
"Istana masih aman seperti biasa, katakan itu saat kalian melapor pada Yang Mulia. Gadis ini.... kalian tahu harus diapakan." Pangeran Ketiga menepuk salah satu prajurit, sebelum berjalan melewatinya. Mereka semua mengangguk dalam diam.
Pagi-pagi sekali, Aster menguap sambil menyibak selimut. Kelambu merah muda masih tertutup, menandakan dunia mimpi masih berlanjut. Dia duduk bermenung memikirkan kejadian semalam. Terlihat alis hitam tersebut bertautan. Tiba-tiba merasa sangat pusing. Semalam, Kris menyuruh ia untuk kembali ke kamar membuat tubuhnya kurang asupan dan lemah.
Aster menggeleng kuat agar denyut pada kepala berkurang, namun tak disangka malah memperparah. Pintu dibuka, cahaya menyorot sosok perempuan yang sudah ia anggap seperti kakaknya. "Sari, kebetulan lo di sini. Kepala gue sakit banget! Ada obat nggak?"
Anggota Istana jarang ada yang sakit, sehingga jarang menyimpan obat. Kecuali serbuk yang diberikan kemarin. "Anda mau meminumnya sekarang?"
"Ya. Tolong bawakan obatnya, " ucap Aster dengan wajah pucat. Tak lama, pelayan itu kembali dan menawarkan segelas minuman hangat. "Terima kasih."
"Sudah merasa lebih baik?"
Aster hanya tersenyum sembari menyerahkan gelas kosong. Entah kenapa sakitnya tak kunjung pergi. Kebisingan di luar turut membuat kepalanya meledak. "Sssh, berisik!"
"Hari ini perkenalan Pangeran Ketujuh dari Istana Apung. Mereka berbondong-bondong menuju aula untuk melihatnya. Tuan Putri juga harus ke sana, saya sudah menyiapkan air hangat untuk Anda mandi." Sari memelankan suara, "Pakaian khusus disiapkan oleh Putri Kedua."
Aster menoleh. Mengapa Putri Lavender perlu repot-repot menyiapkannya pakaian? Lagi-lagi dia menggeleng sebab tak mau ambil pusing. "Iya, oke, kau jaga saja di luar. Jangan biarkan siapa pun masuk."
Akankah ke depannya baik-baik saja? Meski ini mimpi sekali pun, Aster tidak ingin mati konyol—menjadi Putri Tumbal—yang berperan memproduksi darah.
Kini, Aster berdiri menghadap cermin ukuran besar. Dari atas sampai bawah jika diperhatikan sangat memukau.
Gaya pakaian Putri Kedua, tidak kuno sama sekali. Lumayan, ujarnya dalam hati. Tubuh mungil Aster berbalut gaun ungu yang kainnya jatuh. Tidak mengembang, tidak berat ketika berjalan. Ia berputar ke kanan dan ke kiri memastikan penampilan yang perfect.
Sari menghentikan sebentar aksi tuannya untuk memperbaiki hiasan rambut di atas telinga Aster. Rambut legam sangat cocok dengan hiasan perak. "Anda terlihat sempurna."
Ya. Hampir sempurna, sayangnya ada aroma lavender yang kuat. Ia kurang suka. Di dunia nyata, Aster selalu menghindari orang-orang yang memakai parfum menyengat. Mereka membuat hidungnya pusing.
"Tuan Putri, apa ada masalah?"
"Aku mau ganti."
"Tapi—"
"Keluar."
Sari menghela napas. Sikap dingin yang Aster tunjukkan berbeda dari biasanya, mengingatkan pelayan tersebut kepada Pangeran Ketujuh. Pipinya bersemu merah membayangkan Tuan Putri digendong Pangeran pada malam itu. Kalau dilihat-lihat, mereka berdua cocok apa lagi sepertinya Pangeran Ketujuh memang tertarik dengan Tuan Putri Aster.
Setelah memakai pakaian yang dia inginkan, Aster keluar kamar, namun mendapati halaman yang sepi. Bahkan Sari tidak berjaga di depan pintu. Akhirnya memutuskan untuk berjalan sendiri ke aula. Untung saja masih ingat jalan. Tidak sia-sia penjelajahan kemarin.
Di tengah perjalanan, tercium aroma mawar. Aster sangat menyukai bunga berduri tersebut. Melihat banyak mawar merah bermekaran, sungguh gatal kalau tidak memetik. Paviliun di depannya begitu cantik, tapi sepertinya kosong. Aster diam-diam mematahkan satu tangkai mawar, lalu berlari sejauh mungkin.
"Aku tidak ada niatan mencuri, mawar di sana begitu banyak kenapa kau pelit sekali sih?" Masih enggan menengok si pelaku. Aster hanya merasakan tangan orang tersebut merebut mawarnya. Berhasil memanasi hati Aster.
"Aku kan sudah minta maaf, ambil ya ambil saja. Tidak usah menahanku lagi—akh!" Aster langsung berbalik seraya menyimpan tangan. "Kau menjilat?" Mata Aster membulat, laki-laki bertaring tengah membasahi bibir bawahnya dengan lidah.
"Benar-benar manis. Mengambil mawar jelek sampai terluka begitukah? " Vampir sialan tersenyum miring. Ia berlari dari aula ke sini karena mencium darah menggiurkan, setiap tetesnya semanis madu tentu sayang kalau jatuh di antara debu.
Aster bergidik ngeri. "Apa kau mengajak adikmu?"
Senyum miring Pangeran Aedes kian lebar. "Aster ... dari awal pertemuan, kau ketakutan dan berlari seperti dikejar anjing liar."
Kaulah anjingnya, anjing liar penjilat! Aster memaki-maki dalam hati. Namun jujur, sampai sekarang pun masih ketakutan.
"Aku tak heran kenapa kau melarikan diri dariku. Karena malam itu, ternyata kau sudah tahu identitas dan sifatku yang asli."
Muncul tanda tanya di benak Aster. Sifat yang asli? Malam itu? Aster mulai pusing mengingat apa saja yang terjadi malam itu. Dia tidak ingat. "Apa maksudmu?"
"Hari ini, kau bahkan menanyakan adikku. Aku penasaran, dari mana kau tahu bahwa aku mempunyai seorang adik?"
"Aku ...." Aster ingin lari, tetapi kakinya gemetar sampai ingin pingsan.
"Jangan berpikir untuk lari. Saat itu aku tidak mengejar karena bau wanita itu ada padamu. Kali ini tidak ada kesempatan untukmu lari." Pangeran Aedes mencengkeram kedua bahu Aster. Gadis tersebut meringis kesakitan, ditambah denyut kepala yang semakin menyerang.
"Pangeran Aedes, kepala saya pusing. Tolong lepaskan." Mendengar nada Aster yang lemah lembut, sang Pangeran iba dan menurunkan kedua tangannya.
"Oh, tiba-tiba bersikap sopan. Apa kau pura-pura sakit?"
Aster tidak mendengar apa-apa lagi. Gendang telinganya berdenging. Kemudian sepasang tangan merangkul perutnya. Tentu saja Pangeran Aedes yang mengangkat Aster ke dalam gendongan. Entah kenapa setiap bertemu selalu gadis ini tak sadarkan diri.
"Hei, bangun! Kau ini benar-benar manusia ya? Ck, merepotkan!" Mau tidak mau, Pangeran membawa Aster dengan cara seperti itu. Bunga bermahkota merah yang tadi jatuh sudah layu, Pangeran sengaja menginjaknya sampai tidak berbentuk.
Di sisi lain, Putri Mawar menahan sesak. "Kakak, apa kau baik-baik saja?" tanya Putri Teratai. Mimik cemas tak luput dari wajah. Meski sering bertengkar, mereka berdua tetap saling peduli layaknya keluarga.
"Diamlah, jangan cengeng. Setelah acara ini selesai aku akan cari tahu siapa yang mengusik halamanku. Dia pantas mati."
Aula sedang ramai bisik-bisik antarbangsawan. Para putri serta pangeran berdiri di depan mimbar. Perhatian mereka teralihkan oleh kedatangan Pangeran Ketujuh yang menggendong seorang gadis, bahkan Pangeran Ketujuh membawanya menaiki mimbar. Siapa dia? Wah, beruntung sekali digendong Pangeran Ketujuh! Aku juga mauuu! Pangeran, kau tampan sekali!
"Aku takkan basa-basi. Aku Pangeran Ketujuh dari Istana Apung merupakan perwakilan jiwa aedes. Dan tujuanku datang kemari adalah mencari Putri Tumbal."
Suasana aula seketika hening.