
Siapa yang akan mengira hari pertama belajar di Istana didampingi oleh Kris. Sejak kejadian dua hari lalu, Aster terus menghindar. Intinya jangan sampai papasan dengan cowok itu, tetapi yang namanya pertemuan dan perpisahan memang sulit diabaikan.
"Pangeran Kelima, mohon bimbingannya. " Aster membungkuk hormat. Jujur ia tengah gugup. Degup jantungnya terasa sakit seakan ingin keluar dari tempatnya. Ia harap sosok rupawan tersebut tidak mendengar degup jantung Aster.
Sementara itu, Pangeran Kelima mengernyit Telinga terasa kurang nyaman akan panggilan kaku barusan. "Aster, bisakah kau memanggilku Kakak Kelima?"
"Bolehkah?" tanya Aster hati-hati.
"Sudah kubilang jangan sungkan! Aku tahu belakang kau terus menghindar dariku." Kris begitu murung.
"M-maaf. Kupikir kau tidak ingin menemuiku karena gagal membantu waktu itu."
Awalnya, ya, ketika Aster berjalan ke arah lain. Orang yang ia pedulikan dikendalikan orang lain. Sangat menyebalkan. Namun di detik-detik terakhir, ia memperhatikan Aster menolak kehadiran Pangeran Keempat. Secara tak langsung, Aster juga berharap bisa meraih tangan Kris.
Kris menutup mata dan mengeluarkan helaan napas. Sepertinya sangat lelah. "Aku baik-baik saja. Jangan menyalahkan diri sendiri."
"Terima kasih, Kakak Kelima baik sekali," pujinya sambil tersenyum manis. "Btw, Kak. Hari ini Kakak Kelima mau mengajariku hal apa?"
Aster baru lahir, belum mengerti apa-apa. Kris berniat mengajari beberapa ilmu dasar yang harus dimiliki seorang perwakilan. "Begini saja, aku memberimu dua pilihan. Membaca materi, kemudian praktek. Atau praktek sekaligus belajar materi?"
"Apakah membaca buku?"
"Iya. Bukankah kau belum melihat perpustakaan di Istana. Mau kuajak ke sana sekarang?"
Uh, Aster bukan tipe murid rajin membaca. Kalau bukan sebab mengingat misi besar yang guru sampaikan, pasti ia akan memilih opsi kedua.
Perpustakaan menyimpan ribuan buku di rak-rak super besar dan tinggi. Bahkan masih ada lagi buku yang ditaruh di rak ruang bawah tanah. Dan ternyata Aster tengah berada di lantai dua. Artinya di bawah Istana Bunga pasti ada jalan rahasia untuk menuju lantai dasar selain melewati lantai dua. Aster semakin penasaran dengan hal ini. Namun tujuannya kemari adalah mencari buku syair.
Sebenarnya apa isi syair pada bait keempat? Tunggu sebentar, jari Aster terpaku pada punggung sampul buku emas. Dengan mata bersinar Aster membuka halaman pertama yang menyilaukan.
"Ini?!" Tanpa sengaja buku itu terlepas dari cengkeraman Aster. Gadis itu mematung seolah habis disambar petir hingga melumpuhkan seluruh jaringan sarafnya.
Pekikan Aster yang lumayan nyaring, membuat Pangeran Kelima bergegas menghampirinya. "Apa kau baik-baik saja?"
"Hah? Aku, aku baik." Aster memungut buku tadi, kemudian menaruh ke tempat semula. Pangeran Kelima mendapat cengiran kuda. "Kakak Kelima, apa ini buku materi yang harus kupelajari?"
"Ah, aku hampir lupa. Ini baru sebagian yang kuambil, sebenarnya masih ada banyak. Tapi kau baca saja satu per satu." Pangeran Kelima mengerahkan tumpukan buku.
Berat, batin Aster. Tingginya sebatas dada, untung saja tidak menutup pandangan Aster. Gadis itu mencari tempat duduk strategis untuk membaca.
Aku tidak mengerti! Teriaknya dalam hati. Kris memperhatikan tingkah adik angkatnya sedari tadi. Kedua alis Aster terangkat seperti gelombang lautan saat membuka halaman demi halaman. Terlihat menggemaskan.
Pangeran Kelima mengambil duduk di samping Aster, sengaja ingin mendekati gadis itu. "Kalau ada yang tidak kau mengerti, tanyakan saja padaku."
Aster mengaku, "Aku tidak mengerti sama sekali, Kak."
"Bagian mana?"
"Aku tidak mengerti kenapa aku tidak bisa membaca semua tulisan yang ada di buku." Jangan lupa memasang wajah sedih. Kalau diusut dari latar belakangnya sebagai babu, Pangeran Kelima tidak curiga. Dia malah mengacak-acak rambut Aster saking gemasnya.
"Kau ini, kenapa tidak bilang sejak awal? Siapa yang mau membantumu jika diam saja?" ucapnya setengah tertawa.
"Huft, aku merasa malu."
"Aku sudah menyalin kemampuan membacaku untukmu. Sekarang coba kau baca lagi. Jika ada yang kurang mengerti, langsung tanyakan saja." Setelah itu, Pangeran Kelima kembali memilah-milah buku. Pandangan Aster tak lepas dari rasa penasaran terhadapnya.
Ia bergumam, "Bagaimana bisa dengan kecepatan seperti cahaya memberiku kemampuan membaca tulisan? Memang pantas disebut lima besar. Kekuatannya bukan kaleng-kaleng."
Seolah baru saja mendapat siraman semangat dari langit, Aster mulai membaca buku materi dengan antusias. Sesekali kepalanya mengangguk kecil ketika ada satu hal rumit yang tuntas dipahami.
Judul pertama yang menjadi bacaan Aster yaitu asal-usul perwakilan jiwa. Bisa dibilang sejarah munculnya perwakilan jiwa di dunia ini. Pengertian, tujuan, dan fungsi perwakilan jiwa. Padahal Aster kurang menyukai hal-hal berbau IPA, tetapi dikemas dalam bentuk cerita begini entah kenapa membuatnya betah membaca.
Kesimpulan yang dapat diambil dari buku dasar ini adalah bagaimana tugas dan wewenang seorang perwakilan dalam menjaga ekosistem alam. Tertulis juga larangan bagi mereka untuk tidak membunuh hewan dan tanaman secara sengaja, bahkan menyentuh tanaman roh.
Aster mengetuk-ngetuk meja selagi menikmati kisah zaman dulu, sang penantang aturan yang kemudian dijatuhi beragam hukuman. Salah satunya yaitu kasus terbaru, ulat di Istana Dinding terinjak sampai mati. Agar tidak menyinggung Kerajaan Hewan, maka pelaku (identitas bersifat privasi) dijatuhi hukuman untuk melakukan perjalanan ke Istana Gersang dan menyelesaikan misi penting. Tertulis catatan bahwa hukuman ini tergolong ringan mengingat pelaku merupakan kesayangan Raja dan Ratu.
Dari namanya saja Istana Gersang. Aster membayangkan betapa tandusnya, betapa keringnya tempat tersebut. Mungkin tidak ada setetes air atau bahkan tidak ada udara.
Brak! Pangeran Kelima datang lagi menyetor buku yang perlu Aster baca. Sekarang meja penuh dengan tumpukan buku. Beberapa sudah ternistakan di lantai. "Kak? Sebanyak ini apa tidak memakan banyak waktu? Aku merasa sampai tua juga tidak ada habisnya."
Bukan menjawab pertanyaan Aster, laki-laki itu memamerkan matanya berapi-api. Jangan lupa kedua tanduk di kepala. Tanpa bertanya lagi semua orang juga tahu bahwa Aster dipaksa belajar. Huhu, tidak mau. Lagi pula ia berada di sini hanya sebentar. Begitu menyelesaikan misi dari guru, Aster pasti bisa kembali ke dunia nyata.
Gadis itu mencari kesempatan melarikan diri saat Pangeran Kelima kembali sibuk dengan rak-rak berbanjar. Diam-diam Aster mencari judul buku yang sekiranya berkaitan dengan syair bait keempat. Langkahnya pelan supaya Pangeran Kelima tidak menyadari adanya gerakan kaki. Mengendap-endap dari rak satu ke sisi rak yang lain.
Ia memegang dada yang seolah terisi penuh dengan oksigen. Kemudian mengintip ke belakang, memastikan posisi Pangeran Kelima masih di tempat atau tidak. Bisa dikatakan sangat aman. Anak itu belum memegang satu buku pun. Masih mematut di depan buku "Pengembangan Diri".
Kembali ke tujuan utama, Aster mengabsen judul satu per satu dengan matanya yang jeli. Penglihatan Aster lebih tajam setelah kejadian kemarin. Namun ia enggan mengambil pusing.