Vampire Aedes

Vampire Aedes
61. Dijemput Yey!



Pangeran Ketujuh mencari gadis itu ke mana-mana. Tadinya ia ingin menghisap darah Aster, tetapi di kamar, ruang makan, halaman, dia tidak ada di mana pun! Aroma manis yang biasa menguar dari tubuh Aster hanya berupa jejak di setiap bagian bangunan Istana yang telah disentuh olehnya.


Penciuman Pangeran berhenti di sebuah pintu dengan tulisan acak. Laki-laki itu meninju tembok sebab tidak bisa memecahkan mantra sihirnya.


"Astaga, astaga, kenapa kamu tampak kacau sekali Pangeran Ketujuh?" tanya Pangeran Danaus sambil tersenyum.


Melihat musuhnya itu tersenyum, entah kenapa Pangeran Ketujuh teringat jelmaan kucing yang bermuka jutek.


Pangeran Ketujuh mendecak. Aster tidak ada di Istana Apung. Kemungkinan paling besar adalah dia diajak jelmaan kucing tersebut pergi ke Istana Bunga. Jika demikian, dia perlu meminta izin menggunakan pintu ini kepada Pangeran Danaus.


"Apa kau ... bisa membantuku membukanya?" tanya Pangeran Ketujuh sambil menahan matanya agar tetap berwarna hitam.


Pangeran Danaus sekilas melihat mata merah milik Pangeran Ketujuh. Entah sudah berapa lama nyamuk jantan itu tidak meminum darah. Dirinya berpikir sejenak sebelum meminta imbalan yang menguntungkan.


"Hmm, aku mau membantu asalkan saat dia kembali, kamu juga mau berbagi darahnya denganku. Bagaimana?" tawar Pangeran Danaus.


Seketika rahang Pangeran Ketujuh mengeras. Tangannya mengepal kuat, detik berikutnya, kepalan tersebut mendarat di wajah Pangeran Danaus dengan kuat sampai tubuh Pangeran Danaus terpental ke tembok.


"Kau gila ya?!" teriaknya memaki Pangeran Ketujuh sambil memegang hidungnya yang patah.


"Maaf, sifat rohku yang menduplikat mungkin lebih ganas dari sifat roh yang asli," jawab Pangeran Ketujuh, tanpa sadar menunjukkan keempat taring.


Pangeran Danaus mengepalkan tangan berusaha menahan amarah. "Hei ... apa kau tidak waras? Menyerang orang lain di siang hari. Aku yakin Yang Mulia Raja akan membakarmu karena sudah melanggar aturan!"


"Astaga, astaga," ucap Pangeran Ketujuh meniru gaya bicara Pangeran Danaus. Dia berjalan mendekati tubuh Pangeran Danaus yang terkapar di lantai, lalu berjongkok mensejajarkan posisi. "Kakak, aku sangat bosan dengan Istana Jelek ini. Kalau kamu tidak mau membuka pintu portalnya, bagaimana jika aku menghancurkan Istana?"


"Adik Ketujuh, apakah kamu selalu begini setiap merasa lapar? Atau jangan-jangan kamu terlalu mencemaskan gadis itu yang hanya seorang Putri Tumbal." Pangeran Danaus memandang sinis, ia tersenyum miring seolah menguji nyali Pangeran Ketujuh.


Laki-laki di hadapannya bangkit dan mulai memanggil angin ribut. Ia tidak tahu kenapa dirinya semarah ini. Putri Tumbal, ya ....


Pangeran Danaus terbelalak saat benda tajam melayang bebas, kemudian mengarah tepat ke matanya.


***


"Kedudukan membawa kemakmuran. Pohon-pohon menghadapi musim gugur. Air sungai berwarna merah. Jiwa yang terbawa arus kehidupan, semoga selamat dari kematian."


Begitulah isi bait syair keempat. Pangeran Pertama membacanya dari sebuah buku kuno yang selalu ia bawa ke mana-mana. Buku ini adalah pegangan wajib bagi peraih lima posisi teratas dalam sistem Istana Bunga.


Aster merebut buku tersebut dari tangan Pangeran Pertama, tetapi hanya melihat halaman kosong. Ia menatap bingung. "Jangan mengarang, ini halaman kosong."


"Tentu saja kosong karena kamu tidak punya kualifikasi untuk melihat isinya. Aku adalah Pangeran Pertama, jadi tidak usah ragu dengan apa yang kubaca," jawabnya santai sembari mengambil buku yang Aster rebut.


"Saya tidak mengerti. Apa artinya?"


"Artinya hanya orang-orang tertentu yang bisa membaca syair."


Pangeran Pertama terkikik. "Sayang sekali, aku tidak bisa memberitahumu tentang itu."


"Omong-omong, Pangeran. Dari mana Anda tahu kalau saya mencari bait syair keempat?" tanya Aster penasaran.


Pangeran Pertama mengetuk pelan kepala Aster dengan ujung telunjuk. "Pikiran," katanya, "aku bisa membaca pikiran."


Aster melebarkan mata. Benarkah laki-laki ini bisa membaca pikiran? Bukankah kalau begitu, dia tahu semua hal yang kusembunyikan sejak awal?


"Kalung Ajaib, Kucing Ajaib, Misi untuk kembali ke dunia asing. Itulah yang kamu pikirkan sekarang," ucap Pangeran Pertama sambil mengernyit. "Dunia seperti apa yang kamu pikirkan? Kelihatannya buram sekali."


Sedangkan gadis di sampingnya menelan saliva susah. "Mungkin karena saya tidak mengingat dengan jelas, makanya dunia yang Anda sebutkan menjadi buram. Itu sebabnya saya harus menyelesaikan misi dan kembali ke dunia sebelum—"


Aster menghentikan perkataannya, menyadari bahwa ia berbicara sangat banyak.


"Sebelum apa?"


Aster mengembuskan napas. "Anda pasti membaca pikiran saya," jawabnya lesu, kemudian meletakkan wajah ke tepi meja sambil memandang orang-orang sibuk mengelilingi rak buku.


Entah berapa lama lagi waktunya tersisa.


"Bicara soal waktu, aku baru saja menyelesaikan misiku lebih awal," ucap Pangeran Pertama.


Aster mendongak. "Anda punya misi juga?"


Pangeran Pertama mengangguk. "Setiap perwakilan jiwa pasti mempunyai misi. Tidakkah kamu penasaran dengan misiku?"


Aster menggeleng. "Terima kasih, tapi misiku saja sudah memusingkan. Aku tidak ingin mendengar misi orang lain. Itu akan membuatku semakin pusing."


"Pfft, kamu benar. Misiku memang akan membuatmu semakin pusing," balas Pangeran Pertama diselingi tawa.


Aster baru saja terpaku pada sosok laki-laki di sampingnya ketika tertawa. Aura pangerannya sangat kentara. Beberapa detik Pangeran Pertama tampak begitu hangat. Apakah karena kemampuannya adalah api?


Gadis itu memejamkan mata, kemudian menggeleng kuat berusaha menolak pesona seorang Pangeran. Saat matanya terbuka, sosok Pangeran Ketujuh dari Istana Apung muncul di belakang punggung Pangeran Pertama.


"Apa ini mimpi dalam mimpi?" gumamnya.


"Mimpi apa?" tanya Pangeran Pertama, bingung. Ia merasakan hawa dingin dari belakang. Setelah menoleh, ternyata sosok dari negeri seberang memandangnya dengan pelototan. "K-kau ...."


Aster segera merapikan diri, bangkit dari duduk. "Pangeran Ketujuh, bagaimana bisa Anda—"


"Pangeran Ketujuh dari Istana Apung, perwakilan jiwa Aedes Aegypti, menyapa Pangeran Pertama. Maaf karena kedatangan saya mendadak, tapi saya harus membawa Putri Aster kembali ke Istana Apung," ujarnya tanpa basa-basi sambil menarik lengan Aster.