Vampire Aedes

Vampire Aedes
34. Satu Gigitan Pertama untuk Pangeran



Dari pakaian, rambut, dan suara. Aster yakin bahwa orang ini adalah pelayannya. Tapi ada yang aneh. Tangan Sari berwarna kuning kemerahan seperti luka bakar. Muncul gelembung yang isinya seperti cairan kuning. Sekujur lengan tangan dan kakinya mengalami hal serupa. Beberapa bagian wajah seperti telinga dan pipi juga sama. Aster merinding. Apa yang terjadi?


"Jangan sentuh saya!" bentak Sari tatkala Aster mengulurkan tangan guna menyingkap kain yang menutupi lukanya. Luka seperti itu pasti sakit jika tergesek benda lain. Pasti tidak nyaman. Aster berjongkok sambil memandang Sari dengan tatapan sedih.


"No-nona ....." Pelayan itu memandang Aster, matanya berkaca-kaca. Sesekali terisak merasakan perih serta panas menjalari seluruh tubuh. "Maafkan saya. Saya tidak bermaksud membentak Anda. Sepertinya saya terkena penyakit kulit. Saya takut menulari orang lain, jadi jangan dekati saya."


Aster menggeleng pelan. Ia celingak-celinguk mencari ranting. Setelah mendapatkan satu, pertama-tama ia menggambarkan langit, awan, dan matahari. Kemudian gambar tersebut diberi tanda panah ke kanan. Di sisi kanan, ia lalu menggambar langit, bulan, dan bintang.


Pangeran Pertama menyilangkan kedua tangan di depan sembari mengamati tindakan Aster. Menurutnya, Aster tidak cukup bodoh dengan menulis kalimat di tanah. Pelayan tidak bisa membaca, itu sebabnya dia menggambar.


"Tuan Putri, kenapa Anda menggambar ini?"


Aster memegang bibir, kemudian membentuk simbol silang tegak dengan tangannya. Namun, pelayan itu semakin menelengkan kepala.


Aster tertawa tanpa suara, hingga busa putih keluar dari mulutnya. Ia menyerah menjelaskan kondisi mengapa tidak berbicara. Tangannya kembali menggores-gores ranting ke permukaan tanah. Jadilah sebulah jam berbentuk lingkaran dengan jarum menunjukkan pukul tujuh malam.


"Anda ingin saya menunggu sampai nanti malam?"


Aster mengangguk serius. Bagaimana pun, ia akan mencari cara agar Sari segera pulih. Penyakit kulit seperti luka bakar mengerikan yang baru saja dia alami, seolah bukan penyakit biasa.


"Tuan Putri, terima kasih banyak." Sari bersujud dengan berlinangan air mata. Ia sangat bersyukur karena Putri Ketigabelas peduli pada pelayan seperti dirinya. Jika itu orang lain, tidak akan seorang majikan yang menyusahkan diri mencari pelayan satu pelayan.


Aster mengepalkan tangan sebab tak tahan melihatnya. Pangeran Pertama mengajaknya pergi, kemudian mereka meninggalkan Sari sendirian. Sebenarnya Aster tidak tega membiarkan pelayan itu bersembunyi di tempat sepi, tapi justru lebih berbahaya ketika terlihat banyak orang. Bisa-bisa Sari dilempar dari Istana Bunga.


Tanpa sadar, Aster telah tiba di bangunan megah. Ini bukan paviliun tempatnya tinggal. Ukiran kayu berlapis emas di atas pintu bertuliskan kata "Aula".


Ia pun menatap Pangeran Pertama dengan tajam. Laki-laki itu mengarahkan dagu ke dalam, mengisyaratkan agar Aster segera masuk.


Aster mendengus kasar, lalu memantapkan kakinya melangkah masuk. Di luar dugaan, isinya hanya deretan kursi batu berjumlah tidak lebih dari seratus yang ditata rapi. Ia baru sadar kalau kursinya menyatu dengan lantai.


Oh tidak, Aster tidak bisa menyebut lantai karena di bawah benar-benar air. Roknya sedikit basah, anehnya tidak tenggelam ketika orang-orang berjalan di atasnya. Apa ini danau? Telaga? Entahlah. Selain itu, kursinya tidak menyatu, tapi mengapung!


"Putri Teratai hebat, ya. Dia mampu membuat kita semua berjalan di permukaan air. Ya ampun, lihatlah! Dari mana datangnya ikan-ikan mungil ini?" Bisikan demi bisikan yang mengungkapkan kekaguman terdengar seperti lebah.


Seiisi aula dibuat terperangah. Konsep lantai mengapung mengundang kebisingan, padahal pemeran utama pria belum datang. Putri Teratai sedang menikmati pujian di antara para putri yang duduk di sekelilingnya. Bersama Putri Mawar, dia mendapat kursi paling depan.


Hampir semuanya telah diduduki oleh para putri dan pangeran. Tersisa barisan paling belakang. Aster langsung mendaratkan pantat di kursi mana saja, yang penting dekat dengan pintu keluar.


Anehnya, batu yang ia duduki tiba-tiba merosot. "E-eh?" Aster pun mencengkeram erat lengan kursi. Matanya memejam bersiap-siap tenggelam. Toh, dia bisa berenang.


Namun, sebuah energi dengan kuat menarik tubuh gadis itu agar terlepas dari pegangannya. Tubuh Aster terangkat, melayang di udara seakan kehilangan gravitasi.


Seonggok Putri melayang tak luput dari perhatian semua orang. Sebagian besar terheran dengan pengendalian udara yang gadis itu praktekkan, sedangkan Aster tidak melakukan apa-apa.


Pangeran Pertama berkata, "Aster! Aku kira kau sudah tahu aturan duduk di aula Istana. Bagaimana kau tidak tahu kalau asal duduk bisa membuatmu dalam bahaya?"


Aster mengededikkan bahu. Tadinya ia berpikir insiden kecil barusan adalah ulah jahil Putri Teratai. Melihat putri kepedean itu sedang memegang perut sambil terbahak-bahak memandangi Aster. "Huft ...."


"Aku selalu penasaran, sebenarnya apa sih yang diajarkan di kelas Pangeran Kelima?Lupakan tentang kelas! Sekarang turun!" perintah Pangeran Pertama, tegas.


Aster menggeleng cepat karena dia tidak tahu caranya turun. Naasnya, terjadi kesalahpahaman di sini.


"Bukankah barusan dia menolak perintah Pangeran Pertama?" tanya salah satu Putri Bangsawan pada rekan di sebelahnya. Mereka terkejut.


Aster sontak melebarkan mata, lalu menggerakkan kedua tangan mengartikan bahwa itu bukanlah seperti yang mereka maksud. Pangeran Pertama yang mendengarnya pun mengepalkan tangan kesal.


"Yang benar saja, kau tidak mau?" Ia bertanya sambil memasang ekspresi tak percaya. Aster menepuk jidat tidak habis pikir mengenai Pangeran sepintar dan selicik itu ternyata sama sekali tidak peka.


"Ugh!" Aster memutar mata. Ia meraup wajah karena saking frustrasi.


Detik berikutnya, tubuh Aster melayang ke arah yang tidak diketahui. Gadis itu semakin menjauh dari tempat Pangeran Pertama berpijak. Pangeran Pertama lebih terkejut lagi. Mulutnya terbuka tiga senti, tapi kakak pembaca tak perlu meniru sampai mengukurnya dengan penggaris.


Pengendali udara atau angin yang semula dikiranya kemampuan gadis tersebut, ternyata memiliki dalang di balik layar. Aster akhirnya diturunkan tepat di tengah-tengah. Dia bergeming, tak berani melangkah. Terus mematung seraya menghadapi ratusan pasang mata.


Gue siapa?


Gue di mana?


Tanpa mereka semua sadari, seorang pemuda memasuki pintu aula dan berjalan menuju mimbar. Barulah keheningan menyelimuti saat pemuda bertopi coklat itu naik, lantas berdiri di samping Aster. Tanpa basa-basi mencekal pergelangan gadis di sampingnya.


Pangeran Aedes agak merapat untuk membisikkan kalimat. "Anda tidak kabur seperti semalam?"


"Eu—" Mengingat suara belum kembali, Aster pun mengurungkan niatnya membalas perkataan sang pangeran. Dia hanya menatap lurus ke depan tanpa menghiraukan nyamuk jantan yang terus berdengung di dekat telinganya.


Pangeran Aedes menikmati aroma ini. Ia menghirup oksigen perlahan-lahan. Ia dapat mencium rasa manis yang amat kentara dari tubuh Aster. Atensinya turun ke punggung tangan gadis itu. Tercetak pembuluh nadi di bawah kulit putihnya.


Seketika rasa lapar menguasai pikiran. Pangeran Aedes mengarahkan tangan Aster ke mulut. Keempat taring itu seakan menyambutnya saat mulut Pangeran Aedes terbuka. Perubahan iris hitam pekat ke warna merah darah membuat seisi ruangan terhenyak. Detik selanjutnya, mereka menjerit.


Jeritan histeris menimbulkan tanda tanya besar bagi Aster. Gadis itu menautkan alis, masih belum menyadari apa yang Pangeran Aedes lakukan. Ia pun mengikuti arah pandangan mereka. Perlahan dirinya menoleh ke samping untuk melihat sesuatu tak terduga.


"Ak!" Aster hanya berjengkit kaget. Pangeran Aedes tampak sangat menikmati setiap tetes darahnya tanpa terganggu oleh teriakan-teriakan itu.