
Pangeran Kelima mendekat, menyentuh dahi Aster, merasakan suhunya yang ternyata lebih rendah. Sedangkan manusia biasa seharusnya terasa hangat. "As, apa kau kedinginan?" tanyanya.
Dejavu. Terlebih panggilan itu ... seakan pertanda bahwa orang-orang di dunia nyata menyuruhnya kembali. Sedangkan, Aster perlahan-lahan melupakan kehidupannya di sekolah. Ia takut. Pasalnya ia tidak ingat masa lalu sebagai siswi SMP, tapi sosok Kris dan Vanesa selalu membuatnya tersadar dari mana ia berasal. Jika suatu saat ingatan di dunia nyata benar-benar lenyap, sungguh, Aster tidak ingin membayangkannya.
"Aster, kau melamun."
"Eh, maaf."
Pangeran Kelima pun mengulang pertanyaan, "Apa kau kedinginan? Kalau iya aku akan meminta pelayan agar mereka menyalakan perapian."
"Aku tidak kedinginan!" balasnya.
"Baiklah, lanjutkan makanmu."
Aster mengangguk, lalu kembali duduk ke posisinya semula. Ia tidak lagi makan rakus seperti tadi. Kali ini gerakannya lebih anggung. Justru di mata Pangeran Kelima, kecanggungan gadis itu semakin nampak kentara.
"Omong-omong, aku tidak melihat gelang jam yang biasa kau pakai," ujarnya mencairkan suasana. "Kau menyimpannya di suatu tempat kan? Aku pikir gelang itu takkan terlepas dari tanganmu."
Aster sedang mengambil suwiran ayam, mulutnya terbuka siap menanti makanan yang akan masuk, tapi terhenti di tengah jalan tatkala Pangeran Kelima bertanya demikian.
Kini pandangannya turun, menatap pergelangan tangan secara horor. Benda yang seharusnya menempel bak menyatu hingga tulang, menghilang!
Tidak ada?
Mustahil, kan!
Berkali-kali, susah payah Aster berusaha melepas gelang jam itu. Ukiran uniknya seakan punya kode agar bisa terlepas, namun dia selalu gagal. Tidak mungkin kalau terjatuh di suatu tempat.
Apa orang sakti yang mengambilnya? Tapi, untuk apa?
Aster mengingat-ingat kapan terakhir benda pemberian Pak Steven tersebut masih melekat cantik di pergelangan tangannya. Sekitar kemarin sore? Saat itu jarum jam bergerak ke angka dua atau tiga. Parah, bisa-bisanya Aster lupa. Mungkin malam hari ketika gadis itu mandi? Ia ingat betul telah menampar nyamuk dengan gelang jam yang masih melingkar di tangan.
Setelah itu, keesokannya, ia bersama Pangeran Pertama mencari Sari.
"Ah?" Aster mengangkat kepala, kemudian melihat banyak tanda tanya pada tatapan Pangeran Kelima.
"Ada apa? Jangan katakan gelangnya hilang."
Tebakan laki-laki itu tepat sasaran. Aster menyentuh bibir menggunakan telunjuk, pose berpikir. Kalau bukan Pangeran Pertama, tersangka kedua memang bisa saja Pangeran Kelima. Laki-laki ini telah membawanya ke kamar, mengganti pakaian, terlebih dia tahu mengenai gelang itu.
Pak Steven mengatakan gelang jam tersebut dapat membantu Aster pada situasi genting, bahkan menyelamatkannya jika dalam bahaya. Muncul beberapa lipatan di dahi Aster, menandakan bahwa gadis bermanik madu tengah memikirkan hal rumit.
"Sepertinya gelangku diambil orang," ucapnya getir.
"Bukan aku." Pangeran Kelima berkata dingin.
Aster tersenyum kuda. "Eii, mana berani aku menuduh Kakak Kelima?"
"Huh, tapi caramu menatapku mengatakan sebaliknya."
"Ahaha. Tidak tuh! Hanya perasaan Kakak Kelima. Tapi, Kak. Sebaiknya aku pulang sekarang karena perlu memastikan sesuatu."
"Kau mau mencari gelang jam?"
"Benar ...." Angguknya sedih.
"Makananmu belum habis." Pangeran Kelima seolah menyiratkan makna kalimat bahwa Aster harus menghabiskan semua makanan jika ingin pulang. Akan tetapi, Aster tak bisa lama-lama tinggal di sini.
"Jangan berbohong! Kau belum makan seharian. Bagaimana perutmu bisa kenyang hanya dengan beberapa suapan?" sentak Pangeran Kelima. Sementara gadis di depannya berkedip dua kali. Ia hampir menyamakan Ketua Kelas dengan Pangeran Kelima, padahal sifat keduanya jauh berbeda. Kris tidak akan memaksa apalagi membentaknya.
Aster mengeluh. "Begini saja. Saya akan mengambil beberapa lauk untuk dimakan di rumah? Bagaimana?"
Laki-laki tersebut menaikkan sebelah alis. Mendengar Aster berbicara dengan bahasa baku, Pangeran Kelima menjawab setengah hati. Asalkan adiknya mau makan. "Kalau itu boleh."
Fyuh.
Akhirnya, Aster meninggalkan paviliun Pangeran Kelima sambil menenteng keranjang berisi ayam bakar. Ia menyusuri jalan setapak sendirian setelah bernegosiasi panjang dengan Pangeran. Laki-laki pemaksa itu ingin sekali mengantarnya ke Paviliun Keheningan, seolah-olah akan ada penjahat di tengah jalan.
Alasan mengapa Aster tidak menyetujui keinginan kakaknya adalah karena tujuannya bukan Paviliun Keheningan, melainkan bangunan termegah nomor satu yang kini berdiri tak jauh dari tempatnya berpijak. Desain interior mulai dari tembok pembatas, dinding, hingga pintu pun terlihat mencolok. Semuanya terbuat emas. Gadis itu berdecak iri.
Belasan pelayan pribadi terlihat mondar mandir di teras. Meski bulan berganti matahari, Pangeran Pertama tetap mempekerjakan pelayannya sampai mata tertutup. Aster mengepalkan tangan begitu di luar—tanpa mengacuhkan kedatangan Putri Ketigabelas—Pangeran Pertama asyik menyiksa salah satu pelayan.
Dengan senyum miring, Pangeran Pertama mengendalikan energinya untuk mengangkat tubuh orang. Tanaman itu persis seperti hadiah Pangeran Pertama yang menggangu halaman paviliun milik Aster.
"Uaakh, T-tuan Pangeran. Tolong ampuni saya, hisk!" mohon wanita tersebut dengan banjir air mata. Batang berbuluh sedang melilit erat tubuhnya.
"Pangeran Pertama!" teriak Aster. Ia menghampiri lelaki itu.
Pangeran Pertama menoleh. Senyum miringnya semakin menjadi. "Adikku Tersayang, tidak menyangka bisa melihatmu lagi. Aku kira kau sudah dikemas apik dan dikirim ke istana lain."
Aster mendengus kesal. Ia melihatnya melalui ekor mata, manusia yang terombang-ambing oleh tanaman raksasa tengah menahan jerit ketakutan. Para pelayan yang sejak tadi berlalu lalang di teras pun tidak menghiraukan tindakan majikannya. Seolah mereka buta.
"Aku tidak tahu kapan tepatnya Yang Mulia membuangku ke Istana Sebelah, tapi sebelum itu, tolong kembalikan barangku!" Aster mengadahkan sebelah tangan. Pandangan matanya masih tajam.
"Barang apa? Aku tidak mengambil gelang jam milikmu. Itu pasti orang lain," elaknya.
"Hei, aku bahkan tidak menyebutkan barang apa yang hilang, tapi kau langsung tahu. Kau pasti sengaja mengambilnya kan? Sebenarnya untuk apa sih? Astaga kan nggak ada faedahnya buatmu." Aster menjambak rambutnya frustrasi.
Pangeran Pertama menahan tawa. "Tentu saja ada."
"Memangnya apa?"
"Menyulitkanmu."
"Eerrgh! Kau kurang kerjaan, ya?" Aster menggerakkan tangan seakan hendak mencekik Pangeran Pertama. Padahal masalah Aster sudah banyak, tapi lelaki ini tambah mengganggunya.
Haruskah gadis itu jabarkan satu-satu? Pertama, dia belum mencari syair bait keempat yang dibacakan saat ritual pengangkatan. Kedua, dia belum menemukan kucing ajaib. Dan ketiga, dia belum menemukan pencuri kalung ajaib. Sedangkan, untuk kembali ke dunia asal dia perlu menjalankan misi utama yang Aster tidak tahu apa itu. Hah, cukup sudah semua beban mimpi ini! Aster merasakan otaknya mendidih.
Bodoh, miaw!
Aster tersentak. Kepalanya agak terangkat mendengar suara kucing ajaib. Apakah halusinasi?
Pangeran Kelima tertawa lepas. "Bukankah hidup di Istana sangat membosankan? Selain itu, kenapa perwakilan jiwa tidak boleh keluar Istana tanpa utusan? Nasibmu benar-benar bagus, ya, Aster."
Teriakan melolong kesakitan menghiasi tawa jahanam Pangeran. Aster menutup telinga. "Bisakah kau lepaskan wanita itu?"
"Kenapa? Kau mau jadi pengganti?"
"Hoho, tidak!" balasnya cepat. Dia membentuk huruf 'X' menggunakan kedua lengan. "Silahkan Anda teruskan." Aster tersenyum manis.
Pangeran Pertama tertawa lagi.