang seperti yang terlihat. Lagipula kami melakukan penelitian di tempat ini dan bukan untuk tiduran," jawab Putri Ketiga.
"Eh? Terus di mana kalian tidur?" tanya Aster bingung. Alisnya bertautan.
Memang tidak ada pintu lain. Di ruang ini penuh benda-benda aneh yang serupa laboratorium kecil-kecilan serta banyak sekali rumput dan akar-akaran. Sepertinya mereka berdua sibuk meneliti bahan-bahan herbal.
"Biasanya kantong dimensi," ujar Cycy sembari mengulurkan kantong hitam. Seingat Aster, mereka memasukkan dan mengambil banyak benda aneh dari dalam kantong tersebut.
"Ya, kami membuat kamar pribadi di dalam kantong dimensi, tetapi Anda tidak boleh masuk ke dalam kantong. Kami menyimpan banyak benda-benda penting di dalamnya. Bukan bermaksud apa, hanya saja terlalu berbahaya karena Anda tidak tahu cara kerjanya," terang Putri Ketiga. "Kalau boleh tahu, kenapa Anda berdua berada di luar Istana? Di sini terlalu berbahaya, banyak sekali pembunuhan dan Pangeran Ketujuh juga tahu hal ini dengan baik, kan?"
"Aku rasa kamu juga lebih tahu kalau malam hari di Istana Apung lebih berbahaya daripada sarang naga. Kami bahkan saling menyerang dan bertahan hidup. Bahaya terus mengintai meskipun matahari sudah terbit."
Apa yang dikatakan Pangeran Ketujuh benar. Aturan membolehkan penyerangan di malam hari membuat penghuni Istana Apung kesulitan keluar jika bukan karena kemampuan yang dimiliki sangat kuat. Batas aman ditentukan oleh garis pintu kamar masing-masing. Mereka tidak boleh menyerang seseorang yang berdiam di dalam kamar. Namun untuk menuju kamar Pangeran Ketujuh tentu harus menghadapi ancaman dari saudara-saudara tirinya yang lain.
"Benar, kami hanya sementara di sini. Hanya malam ini," bujuk Aster memegang tangan Putri Ketiga.
Perempuan di hadapannya mengangguk. "Terserah kalian. Lagi pula tempat ini disediakan oleh pihak Istana demi menyelesaikan misi saya. Artinya kita sama-sama menumpang di tempat sempit ini."
"Beri kami selimut," titah Pangeran Ketujuh sambil bersandar pada punggung kursi.
"Tapi saya belum mengantuk," sahut Aster menoleh.
Putri Ketiga menimpali, "Saya hanya menyimpan satu jubah tebal. Jika tidak keberatan, apa Anda mau?"
"Hatsyi!" Aster mundur dua langkah saat laki-laki yang semula duduk, berdiri ke arahnya sambil mengangkat jubah putih tersebut.
"Kemarilah!" perintah Pangeran.
Aster menggeleng kuat. "Anda mau apa?" tanyanya panik sembari memeluk lengan.
"Kamu sepertinya kedinginan, aku hanya berbaik hati agar kamu tidak mati kedingingan." Pangeran Ketujuh dengan kekuatan anginnya mengubah posisi berdiri tepat di depan Aster, kemudian memaksa gadis itu memakai jubah.
"Hatsyi!" Aster spontan menutup mulut. Matanya melebar sempurna. Lagi-lagi dia menyemburkan titik-titik virus di kulit Pangeran.
Sedangkan laki-laki tersebut menahan diri dengan memejamkan mata. "Kamu sengaja, ya? Ini sudah berapa kalinya, hah? Pertama tangan, lalu sekarang wajahku juga kau cemari."
"M-maaf. Itu karena saya alergi bulu hewan." Aster menggosok hidungnya yang terasa gatal.
"Alergi?" beo Pangeran Ketujuh, sebelah alisnya terangkat. "Memangnya kamu manusia?"
"Saya kan memang manusia," ucap Aster berusaha melepas jubah.
Pangeran Ketujuh menekan pundak Aster cukup kuat, membuat gadis itu meringis kesakitan. Dia jadi kesulitan melepas jubahnya.
"Aku tidak mau dengar alasan apa pun! Pakai jubah ini baik-baik."
Aster tidak berani membantah.
"O-oke."
Gadis itu terpaksa memakainya meskipun diselingi bersin-bersin. Bulu hewan di leher membuat Aster merasa gatal sekaligus geli, tetapi ini sungguh hangat. Ia menoleh ke arah cermin, memperlihatkan bayangan dirinya sangat mungil di balik jubah yang kebesaran.
"Nah, bagus." Pangeran Ketujuh pun melepas cengkeramannya, lalu kembali duduk dengan perasaan puas.
"Hatsyi!" Aster membekap mulutnya sendiri, sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara ketika bersin.
"Sebaiknya Anda juga beristirahat," saran Putri Ketiga.
Aster menggeleng cepat. "Saya belum mengantuk. Hatsyi! Ma-maaf, tolong abaikan suara bersin saya. Kalian pasti sangat sibuk, jadi jangan sungkan melanjutkan pekerjaan Anda. Hatsyi!"
Aster merasa jijik dengan telapak tangannya. Ia ingin pergi cuci tangan, tetapi tidak ada kamar mandi di sini. Terdengar arus air yang mengalir deras mengingatkannya pada sungai di belakang gubuk. Gadis itu pun memandang satu-satunya pintu untuk keluar. Apakah di luar aman terkendali?