Vampire Aedes

Vampire Aedes
18. Kasihan Neneknya



Vanesa meneliti kedua tangan Aster yang kosong. Seingatnya, gadis tersebut membawa buntalan kain. "Omong-omong, semua barang bawaanmu kemana?"


Ah, sewaktu bangun ia tidak melihat barang apapun. "Aku ... aku tidak ingat. Jangan-jangan dicuri."


"Benarkah? Aku tidak tahu ada orang mau mencuri di tempat seperti itu." Vanesa menaikkan alis. Lagi pula sebentar lagi Aster akan tinggal di Istana, tidak membawa apa-apa juga mendapat setel pakaian berbahan sutra. "Oh, ya. Dari mana kau mendapat kucing itu? Kelihatannya bukan kucing biasa."


"Ap-apa kau bisa melihatnya?"


"Eh? Kenapa aku tidak bisa melihatnya?" Vanesa bertanya dengan muka polos.


*Dia bisa melihatmu!


Aku tahu miaw, tapi hanya kamu yang bisa mendengar suaraku*.


Aster bernapas lega. "Kucing ini ya? Ah ... kucing ini dari pencuri yang kutemui. Kupikir dia orang baik, membiarkanku bermain dengan kucingnya. Ternyata hewan ini sebagai pengalihan, aku tidak menyangka selagi bermain dia malah mencuri barang-barangku," jelasnya panjang lebar.


"Ah ... kurasa pencuri itu terlalu bodoh mau menukar kucing secantik ini dengan barang yang tidak bernilai sama sekali."


"Ugh, haha kau benar." Aster menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


"Kemarin hadiah dari Istana sudah dikirim ke kediaman Tuan Le. Sudah lewat tiga hari. Jika dia melihatmu masih di sini, aku khawatir dengan keselamatanku. Dia akan memukulku jika tahu. Bagaimana kalau kuantar kau ke Istana sekarang juga?" tawarnya, namun ditolak. Aster tahu pagi-pagi bersiap pasti Vanesa akan disewa untuk melakukan pekerjaan atau orang kaya membelinya untuk menjadi pelayan tetap. Sebelumnya, Vanesa akan menjalani masa uji coba selama seminggu seperti yang Aster jalani di masalalu bersama Nona Muda. Meski begitu, ada saja orang licik yang memanfaatkan tenaga para budak. Dari awal mereka berniat tidak menebusnya dan hanya menginginkan pelayan gratis.


"Aku bisa sendiri. Kau cepatlah ke pasar dan temukan majikan yang lebih baik dari Tuan." Aster menarik kedua sudut bibir, membuat kedua pipi Vanesa bersemu merah. Dia baru menyadari bahwa temannya sangat manis saat tersenyum.


***


Penjaga gerbang terlihat garang. Senjata di tangannya bukan benda tajam, melainkan cambuk yang terbuat dari akar rotan. Aster berulang kali meneguk saliva. Di ingatan, membekas kala ujung cambuk mengenai tubuh renta yang memohon-mohon bertemu sang cucu. Huft, datang dengan pakaian lusuh semoga tidak memberi kesan buruk terhadapnya.


"Apa kau cucu yang lainnya?" Pria kekar tersebut mendekat seraya menggulung pecutnya, membuat Aster semakin terintimidasi.


Ia menggeleng sembari menggerakkan kedua tangan, menandakan bahwa pernyataan itu tidak benar. "Bukan! Saya adalah gadis budak yang dipilih Raja dan Ratu."


Pria tadi mendongak, sepertinya berkomunikasi dengan orang di atas. Namun Aster maupun nenek di sampingnya tidak mengerti isyarat yang mereka gunakan. Lalu Aster ditanyai tentang surat pembebasan.


"Surat pembebasan?"


"Benar. Jangan bilang kau tidak punya. Apa kau penipu yang memanfaatkan identitas putri angkat?" Tatapan matanya menajam. Kemudian senjata itu diayunkan. Sukses mengenai pipi Aster hingga berdarah.


Cetyar!


"Ahk!" Aster meringis di tempat sambil memegang erat bagian wajah yang terluka. Bahunya bergetar menahan sakit luar biasa di area bekas cambukan. Kesakitan ini benar-benar nyata. Bukankah dirinya sedang berada di dalam mimpi? Mengapa bisa sesakit ini?


"Bodoh miaw! Sudah kubilang ini adalah mimpi sebenarnya. Kau jangan main-main seperti mimpi sebelumnya."


Peringatan kucing ajaib tidak mendapat gubrisan apa-apa. Padahal biasanya dia akan marah bila si kucing menyebutnya bodoh. Aster bergeming dengan mata berkaca-kaca. Ia balik menatap tajam pria di depannya.


"Saya tidak membawa apa-apa. Surat itu hilang dicuri dalam perjalanan saya kesini! Kalau tidak percaya, biarkan saya bertemu Yang Mulia Raja dan Ratu," ucapnya menjelaskan. Mata sudah merah begitu masih bersikap sok gentar.


"Tidak membawa apa-apa juga membawa hewan piaraan. Tidakkah kau tahu hal itu melanggar aturan? Enyah!"


Aster mendecak kesal. Hanya seorang pengawal saja, sudah sok berkuasa pada rakyat jelata. Mentang-mentang bekerja di Istana. Kembali pipinya berdenyut perih. Ia menatap pergelangan kaki nenek itu mengeluarkan cairan merah. "Nek, mari saya antar pulang."


Sebenarnya Aster bukan tipe orang yang terlalu peduli pada urusan orang lain, kecuali orang terdekat. Di kehidupan nyata ia tak punya sosok nenek kakek, dan yatim. Dia hanya merasa perlu menghormati neneknya jika masih hidup. Namun ingatan yang asli belum tentu seperti yang Aster simpan dalam memori selama ini. Bisa juga ... hal paling mengerikan, kucing di atasnya mampu mengubah ingatan Aster menjadi demikian. Tidak mustahil.


"Terima kasih sudah menuntun Nenek. Bagaimana aku memanggilmu ... Tuan Putri?"


"Wajahmu kena luka. Sayang sekali pengobatan di sini mahal, nenek tidak punya uang." Rautnya muram. Dilihat dari segi ekonomi, tempat tinggal nenek tersebut memang pas-pasan. Dindingnya terbuat dari kayu yang cukup kuat meski tanpa lapisan, hanya bangku teras yang kayunya sedikit lapuk. Aster khawatir kalau dirinya ikut duduk, kaki bangkunya malah patah dan bisa membahayakan nenek. "Melamun apa?"


Aster tersentak. "Oh? Maaf, Nek. Saya hanya berpikir tidak usah pergi ke pengobatan. Saya lihat pekarangan depan rumah Nenek, banyak sekali tanaman yang bisa dijadikan obat herbal." Dia menuju sudut halaman, lalu memetik setangkai daun dari tanaman tersebut.


Nenek itu mengernyit heran saat Aster memeriksa luka di pergelangan kakinya.


"Jangan takut, Nek. Ini namanya yodium. Tulang daunnya berbentuk menjari seperti daun ketela. Tangkai daun sama-sama panjang, tapi setelah dipetik, yodium akan mengeluarkan getah bening. Getah inilah yang saya gunakan untuk menyembuhkan luka Nenek. Sangat baik dalam membantu proses pembekuan darah." Aster tersenyum manis usai mengoleskan getah tesebut pada area yang terluka. Sang nenek tidak mampu berkata-kata. Di pikirannya terbesit bahwa gadis ini begitu luwes.


"Dari mana kau belajar ilmu pengobatan?"


Ekspresi nenek itu terkejut berlebihan, membuat Aster tidak nyaman. "Umh, dari pencuri yang saya temui dalam perjalananke Istana."


"Aku sarankan jangan menunjukkan kemampuan ini lagi. Di sini ilmu pengobatan sangat terlarang. Hanya bangsawan dari Negeri Tabib yang diberi izin melakukan praktik."


"Begitu? Lalu bagaimana kalau ada orang yang sakit?"


"Dibawa ke tempat pengobatan, tapi karena biaya mahal banyak yang dibiarkan sampai sembuh dengan sendirinya. Tidak sedikit yang kehilangan nyawa karena sakit. Apa lagi nenek tua sepertiku tidak berguna, sudah waktunya mati."


"Aih, Nek! Masih ada cucu di Istana, jangan bicara yang tidak-tidak."


Tidak menyangka waktu cepat berlalu. Matahari hampir tenggelam sepenuhnya Aster mendapat informasi yang lumayan banyak setelah berbincang. Terutama sosok yang dirindu-rindukan olehnya. Katanya seumuran dengan Aster, tetapi memiliki kepribadian yang terbalik. Seorang gadis, gadis yang manja, suka membuat masalah, dan selalu merepotkan nenek. Namun nenek itu sangat menyayangi cucunya, ia takut gadis tersayangnya itu belum bisa hidup mandiri di Istana. Meski banyak pelayan di sana, tak mampu menyurutkan perhatian nenek terhadap cucunya. Benar-benar ... gadis yang merepotkan.


"Saya pamit. Nenek jaga diri baik-baik yah!"


"Pergilah, semoga surat pembebasan itu cepat ketemu."


"Terima kasih, Nek!" Aster membungkuk sedikit, kemudian melanjutkan perjalanan ke arah matahari terbenam. Pergi ke tempat Vanesa tidak mungkin, anak itu bisa terkena masalah. Sedangkan menginap di rumah nenek lebih tidak mungkin lagi. Di mana harga diri seorang Aster jika merepotkan orang lain.


Kira-kira baru sepuluh langkah, terdengar suara aneh. Seperti percikan api dari arah belakang disertai aroma perapian. Aster menoleh ke sumber suara. Seketika matanya turut melebar. Layaknya bulu angsa hitam yang berterbangan. "Apa yang terjadi?" gumamnya.


Aster pun berlari untuk melihat apa yang terjadi. Kebakaran. Bagaimana mungkin? Tidak ada sumbu atau arang di sini. Aster tahu jelas isi rumah nenek tersebut hanya terdiri ruang kosong dan selebihnya lemari kayu yang tersimpan buah-buahan.


Kobaran api yang menggila, melahap rumah sederhana yang sempat Aster singgahi. Tercium bau daging bakar. Persis saat dirinya pesta barbekyu bersama teman sekelas. Namun tercium di saat-saat seperti ini, rasanya terlalu mengerikan.


Sekelompok prajurit mengitari tubuh Aster, membuat gadis itu menautkan alis kebingungan. "Apa yang kau lakukan padanya?!"


Nek, saya harap Anda baik-baik saja.


Pemimpin, ya, Aster tidak tahu pasti. Pakaian yang orang itu kenakan berbeda sendiri dari prajurit lain. Seorang pria, setengah wajahnya tertutup topeng besi seolah sengaja dipakai untuk menyembunyikan wajahnya. Dia menjawab, "Hanya menghukum."


"Menghukum?" Aster meronta tatkala kedua lengannya dicekal oleh dua prajurit.


Pria di depannya memberi titah, "Bawa gadis itu ke Istana. Orang-orang di sekitar sini, kalian tahu apa yang harus dilakukan."


"Apa mereka semua akan mati?" tanya Aster tanpa ekspresi.


Warga yang semula penasaran atas kejadian terbakarnya sebuah rumah, kini ketakutan. Dia berjalan ke arah Aster. Aura dingin yang kuat berasal dari pria itu. Sampai-sampai Aster menggigil.


Tidak.


Tidak, jangan mendekat lagi.