Vampire Aedes

Vampire Aedes
23. Aster Tidak Bisa Melihat



Sepanjang perjalanan, Kris terus menerangkan bagaimana seharusnya Aster nanti saat tiba, mulai dari awal sampai akhir upacara. Upacara suci dilaksanakan sebelum pengangkatan. Biasanya pengangkatan dulu baru upacara, itu sebabnya Pangeran Kelima khawatir. Sesi pengangkatan lebih lama daripada upacara, sedangkan matahari semakin tinggi, Aster tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun. Atau tidak, tidak ada kesempatan mengulang sebab setelah matahari tenggelam adalah waktu haram bagi pengangkatan.


"Kakak Kelima, aku paham. Jangan bicara lagi." Aster memutar mata jengah.


"Benar ya? Jangan sampai ada kesalahan. Upacara suci tidak sesederhana kelihatannya, juga tidak perlu segugup itu."


Lihatlah siapa yang gugup sekarang. Pangeran Kelima sudah mengeluarkan aura over protective pada adiknya. Menggenggam jemari Aster begitu erat, seolah jika terlepas Aster akan tersesat ke sudut terdalam alam semesta.


"Oh, aku belum kasih tahu bagian terpenting dari upacara suci, yaitu proses berdoa." Nadanya serius. "Kau hanya perlu mengingat hal ini, ketika sampai di syair 'kedudukan membawa kemakmuran', kau harus berjalan ke arahku."


"Kenapa harus?"


Pangeran Kelima menatap sinis. "Aku sudah menolongmu kemarin, apa tidak ingin membalas budi? Dengan kau berjalan ke arahku, aku bisa langsung naik kedudukan menjadi Pangeran Pertama."


Baru saja Aster memasang stiker kesan baik terhadap Pangeran Kelima, ternyata ada udang di balik batu. Namun yang tidak Aster pahami ialah posisi Pangeran Pertama. "Kak, apa urutan pertama atau terakhir bisa berubah sesuka hati? Kukira itu tergantung dari giliran kita masuk ke Istana."


Pangeran Kelima mengangguk. "Awalnya memang begitu, tapi kalau kau berhasil melakukan tugas, membawa kontribusi besar bagi kerajaan, Raja akan menaikkan statusmu. Sebaliknya, jika kau gagal dan melakukan suatu hal yang mencoreng nama kerajaan, bukan hanya dihukum, kedudukanmu juga dilengser."


"Apa sepenting itu?" gumam Aster.


"Kau mengatakan sesuatu?"


Aster menoleh dengan tampang terkejut. "Ah, tidak. Aku hanya berpikir Kakak bisa sampai di posisi kelima. Pasti banyak hal yang sudah dilalui."


"Benar. Ke depannya, jika kau mau membantuku mendapat posisi pertama. Aku bukan lagi Pangeran Kelima atau Kakak Kelima, tetapi Pangeran Pertama dan kau bisa memanggilku Kakak Pertama. Dengan begitu aku bisa mengabulkan keinginanku di masa depan." Kris tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih. Dinikmati baik-baik, ternyata Kris mempunyai lesung pipi di bagian kiri. Tampan sekali.


Pintu masuk menuju lapangan upacara terbuka dengan sendirinya. Ajaib! Aster semakin mengetatkan pegangan pada lengan Kris. Semua orang melayangkan tatapan ke arah Aster, membuat gadis kecil itu berkeringat dingin.


"Apa keinginanmu?" tanya Aster berusaha menghilangkan rasa gugup dengan mengungkit topik sebelumnya. Tidak menyangka peserta yang hadir melebihi perkiraan. Raja dan Ratu turut mengundang perwakilan dari tiap Istana di seluruh kerajaan. Tentu saja semuanya berasal dari putra putri urutan lima teratas. Kalau ditotal jumlahnya ribuan.


"Aku akan mengatakan keinginanku setelah mendapat bantuanmu," bisiknya sambil melepas gandengan Aster. "Ayo jalan."


Gadis itu kebingungan. Seperti anak ayam yang ditinggal sang induk. Kris melepasnya begitu saja, membiarkan Aster linglung di tengah-tengah ribuan pasang mata. Ah, berpikir! Ingat bagaimana Pangeran Kelima sudah menerangkan banyak hal terkait apa yang harus dia lakukan saat upacara berlangsung.


"Begitu masuk, kau harus berjalan lurus mengikuti rumput hijau. Jangan sampai menginjaknya, mereka ibarat roh tanaman yang menyambut jiwa tanaman yang baru saja terlahir sebagai manusia."


Perkataan Kris beberapa menit yang lalu terngiang. Aster menunduk, sedikit mengangkat gaun jangan sampai memperlihatkan betis. Sehingga tetua bisa melihat tidak ada rumput yang menyentuh sepatu. Sebelum keluar dari paviliun utama, Kris telah mengajari etika dasar berpakaian padanya. Akan tidak sopan apabila mengangkat rok terlalu tinggi.


Sampai di ujung rumput hijau. Aster kini dihadapkan oleh sepasang pemimpin kerajaan. Benar, Yang Mulia Raja dan Ratu.


"Jangan lupa memberi hormat pada keduanya. Nanti kau melihat kursi kecil di antara mereka. Kau boleh duduk di tengah mereka setelah Raja memerintahkanmu untuk bangun. Letak kursi itu mengandung makna, bahwa mereka berdua senantiasa melindungimu."


Aster meletakkan tangan kanan di perut, kemudian menekuk lutut sebagai tanda hormat sekaligus meminta berkat.


"Hormat pada Yang Mulia Raja, hormat pada Yang Mulia Ratu. Semoga kalian berdua panjang umur dan sehat selalu."


Ratu tersenyum ramah. "Gadis Manis, bangunlah," ucapnya sambil mengelus puncak kepala Aster.


"Ekhem!" deham Raja sembari melirik tak suka. "Tetap berlutut!"


Aster yang tadinya setengah berdiri kembali merendah. Ia tidak mengerti mengapa Raja tidak menyuruh 'bangun' seperti penjelasan Kris. Wajahnya sudah merah menahan malu. Sedangkan gadis yang duduk di samping Raja juga menatap tak suka. Huft, kehidupan di Istana akan sulit.


Kris duduk di sayap kiri Ratu, mengembuskan napas lelah. "Anak ini, bahkan tidak tahu menganggap keberadaan Raja. Hanya mendengar ucapan Ratu."


Lalu upacara suci menjadi upacara bersejarah yang paling melelahkan bagi Aster. Berlutut selama berjam-jam. Keringat seperti air sungai yang mengalir deras. Hujan keringat untuk Aster. Upacara kemerdekaan saja tidak separah ini.


"Pemanjatan doa." Ini dia. Ini dia acara terakhir yang ditunggu-tunggu Kris.


Lima posisi teratas di Istana diarahkan untuk berdiri. Kemudian mereka menempati posisi masing-masing di tiap titik. Kalau dihubungkan dengan garis, maka kelimanya membentuk segilima. Aster juga diarahkan untuk berdiri di tengah-tengah sembari menunduk, memejamkan mata, mendengar setiap kata dengan khusyuk.


Sekarang Aster akan mendengar doa dari lima posisi teratas.


"...."


Hening? Kenapa hening?


Hening sedetik, Aster menautkan alis.


Hening dua detik, Aster membuka sebelah mata karena ingin melihat situasi.


Hening tiga detik, Aster mematung di tempat. Semuanya berubah gelap gulita.


"Kedudukan membawa kemakmuran. Pohon-pohon menghadapi musim gugur. Air sungai berwarna merah. Jiwa yang terbawa arus kehidupan, semoga selamat dari kematian."


Kata-kata ini berasal dari arah depan. Kris mengatakan ketika sampai di syair "Kedudukan membawa kemakmuran", ia harus berjalan ke arahnya. Akan tetapi, entah mengapa pandangan Aster tiba-tiba menjadi gelap.


Di sisi lain, Kris terus mengamati pergerakan gadis yang tidak jauh di depan. Ia meneguk ludah tatkala Aster melangkah maju dengan ragu. Dahinya berkerut. Ada yang salah dengan gadis itu. Dia tidak berjalan ke arah Kris.


"Ergh!" ringis Pangeran Kelima merasakan duri kecil menusuk lembut telapak kakinya. Ulah putri pertama. Ternyata giliran Pangeran Kelima mengucap doa.


Ia menarik napas. "Sebagaimana bunga abadi yang terus mekar. Kasih sayang menghiasi sepanjang tahun. Semoga kebahagiaan selalu hadir menyelimuti."


Pangeran Kelima mengucap doa dengan lantang, berharap Aster dapat mendengarnya. Putri Pertama yang mendengar sontak terkejut. Kris sengaja memilih tubuh bocah belasan tahun sebab sifatnya masih energik, tapi ratusan tahun, tidak pernah ia sesemangat itu mengucap doa.


Kemudian Aster tertegun saat pandangannya kembali seperti semula dan seseorang yang meraih tangannya bukanlah Pangeran Kelima. "Kau ...?"


"Tatapan yang tak ingin lepas dari wajahku. Apa kau menyukaiku, hm?" goda laki-laki itu sambil terkekeh.


Aster mengernyit tak suka. "Siapa kau?"


Kalau bukan karena upacara suci sangat sakral, Aster tidak mau terus menggandeng tangan lelaki di sampingnya penuh jijik. Rasanya canggung sekali, ia datang bersama Pangeran Kelima, namun keluar bersama orang asing. Aster sempat menoleh ke arah Kris. Lalu ia mendapat tatapan yang sulit diartikan. Kemudian dari jauh, Kris tersenyum padanya seolah tidak terjadi apa-apa. Aster menyentuh detak jantungnya yang terasa sakit, ia merasa sangat bersalah.