
Gadis itu menoleh pada teras bangunan tersebut. Paviliun cantik mendadak suram. Benar saja, sesuai perkiraan Aster. Bunga Krisan tadi menghilang tanpa jejak seperti bunga-bunga di halamannya beberapa waktu yang lalu.
"Kakak Kelima, bukankah kau bisa menghidupkannya lagi?"
"Apa?"
"Bunga itu ... tolong gunakan energimu untuk menghidupkan beberapa. Supaya paviliunnya tidak terlihat suram."
Pangeran Kelima memandang jari-jarinya. Ia merenggangkan kelima jari tersebut, namun pada akhirnya menggeleng pelan. "Kalau sekarang tidak bisa."
"Kenapa?" tanya Aster sambil mengerucutkan bibir.
"Aku belum makan, jadi kurang energi. Memangnya kau tidak lapar? Kau kan pingsan seharian belum makan."
Kalau diingat-ingat, Aster sudah dua hari tidak makan. "Aku lapar!"
"Ya sudah, ayo ikut aku makan malam. Kebetulan pelayanku sudah menyiapkan makanannya."
Di ruang makan, lebih tepatnya kamar Pangeran Kelima. Kamar ini memang tergolong luas sehingga tersedia cukup ruang untuk meletakkan meja kecil di samping tempat tidur. Aster meneteskan air liur di depan piring yang tersusun di depannya.
Tapi, ayam bakar? Tunggu.
"Kakak Kelima, bukankah kita tidak boleh membunuh makhluk hidup? Kenapa kita bisa makan ayam bakar?"
"Dari mana kau dapat larangan itu?"
"Dari buku."
"Pasti bukan buku terbitan Istana Bunga. Pada dasarnya aturan dan larangan setiap Istana berbeda-beda. Larangan yang kau sebutkan berasal dari Istana Dinding."
"Istana Dinding?"
"Iya." Pangeran Kelima menghirup secangkir teh, tapi sepertinya bukan sembarang teh.
"Istana Dinding di mana?"
"Sangat jauh. Butuh berbulan-bulan jika mengandalkan kaki saja."
"Memangnya kalau tidak pakai kaki, ada mobil?"
Pangeran Kelima mengernyit. "Apa itu mobil?"
"Kendaraan yang bisa membawamu ke mana saja."
"Kalau kendaraan, kereta kuda bisa mempersingkat waktu. Kemampuan terbang, teleportasi, dan artefak sihir akan sangat membantu. Kenapa kau menanyakan ini?"
Aster meneguk ludah sembari diam-diam mencuri pandang ke arah minuman Pangeran Kelima. Terlihat menyegarkan melihat ekspresi laki-laki menikmati minumannya.
"Hehehe. Sebentar lagi aku kan harus pergi ke Istana Apung. Aku hanya penasaran akan naik apa ke sananya."
Lalu Pangeran Aedes mendorong cangkir yang terbuat dari perak ke hadapan gadis itu, berniat memberikannya supaya diminum. "Kemarin Pangeran Aedes datang menaiki kereta kuda, tapi mengingat dia punya kemampuan bersayap pasti jarak berhari-hari itu bisa dilalui dalam waktu singkat."
"Ohh. Omong-omong air apa ini?" Aster mengangkat cangkir tersebut, lalu melihat isinya dari dekat. Bunga-bunga kecil berwarna putih mengambang di permukaan teh.
"Teh melati dengan campuran sedikit madu. Kau boleh mencobanya."
Pangeran Kelima tersentak. "Lalu selama ini kau makan dengan cara apa?"
"Hmm kunyah, mulut?"
Helaan napas keluar dari bibir tipis lelaki tersebut. "Kau seharusnya mengatakan itu sejak awal. Bagaimana aku bisa mengajarimu kalau tidak bicara?"
"Aku saja tidak tahu apa yang harus kupelajari. Sebentar lagi aku kan pergi ke Istana Apung. Aku khawatir mati kelaparan jika belum menguasai penyerapan aroma. Saking khawatirnya, begitu mata terbuka aku pikir telah dibawa ke tempatnya Pangeran Ketujuh."
Pangeran Kelima mengernyit tidak suka apabila Aster terus mengungkit pasal dirinya yang akan segera pergi ke Istana Apung. "Kau sangat ingin sekali ya pergi ke Istananya Pangeran Ketujuh?"
"Ti-tidak kok." Apa hanya halusinasi Aster yang belum pulih. Iris Pangeran Kelima lebih terang dan berkilau. "Maksudku, setidaknya aku harus bisa melakukan penyerapan aroma sebelum berangkat ke sana. Apa Kakak Kelima berkenan mengajari Adik?"
Aster tersenyum manis, namun tidak memadamkan tatapan getir yang dilayangkan ke arahnya. Pangeran Kelima mengambil ayam utuh dengan tangan kosong, kemudian memisahkan bagian paha. Paha itu ditaruh di atas piring kecil. Ia pun mendorong piring kecil tersebut ke hadapan Aster. "Makan. Kau pasti lapar, kan?"
"Apa? Umm, tapi gimana?"
"Di Istana Apung 'penyerapan aroma' tidak diperlukan. Mereka yang tinggal di sana makan seperti manusia. Menggunakan alat makan, mengunyah makanan, dan mengeluarkan apa yang sudah mereka telan. Jadi kau boleh memakannya dengan mulutmu mulai sekarang."
"Tapi ...." Makan menggunakan tangan selagi dilihat oleh Pangeran Kelima ... rasanya agak canggung. Kalau di dunia nyata, ia terbiasa melakukan itu bersama Vanesa saat menyantap menu Rumah Nasi Padang.
Kalau tidak makan, mati. Ah, bodoh amat! Aster kini memegang paha ayam seperti aktor iklan M* Don*ls. Ia menggigitnya menggunakan taring kecil, lalu menariknya hingga bagian daging terkoyak.
Pangeran Kelima menatap lamat-lamat pada gadis itu. Ini pertama kali dia melihat seorang perwakilan jiwa makan pakai gigi. Taring kecil dan cara Aster mengoyak daging pun tampak menggemaskan. Lihatlah pipi menggembung itu, Pangeran Kelima tidak dapat menahan tawanya.
"Jangan tertawa! Siapa suruh tidak mengajariku penyerapan aroma. Aku tidak mau tanggung jawab kalau kamarmu jadi berantakan," ucap Aster. Pipinya merah. Tampang Kris di mimpi lumayan juga kalau tertawa lepas seperti tadi.
Pangeran Kelima mengalihkan pandangannya ke bawah. Minyak yang berasal dari paha ayam menetes ke permukaan meja, tapi tidak ada tanda-tanda risih. Ia telah membuat tangan kanannya berlemak setelah mengambil potongan paha ayam untuk Aster.
"Kris—eh, maksudku Kak."
Pangeran Kelima mendapati raut wajah gadis itu. Dia syok atas apa yang dipegang Pangeran dalam tangannya.
"Apa?"
"K-k-kenapa kau mengambil dengan tangan? Itu kan kotor."
Pangeran Kelima tersenyum, lalu memasukkan irisan daging ikan ke dalam mulut. Pangeran Kelima mengunyah itu dengan sangat baik. "Emm, ternyata cara makan semacam ini juga enak."
"Haa ...." Aster melirik ke arah lain. Ia tak habis pikir mulut Pangeran Kelima yang tak pernah mengecap makanan apakah gosok gigi setiap hari.
"Ugh!" Pangeran Kelima meringis, kemudian mendesis. "Ssh, sepertinya ujung lidahku putus."
Laki-laki itu setengah tertawa, namun tersiksa. Ini memalukan. Setelah ratusan tahun hidup mendiami tubuh manusia, setelah sekian lama tidak mengunyah makanan, ia pun lupa membedakan mana lidah mana yang harus dikunyah.
"Coba lihat! Apakah sakit?" Aster berpindah ke sisi tempat duduk Pangeran Kelima. Menangkup wajah itu dengan agak mengangkatnya. "Kris, cepat buka mulutmu."
Tanpa penolakan, dia menurut dan membuka mulutnya. Aster menelisik ke dalam, mencari apakah terdapat luka serius. Seperti yang Pangeran Kelima katakan, ada bercak darah di ujung lidah. "Duh, kayaknya parah nih. Lo gimana sih gigitnya."
Pangeran Kelima mengamati Aster yang menatap dengan serius. Apa gadis ini sadar sedang melakukan hal berbahaya?
Merasa diperhatikan, Aster menaikkan pandangan membalas mata cokelat itu. Seketika kepalanya seperti dirubung semut. Apa yang kulakukan? Pikirnya, merutuki diri sendiri. Lemak di telapak tangan jadi berpindah ke wajah rupawan cowok itu. Daritadi ia menganggap Pangeran Kelima adalah Kris si ketua kelas. Bodohnya.
"Ah? Ah ...." Wajah Aster semakin merah dan merah, pusing. Apakah demamnya belum menurun? Dia Gemetar. Aster reflek menjauhkan tangan kotor dari Pangeran. "Tolong maafkan kelancangan saya."