
Aster terngiang dengan perkataan kucing ajaib pada waktu. "Kau tahu, miaw, aku tidak yakin apakah kata-kataku ini bisa memberimu stimulan untuk segera menyelesaikan misi atau tidak."
Sebuah helaan napas, terdengar berat. "Tapi semakin lama kamu menjalankan misi semakin banyak ingatanmu di kehidupan nyata yang akan melebur. Tidak hanya itu miaw, tubuhmu juga akan sangat kesakitan dan pada akhirnya mati karena rohmu yang pergi terlalu lama bagian terburuknya adalah kamu tidak akan mengingat kehidupan nyata dan terjebak di dunia ini selamanya."
Vanessa?
Siapa itu Vanessa?
Aster lagi-lagi memikirkan gadis tadi. Ia yakin pernah mendengar nama Vanessa di suatu tempat, kemudian sosok bayangan gadis seusianya yang memakai seragam sekolah.
Bukankah itu petunjuk bahwa dia Vanessa? Akan tetapi, Aster tidak mampu mengingat kembali wajahnya. Aster mendesah pelan.
Bagaimana ini? Sepertinya ucapan kucing ajaib bukan main-main. Banyak hal yang Aster lupakan setelah menjadi bagian dari perwakilan jiwa.
Aku takut, ucapnya dalam hati. Aku takut sekali tidak bisa mengingat kehidupan nyataku dan mati di sini.
Sedangkan di sisi lain, Vanessa si budak tersenyum sembari memeluk kotak pemberian Putri Aster. Ia sedang perjalanan menuju pasar. Lalu kakinya terhenti melihat Tuan Le menunggunya, bersandar santai di bawah pohon.
Senyum bahagia pudar seketika. Lututnya lemas seperti jeli. Akhirnya, Vanessa menjatuhkan diri. "Tuan, saya minta maaf. Saya pantas mati."
Pria berjarak tiga meter mengepulkan asap rokok dari mulutnya. Pandangannya tertuju pada kotak mewah yang dibawa Vanessa. Menyadari hal tersebut, Vanessa semakin mengeratkan pelukannya pada kotak kecil.
Tuan Le mengangguk-angguk. "Ayo kembali," ucapnya tanpa amarah.
"Anda tidak memarahi saya?" Vanessa bertanya bingung.
Tanpa menoleh dan terus berjalan, Tuan Le balik bertanya, "Kau ingin dimarahi?"
"Tidak!" balasnya cepat. Detik berikutnya, senyum haru mengembang. Vanessa pikir harus meninggal saat itu juga. Tidak menyangka Tuan Le mengampuni seorang anak yang kabur. "Terima kasih, Tuan."
***
"Huek!" Aster mual, namun hanya angin yang keluar. Jangan mengira dirinya hamil. Ini sangat jelas merupakan gejala masuk angin. "Huk, ugh!" Aster menutup mulut sebab tidak ingin mengeluarkan suara orang mau muntah.
Matanya melirik orang di sekitarnya satu per satu. Sekarang dia menjadi pusat perhatian. Perwakilan jiwa yang baru saja tiba di Istana Apung. Semua orang berkumpul di luar gerbang untuk menyambut kedatangan sang putri.
Mereka berasal dari penduduk sekitar alias rakyat biasa. Sinar mata yang seperti melihat harapan. Apa itu? Kenapa mereka terlihat sangat senang?
Ini tetap memalukan. Kalau saja bukan karena Pangeran Aedes yang menggunakan kemampuan anginnya agar kereta kuda bisa terbang, Aster mustahil masuk angin begini. Namun, berkat kemampuan Pangeran mereka tiba lebih cepat. Seakan-akan, keretanya ditaburi bubuk Pixie emas milik Thinker Bell.
Hanya saja, terlalu cepat!
Aster menggeleng lemah. "Saya agak masuk angin," ucapnya ketika ditanya Pangeran apakah Aster baik-baik saja.
"Apa itu masuk angin?"
Serius lo nggak tau? Pangeran Aedes menunggu jawaban dengan tatapan polosnya. "Emm, yah ... saya pun bingung bagaimana menjelaskannya."
Omong-omong. Konsep bangunan Istana Bunga dan Istana Apung sangat berbeda, ya. Aster mendongak. Istana Bunga mirip bangunan di zaman dinasti, sedangkan Istana Apung lebih mirip bangunan Istana di zaman Victoria.
"Ah!" Aster menoleh kaget ketika sebuah tangan dingin tiba-tiba menggandeng tangannya. Gadis itu mengernyit sebab Pangeran Aedes menatap tajam ke arah langit. Memegang tangan Aster begitu erat, seolah berusaha mengamankan makanannya dari saingan predator yang lain.
Lalu, sehelai bulu hitam mendarat di ujung hidung. "Hatsyu!" Aster reflek menutup mulut menggunakan sebelah tangan.
Pangeran Aedes masih tidak mau melepas genggamannya. Dia mengumpat pelan, "Sial. Aquila datang."
"Hah, siapa?" tanya Aster.
Bukannya menjawab, laki-laki itu mendadak berjalan sambil menarik tangan Aster. Sehingga mau tidak mau Aster harus mengikuti meski jalannya terseok-seok karena gaun sialan ini.
Rupanya Pangeran Aedes ingin mengajak Aster agar lebih masuk ke area Istana. Kini gerbang di depannya terbuka sendiri. Aster tertegun. Padahal tidak ada penjaga di sekitarnya, tapi gerbangnya—ah ... Aster melupakan satu hal.
Ia menunduk, mengamati jari Pangeran Aedes yang tertaut di sela-sela jemarinya. Pengendalian angin milik Pangeran Aedes terdengar bukan kemampuan kaleng-kaleng. Apa semua penghuni Istana Apung dapat mengendalikan angin?
Hebat sekali. Aster merasa dirinya adalah makhluk paling kecil di tempat ini.
Ia pun memantapkan langkah. Ingatan ketika berada di mimpi simulasi tiba-tiba terlintas, yaitu saat Pangeran mendahului langkahnya karena jalan Aster yang lambat. Kali ini Pangeran Aedes malah menggandengnya.
Aster mengangkat kepala dan dibuat terbelalak pada bangunan megah di depannya. "Waaah!"
Mulutnya setengah terbuka. Istana Apung bergaya Victoria memang luar biasa! Lihatlah ketinggian itu. Lehermu bisa patah jika terus mendongak. Lantai bertingkat-tingkat. Setidaknya terdapat dua puluh lantai. Ini gila. Lalu, Halaman istananya juga luas, tapi sedikit aneh.
Di sini tidak ada satu pun tanaman. Akan lebih baik kalau terdapat bunga yang bisa dijadikan hiasan. "Pangeran Ketujuh, berhenti sebentar!"
Pangeran Aedes lalu membalikkan tubuhnya. Melayangkan tatapan kesal. "Apa lagi sekarang?"
"Bisakah Anda melepaskan tangan saya dulu?"
"Tidak."
Wah, langsung ditolak?
Aster menahan langkah Pangeran Aedes saat laki-laki itu hendak berbalik. "Ahh, Pangeran! Hanya sebentar kok. Saya mohon." Ia menggoyang-goyangkan lengan Pangeran Aedes. Bertingkah imut juga ada syaratnya. Tentu saja, senyum Aster paling manis di dunia!
"Hah, baiklah."
Pangeran Aedes cukup penasaran apa yang akan dilakukan gadis itu. Tangannya mulai merentang dengan anggun. Bulu mata lentiknya terlihat memesona di mata siapa pun.
Karena merasakan gejolak yang aneh dalam hatinya, Pangeran Aedes segera memalingkan wajah ke arah lain. Entah kenapa pipinya terasa panas, padahal suhu Istana Apung di siang hari cukup rendah.
Ia tersentak saat bunga-bunga mulai tumbuh di halaman Istana. Warnanya bermacam-macam. Putih, kuning, ungu. Namun merah lebih dominan. Pangeran Aedes mencium aroma jiwa aster yang pekat. Lantas dia menoleh pada Aster.
Gadis itu menggerakkan jemarinya dengan gemulai. Seperti sedang menari tarian yang indah. Dan dari ujung telunjuknya mengalir energi jiwa yang kini tersebar luas.
Tunggu, kalau seperti ini Aster bisa kehabisan energi. "Putri, hentikan sekarang!"
"Hei, hentikan!" ulangnya sambil menekan kedua pundak Aster.
Energinya terputus.
"Ah? Ma-maaf. Saya tidak berpikir halamannya seluas itu. Jadi tanpa sadar sepertinya saya hampir mencapai batas." Aster tertawa kaku sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Pangeran Aedes mencuramkan alis. Setelah itu, dia berbicara dengan nada tinggi. "Apa yang lakukan pada halamanku!"
"Astaga, astaga, bau enak apa ini?" tanya seseorang yang entah muncul dari mana.