
Aster membuang napas jengah. "Haa, aku harap Putri Teratai dan Pangeran Pertama kelelep di Danau Toba."
"Danau Toba?" tanya suara dari depan. Aster pun mendongak. Sejauh sepuluh kaki, sosok Pangeran Aedes berdiri. Ketinggian tubuhnya sampai menutupi bulan sabit. Bayangan pemuda itu jatuh di wajah Aster. "Di mana kamu mendengar Danau Toba? Seingatku tidak ada danau bernama Danau Toba."
"Kak Aiden ...." Aster menggeleng kuat. Orang yang berdiri di depannya bukanlah Aiden, tapi Pangeran Aedes. Lelaki ini sedang mencari putri tumbal, kan? "Ah ... i-itu hanya nama danau yang ada di mimpi saya."
"Mimpi?"
"Y-ya, hahaha. Saya sering bermimpi tentang dunia lain. Ada banyak sekali danau dan makanan. Dunia di mimpi lebih indah daripada di sini." Pangeran Aedes hanya menatap, namun membuat Aster salah tingkah karena merasa terus diperhatikan. "Eh? Maksudku—maksud saya, mimpi tidak lebih indah daripada kenyataan. Karena pada akhirnya, orang-orang tetap kembali menuju realita."
Aster tidak tahu apa yang mulutnya katakan. Aster ingin segera pergi dari tempat ini. Ia pikir Pangeran Aedes sudah pergi jauh, siapa sangka dirinya malah bertemu dengan predator itu begitu keluar dari pintu.
Sedangkan, Pangeran Aedes mencium bau bawang putih yang sangat tajam. Seperti keringat orang-orang yang berlalu lalang di pasar atau saat melewati dapur di Istana Apung. Sebelum tiba di Istana Bunga, Pangeran Aedes melewati pasar yang dipenuhi manusia berbau tidak sedap.
Aroma manis bercampur keringat manusia mengelilingi tubuh Aster. Hal itu membuat dahinya mengenyit sambil mendengus kasar. "Jadi begitu. Maaf, tapi bisakah Putri Aster mendekat?"
"Ya?" Aster terlihat syok. "Apakah penjelasan saya kurang dimengerti?"
"Tidak. Saya ingin memastikan sesuatu."
Peringatan!
Firasat buruk, firasat buruk!
Gadis bergaun violet itu mengubah posisi dari jongkok menjadi berdiri. Aster sedikit merapikan rok depan dengan mengusapnya berkali-kali. Seketika aroma manis menguar yang langsung terdeteksi oleh penciuman Pangeran. Pupil mata Pangeran menyusut tatkala gadis itu mendadak mengangkat roknya dan berlari.
Dilihatnya punggung yang semakin mengecil. Pangeran Aedes mematung di tempat, namun indera pendengarnya menelisik jauh pada setiap langkah Aster. Salah satu sudut bibir Pangeran tertarik ke atas.
Dia lalu bergumam, "Seratus kaki."
***
"Tuan Putri?!"
Sari membuka gerbang paviliun keheningan, mendapati Aster ngos-ngosan seolah habis dikejar babi hutan. Gadis itu berpegangan pada Sari hingga keduanya ambruk ke tanah. "Sari, benar-benar gawat!"
"Tuan Putri, memangnya ada apa?" tanya wanita itu khawatir.
Aster menekan sepasang bahu Sari menggunakan kedua tangan. "Vampir ... hosh, hosh ... sepertinya bawang putih tidak berdampak apa-apa baginya. Aku harus gimana? Aku harus gimana! Gimana kalau dia bawa gue sebelum gue belajar apa-apa huaaa!"
Aster bangkit sambil mengacak-acak rambut. Sepasang mata yang berkilat di bawah sinar bulan membekas di ingatan. Mengerikan, mengerikan! Meski cepat atau lambat takdir akan menggiringnya pergi ke sisi Pangeran Aedes, setidaknya biarkan Aster menguasai kemampuan.
Tik!
Akhir-akhir ini telinga Aster sensitif. Bunyi pergerakan jarum membuatnya melirik gelang jam di pergelangan tangan. Ia menaikkan kain lengan sehingga jarum terlihat jelas bahwa ujungnya telah begeser ke angka dua.
Aster tercengang. Bukankah belum ada satu hari?
Langkah kaki mengejutkan mereka berdua. Seseorang berlari menuju paviliun. Jalan setapak dipenuhi pohon rindang, dari kejauhan tidak tahu wajah karena gelap. Setelah memasuki batas pagar, wajah itu akhirnya disorot cahaya lampu taman.
"Kris?" Aster menautkan alis. "Kakak, kenapa Kakak Kelima datang kemari?"
Tiba-tiba laki-laki baby face itu memeluknya. "Aku merindukan adikku, Aster."
Aster berusaha melepaskan diri. Untungnya tidak sulit. "Katakan apa yang terjadi, Kak."
Tanpa menjawab, Kris memeluknya lagi. Kali ini Aster membiarkannya. Sepertinya Pangeran Kelima tidak berniat memberitahu apa yang terjadi. Gadis itu hanya diam dan perlahan-lahan membalas pelukan tesebut. Perlakuan Aster membuat Pangeran lebih tenang.
Setelah Pangeran selesai dengan pelukan, ia melirik pelayan di sebelah Aster.
"Baik, Tuan Putri."
Pangeran Kris pun menatap Aster. Ternyata hari ini Pangeran Kelima lebih pendek dari biasanya atau mungkin karena Aster mengenakan sepatu berhak dua senti.
"Aku ingin menanyakan sesuatu, tapi kau harus menjawabnya dengan jujur."
Udara malam hari begitu dingin. Aster menggigil. "Haa baiklah. Aku akan jujur."
Pangeran Kelima menarik napas dalam-dalam, seakan pertanyaan ini lebih sulit dari Ujian Nasional. "Jika suatu saat tubuhmu mati, apa yang akan kau lakukan?"
"Hm? Bukankah tidak ada lagi yang bisa kulakukan?"
"Kata siapa tidak ada?"
"Eh? Benaran ada?"
"Tentu saja! Kau hanya butuh mencari raga lain. Di luar istana banyak tubuh manusia yang bagus. Jika kau suka, kau bisa memilikinya sebagai tubuh barumu." Pangeran Kelima menjelaskan dengan menggebu-gebu.
Aster termenung mencerna kalimat yang baru saja ia dengar. Kondisi Pangeran jauh dari kata stabil. Seperti anak yang mau kehilangan ibunya.
Tik!
Aster sontak mengangkat tangan kanan, dahinya mengkerut dalam.
"Gelang itu ...," ucap Pangeran.
Aster melebarkan mata. Karena reflek saat mendengar pergerakan jarum, ia sampai lupa keberadaan Pangeran Kelima. "E, ini ...."
"Kau tidak usah memberitahuku. Aku sudah tahu gelang apa itu. Sebaiknya kau kasih tahu jawabanmu?"
Aster tidak tahu apa yang Yang Mulia Raja katakan pada Pangeran Kelima, tapi mengenai jawaban untuk mencari raga baru. Seolah tubuh Aster sekarang hampir mati, kemudian ia perlu mencari raga orang lain, mengusir roh mereka secara paksa, Bukankah hal itu tidak manusiawi?
"Jika aku menjadi manusia, aku akan sangat membencinya ketika tubuhku direbut orang lain."
"Ternyata begitu." Pangeran Kelima tersenyum sambil mengelus kepala Aster. "Adikku sangat baik!"
"Apa sih," balasnya berusaha menyingkirkan tangan tersebut. "Sudah larut, mending Kakak kembali saja. Aku ingin istirahat."
Pangeran Aster mengangguk. "Semoga tidurmu nyenyak!"
"... Kakak juga." Aster melambaikan tangan.
Saat ini, di bak mandi kecil nan sederhana, Aster berendam untuk menghilangkan bau bawang. Warna hijau tak sedap menguar dari tubuhnya. Sesekali melelapkan kepala ke bawah permukaan air, kemudian menyembul bersama beberapa kelopak bunga yang terselip di antara helaian rambut.
Gelang jam pemberian Pak Steven tidak bisa dilepas. Sembilan angka lagi? Aster belum mengerti sistem penghitungan jam tersebut. Jarumnya bergerak tanpa alasan.
"Kucing ajaib!" teriak Aster pada udara. "Kucing ajaib! Lo di mana sih?" Ia harap hewan itu muncul sehingga dia bisa meminta informasi, tapi keberadaannya belum diketahui. Tempat terakhir di mana kucingnya menghilang ... eh?
Aster mengernyit, matanya bergerak ke sudut ruangan seakan bersikeras mengingat sesuatu.
"Aneh ...," gumamnya. "Aku bisa tidak mengingat detailnya meski aku tahu kejadiannya."
Seekor nyamuk berdenging di sekitar telinga, lalu membuyarkan segala pikiran Aster. Gadis itu terkesiap ketika nyamuk menghinggapi tepian bak mandi. Layaknya patung, diam dan tenang.
"Kok bisa ada nyamuk?"